- Masyarakat Suku Semende, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, punya sejumlah kearifan berbagi ruang saat membuka kebun, sekaligus mencegah terjadinya konflik dengan satwa liar.
- Selain mengenal istilah jalur agung, yakni wilayah perlintasan harimau sumatera dan satwa lainnya, mereka juga menjaga pohon semantung di sekitar perbatasan kebun, karena buahnya menjadi pakan favorit bagi siamang.
- Pohon semantung merupakan keluarga Moraceae (ara-aran atau beringin), Genus Ficus spp. dengan nama ilmiah Ficus padana. Semantung disukai beragam satwa liar, termasuk gajah sumatera.
- Karena memiliki nilai budaya, serta nilai ekosistem yang penting, pohon semantung harus dilestarikan dan berpotensi untuk dikembangkan pada lahan-lahan kritis yang berbatasan dengan kawasan konservasi.
Selama ratusan tahun, masyarakat Suku Semende hidup harmonis dengan sejumlah satwa, khusunya siamang (Symphalangus syndactylus), satwa liar penghuni hutan dataran tinggi di Sumatera Selatan.
Apa kuncinya? Selain menjaga amanah leluhur untuk tidak saling mengganggu, masyarakat Semende punya sejumlah kearifan untuk berbagi ruang, sekaligus menghindari konflik dengan satwa liar.
Ada istilah jalur agung yang mereka pahami sebagai jalur atau koridor perlintasan satwa untuk harimau sumatera, rusa, kijang, termasuk siamang. Jalur ini berwujud sebuah kawasan hutan memanjang, yang biasanya mengikuti alur sungai.
Di jalur itu, masyarakat Semende tidak akan membuka kebun, atau bahkan mendekati wilayah tersebut.
“Kasus serangan harimau biasanya terjadi pada pendatang yang tidak mengerti jalur agung ini, sehingga membuka kebun atau membangun rumah di sana,” kata Mang Zakaria, petani ddi Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Selasa (14/4/2026).
Di jalur tersebut, bertahan sejumlah jenis pohon hutan yang menjadi makanan kesukaan satwa, misalnya meranti-merantian (Dipterocarpaceae), ara (Ficus spp.), asam kandis (Garcinia xanthochymus), dan tumbuhan hutan lain.
Selanjutnya, untuk mencegah siamang atau jenis kera lain masuk ke kebun, masyarakat Semende mempertahankan pohon semantung, makanan kesukaan siamang serta jenis-jenis kera lain seperti beruk (Macaca nemestrina), serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Saat kunjungan Mongabay Indonesia ke ataran Datas Pagi, sebuah lanskap sawah dan kebun kopi di Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, pohon semantung ada di setiap batas kebun warga.
“Pohon ini memang tidak ditebang, karena jadi makanan kesukaan siamang, jadi mereka juga tidak pernah masuk ke wilayah kebun,” kata Saptika, petani perempuan di Datas Pagi, Selasa (14/4/2026).
Kebun dan sawah di Datas pagi, berbatasan langsung dengan hutan Bukit Lumut Balai yang terhubung dengan lanskap Bukit Barisan di Sumatera Selatan. Wilayah ini menjadi habitat bagi siamang –jenis owa terbesar, berwaran hitam, dan berstatus Genting (Endangered/EN) menurut Daftar Merah IUCN.
Saat matahari mulai nampak, sekitar pukul enam pagi, siamang terkadang keluar dari dalam hutan Bukit Lumut Balai. Dalam satu kelompok, terdiri lima hingga enam individu, siamang seringkali memakan buah semantung sembari melihat para petani sibuk merawat atau memetik kopi.
“Mereka (siamang) tidak pernah sampai masuk kebun,” tutur Saptika.

Kala berkunjung ke Datas Pagi, kami kurang beruntung. Kelompok siamang seperti tahu keberadaan orang baru. Mereka tidak mendekat ke kebun warga, hanya bernyayi dari kedalaman hutan. Saat didekati, suara mereka kian menjauh.
Namun, dalam satu kali kesempatan, dalam perjalanan pulang menyusuri jalan setapak menuju desa, kami melihat dua individu siamang berada di pohon semantung. Namun, lagi-lagi, saat didekati, siamang itu dengan cekatan berayun di antara ranting dan menjauh.
Menurut Mansir, petani di Datas Pagi, diperkirakan ada puluhan siamang yang masih bertahan di sekitar hutan Bukit Lumut Balai yang berdekatan dengan kebun mereka.
“Ada beberapa kelompok, kalau dilihat mereka terdiri dari beberapa keluarga, karena sering ada anakan yang mereka bawa,” kata Mansir.
Bersama orang Semende, siamang di hutan Bukit Lumut Balai bisa hidup aman. Pesan leluhur memastikan siamang tidak diburu.
“Mereka (siamang) tidak menganggu kami, kenapa harus ganggu mereka?,” jelasnya.

