Elva Gemita tidak pernah menyelesaikan sarjana biologi atau kehutanan. Ia lahir dan besar di pinggir Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, di tengah hutan yang kelak menjadi seluruh hidupnya. Dan ketika ia pergi pada 24 November 2024 di usia 44 tahun karena kanker, dunia konservasi Indonesia kehilangan salah satu suaranya yang paling gigih.
Karir Elva dimulai bukan dari ruang kuliah, melainkan dari lapangan. Pada 2003, ia bekerja sebagai asisten peneliti di Proyek Harimau Jambi kelolaan Zoological Society of London, memantau satwa liar melalui transek garis, mengumpulkan data jejak kaki dan feses, mengoperasikan jebakan kamera, dan membongkar jerat ilegal yang dipasang di dalam hutan. Ia satu-satunya perempuan dalam banyak proyek yang ia ikuti.
“Mba Elva adalah contoh leader yang sangat berkomitmen terhadap visinya, tidak segan langsung terjun ke lapangan memberikan contoh dan menyemangati anggota timnya,” kenang Tomi Ariyanto, rekan kerjanya di periode itu.
Dari lapangan Kerinci, Elva terus bergerak. Ia menjabat Manajer Lapangan di Durrell Institute of Conservation and Ecology bekerja sama dengan Flora and Fauna International, lalu menjadi Koordinator Tim di Taman Nasional Kerinci Seblat. Pada 2016, ia meraih gelar Magister Manajemen Proyek Konservasi dari University of Kent, Inggris, dengan beasiswa yang ia perjuangkan sendiri. Tesisnya tentang strategi pengelolaan harimau Sumatera di Hutan Harapan didasarkan pada data jebakan kamera yang ia kumpulkan selama enam tahun di lapangan.
“Elva itu bahasa Inggrisnya selayak bangsawan Inggris. Dia yang lahir dan besar di kampung, mampu membuktikan itu bukan halangan meraih mimpi kuliah ke luar negeri,” kata Iding Haidir, Ketua Forum Harimau Kita, yang mengaku terinspirasi oleh Elva hingga ia sendiri mendapat beasiswa ke Oxford.
Puncak kontribusi Elva adalah di Hutan Harapan, Sumatera, tempat ia menjabat sebagai Manajer Departemen Lingkungan, Penelitian, dan Pengembangan sejak 2010. Di sana ia tidak hanya memimpin riset lapangan tentang harimau dan gajah Sumatera, tetapi juga membangun jaringan antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, dan donor internasional, menjadikan Hutan Harapan sebagai salah satu model restorasi ekosistem paling diakui di Asia Tenggara.
Adam Aziz, Direktur Hutan Harapan, menyebutnya sebagai “pejuang dan pahlawan” bagi hutan dataran rendah yang tersisa. “Dia sangat militan dan berkontribusi luar biasa untuk penyelamatan biodiversitas.”
Kalimat yang paling diingat dari Elva sederhana: “Untuk menjaga biodiversitas hutan dibutuhkan tangan perempuan.” Ia tidak hanya mengucapkannya, ia membuktikannya selama lebih dari dua dekade, di medan yang berat, dalam proyek-proyek yang sering kali tidak mendapat sorotan publik.
Sunarto, ahli ekologi satwa liar yang pernah bekerja bersama Elva di Kerinci-Seblat, merangkumnya dengan tepat. “Berita kepergian Elva meninggalkan kekosongan yang mendalam. Kontribusinya yang luar biasa terhadap konservasi akan menjadi warisan yang abadi.”
Ia pergi di usia yang terlalu muda. Tapi jejaknya di hutan Sumatera tidak ikut pergi. Ia hidup dalam data, dalam kebijakan, dalam orang-orang yang ia latih, dan dalam hutan yang masih berdiri karena ada orang seperti dia yang memilih untuk tidak diam.