<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=yogi-eka-sahputra-bintan&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/yogi-eka-sahputra-bintan/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 07 Jul 2026 11:30:18 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Kebakaran TPA Jatiwaringin, Walhi Ingatkan Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 11:30:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Ikbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07084941/WhatsApp-Image-2026-07-06-at-16.51.40-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130220</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten,  ludes terbakar, 30 Juni lalu. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mendesak pengelolaan sampah seharusnya dari hulu hingga hilir hingga tak menyebabkan sampah menunpuk di  TPA. TPA dengan pengelolaan open dumping ini rencananya jadi salah satu lokasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).  Warga khawatir, kebakaran di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/">Kebakaran TPA Jatiwaringin, Walhi Ingatkan Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten,  ludes terbakar, 30 Juni lalu. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mendesak pengelolaan sampah seharusnya dari hulu hingga hilir hingga tak menyebabkan sampah menunpuk di  TPA. TPA dengan pengelolaan open dumping ini rencananya jadi salah satu lokasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).  Warga khawatir, kebakaran di lahan luas dengan tumpukan sampah kering ini bakal bertahan dan sulit padam. &#8220;Warga sekitar takutnya kayak TPA yang di Kota Tangerang kebakar sampai berhari-hari,&#8221; kata  Candra, warga sekitar, saat Mongabay hubungi. Dia khawatir kepulan asap pekat yang membumbung tinggi berdampak buruk bagi kesehatan warga sekitar. Apalagi, material di TPA ini bukan hanya satu jenis. &#8220;Kalau lama takutnya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Saya ada anak kecil juga makanya mau diungsikan dulu sebelum padam.&#8221; Pemerintah Kabupaten Tangerang menurunkan 30 personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ahmad Ruslan, Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan BPBD, bilang,   setidaknya enam unit awal armada kebakaran ke lokasi. Api di TPA katanya, masih cukup besar berkobar di area gunungan sampah. Petugas berupaya menembus titik api di tengah tumpukan sampah. &#8220;Kondisi lokasi menyulitkan proses pemadaman,&#8221; katanya, 30 Juni. Ujat Sudrajat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Banten, menyebut luasan kebakaran di TPA sekitar dua hektar. Dugaan awal, titik kemunculan api dari sebelah utara lokasi penimbunan sampah. Kondisi kebakaran, katanya, makin parah karena  cuaca ekstrem dengan suhu panas matahari dan angin kencang yang memperluas rambatan api. &#8220;Angin hembusannya cukup kencang, sehingga  menyulitkan berkejaran dengan petugas untuk dalam proses pemadaman,&#8221; katanya. Situasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Uncal Enggano, Mengapa Burung Endemik Ini Penting bagi Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 09:08:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07090017/Uncal-Enggano-Barok-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130225</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bulunya didominasi cokelat keabu-abuan. Suaranya juga tidak memikat, layaknya jenis burung kicau. Namun, di balik penampilannya yang biasa, ia turut menjalankan peran luar meregenerasi hutan. Namanya uncal enggano, avifauna yang hanya bisa dijumpai di pulau yang secara internasional diakui sebagai daerah penting bagi burung IBAs (Important Bird and Biodiversity Areas). Pulau yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bengkulu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/">Uncal Enggano, Mengapa Burung Endemik Ini Penting bagi Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bulunya didominasi cokelat keabu-abuan. Suaranya juga tidak memikat, layaknya jenis burung kicau. Namun, di balik penampilannya yang biasa, ia turut menjalankan peran luar meregenerasi hutan. Namanya uncal enggano, avifauna yang hanya bisa dijumpai di pulau yang secara internasional diakui sebagai daerah penting bagi burung IBAs (Important Bird and Biodiversity Areas). Pulau yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Luasnya sekitar 40 ribu hektar. Zulvan Zaviery, pegiat lingkungan Pulau Enggano, mengatakan meski lebih dikenal sebagai penghuni hutan, Macropygia cinnamomaea juga mampu beradaptasi dengan bentang alam yang berubah. “Kini juga sering terlihat di kebun-kebun warga yang berbatasan dengan hutan,” jelasnya, Minggu (5/7/26). Ketika berada di kawasan hutan, burung dengan persebaran terbatas ini lebih sering terlihat berpasangan. Namun, hal berbeda terlihat ketika mencari makan di lahan pertanian, akan tampak  beberapa individu dalam satu lokasi. Burung ini menyukai jagung, padi, dan pisang. Di hutan, jenis yang masih satu keluarga dengan merpati ini lebih menyenangi buah-buahan liar. “Salah satunya, buah dari pohon nelung (nama lokal) yang buahnya kecil, sebesar jagung.” Uncal enggano merupakan burung yang hanya ditemukan di Pulau Enggano. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Menanam hutan tanpa disadari Zulqarnain Assidiqqi, Direktur Endemic Indonesia Society, menjelaskan, peran uncal di pulau terluar itu sangat penting, karena tidak banyak burung yang menjalankan fungsi ekologis di hutan. “Di Enggano hanya ada satu spesies uncal, sehingga fungsinya sangat sentral,” terangnya, Minggu (5/7/2026). Karakter burung yang dada dan tubuh atas seolah bersisik ini, berbeda dengan jenis pemakan biji di lingkungan perkotaan. Burung ini lebih bergantung pada kondisi habitat alaminya. “Keberadaa hutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Manusia Purba &#8220;Hobbit&#8221; dari Flores Diduga Makan Sisa Buruan Komodo, Bukan Hasil Berburu Sendiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 02:52:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07025209/1280px-Homo_floresiensis_cave-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130205</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama ini Homo floresiensis, manusia purba bertubuh kecil yang hidup di Pulau Flores dan dijuluki &#8220;hobbit&#8221; karena tingginya hanya sekitar satu meter, dikenal sebagai pemburu yang cukup terampil. Sejak fosilnya pertama kali ditemukan di Gua Liang Bua pada awal tahun 2000-an, spesies ini memang selalu memancing perdebatan di kalangan ilmuwan, sebab meski bertubuh kecil dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/">Manusia Purba &#8220;Hobbit&#8221; dari Flores Diduga Makan Sisa Buruan Komodo, Bukan Hasil Berburu Sendiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama ini Homo floresiensis, manusia purba bertubuh kecil yang hidup di Pulau Flores dan dijuluki &#8220;hobbit&#8221; karena tingginya hanya sekitar satu meter, dikenal sebagai pemburu yang cukup terampil. Sejak fosilnya pertama kali ditemukan di Gua Liang Bua pada awal tahun 2000-an, spesies ini memang selalu memancing perdebatan di kalangan ilmuwan, sebab meski bertubuh kecil dan berotak jauh lebih kecil dibanding manusia modern, mereka justru dikaitkan dengan kemampuan yang cukup mengejutkan. Penelitian-penelitian awal, misalnya, mengaitkan Homo floresiensis dengan perburuan hewan besar, terutama gajah kerdil yang sudah punah, Stegodon florensis insularis, hewan yang jauh lebih besar dari ukuran tubuh mereka sendiri. Tidak berhenti di situ, sejumlah bukti yang ditemukan di lokasi yang sama juga sempat ditafsirkan sebagai tanda bahwa mereka sudah mengenal dan mampu menggunakan api, sebuah kemampuan kognitif yang tergolong maju untuk spesies dengan volume otak sekecil itu. Perbandingan replika tengkorak Homo floresiensis (kiri) dengan tengkorak manusia modern (kanan). Perbedaan ukuran tengkorak ini menggambarkan bagaimana volume otak Homo floresiensis jauh lebih kecil dibanding manusia modern, meski begitu spesies ini sempat dianggap memiliki kemampuan berburu yang cukup maju. Kredit: Avandergeer/Wikimedia Commons (CC BY 3.0) Namun gambaran itu kini mulai dipertanyakan setelah sebuah studi yang terbit di jurnal Science Advances menunjukkan bahwa kemampuan berburu Homo floresiensis mungkin tidak sehebat yang dikira. Sebagian besar daging yang mereka makan kemungkinan berasal dari bangkai yang sudah lebih dulu disantap komodo (Varanus komodoensis). Jejak di Gua Liang Bua Tim yang dipimpin peneliti dari National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, memeriksa lebih dari 3.100 fragmen tulang Stegodon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sesar Meratus, Waspada Potensi Gempa Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 02:40:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/03133756/Bentangan-Pegunungan-Meratus-dipotret-dari-puncak-Gunung-Halau-Halau-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130080</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, infrastruktur, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak lepas dari ancaman gempa. Stasiun Geofisika Balikpapan bahkan mencatat kenaikan signifikan kejadian dari 94 pada 2023 menjadi 238 pada 2024 dan 240 pada 2025. