- Perubahan kebiasaan memasak menjadi mengonsumsi makanan siap saji menjadi hal yang biasa bagi sebagian perantau. Aktivitas ke dapur pun menjadi hilang karena adanya keterbatasan waktu, fasilitas dan akses pangan segar.
- Cerita dua orang muda di Makassar, Kartika Gene dan Samanta mungkin bisa menjadi refleksi banyak perantau lainnya. Mereka memilih konsumsi makanan siap saji atau membeli makanan dibandingkan memasak di kota rantau.
- Perubahan pola konsumsi ini pun disebabkan adanya perubahan sistem produksi pangan, maka cara orang berinteraksi, mengolah, hingga mengonsumsi pangan pun ikut bergeser.
- Wilda Yanti Salam, peneliti bidang gastronomi menjelaskan bahwa pangan tidak hanya dipahami sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai pengetahuan yang hidup dan terus dibicarakan. Ia muncul di dapur, di ruang kelas, diskusi, hingga pada pilihan tentang apa yang dimakan hari ini.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Sejak 2020, Kartika Gene merantau ke Kota Makassar dari kota kelahirannya di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Waktu, pekerjaan dan ritme kota membuat kebiasaan dalam mengonsumsi makanan menjadi berbeda. Kebiasaan memasak perlahan bergeser menjadi membeli makanan siap saji atau instan.
“Semakin tidak lagi menyentuh dapur tiap pagi, dari dibikin menjadi dibeli”, tutur Gene yang bekerja sebagai akuntan di salah satu media daring kepada Mongabay, pada bulan Mei lalu,
Dulu, saat masih sekolah, Gene ingat bahwa pagi harinya bermula dari dapur. “Makan nasi goreng yang dibuat seadanya, dari nasi sisa semalam.” Memori itu, kata Gene bukan cuma soal makanan, tapi juga upaya mengolah sisa makanan agar tak terbuang.
Namun saat merantau, pilihan makanannya berubah. Dia tak lagi memasak, lebih sering memilih apa yang tersedia daripada apa yang diinginkan.
Saat kuliah, dia mengandalkan makanan instan. “Makannya mie instan, sosis, nugget, yang instan-instan.” Baginya, aktivitas memasak menjadi hilang karena tidak adanya lemari pendingin (kulkas) karena bahan makanan tak bertahan lama jika tak langsung dimasak.

Samanta, orang muda asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) pun merasakan hal yang sama. Sejak kecil, dia sangat dekat pesisir dan dapur. Tiap hari, makanan di piringnya beragam, mulai dari ikan, kerang, hingga sayur.
Sayangnya, kebiasaan itu berubah ketika dia merantau ke Makassar. Saat kuliah, pilihan makanan menjadi terbatas agar bisa menghemat biaya. “Cari yang praktis dan murah,” cerita Samanta yang kini sudah menjadi guru di sekolah swasta.
Meski kini sudah memiliki penghasilan, dia tetap jarang memasak. Privilese itu tidak sepenuhnya mengubah kesehariannya di kota karena sudah lelah bekerja. Baginya, hal yang terpenting adalah ada nasi sebagai kunci agar kenyang.
“Saya tumbuh dengan nasi adalah makanan utama.”
Meski saat ini mulai mengenal sumber karbohidrat selain nasi, dia masih kesulitan mengubah kebiasaan itu.
Tak hanya bicara tentang waktu, Gene dan Samanta pun merasakan ada perubahan rasa dan kebiasaan dalam konsumsi makanan. Bagi Samanta, perbedaan paling terasa ada pada ikan, “Di kampungku karena rata-rata nelayan, makanya ikan gampang ji didapat.” Tapi berbeda saat di Makassar, rasa ikannya berbeda. “Biasa masih ada yang rasa pasir,” tuturnya.
Begitu juga cerita keluarga Gene terkait konsumsi sagu.
“Satu pohon itu bisa kasi’ makan satu keluarga selama berbulan-bulan.” Kisah itu membuat Gene melihat bahwa pilihan pangan di masa lalu tidak hanya bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama.
Namun di kota, dia sulit melakukan itu. Gene kerap ingin membuat kapurung, olahan makanan dari sagu dengan beragam protein dan serat lainnya. Tapi, sagu di kota bukan tidak ada, melainkan sulit didapatkan. “Kalau pun dapat sagu, biasanya harus ke pasar dulu.”

