Di bawah perbatasan Albania dan Yunani, para ilmuwan menemukan sarang laba-laba berukuran raksasa yang menempel di dinding gua berbau belerang. Jaring putih itu terbentang seluas 106 meter persegi, menutupi permukaan batu seperti tirai tebal yang berkilau di cahaya lampu peneliti. Setelah dihitung, sarang tersebut ternyata dibangun oleh sekitar 111 ribu laba-laba yang hidup berdampingan dalam satu koloni besar di tengah udara beracun yang dipenuhi gas belerang.
Temuan menakjubkan ini berasal dari Sulfur Cave, bagian dari sistem gua bawah tanah di Lembah Sarandaporo, kawasan pegunungan yang membentang di perbatasan Albania dan Yunani. Lembah ini dibentuk oleh aliran Sungai Sarandaporo yang mengikis batu kapur selama ribuan tahun hingga menciptakan jaringan gua dan ngarai curam. Di dalamnya, air panas yang kaya belerang terus keluar dari dasar bumi, menciptakan suasana lembap, beruap, dan beraroma tajam yang menjadi ciri khas wilayah ini.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Subterranean Biology tahun 2025 menyebut sarang ini sebagai koloni laba-laba terbesar yang pernah ditemukan di alam. Struktur jaring raksasa itu dibangun oleh dua spesies berbeda, Tegenaria domestica dan Prinerigone vagans. Keduanya biasanya hidup sendiri, tetapi di lingkungan gua yang kaya belerang ini mereka beradaptasi dan hidup bersama dalam satu koloni besar.
Ekosistem Kimia di Dunia Gelap
Sulfur Cave menjadi contoh langka dari ekosistem bawah tanah yang seluruh kehidupannya bergantung pada kimia, bukan cahaya. Tidak ada tumbuhan, tidak ada lumut, dan tidak ada fotosintesis. Di sini, sumber energi berasal dari gas hidrogen sulfida (H₂S) yang keluar bersama air panas di dasar gua. Gas ini, yang bagi manusia beracun, justru menjadi bahan bakar bagi kehidupan mikroba.
Bakteri pengoksidasi sulfur memanfaatkan gas tersebut untuk menghasilkan energi, lalu membentuk lapisan biofilm putih lengket di dinding batu dan dasar sungai gua. Lapisan ini menutupi hampir setiap permukaan yang terkena aliran air, menciptakan pemandangan seperti karpet tipis bercahaya redup di tengah kegelapan. Lapisan mikroba inilah yang menjadi dasar rantai makanan di Sulfur Cave.

Larva lalat kecil dari keluarga chironomid memakan biofilm tersebut dalam jumlah besar. Ketika dewasa, lalat-lalat ini beterbangan dalam kawanan padat di atas air belerang yang hangat. Populasi lalat yang melimpah menarik ribuan laba-laba untuk tinggal menetap. Mereka menempelkan jaring di dinding lembap, membangun sarang yang saling berhubungan dan meluas hingga lebih dari seratus meter persegi.
Analisis isotop karbon dan nitrogen yang dilakukan para peneliti mengonfirmasi bahwa seluruh energi dalam sistem ini bersumber dari reaksi kimia di gua. Energi berpindah dari bakteri ke lalat, lalu ke laba-laba pemangsa di puncak rantai makanan. Tidak ada bahan organik dari luar yang masuk dalam jumlah berarti. Artinya, ekosistem ini sepenuhnya mandiri dan mampu menopang kehidupan kompleks hanya dari energi bumi itu sendiri.
Kondisi di gua sangat keras. Gas belerang menekan kadar oksigen, dan dinding batu ditutupi endapan mineral putih yang terbentuk dari reaksi antara gas dan air. Suhu yang stabil, kelembapan tinggi, dan cahaya yang nyaris nol menciptakan dunia asing di bawah tanah. Namun bagi makhluk yang beradaptasi, lingkungan ini justru ideal. Ribuan lalat berkembang biak tanpa gangguan predator besar, menyediakan sumber makanan tetap bagi koloni laba-laba.
Baca juga: Seukuran Piring Makan, Inilah Laba-laba Terbesar di Dunia yang Dijuluki Pemakan Burung
Koloni di Tengah Racun
Di tengah udara pengap dan bau belerang yang menusuk, ribuan laba-laba bekerja tanpa henti. Mereka membangun jaring yang saling terhubung, menambal bagian yang robek, dan memperluas wilayah tangkapan di dinding lembap gua. Struktur jaringnya tidak seperti jaring bulat yang umum dijumpai di taman atau rumah, melainkan lapisan-lapisan serat halus yang menempel pada batu dan bercabang ke segala arah. Dari kejauhan, bentuknya menyerupai tirai putih besar yang menggantung dari langit-langit batu, seolah menutup dinding gua dengan benang perak raksasa.
Tim peneliti yang dipimpin oleh István Urák dari Sapientia Hungarian University of Transylvania mengamati perilaku ini selama beberapa bulan. Mereka menggunakan kamera beresolusi tinggi dan pengukuran manual untuk memperkirakan jumlah individu di setiap bagian dinding. Hasilnya mencengangkan. Kepadatan Tegenaria domestica mencapai rata-rata 650 individu per meter persegi, sementara Prinerigone vagans sekitar 800 individu per meter persegi. Koloni ini menutupi area seluas 106 meter persegi—setara dengan ukuran sebuah rumah.