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah Sesar Meratus yang berpotensi gempa 7 magnitudo. Salah satu gempa kuat terjadi 13 Februari 2024 dengan magnitudo 4,8 dan berpusat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/">Sesar Meratus, Waspada Potensi Gempa Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak lepas dari ancaman gempa. Stasiun Geofisika Balikpapan bahkan mencatat kenaikan signifikan kejadian dari 94 pada 2023 menjadi 238 pada 2024 dan 240 pada 2025. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah Sesar Meratus yang berpotensi gempa 7 magnitudo. Salah satu gempa kuat terjadi 13 Februari 2024 dengan magnitudo 4,8 dan berpusat di darat, sekitar 19 kilometer timur laut Banjarmasin, kedalaman 10 kilometer. Getarannya terasa di sejumlah daerah seperti Kabupaten Banjar, Tapin, Barito Kuala, dan Kota Banjarmasin dengan intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI). Bahkan sampai ke Kabupaten Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, intensitas II–III MMI. Lalu, pada 4 Desember 2025  mengguncang sekitar 95 kilometer barat daya Kabupaten Tanah Laut dengan magnitudo 4,9 di kedalaman tiga kilometer. Tidak menimbulkan kerusakan berarti, tapi getarannya terasa hingga Banjarbaru, dengan intensitas II–III MMI. Rasmid, Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, mengatakan, gempa di Kalsel tidak lepas dari keberadaan Sesar Meratus yang  aktif. Untuk memantau pergerakannya, terpasang lima seismograf di sepanjang jalur itu. &#8220;Dari hasil monitoring, aktivitas gempa yang dihasilkan sesar ini cukup sering terdeteksi setiap bulan,&#8221; katanya, Selasa (16/6/26). Hasil kajian sementara, katanya, Sesar Meratus merupakan sesar naik (thrust fault) dengan panjang sekitar 110 kilometer. Mengacu perumusan Wells dan Coppersmith (1994), berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 7 apabila seluruh segmennya bergerak bersama. &#8220;Berpotensi menimbulkan dampak yang cukup luas karena lokasinya di daratan. Namun tingkat kerusakan tetap bergantung pada karakteristik geologi di masing-masing wilayah.&#8221; Dia bilang, karakteristik tanah dan batuan di bawah permukaan berperan besar dalam menentukan seberapa kuat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lebah dan Tawon Pernah Memiliki Garis Keturunan yang Sama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 02:13:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053510/Madu-7722-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130196</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apakah lebah dan tawon berbeda? Mengutip Paleontological Research Institution, awalnya mereka memiliki leluhur yang sama, namun berpisah sejak 120 juta tahun silam. Lebah hingga kini masih setia mencari madu bunga, sementara tawon tetap sebagai serangga pemburu sebagaimana leluhurnya yang karnivora. Paling mudah membedakan tawon dan lebah dengan cara melihat fikik keduanya. Lebah penampakannya agak bulat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/">Lebah dan Tawon Pernah Memiliki Garis Keturunan yang Sama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apakah lebah dan tawon berbeda? Mengutip Paleontological Research Institution, awalnya mereka memiliki leluhur yang sama, namun berpisah sejak 120 juta tahun silam. Lebah hingga kini masih setia mencari madu bunga, sementara tawon tetap sebagai serangga pemburu sebagaimana leluhurnya yang karnivora. Paling mudah membedakan tawon dan lebah dengan cara melihat fikik keduanya. Lebah penampakannya agak bulat dan berbulu sedangkan tawon langsing dan tidak berbulu. John Capinera (2008), mewakili tim dari Universitas Florida, Amerika, dalam Encyclopedia of Entomology, menjelaskan bahwa lebah tidak seperti serangga herbivora. Ia hanya makan serbuk sari. Perubahan pola makan yang terjadi pada leluhur lebah itu diikuti evolusi rambut tubuh, juga kaki belakang atau permukaan perut ventral yang membawa serbuk sari dalam jumlah besar. Nasib lebah lebih baik dibandingkan tawon. Ketika ada lebah terperangkap maka ia dibiarkan terbang, sementara ketika kejadian yang sama terjadi pada