Rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk kepentingan penelitian memunculkan pertanyaan mengenai kesejahteraan satwa dan dampaknya terhadap populasi di alam. Persoalannya tidak hanya terjadi saat monyet digunakan di laboratorium, tetapi bermula sejak penangkapan, pemindahan, penangkaran, hingga pengiriman.
Jakarta Animal Aid Network (JAAN) secara tegas menolak rencana tersebut. Menurut Benvika, Co-Founder sekaligus National Director JAAN, pemanfaatan primata ini berpotensi menghadirkan rangkaian penderitaan panjang.
“Kami selalu menolak pemanfaatan monyet ekor panjang dalam bentuk apapun,” katanya.
Pemerintah menggunakan skema penangkaran untuk memastikan monyet yang diekspor tidak berasal dari alam. Namun, kemampuan penangkaran menghasilkan individu dalam jumlah besar masih dipertanyakan. Monyet ekor panjang merupakan satwa sosial dengan struktur kelompok yang kompleks dan wilayah jelajah luas. Ketika ditempatkan dalam kandang sempit dalam waktu lama, mereka rentan mengalami stres dan gangguan perilaku.
Masalah lain adalah keterlacakan asal satwa. Meningkatnya permintaan dapat menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menangkap monyet liar, termasuk dari kawasan konservasi. Karena itu, pengawasan harus mampu memastikan seluruh individu benar-benar berasal dari penangkaran terstandar.
Anggapan bahwa monyet ekor panjang berpopulasi berlebih juga perlu dikaji hati-hati. Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menjelaskan bahwa penelitian pada 2024–2026 di sejumlah wilayah Sumatera mencatat kepadatan sekitar 5–9 individu per hektare. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menyatakan populasinya aman.
Jumlah keseluruhan yang besar dapat tersusun atas kelompok-kelompok kecil yang rentan. Struktur kelompok, jumlah individu, kondisi habitat, serta kemampuan berkembang biak perlu diperhitungkan dalam menilai kesehatan populasi.
Istilah “hama” juga tidak selalu mencerminkan jumlah satwa. Monyet dapat memasuki permukiman karena habitatnya menyusut atau tidak lagi menyediakan cukup makanan. “Sebaliknya, populasi besar tidak otomatis jadi hama apabila habitat alaminya mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka,” jelas Fahma.
Kemiripan genetik, anatomi, fisiologi, dan perilaku dengan manusia memang membuat monyet ekor panjang digunakan dalam penelitian. Namun, kebutuhan tersebut harus mempertimbangkan status konservasinya dan kemajuan metode alternatif.
Pengembangan non-animal models atau new approach methodologies dinilai perlu menjadi arah penelitian masa depan. Jika ekspor tetap dilakukan, jumlahnya harus dibatasi, sumber individunya dapat dilacak, dan pengawasannya dijalankan secara ketat agar kebutuhan penelitian tidak menambah tekanan terhadap populasi liar.