- Petani lereng Gunung Marapi punya strategi dan adaptasi berbasis pengalaman. Erupsi yang terus berulang sejak Desember 2023 membuat petani seperti Omniwati dan Ernis belajar membaca arah angin, menyesuaikan aktivitas di ladang, serta mencari sumber penghasilan alternatif ketika abu dan pasir vulkanik merusak tanaman mereka.
- Erupsi Marapi menyebabkan kerugian besar bagi sektor pertanian. Abu dan pasir vulkanik menutupi lahan hortikultura, merusak tanaman yang hampir panen, dan memaksa banyak petani kehilangan pendapatan selama berbulan-bulan. Data Kementerian Pertanian menunjukkan sedikitnya 3.144 hektar lahan hortikultura di Tanah Datar, Agam, dan Padang Panjang terdampak erupsi.
- Pemulihan lahan membutuhkan waktu panjang dan biaya tinggi. Material vulkanik mengubah karakteristik tanah dan menurunkan produktivitas lahan sehingga petani harus membersihkan lahan, memperbaiki kesuburan tanah, serta menanggung biaya produksi tambahan, termasuk pembelian air saat cuaca kering dan tidak menentu akibat perubahan iklim.
- Ancaman erupsi belum berakhir, sementara sistem adaptasi masih terbatas. Meski masyarakat mulai terbiasa hidup berdampingan dengan aktivitas vulkanik Marapi, sebagian besar upaya mitigasi masih dilakukan secara mandiri dan bergantung pada pengalaman lokal. Aktivitas gunung yang masih berstatus Waspada (Level II) menunjukkan perlunya dukungan teknis dan sistem mitigasi yang lebih terstruktur bagi masyarakat lereng gunung.
Suara gemuruh dari arah Gunung Marapi bukan lagi hal asing bagi Omniwati. Perempuan 50 tahun itu tinggal dan bertani di lereng gunung yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupannya. Da berkali-kali mendengar letusan, melihat abu vulkanik membumbung ke langit, hingga merasakan atap rumahnya bergetar ketika erupsi besar terjadi.
Jika beberapa tahun lalu suara letusan membuatnya segera meninggalkan ladang, kini respons Omniwati berbeda. Pengalaman menghadapi erupsi berulang telah mengubah caranya menyikapi letusan dari gunung.
“Kalau dulu dengar suara gunung, langsung pulang. Sekarang paling lihat dulu arah anginnya ke mana,” kata ibu satu anak ini, Minggu (31/5/26).
Bagi Omniwati yang bertani di Koto Baru, tepat di Lereng Gunung Marapi yang membentang di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini, arah angin menjadi penentu penting.
Abu vulkanik yang terbawa angin dapat merusak tanaman cabai, kentang, bawang, dan tomat yang menjadi sumber penghidupan mereka. Dengan memperhatikan arah angin, mereka bisa memperkirakan apakah lahan mereka berisiko terdampak atau tidak.
Pengetahuan itu Omniwati peroleh dari pengalaman hidup berdampingan dengan gunung api yang terus menunjukkan aktivitasnya. Sejak erupsi besar pada 3 Desember 2023, Gunung Marapi belum benar-benar menghentikan aktivitas vulkaniknya. Lebih dua tahun terakhir, tercatat 528 kali erupsi dan 8.904 kali hembusan gas serta abu berdasarkan data Magma Kementerian Energi Sumber Daya Minerl (KESDM). Rata-rata hampir 20 erupsi terjadi setiap bulan.
Omniwati bilang, pengalaman paling berat terjadi setelah erupsi besar yang terjadi pada 2023. Saat itu, pasir dan abu vulkanik menutupi lahan pertanian di sejumlah kawasan lereng Marapi. Tanaman yang hampir memasuki masa panen rusak dalam waktu singkat.
“Kalau dipaksakan menanam, kena lagi, kena lagi. Bukan debu lagi yang turun, tapi pasir. Tanaman mati semua,” katanya.
Cabai dan wortel yang ditanam berbulan-bulan rontok sebelum sempat panen. Banyak petani kehilangan sumber pendapatan utama mereka.
“Tidak panen sama sekali. Nangis semua petani waktu itu,” katanya.
Selama hampir dua tahun, Omniwati dan suaminya terpaksa mencari pekerjaan harian untuk bertahan hidup. Dia bahkan harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Yang penting bisa makan dan menyambung hidup.”