tawon, ia akan diburu. Padahal, keduanya sama-sama penting bagi ekosistem alam. Berdasarkan survei di 46 negara, tawon mendapatkan pandangan negatif meski memiliki manfaat ekologis di Bumi. Tawon diposisikan lebih bawah dibandingkan lalat. Sementara posisi lebah, mendapat tingkat emosi tertinggi mengalahkan kupu-kupu. Hal lain adalah perbedaan bentuk tubuh lebah dan tawon berkaitan dengan kebiasaan makan mereka. Jenis tawon jaket kuning dengan bentuk aerodinmis dan pingging berisi, sangat sesuai menangkap serangga atau terbang cepat mengambil makanan dari koloni yang lain. Sementara lebah madu tidak perlu memiliki kemampuan terbang tinggi. Hal paling dibutuhkan adalah terbang dari satu bunga ke bunga lain. Bentuk perutnya yang bulat dan berambut sangat sesuai dengan karakter bunga yang disinggahi karena membantu penyerbukan. Lebah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Sampah Jakarta dan Pemenuhan Hak Anak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 00:31:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Theo Filius Manurung*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/25180330/Bantargebang-Azam--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130189</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bahaya, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masalah sampah di Jakarta sudah bukan hanya soal kebersihan. Kondisinya makin memprihatinkan sudah meningkat menjadi masalah lingkungan, kesehatan, dan keadilan sosial. Pada 2025, rata-rata volume sampah dari Jakarta yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang mencapai 7.354 ton per hari. Total keseluruhan sampah ke sana mencapai 2,68 juga ton sepanjang tahun itu. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/">Opini: Sampah Jakarta dan Pemenuhan Hak Anak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masalah sampah di Jakarta sudah bukan hanya soal kebersihan. Kondisinya makin memprihatinkan sudah meningkat menjadi masalah lingkungan, kesehatan, dan keadilan sosial. Pada 2025, rata-rata volume sampah dari Jakarta yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang mencapai 7.354 ton per hari. Total keseluruhan sampah ke sana mencapai 2,68 juga ton sepanjang tahun itu. . Dampak dari pengelolaan sampah yang belum tepat ini bukan hanya membahayakan TPST Bantar Gebang. Wilayah itu sudah berulang kali mengalami longsor sampah, bahkan sampai menelan korban jiwa. Selain di Bantar Gebang sendiri, di wilayah lain terjadi penyumbatan saluran air, sungai tercemar, banjir, kualitas udara memburuk, dan masih banyak persoalan lain. Satu contoh, di pesisir seperti Jakarta Utara, kondisi bisa lebih buruk lagi. Dengan karakteristik wilayah yang dekat dengan muara dan laut, penduduk jadi rentan mengalami banjir dan rob yang makin buruk dari waktu ke waktu. Bagi pemukiman padat di bantaran sungai, sering kali juga harus berhadapan dengan muara berisi sampah dari wilayah yang letaknya lebih tinggi. Puluhan anak muda bermain permainan kartu rumah minim sampah di gelaran piknik asyik bebas plastik di Cilandak, Jakarta Selatan. Foto : Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Data dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta 2025 melaporkan, 60% sampah Jakarta berasal dari rumah tangga. Sayangnya, pemahaman dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah masih terbatas pada kumpul-angkut-buang. Mayoritas orang melihat sampah sebagai sesuatu yang berhenti dengan dibuang dan tidak memiliki nilai ekonomi. Jika masyarakat bisa mengelola mandiri sampah dapat mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) dan memaksimalkan operasional fasilitas waste to energy (WtE). Pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kajian Sebut Tekanan Zona Lindung Perparah Bencana Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jul 2026 12:16:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/03081943/Kayu-di-desa-Geudumbak-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130141</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah terus melakukan kajian terkait bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh, akhir tahun lalu. Kendati kehadiran siklon tropis senyar menjadi salagh satu pemicu, pemerintah masih mengkaji bagaimana faktor manusia turut memperparah dampak bencana. Widhi Handoyo, Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) katakan,  22 desa hilang akibat bencana ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/">Kajian