- Selama ratusan tahun, masyarakat Suku Semende yang berkebun di sekitar Datas Pagi, sebuah ataran atau lanskap sawah bertingkat di kaki Bukit Lumut Balai, bagian Bukit Barisan di Sumatera Selatan, hidup harmonis dengan owa siamang.
- Hal ini dikarenakan adanya sebuah pesan atau perjanjian leluhur Suku Semende kepada siamang agar tidak menganggu satu sama lain. Nyanyian siamang juga digunakan sebagai penanda waktu bagi warga setempat.
- Tercatat ada dua jenis owa yang hidup di Sumatera Selatan, yakni owa siamang (Symphalangus syndactylus) dan owa ungko (Hylobates agilis). Keduanya dilindungi Undang-undang dan berstatus Genting (Endangered/EN).
- Saat ini belum ada perkiraan populasi owa siamang dan ungko di Sumatera Selatan, namun ancaman datang dari degradasi habitat serta aktivitas perburuan dan perdagangan ilegal.
Matahari menyinari sawah bertingkat di Datas Pagi. Masyarakat Suku Semende menyebut wilayah ini sebagai ataran atau lanskap sawah yang berada di ketinggian 1.300 mdpl. Letaknya, di kaki Bukit Lumut Balai, bagian Bukit Barisan di Sumatera Selatan.
Secara administratif, Datas Pagi masuk wilayah Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim. Namun, sebagian besar orang yang berkebun kopi dan menggarap sawah di sini, berasal dari Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah.
“Keluarga tertua yang berkebun di sini sekitar enam generasi,” kata Mang Zakaria (42), petani di Datas Pagi, kelahiran Desa Segamit, namun menetap di Desa Muara Tenang, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (15/4/2026).
Setiap hari, Zakaria beserta istri dan anaknya terbiasa menempuh perjalanan pulang-pergi dari Muara Tenang ke Datas Pagi dengan sepeda motor. Jaraknya sekitar 42 kilometer, dengan medan turun, naik, dan berkelok.
Terkadang saat musim hujan, mereka lebih memilih menginap di dangau atau kebun. “Takut longsor.”

Mansir (51), warga Desa Tanjung Tiga, menjelaskan masyarakat sudah menggarap sawah di sekitar Datas Pagi turun temurun, sejak ratusan tahun lalu. Setelahnya, baru masuk kopi sekitar abad ke-19, disusul sayuran sejak tahun 2000-an.
“Ada puluhan keluarga berkebun di sini. Dulu, wilayah ini terkenal sebagai penghasil sayur. Tapi sekarang berkurang, berganti kebun kopi.”
Saat ini, mayoritas keluarga menggarap lahan sawah dan kopi. Pada pertengahan April, seperti biasanya, padi menghijau. Pada fase ini, sawah nampak sepi karena tidak lagi membutuhkan perawatan intensif, hanya menunggu panen sekitar Juni-Juli.
Di sela waktu itu, warga merawat dan memanen sebagian buah kopi yang mulai matang sempurna. “Sayang, bisa rontok kalau tidak dipetik,” jelasnya.
Kebun kopi Zakaria berada di kaki Bukit Lumut Balai, berstatus kawasan hutan lindung (HL), yang dikelola UPTD KPH Wilayah VIII Semendo dengan luas wilayah kerja sekitar 70.000 hektar.
Areal sawah dan kebun kopi di Datas Pagi masuk kawasan hutan desa (HD) yang disetujui sejak tahun 2016. Merujuk situs resmi Peta Interaktif SIGAP Kementerian Kehutanan, luas HD di Desa Tanjung Tiga mencapai 715 hektar, yang berada di sisi utara dan selatan permukiman warga.

Menurut Mansir, mereka mengetahui betul batas wilayah hutan lindung dan menghormati kawasan tersebut. Selain itu, menurut kepercayaan Suku Semende, hutan Bukit Lumut Balai tidak boleh dirusak karena menjadi rumah bagi setue atau puyang –sebutan untuk harimau sumatera.
“Kami menghormati itu. Kalau sampai rusak, setue bisa turun ke dusun. Kalau sudah turun, itu tandanya ada hal buruk yang diperbuat terhadap hutan.”
Sejauh ini, belum ada kasus harimau turun atau menampakkan diri ke warga, khususnya di Desa Tanjung Tiga.
“Jangan sampai terjadi.”
Sebagai informasi menurut keterangan sejumlah warga di sekitar Datas Pagi, hutan Bukit Lumut Balai menjadi rumah bagi sejumlah satwa terancam punah. Misalnya kucing besar (harimau sumatera/Panthera tigris sumatrae), tapir atau tenuk (Tapirus indicus), kucing kecil seperti kucing kuwuk (Felis bengalensis), kucing emas (Catopuma temminckii), macan dahan (Neofelis diardi), serta siamang (Symphalangus syndactylus).

