Di tengah gedung, jalan raya, dan padatnya aktivitas manusia di Jakarta, burung ternyata dapat membantu menunjukkan kualitas ruang terbuka hijau. Kehadiran mereka bukan sekadar membuat taman kota terasa lebih hidup. Dalam penelitian lingkungan, burung dapat digunakan sebagai bioindikator atau penanda kondisi suatu lingkungan.
Alasannya berkaitan dengan kehidupan burung yang sangat bergantung pada pepohonan. Pohon digunakan untuk mencari makanan, berlindung, beristirahat, hingga berkembang biak. Karena itu, perubahan kondisi vegetasi di suatu kawasan dapat ikut memengaruhi jenis burung yang mampu hidup di sana.
Menurut Walid Rumblat, Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penyebaran berbagai jenis burung dapat dipengaruhi oleh fragmentasi habitat dan struktur habitat. Burung juga relatif mudah diamati dibandingkan kelompok hewan lain. Data mengenai jenis dan taksonominya pun sudah banyak diketahui.
Namun, menilai kualitas ruang hijau tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah burung.
Jenis burung yang ditemukan juga penting. Burung dengan kebutuhan ekologis yang lebih khusus mendapatkan nilai lebih tinggi dalam penilaian. Salah satu contohnya adalah betet biasa. Sebaliknya, jika sebuah kawasan hanya dihuni burung yang umum dijumpai seperti burung gereja atau emprit, nilainya lebih rendah.
Penilaian tersebut dapat dilakukan menggunakan Indeks Komunitas Burung atau IKB. Sebelum menghitungnya, burung dikelompokkan berdasarkan sejumlah karakter, seperti jenis makanan, asal spesies, strategi reproduksi, lokasi sarang, waktu aktivitas, dan habitat utamanya. Dari nilai IKB kemudian dapat ditentukan kategori kualitas lingkungan.
Burung juga memiliki posisi penting dalam rantai makanan. Jenis yang berada pada tingkat trofik lebih tinggi dapat mencerminkan perubahan yang terjadi pada tingkat di bawahnya. Komposisi komunitas burung juga dapat menunjukkan persaingan antarspesies dalam mendapatkan makanan, ruang, dan lokasi bersarang.
Bukan hanya ruang hijau daratan yang dapat diamati melalui burung. Keberadaan burung air juga dapat digunakan untuk melihat kondisi ekosistem perairan perkotaan, seperti sungai, danau, dan kawasan pesisir.
Keragaman tumbuhan menjadi salah satu unsur penting untuk mendukung kekayaan jenis burung. Semakin beragam struktur vegetasi, semakin tinggi pula peluang hadirnya berbagai jenis burung. Karena itu, ruang terbuka hijau perlu memiliki variasi tumbuhan yang dapat dimanfaatkan satwa.
Beberapa tanaman yang dapat ditanam antara lain buni, salam, dan kembang sepatu. Pemilihan jenis dan bentuk tumbuhan penting karena setiap jenis burung memiliki kebutuhan habitat yang berbeda.
Keberadaan ruang hijau juga penting bagi burung migran dan burung dilindungi, terutama pada ekosistem pantai dan pesisir Jakarta. Kawasan tersebut menghadapi ancaman seperti pencemaran dan perubahan lahan.
Dengan demikian, taman kota yang terlihat hijau belum tentu memiliki kualitas habitat yang sama. Burung dapat membantu memberikan petunjuk. Jika sebuah ruang terbuka hijau mampu menyediakan beragam sumber makanan, tempat berlindung, dan lokasi berkembang biak sehingga dihuni berbagai karakter burung, kualitas lingkungannya juga dinilai lebih baik.
Di kota besar seperti Jakarta, mengamati burung berarti kita sekaligus memperhatikan ruang tempat mereka hidup.
Artikel asli ditulis oleh Falahi Mubarok.