Sebut Tekanan Zona Lindung Perparah Bencana Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah terus melakukan kajian terkait bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh, akhir tahun lalu. Kendati kehadiran siklon tropis senyar menjadi salagh satu pemicu, pemerintah masih mengkaji bagaimana faktor manusia turut memperparah dampak bencana. Widhi Handoyo, Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) katakan,  22 desa hilang akibat bencana ini. “Jika pada 2004, tsunami dari laut ke daratan, namun bencana Sumatera dan Aceh justru sebaliknya, datang dari hulu kemudian menyapu ke arah hilir. Sama-sama menyebabkan kerusakan yang sangat fatal,” katanya dalam webinar bertajuk Bencana Sumatera What’s Next?,  Rabu (22/4/26). Saat ini, katanya, KLH masih mengkaji apakah bencana tersebut hanya disebabkan faktor alam atau ada kontribusi kesalahan manusia. Baik pada aspek kebijakan rencana program atau implementasi di lapangan. Kajian berlangsung di tiga provinsi paling terdampak, yakni, Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Berdasarkan kajiannya, Widhi menemukan porsi luasan tekanan paling banyak pada kawasan perlindungan, ekosistem mangrove, dan cagar budaya. Sedangkan budidaya yang paling banyak mendapatkan tekanan ada di kawasan perikanan, pertahanan keamanan dan pertambangan energi.  “Dari kajian yang dilakukan, tiga kawasan mendapat tekanan tertinggi paling lebar,” ujarnya. Menurut Widhi, tata ruang, seharusnya menjadi acuan dalam melakukan pengembangan suatu wilayah. Saat ini, pemerintah tengah mengecek kesenjangan antara perencanaan yang dilakukan dengan implementasi di lapangan. Termasuk penerapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Selain itu, pemerintah kini juga tengah mengevaluasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (JLHS) di ketiga provinsi. Hal itu dilakukan untuk menentukan apakah ada kesenjangan antara proses pelaksanaan KLHS dengan norma peraturan antara lain PP 46&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kembali ke Habitat, Orangutan Kalimantan Hidup Bebas di Hutan Mesangat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jul 2026 10:07:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yovanda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/06100204/orangutan-kalimantan1_COP-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130174</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagus, Eboni, dan Ruby sudah terbiasa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka kehilangan naluri liarnya, sehingga tidak mampu lagi memanjat pohon, mencari makan di hutan, maupun membuat sarang untuk bertahan hidup. Setelah menjalani rehabilitasi, tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) tersebut dikembalikan ke habitat alaminya. Tepatnya, di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/">Kembali ke Habitat, Orangutan Kalimantan Hidup Bebas di Hutan Mesangat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagus, Eboni, dan Ruby sudah terbiasa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka kehilangan naluri liarnya, sehingga tidak mampu lagi memanjat pohon, mencari makan di hutan, maupun membuat sarang untuk bertahan hidup. Setelah menjalani rehabilitasi, tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) tersebut dikembalikan ke habitat alaminya. Tepatnya, di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Selasa (23/6/26). Wilayah ini dipilih karena tutupan hutannya yang baik dan pakan alaminya melimpah. M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, mengatakan, saat pertama kali diselamatkan, kondisi ketiganya hampir sama. Terlalu lama hidup sebagai satwa peliharaan, membuat kemampuan dasar bertahan hidup mereka di alam liar menghilang. Bagus dievakuasi dari Desa Merabu, Kabupaten Berau, pada September 2020. Eboni diselamatkan dari peliharaan warga di Desa Long Beliu, Berau, pada April 2022. Ruby dievakuasi dari Desa Persiapan Sekurau Atas, Kabupaten Kutai Timur, pada April 2024. &#8220;Mereka tidak tahu cara memanjat, mencari makan sendiri, bahkan membuat sarang. Kemampuan itu harus dipelajari kembali melalui proses rehabilitasi,&#8221; jelasnya, Jumat (26/6/26). Setelah menjalani rehabilitasi, orangutan kalimantan ini dikembalikan ke habitatnya, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Foto: Dok. COP Mereka dititipkan di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Ketiganya menjalani rangkaian tahapan rehabilitasi, mulai pemeriksaan kesehatan, mengikuti sekolah hutan, hingga masa adaptasi empat bulan di pulau pra-pelepasliaran yang dirancang menyerupai habitat alami. “Sebelum dilepasliarkan, sifat liar mereka harus kembali muncul.” Selama masa adaptasi, mereka mampu hidup mandiri. &#8220;Hasil penilaian menunjukkan ketiganya sehat dan memiliki kembali naluri liarnya sehingga layak dikembalikan ke habitat alami.