- Gempa kuat M7,2 di NTT memicu kepanikan dan membuat ribuan warga mengungsi ke dataran tinggi. Guncangan yang terjadi pada 15 Agustus 2026 membuat warga Maumere dan sejumlah wilayah lain berhamburan keluar rumah. Meski peringatan dini tsunami kemudian dicabut, banyak warga tetap bertahan di pengungsian karena trauma terhadap tsunami Flores 1992.
- Ingatan terhadap gempa dan tsunami Flores 1992 sangat memengaruhi respons masyarakat. Bencana 1992 berkekuatan sekitar M7,8 dan memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 2.500 orang. Pada gempa terbaru, BMKG mencatat sumber gempa berasal dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust, dengan pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo.
- Gempa susulan terus terjadi dan kerusakan tersebar di sejumlah wilayah NTT. Hingga 16 Agustus, BMKG mencatat 995 gempa susulan dengan magnitudo 1,9–6,2, meski hanya 46 yang dirasakan masyarakat. Data sementara juga mencatat 154 rumah rusak berat, 49 rusak sedang, dan 38 rusak ringan, sementara korban luka mencapai 135 orang.
- Penanganan darurat masih berlangsung, dengan kebutuhan utama berupa evakuasi, pendataan kerusakan, layanan kesehatan, dan distribusi bantuan. BNPB membuka posko pendamping nasional di Labuan Bajo dan posko taktis di Maumere serta menyiapkan dukungan udara dan logistik. Pemerintah menargetkan fase tanggap darurat berlangsung sekitar 2–3 minggu, tetapi prosesnya tetap bergantung pada kondisi di lapangan.
Waktu baru beranjak mendekati pukul 05.58 WITA. Warga di Kota Maumere pun baru memulai aktivitas saat tanah di Nusa Tenggara Timur (NTT) tiba-tiba berguncang. Sontak, peristiwa yang berlangsung hingga beberapa menit itu membuat warga berhamburan keluar rumah.
“Warga berhamburan ke luar rumah. Banyak yang langsung mengemas barang-barang dan melarikan diri menggunakan sepeda motor dan mobil,” ujar Riski Parera, warga Kota Maumere, Sabtu (15/8/25).
Hanya dalam hitungan menit, Jalan Raya Trans Flores penuh ribuan warga yang berlarian menuju perbukitan. Bayang-bayang tsunami yang terjadi 1992 mendorong mereka segera mencari tempat dataran tinggi.
Pagi itu, gempat berkekuatan 7, 2 skala richter mengguncang NTT. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut perisitwa itu berpotensi memicu tsunami, sesaat setelah kejadian. Sekitar pukul 07.30, peringatan dini tsunami BMKG cabut.
Meski begitu, sebagian besar warga masih belum berani kembali pulang. “Kami belum berani ke rumah karena masih trauma dengan gempa dan tsunami tahun 1992,” sebut Siti Zulfiah Bira, warga Kelurahan Kota Uneng kepada Mongabay.
Tempat tinggalnya tak jauh dari pantai membuat dia memilih bertahan di lapangan Kantor Kwarcab Sikka, salah satu tempat pengusian yang pemerintah siapkan. Bersama ribuan warga lain, dia dan anggota keluarganya memilih bertahan di pengungsian.

Trauma tsunami 1992
Kendati saat gempa dan tsunami 1992, Siti masih dapat mengingat suasa mencekam kala itu. Trauma akan peristiwa itu pula yang membuatnya tak berani pulang sebelum kondisi benar-benar aman.
“Gempa susulan masih terjadi sehingga kami masih merasa belum aman kembali ke rumah,” katanya.
Gempa bumi dan tsunami melanda Flores Sabtu (12/12/92) terjadi sekitar pukul 13.29 WITA. Gempa dengan kekuatan 7,8 skala magnitudo itu memicu tsunami dan menewaskan lebih 2.500 orang.

Pergerakan sesar
BMKG mencatat, gempa yang melanda Flores terpicu pergerakan sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan kuat. Pusat gempa tektonik dengan skala 7,7 magnitudo itu berada di kedalaman 15 kilometer.
“Gempa ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT,” kata Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG.
