- Ikan endemik baru yang ditemukan di Sungai Mahakam dinamakan Desmopuntius mahakamensis.
- Semula, ikan ini dikelompokkan sebagai Puntius sp, atau Striped puintius. Bernama demikian, karena ada pola garis horisontal yang kasat mata pada tubuhnya. Namun, dengan pemeriksaan tambahan diketahui kalau ikan itu masuk dalam genus Desmopuntius.
- Ikan Desmopuntius mahakamensis dari Sungai Mahakam terbilang kecil. Panjangnya kurang dari sembilan sentimeter dan lebarnya kurang dua sentimeter. Matanya lumayan besar dibanding ukuran tubuhnya, dengan mulut kecil dan tumpul. Ada sungut pendek di bawah mulutnya, dan memiliki sirip di punggung, anus, dada, perut serta ekor.
- Saat ini Desmopuntius terdiri dari delapan spesies yaitu D. foerschi, D. gemellus, D. hexazona, D. johorensis, D. pentazona, D. rhomboocellatus, D. trifasciatus, dan D. endecanalis. Spesies-spesies ini hidup di berbagai sungai di pulau besar Indonesia, yaitu Sumatera dan Kalimantan. Dengan temuan Desmopuntius mahakamensis berarti spesies Desmopuntius menjadi sembilan jenis.
Ada kisah yang baru saja terungkap tentang penghuni salah satu sungai terpanjang di Kalimantan. Ini bukan tentang pesut mahakam, spesies ikonik dari Sungai Mahakam. Ini tentang ikan endemik yang akhirnya memperoleh kepastian nama.
Semula, ikan ini dikelompokkan sebagai Puntius sp, atau Striped puintius. Bernama demikian, karena ada pola garis horisontal yang kasat mata pada tubuhnya. Namun, dengan pemeriksaan tambahan diketahui kalau ikan itu masuk dalam genus Desmopuntius.
Para peneliti yang mendeskripsikan spesies ikan air tawar baru ini, berasal dari Indonesia. Mereka adalah Tonisman Harefa, Haryono, Rudhy Gustiano, Gema Wahyudewantoro, dan Tedjo Sukmana. Mereka berasal dari Pusat Riset Biosisteamtika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional. Sementara, peneliti yang disebut terakhir berasal dari Fakultas Biologi, Universitas Jambi.
“Spesies baru ini saat ini hanya dikenal dari daerah aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sebagian besar spesimen telah dikumpulkan dari dua danau Wis dan Jempang dan dari beberapa aliran kecil di dalam sistem anak sungai Sungai Mahakam,” tulis Tonisman, penulis pertama dalam artikel yang diterbitkan di jurnal ZooKeys, akhir Oktober 2025.
Publikasi penelitian mereka tidak hanya memperkaya pengetahuan ilmiah tentang ikan air tawar di Indonesia, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi upaya pelestarian Mahakam yang semakin tertekan perubahan lingkungan.
Saat ini Desmopuntius terdiri dari delapan spesies yaitu D. foerschi, D. gemellus, D. hexazona, D. johorensis, D. pentazona, D. rhomboocellatus, D. trifasciatus, dan D. endecanalis. Spesies-spesies ini hidup di berbagai sungai di pulau besar Indonesia, yaitu Sumatera dan Kalimantan. Dengan temuan itu berarti spesies Desmopuntius menjadi sembilan jenis.
Temuan ini menambah daftar ikan endemik yang mendiami Mahakam, sungai yang menjadi urat nadi kehidupan Pulau Kalimantan.

Ikan bercorak
Ikan Desmopuntius mahakamensis dari Sungai Mahakam terbilang kecil. Panjangnya kurang dari sembilan sentimeter dan lebarnya kurang dua sentimeter. Matanya lumayan besar dibanding ukuran tubuhnya, dengan mulut kecil dan tumpul. Ada sungut pendek di bawah mulutnya, dan memiliki sirip di punggung, anus, dada, perut serta ekor.
Sesuatu yang paling khas dari ikan ini adalah pola warnanya. Secara umum berwarna kuning abu-abu keperakan, dengan garis horisontal sebanyak lima sampai enam buah warna hitam. Sirip dan ekor berwarna kuning hingga oranye transparan.
“Karakter morfologi yang membedakan Desmopuntius dari generanya mencakup pola warna khas 4-6 garis, setidaknya pada tahap juvenil. Garis pertama melintasi mata, garis kedua di belakang bukaan insang, garis ketiga memanjang dari pangkal sirip punggung, garis keempat dari pangkal sirip dubur, garis kelima pada pangkal ekor, dan garis keenam di pangkal sirip ekor,” tulis laporan itu dengan sedikit mengubah redaksi tanpa mengurangi substansi.
Secara taksonomi, D. mahakamensis berkerabat atau dalam satu keluarga yang sama (Cyprinidae) dengan ikan mas (Cyprinus carpio) juga koi (Cyprinus carpio). Sepintas dia seperti ikan tiger barb yang menghuni akuarium. D. mahakamensis lebih cocok sebagai ikan hias daripada dikonsumsi.
Klasifikasi taksonomi secara lengkap, ikan ini berada dalam kerajaan Animalia, ordo Cypriniformes, keluarga Cyprinidae, genus Desmopuntius, spesies Desmopuntius mahakamensis. Nama mahakamensis merujuk pada Sungai Mahakam, asal ikan ini. Saat berita temuan ini dibagikan ke media sosial, beberapa warganet mengenalinya. Mereka menyebut nama lokal ikan ini sebagai ikan engkaret. Ada pula yang menyebut sebagai jajak, kemuring, atau wader.

Peneliti mengungkap, mereka mengumpulkan 62 spesimen untuk diteliti. Sebagian besar spesimen berasal dari dua danau yaitu Wis dan Jempang. Sebagian lainnya berasal dari beberapa aliran kecil yang menyatu dengan sistem anak Sungai Mahakam. Antara lain Sungai Kecil Long Tahap dan Belayan.
Keberadaan spesies ini menyoroti pentingnya konservasi habitat ikan air tawar di Kalimantan, khususnya Sungai Mahakam. Kerap kali habitat sungai terabaikan dibanding perlindungan hutan Kalimantan atau satwa besar. Padahal, perannya tak kalah vital bagi keseimbangan ekosistem dan kehidupan masyarakat lokal.
D. mahakamensis menjadi spesies ikan bergaris yang pertama kali dideskripsikan secara resmi dari DAS Sungai Mahakam. Hal ini menambah kekayaan biodiversitas ikan air tawar Kalimantan yang tinggi, namun masih banyak belum terdokumentasi.
Di sisi lain, penemuan ini juga mengingatkan pada ancaman serius yang dihadapi habitatnya. Seperti aktivitas pertambangan batubara, deforestasi, dan polusi yang semakin mengancam ekosistem Sungai Mahakam.

Dalam risetnya, selain menggunakan pengukuran morfometrik hingga 0,1 mm, para peneliti juga menggunakan analisis diskriminan linier (LDA). Ini adalah metode statistik untuk mengklasifikasikan objek penelitian ke dalam kelompok tertentu. Analisis akan membantu membuktikan bahwa spesies yang baru benar-benar berbeda morfologinya dibanding spesies lain.
“D. mahakamensis paling mirip dengan D. gemellus, spesies yang tercatat dari Sumatera yaitu Jambi, Riau, dan Bangka dan mungkin Kalimantan Tengah, karena memiliki garis aksial dan 5-6 garis lateral. Namun, spesies baru ini dapat dibedakan oleh garis yang memanjang dari belakang lubang insang atas ke bagian tengah tubuh, antara awal dan akhir pangkal sirip punggung,” tulis laporan tersebut.
Peneliti juga melengkapi dengan pendekatan molekuler untuk memvalidasi spesies baru. Dari analis DNA perbedaan di dalam satu spesies sangat kecil, yaitu hanya 0,3 persen. Sementara antarspesies yang berbeda bisa mencapai 15,2 persen. Sedangkan ikan baru D. mahakamensis, perbedaan genetik dengan kerabat lainnya cukup besar, yaitu 7,2-13 persen. Hal yang menunjukkan bahwa ikan ini benar-benar berbeda secara genetik.
Pendekatan taksonomi integratif ini menghasilkan kesimpulan kuat, D. mahakamensis adalah spesies baru ikan di Sungai Mahakam.

Sungai Mahakam
Membentang dari pegunungan di hulu kabupaten Mahakam Ulu dekat perbatasan Sarawak hingga bermuara di Selat Makassar, Sungai Mahakam menjadi sungai terpanjang ketiga di Kalimantan. Panjangnya tak kurang dari 920 km. Sungai utamanya melewati empat wilayah administratif, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan membelah Kota Samarinda.
Sungai ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat lokal. Menjadi sumber air, budidaya perikanan, dan perdagangan, sejak zaman kerajaan Kutai kuno hingga sekarang. Sungai Mahakam kini menjadi jalur transportasi utama, termasuk untuk angkutan kayu dan batubara. Kapal-kapal tongkang hilir mudik mengangkut hasil hutan dan material ekstraktif, pemandangan yang sering melahirkan ironi.
Ekosistemnya kaya akan biodiversitas. Mulai dari ikan, burung, hingga mamalia langka. Paling terkenal adalah pesut mahakam (Orcaella brevitoris) spesies endemik yang berstatus Kritis (CR) menurut IUCN. Yayasan Konservasi RASI memperkirakan pada 2022 populasinya tinggal 62 individu.
Sungai Mahakam tengah menghadapi ancaman pendangkalan, polusi, dan penurunan kualitas air. Temuan D. mahakamensis sebagai ikan endemik yang bergantung pada eksosistem sungai ini menjadi pengingat pentingnya melindungi ekosisten sungai dari degradasi.
Konservasi sungai bukan hanya akan menyelamatkan pesut, namun juga ikan kecil endemik seperti D. mahakamensis, sekaligus menjaga keberlangsungan hidup manusia yang bergantung pada Mahakam.
Referensi:
Harefa, T., Haryono, H., Gustiano, R., Sukmono, T., & Wahyudewantoro, G. (2025). Desmopuntius mahakamensis, a new cyprinid species (Teleostei, Cyprinidae) from East Kalimantan, Indonesia. ZooKeys, 1256, 371. https://doi.org/10.3897/zookeys.1256.158411
*****