&#8221;&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Batang Sedekah Laut di Tengah Kerusakan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jul 2026 01:30:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05212126/20260628_111644-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130143</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Teriknya mentari tidak menyurutkan masyarakat Desa Roban Timur, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), berkumpul di siang bolong. Minggu (28/6/26) itu. Mereka duduk mengelilingi makanan yang akan mereka perebutkan. Seorang lelaki paruh baya memimpin doa dengan hikmat. Warga menengadah tangan, turut berdoa. Mereka berterima kasih kepada Tuhan. Atas laut dan sumber kekayaan alam sumber penghidupan mereka. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/">Warga Batang Sedekah Laut di Tengah Kerusakan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Teriknya mentari tidak menyurutkan masyarakat Desa Roban Timur, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), berkumpul di siang bolong. Minggu (28/6/26) itu. Mereka duduk mengelilingi makanan yang akan mereka perebutkan. Seorang lelaki paruh baya memimpin doa dengan hikmat. Warga menengadah tangan, turut berdoa. Mereka berterima kasih kepada Tuhan. Atas laut dan sumber kekayaan alam sumber penghidupan mereka. Saat doa selesai, warga memperebutkan makanan yang mereka percayai sebagai berkah. Sementara replika kapal kecil berwarna merah putih yang bermuatan hasil laut nelayan angkut ke kapal mereka. Acara itu merupakan sedekah untuk laut Batang. Lalu, iring-iringan kapal melaju satu persatu melepas sedekah itu ke laut. “Harapannya kami para nelayan mencari nafkah di laut gak ada gangguan. Entah itu kapal tongkang atau kendala lain. Tetap jaga laut dan pesisir di Roban Timur,” kata Hariyono, nelayan Batang. Vina, perempuan nelayan Batang ungkap harapan serupa. “Semoga laut tetap memberikan penghidupan bagi kami warga pesisir. Ikan banyak dan melimpah,  hidup lebih baik,” ujarnya. “Kami tetap bersyukur, tetap sedekah, meski laut sudah gak seperti dulu waktu saya kecil. Ikan melimpah, melaut sekarang harus jauh,” kata Tono, warga Roban Timur. Abdul, tokoh desa sebut meski kondisi laut di pesisir Batang sudah berbeda. Tradisi tetap jalan karena sudah ada secara turun temurun. “Tradisi sudah ada sejak kita belum lahir. Ini wujud syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang diberikan. Doa-doa kami panjatkan. Semoga warga Roban Timur selalu sejahtera meski kondisi sangat sulit.” Ratusan warga Roban Timur berkumpul, duduk mengelilingi makanan dan berdoa. Mereka berterima kasih kepada Tuhan. Atas laut dan sumber kekayaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Proyek Karbon di Jambi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 23:11:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05230336/Hutan-di-wilayah-adat-Marga-Serampas-di-Kabupaten-Merangin-Jambi.dok_.FWI_-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130156</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Hutan di Jambi itu milik masyarakat adat, mereka yang menjaga dan merawatnya. Ketika hutan itu masuk pasar karbon global senilai triliunan rupiah, mereka justru tak tahu. Salah satu yang  Masyarakat Adat Batin Sembilan di Dusun Simpang Macan Luar, Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, alami. Mereka  tak tahu kalau hutan yang mereka jaga turun-temurun sudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/">Menyoal Proyek Karbon di Jambi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Hutan di Jambi itu milik masyarakat adat, mereka yang menjaga dan merawatnya. Ketika hutan itu masuk pasar karbon global senilai triliunan rupiah, mereka justru tak tahu. Salah satu yang  Masyarakat Adat Batin Sembilan di Dusun Simpang Macan Luar, Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, alami. Mereka  tak tahu kalau hutan yang mereka jaga turun-temurun sudah pemerintah perjualbelikan di pasar karbon global. “Dak ngerti kami, apo itu karbon, apo itu BioCF, malah baru dengar