- Air Sungai Batanghari yang kini keruh akibat penambangan emas tanpa izin (PETI), limbah domestik, dan alih fungsi lahan, membuat berbagai jenis ikan menghilang.
- Hasil penelitian Universitas Jambi menunjukkan, dalam tiga dekade terakhir, keanekaragaman ikan di Batanghari menyusut lebih dari 50 persen.
- Di laboratorium Universitas Jambi, Tedjo Sukmono dan tim, meneliti ikan di Batanghari bukan dari bentuk tubuh, melainkan dari jejak DNA. Dengan metode DNA Barcoding, mereka menganalisis potongan gen mitokondria (Cytochrome Oxidase I) untuk mengenali setiap spesies dengan akurat, bahkan dari jaringan kecil atau serpihan sisik.
- Agar riset tak berhenti di laboratorium, Universitas Jambi mengembangkan Sistem Informasi Keanekaragaman Ikan Jambi (Ber-Ikan Jambi), sebuah bank data daring berisi foto, peta sebaran, dan hasil identifikasi DNA ikan di perairan Jambi.
Tepian Sungai Batanghari di Desa Muaro Pijoan, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, dipenuhi ratusan warga, pelajar, dan mahasiswa, Minggu (26/10/2025) pagi. Mereka berkumpul di Lubuk Larangan Guci Mas, untuk menebar 260 ribu benih ikan nilem (Osteochilus vittatus).
Air Sungai Batanghari yang kini keruh akibat penambangan emas tanpa izin (PETI), limbah domestik, dan alih fungsi lahan, membuat berbagai jenis ikan menghilang.
“Menebar benih itu seperti menanam harapan,” kata Nur Muflich Juniyanto, Kepala BPBAT (Balai Perikanan Budidaya Air Tawar) Sungai Gelam Jambi. “Kita tidak bisa sembarang restocking, harus tahu ikan yang benar-benar asli Batanghari.”
BPBAT Sungai Gelam adalah lembaga di Sumatera yang masih memproduksi ikan endemik Sungai Batanghari secara berkelanjutan. Hingga 2025, lembaga ini telah membudidayakan empat jenis ikan lokal utama: nilem, jelawat (Leptobarbus hoevenii), gurami batanghari, dan arwana.
Namun, upaya ini tak mudah. Banyak ikan endemik sulit dikembangbiakkan di kolam karena memerlukan kondisi mirip habitat alami sungai. Arus, suhu, dan kualitas airnya harus stabil.
“Beberapa jenis tidak mau memijah kalau tidak ada aliran air alami atau suhu sesuai. Butuh riset lebih dalam untuk tahu faktor biologisnya.”
BPBAT biasanya melakukan restocking/penebaran ikan dua hingga tiga kali setahun. Meski jumlah tebaran benih meningkat, namun tantangan reproduksi alami dan degradasi sungai membuat populasi ikan tetap sulit pulih secara cepat.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.

Asraf, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jambi, mengapresiasi langkah BPAT Sungai Gelam. Pihaknya berencana melakukan restocking ikan semah (di Kerinci, Merangin, Bungo) dan nilem di banyak kabupaten.
Asraf mengakui, pihaknya belum memiliki sistem sertifikasi keamanan khusus untuk ikan tangkapan dari Batanghari. Monitoring kualitas ikan dilakukan secara rutin oleh tim fungsional pengawasan.
“Ikan yang bersumber dari sepanjang Sungai Batanghari masih dalam batas bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Jadi, tidak perlu khawatir,” ujarnya, Minggu (26/10/2025).
Dia hanya memberikan catatan penting yaitu, kewaspadaan harus ditingkatkan, jika ikan ditangkap di lokasi yang betul-betul dekat dengan sumber pencemaran parah, seperti area pertambangan. Secara umum, ikan yang beredar di pasaran, bahkan yang dibudidayakan melalui keramba, menunjukkan kondisi layak konsumsi.

