Pada Maret 2020, sebuah laporan mengejutkan datang dari puncak Gunung Llullaillaco, sebuah gunung berapi aktif di perbatasan Chile dan Argentina. Jay Storz, seorang ahli biologi dari University of Nebraska-Lincoln, berhasil menangkap seekor tikus telinga kuning (Phyllotis vaccarum) hidup-hidup di ketinggian 6.739 meter di atas permukaan laut (mdpl). Penemuan ini seketika meruntuhkan teori lama yang menyebutkan bahwa batas absolut toleransi mamalia terhadap ketinggian hanya berada di sekitar 5.000 meter. Di ketinggian 6.700 meter, oksigen sangat tipis dan suhu ekstrem menjadi tantangan mematikan bagi sebagian besar makhluk hidup. Namun, empat tahun setelah penemuan tersebut, serangkaian data terbaru mengungkapkan bahwa mamalia ini bukan sekadar pengunjung musiman. Mereka adalah penghuni tetap yang tangguh di “atap dunia”.
Salah satu pembaruan data paling signifikan muncul pada akhir 2023 melalui sebuah ekspedisi lanjutan. Tim peneliti kembali ke wilayah Puna de Atacama dan menemukan puluhan “mumi” tikus yang terawetkan secara alami oleh udara dingin dan kering di puncak-puncak gunung berapi seperti Gunung Salín, Pular, dan Copiapó. Keberadaan sisa-sisa fisik ini memberikan bukti nyata mengenai sejarah panjang keberadaan mereka di sana.

Awalnya, mumi-mumi ini diduga sebagai hewan yang dibawa oleh bangsa Inka untuk ritual pengorbanan ratusan tahun silam di puncak gunung yang dianggap sakral. Namun, hasil penanggalan radiokarbon membuktikan bahwa tikus-tikus tersebut mati secara alami dalam rentang waktu yang sangat beragam. Bahkan, beberapa mumi diketahui baru mati beberapa dekade lalu, yang mengonfirmasi bahwa tikus telinga kuning telah mengkolonisasi puncak-puncak ekstrem Andes selama ribuan tahun secara mandiri tanpa campur tangan manusia.
Fleksibilitas Genetik Tanpa Mutasi Drastis
Penelitian genomik terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology memberikan kejutan lain bagi dunia sains. Analisis DNA terhadap puluhan spesimen menunjukkan bahwa tikus yang hidup di ketinggian 6.739 mdpl secara genetik identik dengan populasi yang hidup di dataran rendah hingga selevel permukaan laut. Temuan ini mematahkan asumsi bahwa diperlukan evolusi genetik selama jutaan tahun untuk bisa bertahan di lingkungan ekstrem.


Hal ini membuktikan adanya fleksibilitas fisiologis atau plastisitas fenotipik yang luar biasa pada spesies ini. Alih-alih mengandalkan mutasi genetik permanen, mereka tampaknya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan metabolisme dan efisiensi penggunaan oksigen secara dinamis sesuai dengan kondisi lingkungan yang dihadapi. Ini adalah rekor distribusi vertikal paling luas bagi mamalia mana pun di Bumi, mencakup rentang hampir 7.000 meter perbedaan ketinggian yang menunjukkan daya tahan luar biasa.
Strategi Bertahan Hidup di Lingkungan Tanpa Tumbuhan
Di atas ketinggian 6.000 meter, kondisi lingkungan sangat gersang, beku, dan tidak ada tumbuhan hijau yang mampu tumbuh sebagai sumber pangan primer. Lalu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup tanpa dasar rantai makanan yang jelas? Para peneliti mulai menyingkap tabir ini melalui analisis mendalam terhadap isi perut dan sisa-sisa kotoran yang ditemukan di sekitar lokasi penemuan.
Tikus-tikus ini ternyata bertahan hidup dengan strategi oportunistik yang sangat efisien. Mereka mengonsumsi serangga yang terbawa oleh angin kencang dari dataran yang lebih rendah menuju puncak gunung, serta memanfaatkan lumut kerak (lichens) yang melekat tipis pada batuan vulkanik. Kehadiran individu jantan dan betina dalam jumlah seimbang di lokasi tersebut juga membuktikan bahwa mereka melakukan reproduksi secara aktif. Mereka membentuk komunitas sosial yang stabil di lingkungan yang menyerupai permukaan planet Mars tersebut, memberikan pemahaman baru bagi para ahli biologi mengenai batas-batas toleransi kehidupan vertebrata di Bumi.
**
Referensi:
Discovery of the world’s highest-dwelling mammal Jay F. Storz, Marcial Quiroga-Carmona, Juan C. Opazo, Thomas Bowen, Matthew Farson, Scott J. Steppan, Guillermo D’Elía bioRxiv 2020.03.13.989822; doi: https://doi.org/10.1101/2020.03.13.989822 Now published in Proceedings of the National Academy of Sciences doi: 10.1073/pnas.2005265117
Mummified mice discovered atop sky-high Andean volcanoes Jay F. Storz, Schuyler R. van Montfrans, Stephen O. Guyton, et al. Current Biology 2023.10.23; doi: 10.1016/j.cub.2023.08.085 Tautan: https://news.unl.edu/article/mummified-mice-discovered-atop-sky-high-andean-volcanoes