Di antara semua buaya yang hidup di Indonesia, senyulong adalah yang paling tidak ingin ditemukan. Ia bersembunyi di rawa gambut, sungai pedalaman berwarna hitam seperti teh, dan hutan banjir yang jarang dijamah manusia. Para peneliti harus menempuh perjalanan berjam-jam menyusuri lumpur dan saluran sempit hanya untuk mendekati habitatnya. Kadang hasilnya nihil. “Mereka satwa cryptic yang tidak mau ditemukan,” kata Kyle Shaney, penulis utama penilaian Daftar Merah IUCN untuk senyulong.
Tapi kini, senyulong semakin sering muncul di tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Dan itu bukan pertanda baik.
Senyulong (Tomistoma schlegelii) adalah reptil yang sulit dikategorikan. Moncongnya runcing seperti gharial, tapi pangkalnya melebar seperti buaya. Karena penampilannya yang membingungkan itu, ia sempat mendapat julukan kurang enak: false gharial, gharial palsu. Perjalanan taksonominya pun tidak biasa. Awalnya dimasukkan ke keluarga Crocodylidae berdasarkan morfologi, lalu dipindahkan ke Gavialidae pada 2007 setelah analisis molekular membuktikan kekerabatan genetiknya yang lebih dekat ke gharial. “Setahu saya, ia merupakan satu-satunya buaya yang sempat berpindah penempatan keluarganya,” kata Herdhanu Jayanto, ilmuwan konservasi dari Yayasan Konklusi.
Ekologinya pun masih banyak yang belum dipahami. Herdhanu dan tim pada 2022 menempuh perjalanan 10 jam ke hulu Sungai Air Hitam di Taman Nasional Berbak-Sembilang, Jambi, untuk memasang GPS pada sembilan ekor senyulong berukuran 3,9 hingga 4,7 meter. Data yang terkumpul hingga 2025 menunjukkan ruang jelajah satu individu mencapai 380,4 hektar, dengan satu individu lain teramati berpindah sejauh 8,7 kilometer dari lokasi tangkapnya. Studi ini, kata Herdhanu, adalah satu-satunya studi ruang jelajah untuk senyulong dewasa jantan dan betina yang pernah dilakukan.
Ancaman terhadap spesies ini nyata dan berlapis. Dari 2002 hingga 2024, Indonesia kehilangan 11 juta hektar hutan primer basah. Lima provinsi dengan kehilangan tutupan pohon terbesar, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur, adalah jantung habitat senyulong. Sebelum 1950, senyulong diperkirakan tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaysia, dan mungkin hingga daratan Asia. Kini hanya tersisa di Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia, dengan populasi diperkirakan kurang dari 24 ribu ekor. Status IUCN-nya naik dari Rentan pada 2014 menjadi Genting pada 2024.
Senyulong sebenarnya cukup adaptif. Mereka dilaporkan bisa hidup di habitat sawit dan lahan terdegradasi. Tapi ada batas toleransinya. Ketika hutan terus berkurang dan ketersediaan mangsa menyusut, senyulong terpaksa bergerak keluar dari zona nyaman mereka. Tren serangan dan konflik dengan manusia semakin meningkat, meski sebagian besar serangan buaya di Indonesia berasal dari buaya muara.
“Senyulong mungkin bukan sedang menyerang, namun bertahan,” tulis laporan yang mengkaji konflik ini.
Buaya yang selama ini paling menghindari manusia kini semakin sering muncul di dekat permukiman dan area pemancingan. Bukan karena perangainya berubah, melainkan karena ruang hidupnya terus menyempit hingga tidak ada pilihan lain yang tersisa.