Meski hidup dalam kepadatan tinggi, kedua spesies ini tidak menunjukkan perilaku saling menyerang. Mereka berbagi ruang dan sumber makanan tanpa konflik. Peneliti menduga kondisi lingkungan yang stabil, suhu konstan, dan ketersediaan makanan yang berlimpah mendorong munculnya kerja sama sederhana di antara individu. Di dunia laba-laba yang umumnya bersifat soliter, perilaku ini tergolong luar biasa. Fenomena ini dikenal sebagai “kolonialitas fakultatif”, yaitu kemampuan suatu spesies untuk beralih dari hidup sendiri menjadi hidup berkelompok ketika kondisi lingkungan memungkinkan.
Jaring besar ini juga menunjukkan fungsi ekologis yang efisien. Setiap individu membangun bagian kecil yang terhubung dengan jaring tetangganya, menciptakan sistem tangkapan luas tanpa perlu tenaga tambahan. Lalat-lalat yang berterbangan di atas aliran air sering kali terperangkap di lapisan jaring terluar, lalu segera ditarik ke dalam oleh laba-laba yang berjaga di celah dinding. Dengan sistem ini, energi dari makanan dapat didistribusikan secara merata di seluruh koloni.

Analisis genetik memperkuat keunikan koloni ini. Populasi Tegenaria domestica di Sulfur Cave memiliki perbedaan DNA dengan populasi permukaan yang hidup di rumah dan bangunan manusia. Tidak ditemukan tanda adanya pertukaran individu antara gua dan luar, menandakan kelompok ini telah terisolasi cukup lama dan mungkin sedang menuju arah evolusi tersendiri.
Temuan lain yang menarik datang dari studi mikrobioma. Laba-laba gua memiliki keragaman bakteri jauh lebih rendah dibandingkan dengan individu yang hidup di luar. Sebagian besar mikroba yang ditemukan termasuk dalam genus Mycoplasma dan Wolbachia. Kedua jenis bakteri ini dikenal dapat membantu inang beradaptasi dengan stres lingkungan ekstrem, termasuk kekurangan oksigen dan paparan senyawa beracun seperti sulfur. Adaptasi mikroba ini mungkin menjadi kunci bagi laba-laba untuk bertahan hidup di atmosfer gua yang beracun.
Koloni raksasa di Sulfur Cave memperlihatkan bahwa kerja sama antarspesies bisa muncul bahkan di lingkungan paling keras. Jaring-jaring putih itu tidak sekadar perangkap serangga, tetapi simbol keberlangsungan hidup di dunia yang tidak mengenal siang dan malam.
Strategi Bertahan di Dunia Beracun
Kehidupan di Sulfur Cave tidak hanya menuntut kemampuan beradaptasi, tetapi juga strategi bertahan yang halus. Di lingkungan beracun yang minim oksigen, setiap bentuk kehidupan harus menyesuaikan diri dengan ritme kimia gua. Laba-laba di koloni raksasa ini tidak terkecuali.
Peneliti menemukan bahwa Tegenaria domestica yang hidup di gua memiliki pola reproduksi berbeda dibandingkan kerabatnya di permukaan. Laba-laba betina menghasilkan telur lebih sedikit—rata-rata hanya 16 butir per kantung telur, namun ukuran telurnya lebih besar. Dalam ekologi, pola ini sering dianggap sebagai bentuk investasi energi yang lebih tinggi per individu keturunan. Dengan kata lain, di lingkungan yang keras, laba-laba memilih memastikan lebih sedikit anak, tetapi masing-masing memiliki peluang hidup lebih besar.
Perbedaan musim juga berpengaruh. Di awal musim panas, jumlah telur per kantung meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan musim dingin, saat sumber makanan lebih sedikit. Pola ini menunjukkan bahwa meski hidup di gua tertutup, populasi laba-laba tetap peka terhadap siklus lingkungan luar. Tim peneliti menduga perubahan kelembapan dan aliran air yang membawa gas belerang turut memengaruhi siklus reproduksi ini.

Adaptasi tidak hanya terjadi pada perilaku, tetapi juga pada tubuh dan interaksi mikroba di dalamnya. Laba-laba gua memiliki mikrobioma yang lebih sederhana dibandingkan populasi luar, didominasi oleh bakteri Wolbachia dan Mycoplasma. Mikroba ini mungkin berperan dalam menekan infeksi dan membantu laba-laba mengatur metabolisme di lingkungan miskin oksigen. Dalam ekosistem tertutup seperti ini, keseimbangan antara tubuh dan mikroorganisme menjadi kunci kelangsungan hidup.
Selain dua spesies utama tersebut, para peneliti juga menemukan beberapa laba-laba lain yang beradaptasi di bagian gua lebih dalam, seperti Metellina merianae dan Kryptonesticus eremita. Spesies ini hidup secara terpisah, membangun jaring kecil di dinding lembap yang jauh dari koloni besar. Mereka memakan serangga kecil dan berperan menjaga keseimbangan rantai makanan di wilayah yang lebih gelap dan tenang.