ini,” kata Yunani,  warga Batin Sembilan, pertengahan Januari lalu. Jambi menjadi satu-satunya provinsi di Sumatera yang terpilih untuk menjalankan proyek BioCarbon Initiative for Sustainable Forest Landscape (BioCF-ISFL). Ini  proyek pendanaan karbon berbasis yuridiksi dengan dukungan pemerintah donor, seperti Jerman, Norway, Swiss, Inggris, Amerika dan dikelola Bank Dunia. Dia bilang, pemerintah tak pernah sosialisasi terkait proyek BioCF maupun perdagangan karbon. “Setahu kami dak ado,” kata Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo itu. Bagi perempuan adat Batin Sembilan, hutan bukan sekadar lanskap hijau. Hutan adalah ruang hidup. Tempat berladang, mencari rotan dan menjaga sumber air. Namun, hutan Batin Sembilan Kelompok Simpang Macan Luar telah terkaveling izin perkebunan sawit PT Berkat Sawit Utama dan konsesi PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) jadi kawasan restorasi ekosistem,  Hutan Harapan. Selebihnya terbabat para perambah. Saat ini,  Kelompok Simpang Macan Luar, hidup di dalam Hutan Harapan. Mereka mengelola 399 hektar hutan dengan skema kemitraan dengan Reki. Mereka tak bisa membuka kebun baru, merambah dan mempertahankan setiap jengkal tutupan hutan yang tersisa. Di Desa Lubuk Beringin, Kabupaten Merangin, Kecamatan Muara Siau, Merangin, pengelola hutan desa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gempa Sulawesi Tengah,  Sesar Sausu Masih Minim Kajian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 21:36:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05213134/Gempa-Sulteng-2026-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130145</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Medio Juni lalu, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki kedalaman 16 km, dengan episenter darat 42 km arah tenggara Palu, tepatnya di Torue, Parigi Moutong.  Ini jenis gempa dangkal karena aktivitas Sesar Sausu, dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/">Gempa Sulawesi Tengah,  Sesar Sausu Masih Minim Kajian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Medio Juni lalu, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki kedalaman 16 km, dengan episenter darat 42 km arah tenggara Palu, tepatnya di Torue, Parigi Moutong.  Ini jenis gempa dangkal karena aktivitas Sesar Sausu, dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Sesar ini masih terbilang minim kajian. “Hasil analisis BMKG mencatat, guncangan gempa bumi ini melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah dengan tingkat intensitas yang bervariasi,” kata Nelly Florida Riama,  Deputi Bidang Geofisika BMKG, dikutip dari rilis BMKG. Warga di Palolo, Sigi merasakan guncangan paling kuat pada skala VII MMI, sedang wilayah Torue dan Parigi Selatan menghadapi intensitas VI–VII MMI. Selain itu, guncangan berskala V–VI MMI meluas hingga ke Kota Sigi Biromaru dan Kota Palu, sedangkan Kota Poso, Donggala, serta Pasangkayu,  merasakan getaran skala IV–V MMI. Data BNPB per 18 Juni, sedikitnya ada 2.012 keluarga atau 6.458 jiwa terdampak. Dari jumlah itu, 1.991 keluarga atau 6.418 jiwa berada di Sigi, 21 keluarga atau 40 jiwa di Parigi Moutong.  Tercatat tiga orang meninggal dunia di Sigi. Ada 15 korban luka berat dan 64 luka ringan. Gempa di Sulteng medio Juni lalu. Foto: BNPB Sesar yang jarang jadi sorotan Selama ini, ketika orang membicarakan ancaman gempa di Sulawesi Tengah, nama yang paling sering muncul adalah Sesar Palu-Koro—patahan aktif yang melintasi langsung Kota Palu dan pernah memicu gempa dahsyat disertai tsunami serta likuefaksi pada 2018.  Namun gempa kali ini punya biang keladi berbeda. Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 13:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/04/22035733/Gorilla4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130129</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan tekn, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara. Keduanya pun menampilkan pola vokalisasi yang ritmis. Sama seperti manusia, tawa pada kera besar punya fungsi sosial. Misalnya, untuk memperkuat ikatan kelompok. Tawa pada kera besar pun menular. Maksudnya, jika seekor kera [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/">Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara. Keduanya pun menampilkan pola vokalisasi yang ritmis. Sama seperti manusia, tawa pada kera besar punya fungsi sosial. Misalnya, untuk memperkuat ikatan kelompok. Tawa pada kera besar pun menular. Maksudnya, jika