Bayangkan seekor kepiting dengan berat mencapai empat kilogram, tubuh sepanjang 40 sentimeter, dan bentangan kaki hingga dua meter.
Satwa ini memiliki banyak nama. Selain kepiting kenari, ia juga dikenal sebagai ketam kenari, kepiting kelapa, dan kepiting pencuri atau robber crab. Sebutan terakhir berkaitan dengan kebiasaannya mengambil kelapa untuk dimakan.
Kepiting kenari merupakan satwa dilindungi berdasarkan SK MenHut No.12/Kpts/II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dan masuk dalam Daftar Merah Spesies IUCN dengan status Rentan (Vulnerable/VU).
Meski berstatus hewan dilindungi, tetapi kepiting kenari kerap diburu dan dijual untuk dikonsumsi. Bahkan harganya sangat mahal, bisa mencapai Rp800.000 per ekornya.
Di Indonesia, kepiting kenari dapat ditemukan di beberapa wilayah, salah satunya Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Di kawasan ini, mereka biasa tinggal di lubang-lubang bebatuan di pesisir pantai atau di antara bekas kayu.
Kepiting kenari memiliki ketertarikan kuat terhadap kelapa. Warga Togean bahkan menggunakan potongan daging kelapa sebagai umpan. Potongan itu ditebar di sekitar lubang persembunyian. Saat malam tiba, kepiting akan mencium aroma kelapa, keluar dari lubangnya, lalu memakan umpan tersebut.
Mengapa kepiting kenari begitu menyukai kelapa? Jawabannya ternyata belum benar-benar diketahui. Artikel Mongabay Indonesia mencatat belum banyak penelitian yang menjelaskan alasan di balik kegemaran tersebut. Namun, penelitian di Kepulauan Togean menunjukkan bahwa buah kelapa merupakan umpan paling efektif untuk menariknya keluar dari lubang.
Kemampuan kepiting kenari juga tidak bisa dianggap remeh. Capitnya sangat kuat dan disebut mampu mengangkat beban hingga 29 kilogram. Selain itu, satwa ini mampu memanjat pohon kelapa, kemampuan yang ikut menarik perhatian wisatawan yang datang ke Kepulauan Togean.
Kepiting kenari tersebar di kawasan tropis, mulai dari Afrika hingga kepulauan di Pasifik. Di Indonesia, satwa ini hidup di pulau-pulau karang yang memiliki gua atau lubang sebagai tempat persembunyian.
Perilakunya juga dapat berbeda tergantung keberadaan manusia. Di pulau yang tidak dihuni manusia, kepiting kenari dapat terlihat keluar pada siang hari. Namun, jika hidup berdekatan dengan manusia, mereka lebih banyak keluar pada malam hari.
Sayangnya, ukuran tubuh yang besar dan dagingnya membuat kepiting kenari banyak ditangkap untuk dikonsumsi maupun dijual. Di Kepulauan Togean, harganya berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Pembeli dari kota juga memesan kepiting kepada warga.
Akibatnya, masyarakat setempat mengatakan kepiting kenari semakin sulit ditemukan. Penangkapan ilegal juga masih terjadi di sejumlah kepulauan Indonesia Timur, baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk dijual ke kota-kota besar dan disajikan di restoran.
Hingga penelitian yang dikutip Mongabay dilakukan, belum ada data pasti mengenai jumlah populasi kepiting kenari maupun banyaknya penangkapan ilegal di pulau-pulau Indonesia Timur.
Upaya pelestarian pun perlu menyasar satwa sekaligus habitatnya. Lubang-lubang yang menjadi tempat persembunyian kepiting tidak boleh dibongkar atau ditimbun. Pengambilannya juga perlu memperhatikan jumlah, ukuran, jenis, kondisi, waktu, serta lokasi.
Dengan ukuran raksasa, capit yang kuat, kemampuan memanjat pohon, dan kegemarannya terhadap kelapa, kepiting kenari memang istimewa. Namun, keunikan itulah yang juga membuatnya banyak dicari manusia.
Artikel asli ditulis oleh Christopel Paino.
Foto utama: Kepiting kenari yang merupakan kepiting terbesar di dunia. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia.