- Sebanyak tujuh individu lutung jawa (Trachypithecus auratus) dilepasliarkan di habitat alaminya di Pulau Nusa Barung, Jember, Jawa Timur.
- Satu individu lutung jawa bernama Eri, dikembalikan ke hutan tersebut tanpa memiliki ekor. Perjalanan hidup Eri berubah saat memasuki tahap sosialisasi kelompok. Beberapa kali ia diserang lutung jantan lain hingga mengalami luka serius di bagian ekor dan harus diamputasi.
- Sebelumnya, ada lutung bernama Nunuk, yang dilepasliarkan tanpa ekor dan mengalami gangguan pada tangannya. Dalam perkembangannya ia bertahan hidup dan berkembang biak.
- Kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung memiliki ekosistem hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan hujan tropis dataran rendah sebagai habitat alami lutung.
Eri sempat dianggap tak punya peluang hidup di alam liar. Lutung jawa itu luka parah, ekornya harus diamputasi karena beberapa kali diserang saat proses sosialisasi di pusat rehabilitasi.
Di tengah keraguan itu, Eri justru bagian dari tujuh Trachypithecus auratus yang akhirnya kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya di Pulau Nusa Barung, Jember, Jawa Timur.
Bagi tim rehabilitasi Javan Langur Center (JLC) The Aspinall Foundation Indonesia, pelepasan Eri bukan sekadar kegiatan konservasi.
“Eri masuk saat bayi. Kondisinya sempat drop, lalu membaik hingga mampu bertahan,” kata Iwan Kurniawan, Manajer JLC The Aspinall Foundation Indonesia, Selasa (26/5/2026).
Perjalanan hidup Eri berubah saat memasuki tahap sosialisasi kelompok. Dalam fase ini, lutung-lutung yang sebelumnya hidup sendiri mulai dikenalkan satu sama lain agar membentuk sktruktur sosial baru, sebelum dilepas ke alam.
Namun, proses itu tidak berjalan mudah. Beberapa kali ia diserang lutung jantan lain hingga mengalami luka serius di bagian ekor.
“Kami terpaksa amputasi. Kalau tidak dihilangkan justru akan membahayakan.”

Keputusan itu, jelas Iwan, sempat memunculkan dilema besar di tim rehabilitasi. Sebab, ekor punya peran penting bagi primata arboreal seperti lutung untuk menjaga keseimbangan saat bergerak di pohon.
Tanpa ekor, apakah lutung bisa bertahan hidup di alam liar?
Iwan ingat kisah Nunuk, individu lutung lain yang pernah dilepasliarkan meski tanpa ekor dan mengalami gangguan pada tangannya.
“Secara keilmuan rasanya tidak mungkin. Tapi ternyata ia bertahan dan berkembang biak. Paling penting itu pemantauan.”
Menurut Iwan, lutung yang baru masuk pusat rehabilitasi, wajib menjalani masa karantina tiga bulan. Tahap ini untuk memastikan kondisinya bebas penyakit menular dan kesehatannya stabil.
“Bila hasilnya bagus, masuk tahap sosialisasi.”
Di fase ini, primata cerdas ini dikenalkan dengan individu lain bertahap. Tak hanya membentuk kelompok sosial, tapi juga mengembalikan perilaku alami yang hilang akibat terlalu lama hidup bersama manusia.
Proses tersebut memakan waktu empat hingga enam bulan. Total tahapan rehabilitasi, seekor lutung paling cepat perlu waktu sekitar 10 bulan sebelum dianggap layak dilepasliarkan.
“Itu pun sudah termasuk individu yang sangat istimewa,” jelasnya.

Namun, tidak semua lutung punya kemampuan adaptasi yang sama. Ada individu yang membutuhkan waktu lebih lama, bahkan hingga dua tahun lebih. Biasanya, kondisi ini terjadi pada lutung yang datang sejak bayi atau individu dewasa yang terlalu lama dipelihara manusia.
Menurut Iwan, usia ideal pelepasliaran minimal di atas satu tahun karena telah memiliki kemampuan orientasi dan bertahan hidup lebih baik.
“Terlalu tua juga sulit adaptasi.”
Selain kesehatan fisik, kemampuan mengenali pakan alami, melompat antar-cabang, memanjat pohon, hingga membangun interaksi sosial dengan kelompok, harus dimiliki seekor lutung untuk hidup di hutan.
“Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di pohon.”

Habitat mendukung
Nofi Sugiyanto, Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, mengatakan kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung memiliki ekosistem hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan hujan tropis dataran rendah sebagai habitat alami lutung.
“Ketersediaan pakan melimpah. Dari hasil inventarisasi habitat, terdapat sekitar 30 jenis tumbuhan sebagai sumber pakan alami lutung,” jelasnya, Selasa (26/5/2026).
Beberapa jenis tumbuhan tingkat pohon dan semak yang jadi sumber pakan adalah beringin (Ficus benjamina), ketapang (Terminalia catappa), waru laut (Thespesia populnea), bakau (Rhizophora), hingga pandan laut (Pandanus tectorius).
Kajian ilmiah yang dipublikasikan di Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology UGM, menunjukkan Pulau Nusa Barung punya kualitas ekosistem yang baik untuk mendukung kehidupan satwa liar.
Penelitian berjudul “Wings Above Wilderness: Diversity and Ecological Significance of Winged Vertebrates in Nusa Barung Island Wildlife Reserved, East Java, Indonesia” mencatat tingginya keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Di sini terdapat juga 32 spesies burung dan 10 spesies kelelawar yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Kondisi hutan yang masih rapat, jadi faktor utama pulau tidak dihuni manusia ini dinilai layak sebagai lokasi pelepasliaran lutung.

Berdasarkan hasil smart patrol BBKSDA Jawa Timur 2025 menggunakan drone, sekitar 90 persen kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung masih tertutup hutan lebat. Dengan luas mencapai 7.635 hektar, kawasan ini dinilai cocok bagi lutung yang hidupnya bergantung pada keragaman pohon.
“Tingkat gangguan manusia juga relatif rendah.”
Nofi menjelaskan, saat ini primata liar yang teridentifikasi hidup di pulau yang pernah dibakar Belanda tersebut adalah Macaca fascicularis. Meski demikian, kajian terkait daya dukung kawasan terhadap populasi lutung terus dilakukan sebagai upaya pemantauan jangka panjang konservasi primata kharismatik Jawa itu.
Refrensi:
Atmoko, T., Mukhlisi, W., Aji, F. D. N., Hidayat, O., Sitepu, B. S., Artaka, T., … & Prihatini, I. (2025). Wings Above Wilderness: Diversity and Ecological Significance of Winged Vertebrates in Nusa Barung Island Wildlife Reserved, East Java, Indonesia. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 10(2). https://journal.ugm.ac.id/v3/jtbb/article/view/17393?utm_source
*****