Tubuhnya hanya sepanjang kira-kira dua kuku jempol orang dewasa. Kulitnya halus, warnanya relatif seragam, dan suaranya terdengar seperti bunyi “klik” singkat bernada tinggi. Katak mungil penghuni serasah di lereng Gunung Merapi ini merupakan spesies baru yang diberi nama Philautus candrageni.
Spesies tersebut ditemukan secara tidak sengaja ketika para peneliti meninjau ulang taksonomi katak Genus Philautus di Pulau Jawa. Tim yang berasal dari BRIN, sejumlah universitas, dan Herpetological Society of Indonesia menggunakan pendekatan integratif dengan memadukan ciri morfologi, rekaman suara, serta analisis molekuler.
Penelitian lapangan dilakukan di Jawa Tengah pada 2017–2025, meliputi Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Pegunungan Menoreh. Para peneliti mengumpulkan 32 individu yang sebelumnya dianggap sebagai Philautus aurifasciatus. Namun, analisis filogenetik dan morfologi menunjukkan bahwa temuan itu terdiri atas P. aurifasciatus, P. jacobsoni, dan satu takson yang belum pernah dideskripsikan dari Gunung Merapi.
Rekaman suara kemudian memperkuat perbedaannya. Panggilan kawin P. candrageni berdurasi pendek, memiliki frekuensi relatif tinggi, dan biasanya hanya terdiri atas satu nada. Interval antar panggilannya juga singkat sehingga menghasilkan tempo cepat. Karakter tersebut berbeda dari suara P. aurifasciatus dan P. pallidipes.
Penemuan ini menambah jumlah anggota Philautus di Jawa menjadi empat spesies. Tiga lainnya adalah P. jacobsoni dari Gunung Ungaran, P. pallidipes dari Gunung Gede Pangrango, dan P. aurifasciatus dari Gunung Tangkuban. Dua di antaranya, P. pallidipes dan P. jacobsoni, telah lama tidak ditemukan kembali. Bahkan, P. jacobsoni dikhawatirkan telah punah di alam liar.
Nama “candrageni” berasal dari nama kuno Gunung Merapi dalam manuskrip Jawa klasik Serat Pustaka Raja Purwa. Nama tersebut diperkirakan tersusun dari kata “candra”, yang berarti bulan, dan “geni”, berarti api. Para peneliti menilai nama itu mewakili sifat mistis dan berapi-api Merapi, sekaligus harmoni bio kultural lanskap vulkaniknya.
Sejauh ini, P. candrageni hanya diketahui hidup pada zona ketinggian menengah Gunung Merapi. Habitatnya mencakup lingkungan yang telah dimodifikasi manusia, terutama perkebunan kopi dan tanaman budidaya lain. Tubuhnya berwarna coklat muda dengan pola coklat gelap, sedangkan bagian perutnya kuning pucat dengan bercak gelap.
Pengetahuan mengenai spesies ini masih terbatas karena tim belum menemukan individu betina. Akibatnya, perbedaan ukuran tubuh, tekstur kulit, pola warna, perilaku kawin, dan cara bertelurnya belum dapat dipelajari secara lengkap.
Katak semak umumnya mengalami perkembangan langsung tanpa melalui fase berudu yang berenang. Telurnya menetas menjadi katak kecil sehingga sangat bergantung pada kelembaban lingkungan. Mereka juga berperan mengendalikan serangga, menjadi bagian rantai makanan, dan berfungsi sebagai bioindikator kesehatan ekosistem.
Distribusi P. candrageni yang sempit membuatnya rentan terhadap penurunan kualitas habitat dan krisis iklim. Perubahan suhu serta pola hujan dapat mengganggu reproduksinya. Penemuan ini pun menjadi pengingat bahwa spesies dapat menghilang bahkan sebelum manusia sempat mengenalnya secara utuh.
Foto utama: P. candrageni hanya dikenal berasal dari Gunung Merapi, dengan distribusi sangat terbatas, yaitu di zona ketinggian menengah gunung tersebut. Foto: Alamsyah Elang Nusa Herlambang/BRIN.