Katak panah beracun merupakan salah satu hewan paling beracun di dunia. Ukuran tubuhnya kecil dan warnanya menarik, tetapi racun yang dibawanya dapat membunuh beberapa manusia dewasa. Lalu, mengapa katak ini tidak mati karena racunnya sendiri?
Katak panah beracun ternyata tidak menghasilkan seluruh racunnya sendiri. Racun itu berasal dari makanan mereka, seperti semut, tungau, dan hewan kecil lainnya. Zat beracun dari makanan tersebut dikumpulkan dan disimpan di dalam tubuh, lalu digunakan untuk melindungi diri dari pemangsa.
Salah satu jenis racunnya adalah batrachotoxin. Racun ini menyerang saluran natrium, yaitu bagian kecil pada permukaan sel yang bekerja seperti pintu. Pintu ini mengatur keluar-masuknya natrium agar saraf, otot, dan jantung dapat bekerja dengan baik.
Dalam keadaan normal, pintu tersebut akan membuka dan menutup sesuai kebutuhan. Namun, batrachotoxin membuatnya terus terbuka. Akibatnya, aliran natrium menjadi tidak terkendali. Saraf kesulitan mengirimkan pesan, otot tidak dapat berkontraksi dengan normal, dan jantung bisa berhenti bekerja.
Untuk melindungi diri dari racun, hewan memiliki beberapa cara. Cara pertama adalah mengubah bentuk bagian tubuh yang menjadi sasaran racun. Perubahan kecil akibat mutasi genetik membuat racun tidak dapat menempel pada targetnya.
Bayangkan racun sebagai kunci dan protein di dalam tubuh sebagai lubang kuncinya. Jika bentuk lubang kunci sedikit berubah, kunci tersebut tidak lagi cocok. Racun pun gagal bekerja. Mekanisme ini ditemukan pada sejumlah katak beracun.
Cara kedua adalah membuang racun dari tubuh sebelum menimbulkan kerusakan. Kemampuan ini juga dimiliki beberapa hewan yang memangsa satwa beracun. Tubuh mereka dapat memecah, menetralkan, atau mengeluarkan racun yang masuk bersama makanan.
Cara ketiga adalah menyimpan racun dengan aman. Mekanisme ini disebut sekuestrasi. Tubuh hewan menangkap racun dan mengikatnya agar tidak bergerak bebas menuju saraf, otot, atau jantung.
Para peneliti awalnya menduga saluran natrium pada katak Phyllobates telah berubah sehingga kebal terhadap batrachotoxin. Namun, penelitian menunjukkan bahwa saluran tersebut tetap dapat terkena racun. Jika racunnya sampai ke sana, katak seharusnya juga berada dalam bahaya.
Karena itu, ilmuwan menduga katak menggunakan sejenis “protein spons”. Protein ini bekerja seperti pembungkus yang menangkap dan menahan molekul racun. Dengan cara tersebut, racun dapat dibawa menuju tempat penyimpanan tanpa menyentuh bagian tubuh yang rentan.
Mekanisme serupa ditemukan pada katak Amerika Rana catesbeiana. Katak ini memiliki protein bernama saxiphilin yang mampu mengikat saxitoxin, salah satu jenis racun kuat. Racun yang telah terikat tidak dapat menyerang targetnya dengan mudah.
Meski demikian, bukan berarti hewan beracun kebal terhadap semua racun. Sistem perlindungan mereka biasanya hanya cocok untuk jenis racun tertentu. Jumlah racun yang terlalu besar atau kegagalan sistem penyimpanan tetap dapat membahayakan tubuh mereka.
Jadi, hewan beracun tidak mati karena tubuhnya memiliki sistem pengamanan khusus. Ada yang mengubah sasaran racun, membuang racun, atau mengikat dan menyimpannya dengan aman.
Foto utama: Katak biru beracun ini bernama Dendrobates tinctorius “azureus”. Foto: Wikimedia Commons/Quartl – Own work/CC BY-SA 3.0.