Menyambung asa
Kehidupan di Lereng Marapi tidak memberi Omniwati banyak pilihan selain kembali ke ladang. Setelah aktivitas gunung mulai mereda, dia dan kelompok taninya perlahan menata kembali usaha tani mereka.
Dia kembali menanam kentang, cabai dan bawang, dan di lahan sewaan seluas hampir setengah hektare. Untuk menggarap lahan tersebut, dia harus membayar biaya sewa sekitar Rp7.000.000 per tahun.
Saat ini, selain erupsi Marapi, cuaca yang tidak menentu juga menambah beban produksi. Ketika hujan tidak turun selama berhari-hari, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjaga tanaman tetap hidup.
“Kalau tidak hujan, kami harus menyiram tanaman. Airnya beli pakai mobil tangki. Satu mobil sekitar Rp130.000, isinya dua ribu liter. Kadang bisa habis lima sampai enam mobil.”
Artinya, dalam satu kali penyiraman petani dapat mengeluarkan biaya antara Rp650.000-780.000 hanya untuk membeli air. Pengeluaran ini menjadi tambahan beban di tengah harga komoditas yang fluktuatif.
Untungnya, saat panen 2026 ini hasil cukup menggembirakan. Di sela wawancara dengan Mongabay, Omniwati tengah memanen kentang bersama suaminya yang dia perkirakan bisa capai empat ton. Dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram, berarti bisa hasilkan Rp32 juta.
Pengalaman serupa dengan Ernis, petani perempuan 65 tahun di Sungai Pua, Agam. Saat erupsi besar Marapi pada akhir 2023, lahan lobak yang menjadi sumber penghidupan tertimbun abu vulkanik.
Tanaman yang telah dia rawat berbulan-bulan rusak, tak bisa panen. Material vulkanik yang menutupi lahan membuatnya harus memulai kembali dari awal.
“Lobak habis semua waktu itu,” katanya.
Ernis mengatakan, pemulihan lahan tidak berlangsung cepat. Hampir dua tahun dia mengolah kembali tanah yang tertutup material vulkanik sebelum kondisi lahan berangsur normal. Baru pada 2025 hasil pertanian mulai kembali seperti sebelum erupsi.
Pengalaman menghadapi erupsi berulang juga mengubah cara pandangnya terhadap aktivitas Marapi. Kalau dulu dentuman dari arah gunung membuatnya cemas dan segera menghentikan aktivitas di ladang, kini ia lebih tenang menyikapinya.
“Dulu, takut kalau dengar dentuman. Sekarang sudah tidak terlalu kaget lagi.”

Penelitian Virgian Sonia Putra, Rozana Eka Putri, dan Ade Irma Suryani berjudul Analisis Kerusakan Lahan Pasca Erupsi Gunung Marapi di Kabupaten Agam Kecamatan Sungai Pua Kabupaten Agam di Jurnal Pembelajaran dan Ilmu Pendidikan (JPIP) menunjukkan, erupsi Marapi sejak Desember 2023 menimbulkan dampak luas terhadap lahan pertanian dan permukiman masyarakat di Kecamatan Sungai Pua.
Penelitian itu mencatat luas lahan rusak 233,87 hektar di kawasan penelitian. Data Kementerian Pertanian juga menunjukkan, luas lahan hortikultura terdampak erupsi Marapi mencapai 3.144,13 hektar. Rinciannya, 2.100 hektar di Kabupaten Tanah Datar, 988,21 hektar di Agam, dan 55,92 hektar di Kota Padang Panjang.
Material vulkanik yang menutupi lahan tidak hanya merusak tanaman yang sedang tumbuh, tetapi juga mengubah karakteristik tanah. Peneliti menemukan perubahan pada tekstur, struktur, dan kemampuan tanah menyerap air. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kesuburan lahan dan memengaruhi produktivitas pertanian dalam jangka panjang.
Penelitian menemukan berbagai upaya yang dilakukan warga untuk memulihkan lahan, mulai dari membersihkan material vulkanik, mengolah kembali tanah yang terdampak, menggunakan pupuk organik untuk memulihkan kesuburan tanah, hingga menata ulang pemanfaatan lahan sesuai tingkat kerusakannya.
Di tingkat petani, adaptasi berlangsung dalam bentuk yang lebih sederhana. Pengalaman menghadapi erupsi berulang membuat mereka belajar membaca arah angin untuk memperkirakan sebaran abu vulkanik, menyesuaikan aktivitas di ladang, serta mencari sumber penghasilan alternatif ketika tanaman gagal panen.
Namun penelitian tersebut juga mencatat bahwa sebagian besar upaya adaptasi masih dilakukan secara mandiri dan belum terintegrasi dalam sistem mitigasi yang terstruktur. Keterbatasan edukasi dan dukungan teknis membuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi erupsi masih banyak bergantung pada pengalaman mereka sendiri.

Ancaman belum berakhir
Meski masyarakat lereng Marapi mulai beradaptasi dengan erupsi yang berulang, aktivitas gunung api tersebut hingga kini masih terus berlangsung. Pada 30 Mei 2026, Gunung Marapi kembali mengalami erupsi.
Ahmad Rifandi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi melaporkan erupsi terjadi pada pukul 08.42 dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.891 meter di atas permukaan laut.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah timur laut. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 25 detik. Saat laporan dikeluarkan, erupsi masih berlangsung,” katanya.
Hingga kini, Marapi masih berada pada Status Level II atau Waspada. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat, pendaki, dan wisatawan untuk tidak memasuki wilayah dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi di Kawah Verbeek.
Masyarakat yang bermukim di sekitar lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak Marapi juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar, terutama saat musim hujan.
Ketika hujan abu terjadi, warga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, melindungi mata dan kulit, mengamankan sumber air bersih, serta membersihkan timbunan abu vulkanik di atap rumah agar tidak menimbulkan kerusakan bangunan.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi serta selalu mengikuti arahan pemerintah daerah dan informasi resmi dari Pos Pengamatan Gunung Api Marapi.
*****
Petani Padang Menanti Pemerintah Bantu Pulihkan Lahan Sawah Pasca Bencana