Akhir Oktober 2025, warga pesisir Alor, Nusa Tenggara Timur, ramai-ramai turun ke laut dengan tangan kosong, tombak, dan serokan. Bukan untuk menyelam atau memancing. Tapi untuk memungut ikan yang mengambang pingsan di permukaan air. Seorang warga bahkan berhasil membawa pulang lebih dari 150 kilogram ikan dalam satu kejadian.
Yang membuat ikan-ikan itu pingsan bukan racun, bukan jaring, dan bukan ulah manusia. Melainkan air yang tiba-tiba menjadi sangat dingin.
Perairan Alor Kecil, di Selat Mulut Kumbang antara Pulau Alor Kecil dan Pulau Kepa, menyimpan fenomena oseanografi yang hingga kini hanya tercatat di satu tempat di seluruh dunia. Beberapa publikasi ilmiah peer-reviewed mengonfirmasi hal ini. Jurnal Regional Studies in Marine Science menyebutnya secara eksplisit: tidak ada wilayah tropis lain di Bumi yang memiliki suhu permukaan laut sedingin ini. Fenomena itu disebut extreme upwelling event (EUE), atau yang oleh Anindya Wirasatriya, Guru Besar Oseanografi Universitas Diponegoro yang memimpin riset ini, dijuluki ALaDin, singkatan dari air laut dingin.
Dalam upwelling biasa, air dingin dari kedalaman naik ke permukaan dan menurunkan suhu sekitar dua derajat Celsius. Di Alor, penurunannya bisa mencapai 10 derajat Celsius hanya dalam waktu sekitar satu jam. Suhu permukaan laut yang normalnya sekitar 28 derajat Celsius di perairan tropis bisa anjlok hingga sekitar 12 derajat Celsius. Perubahan suhu yang begitu drastis dan mendadak inilah yang membuat ikan-ikan kehilangan kesadaran. “Hampir mustahil di perairan tropis suhu permukaan laut dapat mencapai 12°C,” kata Anindya.
Mekanismenya dikendalikan oleh pasang surut, bukan angin seperti upwelling pada umumnya. Di bawah Selat Mulut Kumbang, tersembunyi sebuah cekungan dengan kedalaman lebih dari 300 meter antara Pulau Pura dan Kecamatan Alor Barat Daya. Pada kedalaman 270 meter, suhu air hanya 8 derajat Celsius. Ada celah sempit yang menghubungkan cekungan dalam itu langsung ke selat. Ketika arus pasang bergerak dari selatan ke utara dengan magnitudo lebih dari 2,2 meter, massa air dingin dari cekungan itu terdorong naik melalui celah dan membanjiri selat. Ketika surut, air dingin itu kembali tersedot keluar.
Hasilnya: suhu permukaan laut di Selat Mulut Kumbang naik turun drastis dua kali sehari, mengikuti ritme pasang surut semi-diurnal. Di luar selat, penurunan suhu yang terdeteksi hanya sekitar tiga hingga empat derajat Celsius. Fenomena ini hanya terjadi sepanjang Agustus hingga November, mengikuti pengaruh monsun. EUE berlangsung hanya sekitar satu jam setiap kejadian, tapi dampaknya pada biota laut di selat itu langsung dan dramatis.
Achmad Sahri, peneliti BRIN yang terlibat dalam kajian ini, menyebut EUE di Alor sebagai peristiwa pertama jenis ini yang tercatat di dunia. Riset ini melibatkan kolaborasi antara Universitas Diponegoro, BRIN, beberapa universitas Indonesia, dan mitra internasional dari Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand.
Bagi warga Alor, fenomena yang membingungkan para oseanografer dunia itu punya nama yang lebih sederhana: berkah. Setiap kali air surut jauh dan ikan-ikan mulai mengambang, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Turun ke laut, ambil sebanyak mungkin, bagikan ke tetangga, jual sisanya ke tengkulak.