Stasiun pemantauan BMKG mencatat gelombang tsunami tiba di 10 titik pesisir utara Flores yakni di Sikka dengan ketinggian 0,20 meter dan 0,38 meter dan Flores Timur 0,25 meter.
Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat ketinggian mencapai 0,36 meter, Maurole (Kabupaten Ende) 0,94 meter.Ketinggian 0,17 meter tsunami terjadi di Dompu, NTB, Bakalang, Alor, NTT 0, 14 meter.
Wilayah Sulawesi Selatan terjadi di Baubau dengan ketinggian 0,30 meter, Bulukumba 0,54 meter dan Kolaka dengan ketinggian 0,23 meter.
Wijayanto, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, katakan, hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mendeteksi sebanyak 37 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan rentang magnitudo 3,6-6,2.
“Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M7.8 hingga M7.9. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores,” katanya.
Teuku Faisal, Kepala BMKG, menyebut, berdasarkan histori dan karakteristik wilayah , proses stabilisasi sesar memerlukan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.
“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya.”
Data korban
Di Maumere, tiga korban meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan lantai dua terminal penumpang milik PT. Pelindo di area Pelabuhan Laurens Say, Maumere. Saat peristiwa itu terjadi, korban tengah menunggu kapal Pelni KM. Bukit Siguntang dari Makassar dan hendak ke Kupang.
Sementara satu korban lainnya meninggal karena tangga naik turun dari pelabuhan ke kapal terjatuh ke laut saat gempa terjadi. “Saat gempa, tiang pengikat tali kapal ambruk sehingga tali terlepas dan kapal bergeser dari pelabuhan,” terang Angga Adi Prebawa, GM Pelindo Maumere.
Para penumpang yang berada di dalam tangga pun terjatuh ke laut, meski sebagian besar selamat. Hingga sore petugas penyelam masih menyisiri dasar laut guna mencari kemungkinan adanya korban yang terjebak dalam tangga.
Abdul Muhari, Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, hingga Minggu (16/8/26) pukul 16. 00, korban jiwa tercatat 53 orang. Rinciannya, Kabupaten Manggarai Barat (1), Manggarai Timur (20), Manggarai (25), Nagekeo (1), Sikka (4), dan Ende (2).
“Untuk data orang hilang, sampai hari ini, Basarnas belum menerima adanya laporan orang hilang dari tujuh kabupaten,kota terdampak. Tetapi, kami masih siagakan personel di lapangan jiwa sewaktu-waktu ada laporan, bisa merespons dengan cepat,” katanya.
Untuk korban luka, lanjut Muhari, ada 135 jiwa. Mereka berasal dari Sikka (12), Manggarai 17 luka berat 20 luka ringan, Manggarai Timur 21 luka berat, 51 luka ringan), dan Manggarai Barat enam luka berat.
Menurut Muhari, beberapa daerah tetapkan tanggap darurat. Seperti Manggarai untuk 90 hari, Manggarai Timur 14 hari. Sedangkan NTT, saat ini masih dalam proses penetapan.
Dia mendorong masing-masing daerah terdampak segera memverifikasi data kerusakan material di lapangan. Data itu, katanya, sangat penting untuk memastikan tindak lanjut pasca penanganan tanggap darurat dan recoveri mendatang.
Sampai hari ini, data dari berbagai daerah data kerusakan rumah yang rusak mencapai 154 (rusak berat), 49 rusak sedang dan 38 rusak ringan. “Tentu saja data ini masih dinamis, mengikuti perkembangan di lapangan,.”
Terkait dengan pengungsi, saat ini tim di lapangan akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan jumlah pengungsi. Sejauh ini, di beberapa lokasi masih penuh oleh para pengungsi. Bukan hanya karena tempat tinggal mereka rusak, tetapi juga masih trauma atas gempa dan tsunami 1992.

995 kali gempa susulan
Dari BMKG, hingga Minggu (16/8/26) sore, total gempa susulan tercatat mencapai 995 kali dengan magnitudo 1,9-6,2. Tetapi, dari rangkaian peristiwa itu, yang masyarakat rasakan ‘hanya’ 46 kali.
“Yang perlu kita pahami, gempa susulan ini diperlukan oleh struktur patahan agar menjadi stabil. Jadi ini fenomena alam yang harus dilalui. Harapannya, energi yang terlepas bisa segera luruh dan kembali stabil,” jelas Muhari.