Hidup harmonis
Selain menghormati harimau sumatera, Suku Semende juga menghormati sebuah perjanjian antara leluhur mereka dengan siamang –primata dari keluarga owa yang dilindungi dan berstatus Genting (Endangered/EN), menurut Daftar Merah IUCN.
Perjanjian tersebut menyatakan, siamang dilarang mengganggu manusia, tidak boleh turun ke tanah, dan tetap berada di pohon. Jika turun ke tanah, maka siamang akan berjalan lambat, tidak selincah primata lainnya.
“Sebaliknya, kami juga dilarang mengganggu siamang,” kata Zakaria.
Siamang juga tidak pernah menganggu kebun warga atau merusak tanaman seperti kopi, padi atau buah-buahan yang ditanam warga. Perilaku ini berbeda dengan jenis primata lain seperti beruk dan monyet ekor panjang yang lebih sering masuk ke wilayah kebun masyarakat.
“Mereka sering berada di pinggir hutan, atau di hutan kecil yang berbatasan dengan kebun, karenanya kami dan siamang hidup harmonis.”
Dengan kantung suara khasnya, nyanyian siamang bisa menembus kedalaman hutan. Suara-suara ini terutama digunakan untuk mengklaim wilayah per kelompok yang berisi lima hingga enam individu.
Namun, bagi warga, nyanyian siamang menjadi pertanda untuk segera memulai aktivitas di kebun. Siamang mulai bernyayi pukul enam pagi, dan akan berhenti sekitar pukul 10 atau 11 siang hari.
“Kalau siamang mulai bernyanyi, kami harus segera ke kebun.”

Saat Zakaria memetik kopi, nyanyian siamang masih bergema dari hutan. Untuk memastikannya, Mongabay Indonesia coba mendekati sumber suara. Namun, setelah masuk ke hutan, tidak satupun siamang terlihat, sementara suaranya masih terdengar dan makin menjauh.
Siamang memang primata pemalu dan lincah, hal ini didukung lengan mereka yang lebih panjang dari kaki. Kondisi ini memudahkannya untuk berayun dari satu pohon ke pohon lain.
Tercatat ada dua jenis owa yang hidup di Sumatera Selatan, yakni owa siamang dan owa ungko (Hylobates agilis). Keduanya dilindungi Undang-undang, dan sama-sama berstatus Genting (Endangered/EN), menurut Daftar Merah IUCN.
Uniknya, mengutip Sandiego Zoo dijelaskan bahwa selain ukuran yang lebih besar, siamang memiliki bentuk jari berbeda dari owa lainnya, yakni selaput di antara jari kaki kedua dan ketiga mereka. Selain itu, ibu jari dan jari kaki yang dapat digerakkan, juga tidak dimiliki oleh anggota keluarga owa lainnya.
Mengutip Gibonesia, owa siamang memiliki bentuk jari berbeda dari owa lainnya, yaitu sindaktili, sebuah kondisi kedua jari tangannya menyatu. Pada siamang, sindaktili terjadi pada jari tengah dan jari telunjuk. Kondisi ini juga menjadi dasar penamaan ilmiah owa siamang yaitu syndactylus.
Menurut Aslianah (50), petani di kaki Bukit Lumut Balai, selama berkebun, dia belum pernah melihat owa ungko, yang ada hanya siamang.
“Owa ungko yang kami paham itu, hidupnya di tanah panas seperti Lahat hingga Banyuasin, kalau di sini (Semende) belum pernah lihat.”

Ancaman perburuan
M. Andre, Kepala Satuan Polisi Hutan (Polhut) Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel), mengatakan lanskap Bukit Barisan menjadi habitat owa siamang. Sementara, habitat owa ungko berada di wilayah Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.
“Dulu, owa ungko juga menghuni hutan dataran rendah di sekitar Banyuasin, tapi di bawah tahun 1990-an. Seiiring tergerusnya habitat, kini sudah tidak ada,” ungkapnya, ditemui di kantor BKSDA Sumsel, Kamis (7/5/2026).
“Sementara untuk populasi belum ada data,” lanjut Andre.
Sejauh ini, ancaman terbesar owa siamang maupun ungko, selain degradasi habitat, adalah perburuan. Hal ini dibuktikan dengan serahan siamang peliharaan kepada BKSDA Sumsel yang kini dirawat di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan.

Made Wedana, Direktur The Aspinall Foundation, menjelaskan sejak tahun 2022, mereka sudah melakukan kerja sama program rehabilitasi dan pelepasliaran dengan Kementerian Kehutanan di wilayah BKSDA Sumsel.
“Ada 40 siamang yang direhabilitasi dan sudah lepas liar enam individu hingga 2026,” katanya, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (20/4/2026).
Untuk ungko, satu individu yang direhabilitasi karena baru dimasukkan dalam kerja sama pada 2026.
“Sebagian besar siamang, termasuk ungko yang direhabilitasi berasal dari serahan peliharaan.”
*****
Kisah Mong, Owa Ungko yang Selamat dari Peluru Senapan Angin