Tumbuhan penting
Pohon semantung merupakan keluarga Moraceae (ara-aran atau beringin), Genus Ficus spp. dengan nama ilmiah Ficus padana. Keluarga tumbuhan ini terkenal spesies penting hutan tropis, terutama karena ketersediaan buahnya yang konsisten sepanjang tahun. Sehingga, sangat penting bagi kelestarian satwa frugivora yang makanan utamanya buah-buahan.
Di wilayah perbukitan, Ficus spp. terkenal memiiki sistem perakaran kuat sehingga penting menjaga kestabilan tanah dan mencegah longsor. Selain itu, sistem ranting yang lebar dan tidak beraturan, berperan penting sebagai ‘jembatan’ atau koridor alami bagi satwa arboreal seperti siamang untuk pindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Merujuk penelitian Cut Malahayati, Muslich Hidayat, dan Rizky Ahadi berjudul “Keanekaragaman Tumbuhan Pakan Siamang (Symphalangus syndactylus) di Stasiun Penelitian Soraya Kawasan Ekosistem Leuser Kota Subulussalam”, famili dari Moraceae (ara-araan) ini merupakan jenis yang disukai siamang.
“Siamang pada dasarnya memanfaatkan pohon-pohon tinggi dengan tajuk lebat sebagai tempat untuk beristirahat, bermain, dan mencari makanan,” tulis Malahayati dan kolega (2025) di jurnal Kenanga.
Tidak hanya itu, dalam penelitian Iqbal Abi Yaghsyah dan kolega berjudul “Daerah jelajah dan vegetasi habitat owa jawa (Hylobates moloch) di Curug Walet Cisokan, Jawa Barat, Indonesia,”, buah semantung atau dikenal juga dengan nama hamerang (Ficus padana), juga dikonsumsi owa jawa.
“Tumbuhan dari marga Moraceae (ara-aran atau beringin) merupakan jenis tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan owa Jawa sebagai pakan,” tulis Yaghsyah dan kolega (2021).

Syamsuardi, Ketua Perkumpulan Jejaring Hutan dan Satwa (PJHS). mengatakan pohon semantung termasuk tumbuhan penting bagi satwa di lanskap hutan tropis, khususnya Indonesia.
Pohon semantung seringkali menjadi rumah bagi beragam serangga, sehingga sangat disukai berbagai jenis burung. Bahkan, tumbuhan ini menjadi pakan favorit gajah sumatera.
“Kalau terlihat gajah, pohon semantung akan jadi rebutan. Dimakan dari daun hingga ke akar,” katanya, kepada Mongabay Indonesia, Sabtu (23/4/2026).

Ketika gajah sakit, tumbuhan semantung yang bergetah juga bisa digunakan sebagai peningkat nafsu makan.
“Dari pengalaman saya, ketika gajah sakit, jika dikasih semantung, nafsu makannya akan meningkat. Diperkirakan, dalam waktu sekitar satu minggu bisa berangsur pulih,” tuturnya.
Semantung juga terkenal sebagai tumbuhan pionir, ia dapat tumbuh subur di lahan yang sudah terdegradasi, sehingga sangat penting untuk dilakukan perbanyakan, khususnya di sekitar wilayah konservasi atau habitat satwa terancam punah.
“Karena punya nilai budaya serta nilai ekosistem yang signifikan, pohon semantung harus dilestarikan,” jelasnya.
Referensi:
Malahayati, C., Hidayat, M., & Ahadi, R. (2025). Keanekaragaman Tumbuhan Pakan Siamang (Symphalangus syndactylus) di Stasiun Penelitian Soraya Kawasan Ekosistem Leuser Kota Subulussalam. KENANGA : Journal of Biological Sciences and Applied Biology, 5(1), 51–60. https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/kenanga/article/view/5975/3059
Yaghsyah, I. A., Husodo, T., Megantara, E. N., Wulandari, I., Atsaury, C. I. A., & Febrianto, P. (2021). Home range and habitat vegetation Javan gibbon (Hylobates moloch) in Culug Walet. Cisokan, West Jawa, Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversity Indonesia. Vol 8 (1), 39-45. ISSN: 2407, 8050. https://www.smujo.id/psnmbi/article/view/9292
*****