Dia meminta warga di pengungsian untuk menyempatkan diri mengecek rumah masing-masing guna memastikan ada tidaknya struktur bangunan yang rusak. “Kalau ada struktur yang tidak pada tempatnya, segera lapor sehingga bisa direkap masuk pendataan.”
Terkait akses jalan di Kecamatan Reo, tepatnya di kilometer 49 Kabupaten Manggarai Barat yang sebelumnya terputus kini sudah bisa dilalui. Begitu juga beberapa jalan lain yang sebelumnya sempat tertutup material longsor, sebagian besar juga sudah terbuka.
Pada hari kedua pasca gempa, BNPB telah membuka posko pendamping nasional di Labuan Bajo dan Posko Taktis lapangan di Maumere, termasuk media center yang berlokasi di kantor bupati Manggarai Barat. Selain itu, BNPB juga membuka posko dukungan logistik nasional di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
“Sehingga, bagi masyarakat, organisasi dan segenap entitas lainnya yang ingin membantu meringankan saudara-saudara kita, bisa langsung ke tiga posko tersebut.”
Saat ini, pemerintah menyiapkan lima unit satuan udara dari TNI AL, AD, dan BNPB. “Ini kita siapkan seandainya diperlukan untuk mobilisasi satuan atau logistik ke beberapa lokasi yang diperlukan,” kata Muhari.
Terkait bantuan logistik, pada tahap pertama, presiden mengirimkan 50.000 paket sembilan bahan pokok (sembako), 4925 paket sudah tiba. Saat ini, ribuan paket sembako itu dalam proses distribusi melalui Posko Labuan Bajo sebanyak 3.200 paket untuk Manggarai Barat (550 paket), dan Manggarai (1.000 paket). Lalu, Manggarai Timur, Nagekeo serta Ngada masing-masing 550 paket. Sedangkan melalui Posko Maumere sebanyak 1725 paket untuk Sikka 1.000 paket dan Ende 725 paket.
Sejumlah pejabat tinggi dari Menko PMK, Mendagri, Menteri Perhubungan, Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Wamenkes, Wamensos datang ke lokasi, Minggu (16/8/26) sore. Mereka di lokasi untuk melakukan identifikasi situasi dan kondisi di lapangan.
Menurut Muhari, pemerintah menargetkan penanganan tanggap darurat selesai dalam 2-3 minggu ke depan. Dengan begitu, tahapan penanganan bisa berlanjut pada fase transisi. “Akan tetapi, hal itu sangat bergantung dengan kondisi di lapangan,” katanya.

Terus pantau perkembangan
Melkias Laka Lena, Gubernur NTT terus melakukan pemantauan terkait kondisi terkini pasca gempa yang terjadi Sabtu (15/8/26) itu. Pihaknya menerima informasinya adanya empat warga yang masih tertimpa bangunan ambruk di Manggarai.
Jaringan listrik yang sebelumnya sempat terputus juga mulai pulih. “Saya bersama segenap pimpinan Forkopimda NTT langsung turun ke lokasi untuk memastikan bahwa pemerintah hadir dan penanganan bencana berjalan dengan baik,” ucapnya.
Menurut Melkias, selain menghancurkan ratusan rumah ratusan fasilitas umum juga rusak. Data sementara yang masuk meliputi lembaga pendidikan (87 unit), fasilitas kesehatan (18 unit), tempat ibadah (5 unit), dan sejumlah perkantoran.
Dia mendesak pemerintah pusat menetapkan gempa yang terjadi di NTT sebagai bencana nasional.
Irjen Pol. Rudi Darmoko, Kapolda NTT menyampaikan, selain anjing pelacak, pihakna telah menyiapkan tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk membantu identifikasi. “Tim trauma healing untuk mulai merilis trauma bagi para korban,” ungkapnya.
Atanasius Paulus Kostant Lameng, Direktur Rumah Sakit TC Hillers, Maumere, mangatakan, untuk sementara, mereka ungsikan para pasien di luar ruangan. Beberapa tenda darurat dia buka untuk membantu penanganan para pasien.
“Untuk pasien khusus gempa, ada 15 orang, tiga meninggal, satu luka berat dan satu lainnya luka ringan.”
*****