Perubahan pola perilaku konsumsi
Pengalaman Gene dan Samanta menjadi realita masyarakat urban saat ini. Perubahan kebiasaan bisa dipengaruhi dengan adanya ketersediaan waktu, keinginan dalam diri dan akses akan sumber pangan. Tak bisa dipungkiri jika akses sumber pangan segar di kota menjadi terbatas dibandingkan di wilayah kabupaten yang lebih dekat dengan sumbernya.
Di tengah perubahan itu, konsep pangan lokal menjadi penting untuk melihat kembali keragaman pangan yang ada selama ini. Wilda Yanti Salam, peneliti bidang gastronomi menjelaskan bahwa pangan lokal tidak hanya merujuk pada makanan tradisional dan bukan berarti itu harus berasal dari tanaman asli daerah tersebut, tetapi juga pada tanaman yang tumbuh dan hidup dalam suatu wilayah tanpa merusak ekosistemnya.
“Kalau dibilang tanaman endemik, sagu tidak endemik, begitu pun jagung dan singkong. Tapi kan semua itu bisa tumbuh di sini, dan sifatnya tidak ekstraktif atau merusak,” tutur Wilda saat diskusi di Makassar International Writers Festival pada Mei lalu.
Minimnya keragaman pangan saat ini, katanya juga berkaitan dengan arah regulasi yang kerap mengabaikan konteks lokal. Baginya, kebijakan-kebijakan pangan saat ini tak tepat sasaran dan tidak kontekstual. Akibatnya, keragaman pangan yang sudah hilang justru menghilang.

Wilda bilang, perubahan ini tidak hanya berdampak pada apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana masyarakat hidup. Ruang-ruang komunal yang dulu hadir melalui aktivitas di ladang perlahan menghilang seiring perubahan sistem produksi. Ketika sistem produksi berubah, maka cara orang berinteraksi, mengolah, hingga mengonsumsi pangan pun ikut bergeser.
“Kalau tanam jagung, orang masih punya waktu untuk ma’barobbo’, pesta jagung bersama.” Namun, kebiasaan itu berubah ketika sistem pertanian bergeser ke arah monokultur skala besar dan ekstraktif. “Kalau sekarang itu semua jadi sawit. Nah, itu tidak ada memang yang bisa tumbuh di sekitarnya”, keluh Wilda mengisahkan kampungnya di Luwu Timur yang berjarak ratusan kilometer dari Makassar.
Perubahan sistem pangan di Indonesia juga bergerak dalam sejarah yang panjang, termasuk melalui proyek besar seperti revolusi hijau sejak 1950-an. Program ini mulai dijalankan pada masa Orde Baru sejak akhir 1960-an melalui berbagai skema intensifikasi pertanian, seperti Bimbingan Massal (Bimas) dan Intensifikasi Massal (Inmas).
Dampaknya, konsep tersebut kemudian mengalami penyempitan makna menjadi swasembada beras yang dianggap sebagai makanan pokok masyarakat. Orientasi tersebut kemudian melatarbelakangi penetapan target swasembada beras oleh pemerintah dengan capaian yang kemudian diklaim terjadi pada tahun 1984.
Padahal, kata Wilda, sumber pangan tidak pernah tunggal. “Ada sagu, jagung, ubi, sukun dan semua itu tidak kalah enak daripada beras sebenarnya.”

Dampak swasembada beras
Gene menyadari bahwa imajinasi tentang makanan dalam kehidupan sehari-hari berujung pada pilihan yang terbatas, “Kita tidak punya banyak imajinasi soal makanan kenyang selain nasi, karena itu yang dihadirkan,” ujar Gene.
Pergeseran itu mulai tampak dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang-ruang belajar. Samanta melihat banyak generasi muda jauh dari pengetahuan tentang pangan lokal.
“Mereka cenderung menyebut nama merk makanan, bukan lagi nama makanannya. Cuma tahu kimbab, kebab, sushi, dan burger. Sementara makanan lokal justru dianggap makanan orang tua,” tuturnya.
Referensi makanan memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang pangan dalam lingkup kecil tidak hanya terbentuk dari apa yang dikonsumsi, tetapi juga dari cara orang belajar dan membicarakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian berjudul Pengaruh Swasembada Beras Terhadap Kesejahteraan Petani di Indonesia (2024) menunjukkan kebijakan swasembada beras berdampak pada sistem pangan di Indonesia. Di saat yang sama, petani semakin bergantung pada benih unggul, pupuk, dan pestisida sehingga ikut memengaruhi keragaman pangan.
Bagi Wilda, kesadaran tentang pangan tidak berdiri sebagai pengetahuan yang lahir dari ruang akademik, melainkan juga tumbuh dari pengalaman kolektif. “Yang menarik dari isu pangan karena semua orang berhak membicarakan itu dan semua orang terhubung dengan itu,” ucapnya.
Kesadaran itu, menurutnya, seringkali justru muncul ketika orang mulai terhubung dalam ruang-ruang komunitas, di mana pengalaman makan, pengetahuan lokal, dan praktik keseharian dibicarakan. Dari situ, pangan tidak hanya dipahami sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai pengetahuan yang hidup dan terus dibicarakan. Ia muncul di dapur, di ruang kelas, diskusi, hingga pada pilihan tentang apa yang dimakan hari ini.
*****
*A. Nur Ismi adalah jurnalis lepas yang mulai aktif di bidang jurnalistik sejak mahasiswa. Sejumlah liputannya terbit di Bollo.id. Tulisan ini menjadi salah satu kolaborasi Mongabay Indonesia dan Festival Makassar International Writers Festival 2026.