Di balik wajah Pulau Bangka yang lekat dengan pertambangan timah, tersimpan bentang alam hijau yang menawarkan cerita berbeda. Namanya Gunung Maras, kawasan hutan yang menjulang sekitar 705 meter dan menjadi titik tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung.
Perjalanan menuju kawasan ini seperti memasuki sisi lain Bangka. Semakin mendekati kaki gunung, bentang pertambangan perlahan berganti dengan pepohonan, perbukitan, dan udara yang lebih sejuk. Dari kawasan tinggi tersebut, lanskap terus terhubung hingga pesisir Teluk Kelabat Dalam.
Taman Nasional Gunung Maras ditetapkan berdasarkan SK No.576/Menlhk/Setjen/PLA.2/7/2016 tertangal 27 Juli 2016. Luasnya mencapai 16.806,91 hektar, melintasi wilayah Kabupaten Bangka dan Bangka Barat. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan tiga wajah alam sekaligus: hutan primer daratan, perbukitan, dan kawasan mangrove. Perpaduan inilah yang membuatnya layak disebut sebagai “oase” di Pulau Bangka.
Bagi pencinta alam, taman nasional ini menyimpan banyak hal untuk diamati. Sedikitnya 53 spesies pohon tumbuh di kawasannya. Salah satu yang paling khas adalah pohon pelawan dari genus Tristaniopsis, tumbuhan yang sangat dikenal masyarakat Bangka.
Jika beruntung, perjalanan di antara pepohonan juga dapat mempertemukan pengunjung dengan berbagai satwa. Hutan Gunung Maras menjadi habitat kancil, musang, ayam hutan, monyet ekor panjang, babi hutan, lutung, biawak, dan sejumlah jenis ular. Kawasan ini juga dihuni trenggiling serta mentilin, primata mungil bermata besar yang aktif pada malam hari.
Namun, daya tarik Gunung Maras bukan hanya pemandangan dan keanekaragaman hayatinya. Kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah masyarakat Melayu tua. Bagi Suku Mapur atau Orang Lom, Suku Jerieng, dan Suku Maras, gunung tersebut merupakan wilayah suci yang harus dihormati.
Masyarakat setempat percaya bahwa kerusakan Gunung Maras dapat mendatangkan banjir, kekeringan, dan berbagai bencana. Di balik kepercayaan itu tersimpan pemahaman ekologis yang kuat. Hutan di wilayah tinggi membantu menyerap air, menahan tanah, dan mengurangi erosi. Jika pepohonan hilang, dampaknya dapat mengalir mengikuti sungai hingga mangrove dan perairan pesisir.
Sayangnya, ketenangan Gunung Maras menghadapi tekanan dari penebangan liar, perkebunan sawit, dan pertambangan timah. Karena itu, perjalanan ke kawasan ini seharusnya tidak berhenti pada menikmati udara segar atau mengabadikan pemandangan.
Gunung Maras adalah ruang untuk membaca Pulau Bangka dari sisi yang lebih utuh: alam, sejarah, dan kebudayaan yang saling terhubung. Memasukkannya dalam daftar destinasi wisata lalu mengunjunginya, berarti memasuki perpustakaan hidup sekaligus memahami mengapa oase hijau ini harus tetap dijaga.
Artikel asli ditulis oleh Taufik Wijaya.