Lubuk Larangan Guci Mas merupakan aliran Sungai Batanghari yang dijaga sejak 2001. Kawasan yang diperkuat hukum adat dan peraturan desa ini, menjadi tempat aman ikan untuk tumbuh dan berkembang. Konservasi ini tak hanya bermakna ekologis, tetapi juga ekonomis. Dengan pengembangan ekowisata, Guci Emas menjadi sumber pendapatan warga melalui wisata mancing terbatas, susur sungai, dan budaya makan berawang (makan bersama di alam).
Pijoan Rahman, Ketua Lembaga Adat Desa Muaro, menyebutkan ada aturan di lubuk larangan sepanjang 900 meter ini. Tidak tidak boleh membunuh ikan dan makluk lain dengan cara menyetrum, meracun, dan menggunakan pukat; serta tidak boleh menebang pohon di kiri kanan sepanjang lubuk.
“Bila dilanggar, akan didenda seekor kambing,” katanya.

Jejak DNA ikan endemik di Batanghari
Hasil penelitian Universitas Jambi menunjukkan, dalam tiga dekade terakhir, keanekaragaman ikan di Batanghari menyusut lebih dari 50 persen. Di laboratorium Universitas Jambi, Tedjo Sukmono dan tim, meneliti ikan di Batanghari bukan dari bentuk tubuh, melainkan jejak DNA.
Dengan metode DNA Barcoding, mereka menganalisis potongan gen mitokondria (Cytochrome Oxidase I) untuk mengenali setiap spesies dengan akurat, bahkan dari jaringan kecil atau serpihan sisik.
“DNA itu seperti sidik jari kehidupan. Dari gen, kita tahu apakah ikan itu endemik Batanghari, hasil introduksi, atau spesies yang mulai punah,” jelas Sukmono, Senin (27/10/2025).
Dalam lima tahun penelitian (2018–2023), timnya menemukan 134 spesies ikan, mewakili 73 genus dan 31 famili. Famili Cyprinidae, kelompok ikan karper seperti nilem dan jelawat, mendominasi dengan 33 persen.
Namun, berdasarkan IUCN, ada tiga spesies berstatus Genting (Endangered/EN): Betta rubra, Clarias kapuasensis, dan Brevibora dorsiocellata. Empat spesies baru tercatat di kawasan Batanghari, yaitu Clarias kapuasensis, Hemiramphodon middle, Luciosoma trinema, dan Ompok hypophthalmus.
Hasil DNA, mereka diunggah ke basis data global seperti GenBank dan BOLD (Barcode of Life Data System), agar ikan-ikan Batanghari tercatat di panggung ilmiah dunia. Selain data digital, tim juga menyiapkan voucher spesimen ikan yang disimpan di Museum Zoologi Bogor (BRIN).
Setiap ikan yang ditemukan, difoto hidup dan mati, diawetkan, lalu dikatalogkan dengan kode spesimen. Koleksi itu menjadi arsip fisik kehidupan perairan Jambi, bukti ilmiah yang bisa dilacak puluhan tahun mendatang.
“Kalau nanti ikan itu punah di alam, spesimennya masih ada di museum, dan DNA-nya masih bisa diteliti,” kata Sukmono. “Itu cara kita memastikan jejaknya tidak hilang.”

Agar riset tak berhenti di laboratorium, Universitas Jambi mengembangkan Sistem Informasi Keanekaragaman Ikan Jambi (Ber-Ikan Jambi), sebuah bank data daring berisi foto, peta sebaran, dan hasil identifikasi DNA ikan di perairan Jambi.
Melalui laman ikanjambi.unja.ac.id, publik bisa mencari ikan berdasarkan nama lokal seperti baung atau lampam, lengkap dengan status konservasinya.
“Ber-Ikan Jambi kami buat agar ilmu tidak berhenti di jurnal. Kami ingin masyarakat dan pemerintah punya data yang sama tentang ikan di sungai mereka.”
Platform ini memuat 67 spesies, dan ke depan akan dilengkapi fitur etnosains, dokumentasi resep tradisional dan budaya pangan berbasis ikan lokal.
*****
Menelusuri Batanghari, Sungai Kebanggaan Sumatera yang Kian Merana