- Di dalam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) terdapat situs prasejarah yang merupakan warisan budaya megalitik berusia ribuan tahun.
- Situs ini bernama kubur tebing Situs Binuanga atau oleh masyarakat menyebutnya sebagai batu berkamar Binuanga, yang memiliki 17 ruang pahatan di dinding tebing andesit dan pernah menjadi tempat persemayaman terakhir para leluhur.
- Di rongga-rongga pahatan itu, para peneliti menemukan fragmen gerabah. Dalam tradisi megalitik, gerabah adalah jenis bekal kubur, benda yang disertakan bersama jenazah sebagai perbekalan untuk perjalanan panjang menuju alam arwah.
- TNBNW adalah taman nasional darat terbesar di Sulawesi, luasnya 282.008 hektar dengan biodiversity tinggi dan habitat penting bagi spesies khas Sulawesi. Satwa ikoniknnya antara lain anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), babirusa (Babyrusa babyroussa), maleo (Macrocephalon maleo), yaki (Macaca nigra dan Macaca nigrescens), juga kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus).
Di balik lebatnya hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), tersembunyi warisan budaya megalitik berusia ribuan tahun bernama kubur tebing Situs Binuanga. Situs ini memiliki 17 ruang pahatan di dinding tebing andesit, yang pernah menjadi tempat persemayaman terakhir para leluhur.
Untuk menuju lokasi ini, perjalanan dimulai dari Desa Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Uara. Setelah menempuh sekitar dua jam perjalanan darat dari Kotamobagu, perjalanan dialanjutkan berjalan kaki kurang lebih tiga jam menyusuri perkebunan jagung, kelapa, dan nilam milik warga, lalu melewati jalan setapak ke kawasan taman nasional.
Kita harus menyeberangi Sungai Kosinggolan sekali dan melewati sepuluh penyeberangan aliran Sungai Binuanga. Setelah semua rute itu dilalui, situs akan terlihat yang posisinya menempel di sisi tegak sebuah bukit, menghadap ke selatan.
Berdasarkan pemuktahiran data yang dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara pada April 2026, dinding-dinding situs nyaris tertutup tumbuhan merambat dan pakis yang membalut hampir seluruh permukaan tebing batuan andesit tersebut.
Sisanya, sedikit celah yang memperlihatkan wajah asli batu di baliknya yakni 17 rongga pahatan berbentuk persegi panjang yang dipahat langsung ke dinding batu. Ini merupakan sebuah kompleks pemakaman prasejarah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “batu berkamar Binuanga”.

Hari Suroto, arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, menyebut temuan ini sebagai ekspresi budaya megalitik yang khas dari wilayah Sulawesi Utara. Setiap rongga pahatan di situs ini memiliki ukuran tidak kecil. Panjang umumnya lebih dari 200 sentimeter, bahkan ada yang mendekati 300 sentimeter.
Tingginya berkisar 50-100 sentimeter, dengan kedalaman bervariasi hingga 130 sentimeter pada titik paling dalam. Artinya, setiap “kamar” dirancang cukup lapang untuk menampung satu jenazah manusia dewasa beserta bekal-bekal yang menyertainya.
“Budaya menguburkan atau menempatkan mayat pada tempat yang tinggi di rongga pahatan tebing, merupakan bentuk penghormatan serta kepercayaan akan adanya kehidupan setelah mati,” ujarnya pada Mongabay Indonesia, Rabu (29/4/2026).

Di rongga-rongga itu, para peneliti menemukan fragmen gerabah. Dalam tradisi megalitik, gerabah adalah jenis bekal kubur, benda yang disertakan bersama jenazah sebagai perbekalan untuk perjalanan panjang menuju alam arwah.
Penamaan situs ini mengikuti nama sungai yang mengalir tepat di depannya, yakni Sungai Binuanga. Sebuah kebiasaan umum dalam tradisi penyebutan tempat di Nusantara, yaitu nama geografis merekam ingatan tentang apa yang ada di sana, apa yang terjadi, atau apa yang mengalir melewatinya. Masyarakat Toraut, yang hingga kini masih tinggal di sekitar kawasan tersebut, menyebut situs ini “batu berkamar Binuanga”.

Hutan dengan keanekaragaman hayati tinggi
Situs kubur tebing Binuanga berada di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), yang sebelumnya dikenal dengan nama Dumoga Bone. Secara biogeografis, taman nasional ini berada di jantung Wallacea, wilayah transisi yang mempertemukan flora dan fauna khas Asia dengan Australia, dan menghasilkan keanekaragaman hayati sangat tinggi di dunia.
Kawasan ini juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air krusial bagi masyarakat di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, dan masyarakat di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Air bersih yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat untuk mengairi lahan pertanian, hingga mendukung operasional pembangkit listrik dan industri di sekitarnya.
“Bogani Nani Wartabone bukan hanya warisan alam, tapi juga warisan budaya. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Manusia prasejarah yang meninggalkan kubur tebing ini adalah bagian dari ekosistem hutan yang sama,” kata Hari Suroto.

TNBNW adalah taman nasional darat terbesar di Sulawesi, luasnya 282.008 hektar dengan biodiversity tinggi dan habitat penting bagi spesies khas Sulawesi. Beberapa satwa ikoniknnya antara lain anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), babirusa (Babyrusa babyroussa), maleo (Macrocephalon maleo), yaki (Macaca nigra dan Macaca nigrescens), juga kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus).
Berdasarkan penelitian, keragaman jenis satwa di TN Bogani Nani Wartabone, yaitu 1.395 jenis kepik (Hemiptera), 206 jenis burung (aves), 200 jenis kupu-kupu (Lepidoptera: Rhopalocera), 128 jenis laba-laba (Arachnida), 40 jenis reptilia, 36 jenis mamalia, 25 jenis ikan air tawar, 19 jenis belalang (Orthoptera: Acridoidea), 16 jenis capung (Odonata), dan 13 jenis amfibia.

Hasil kajian peneliti dari Balai TN Bogani Nani Wartabone-EPASS juga menunjukkan keragaman jenis tumbuhan yaitu 331 jenis vegetasi hutan (pohon, palem, paku, talas, dan pandan), 124 jenis tumbuhan obat, 58 jenis anggrek, 12 jenis jamur, dan 9 jenis bambu.
“Kawasan ini belum seluruhnya terjelajahi dan tereksplorasi keragaman jenisnya. Wilayah dataran tingginya, seperti puncak Matabulawa, Poniki, Tilongkabila, Ali, Gambuta, dan sebagainya, belum banyak diteliti. Perkembangan ilmu pengetahuan dan usaha-usaha eksplorasi yang terus berjalan membawa dampak perubahan jumlah jenis dalam setiap taksa,” tulis para peneliti.
Referensi:
Bashari, H., D. Rahmanita, M.W. Lela, I. Datunsolang, A. Mokodompit, dan R.P. Mokoginta (2020). Status Keragaman Jenis Satwa dan Tumbuhan di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara – Gorontalo, 2020. Kotambagu: Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Enhancing the Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation (EPASS) – Project.
*****
Satwa Misterius Sulawesi Terpantau di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone