Namanya kepiting tapal kuda, tetapi hewan ini bukan bagian dari kelompok kepiting. Di Indonesia, ia dikenal sebagai belangkas, mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Bentuk tubuhnya memang menyerupai kepiting, namun hubungan kekerabatannya justru dekat dengan kalajengking dan laba-laba dalam kelompok Chelicerata.
Belangkas disebut fosil hidup karena memiliki kemiripan bentuk tubuh dengan leluhurnya ratusan juta tahun lalu. Jejak kelompok ini menjangkau sekitar 445 juta tahun silam, berdasarkan temuan spesies purba Lunatapis aurora di Kanada.
Tubuh belangkas terbagi menjadi tiga bagian yang saling terhubung. Bagian depan berbentuk tapal kuda lebar, diikuti abdomen yang lebih kecil dan bersegmen, serta ekor panjang dan tajam yang disebut telson. Penampilan inilah yang membuatnya mudah dikenali.
Buku “Bioekologi Kepiting Tapal Kuda”, terbitan Universitas Maritim Raja Ali Haji pada 2025, mencatat tiga spesies di Indonesia: Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda. Ketiganya tersebar di berbagai wilayah pesisir, dari Sumatera, Jawa, dan Kalimantan hingga Sulawesi.
Satu spesies lainnya, Limulus polyphemus, hidup di sepanjang perairan Atlantik Amerika Utara. Dengan demikian, tiga dari empat spesies kepiting tapal kuda yang disebut dalam artikel dapat ditemukan di Indonesia.
Keunikan belangkas juga terletak pada darahnya yang berwarna biru. Warna tersebut berasal dari tembaga, berbeda dengan darah manusia yang memperoleh warna merah dari besi.
Darah biru ini memiliki manfaat penting dalam bidang kesehatan. Bahan yang diperoleh darinya digunakan untuk mendeteksi endotoksin bakteri berbahaya pada produk seperti obat intravena dan vaksin sebelum digunakan manusia. Tes tersebut dikenal sebagai Limulus amoebocyte lysate atau LAL.
Namun, manfaat belangkas tidak berhenti pada kebutuhan manusia. Di lingkungan pesisir, hewan ini ikut menjaga keseimbangan rantai makanan. Ia mencari makanan berupa alga, cacing laut, kerang, moluska, serta ikan mati. Telurnya juga menjadi sumber makanan penting bagi burung pantai yang bermigrasi.
“Juga bertindak sebagai turbator biologis dan dapat mengontrol hewan bentik invertebrata,” demikian keterangan dalam buku tersebut.
Di balik peran ekologis dan manfaat kesehatannya, belangkas menghadapi berbagai tekanan. Reklamasi pantai, polusi industri, konversi lahan, sampah, perdagangan, serta kematian akibat tertangkap menjadi ancaman di Indonesia.
Ketiga spesiesnya telah mendapat perlindungan di Indonesia. Dalam penilaian internasional yang dikutip artikel, T. tridentatus berstatus Genting, sedangkan dua spesies lainnya masuk kategori Kurang Data.
“Informasi spesies akan menjadi sulit tanpa didasarkan data populasi akurat,” tulis buku tersebut.
Kekurangan data menjadi persoalan penting: tanpa mengetahui kondisi populasi secara akurat, upaya memahami keberadaan belangkas dan menentukan kebutuhan perlindungannya akan semakin sulit. Hewan yang membawa jejak kehidupan purba ini membutuhkan perhatian terhadap habitatnya, sekaligus pencatatan yang lebih baik tentang keberadaannya di alam.