seekor kera tertawa, maka bisa memicu tawa individu lain. Sama seperti yang dijumpai pada manusia. Di mata peneliti, ini bukan fenomena biasa. Evolusi morfologi memang bisa dilacak dari fosil yang disingkap dari dalam tanah. Tapi bagaimana melacak asal-usul vokal, ucapan, dan bahasa manusia? Kita jelas tidak mungkin mengamati secara langsung keterampilan vokal nenek moyang manusia, karena mereka sudah punah. “Studi komparatif tentang perilaku kera besar (non-manusia) -kerabat terdekat kita yang masih hidup- memberikan satu-satunya model yang masih ada dari kapasitas vokal dan fungsi adaptif yang punah milik nenek moyang manusia,” tulis Chiara De Gregorio, mewakili tim peneliti di artikel sebuah jurnal. Dia adalah doktor yang berafiliasi dengan Departemen Psikologi, Universitas Warwick, Coventry, Inggris. Penelitian mereka ingin menjawab hal itu. Laporannya kemudian diterbitkan di jurnal Nature Communications Biology, Juni 2026, berjudul “Rhythm and timing in laughter reveal that human vocal plasticity falls on a hominid continuum.” &#8220;Bertentangan dengan gagasan klasik bahwa manusia pertama tiba-tiba memperoleh kapasitas kontrol vokal yang sangat berbeda dari pendahulunya. Evolusi tawa memberi tahu kita bahwa manusia terletak pada kontinum, perpanjangan kapasitas kontrol vokal yang sudah diasah secara kumulatif selama 15 juta tahun,&#8221; ungkap Adriano Lameria, peneliti lain rekan De Gregorio dari universitas yang sama,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hydrophis platurus, Kerabat Ular Kobra yang Menghabiskan Seluruh Hidupnya di Laut Lepas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 11:51:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05114821/Hydrophis_platurus_32924548-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130134</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebanyakan ular menghabiskan hidupnya di darat, sebagian lain hidup di air tawar atau bolak-balik antara laut dan daratan. Namun ada satu spesies yang benar-benar memutus hubungannya dengan daratan sama sekali. Ular laut perut kuning, dengan nama ilmiah Hydrophis platurus, adalah satu-satunya reptil dari ordo Squamata yang bersifat pelagis, yaitu hidup mengapung dan berenang di kolom [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/">Hydrophis platurus, Kerabat Ular Kobra yang Menghabiskan Seluruh Hidupnya di Laut Lepas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebanyakan ular menghabiskan hidupnya di darat, sebagian lain hidup di air tawar atau bolak-balik antara laut dan daratan. Namun ada satu spesies yang benar-benar memutus hubungannya dengan daratan sama sekali. Ular laut perut kuning, dengan nama ilmiah Hydrophis platurus, adalah satu-satunya reptil dari ordo Squamata yang bersifat pelagis, yaitu hidup mengapung dan berenang di kolom air laut terbuka, jauh dari dasar laut maupun garis pantai, sepanjang hidupnya tanpa pernah menyentuh daratan sekali pun. Spesies yang dahulu diklasifikasikan sebagai Pelamis platurus ini bukan sekadar ular yang pandai berenang. Secara taksonomi, ular ini termasuk famili Elapidae, sekelompok dengan ular kobra dan weling yang dikenal luas di daratan. Namun berbeda dari kerabatnya itu, spesies ini sepenuhnya beradaptasi untuk hidup di air dan tidak lagi bergantung pada daratan sama sekali. Berdasarkan catatan Guinness World Records, ular laut perut kuning tercatat sebagai ular perenang tercepat di dunia, dengan kecepatan hingga 1 meter per detik untuk jarak pendek. Kecepatan ini penting bagi kelangsungan hidupnya, baik untuk menghindari predator maupun saat berburu ikan di permukaan laut. Namun kemampuan ini berbanding terbalik dengan kemampuannya di darat. Tubuhnya tidak lagi memiliki otot dan struktur yang memadai untuk menopang berat badan atau bergerak secara efektif di permukaan padat, sehingga jika terdampar di pantai, ular ini kesulitan bergerak dan rentan terhadap dehidrasi maupun predator. Satu-satunya Ular Laut yang Sepenuhnya Pelagis Keunikan utama yang membedakan spesies ini dari ular laut lain adalah sifat pelagisnya yang total. Sebagian besar ular laut lain, seperti kelompok ular belang laut (Laticauda spp.), masih naik ke daratan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Fitriani Dwi Galang Solidaritas Ungkap Pembunuh Gajah Rahman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 11:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15075222/Ani-pakai-atribut-gajah-saat-Bhayangkara-Run-2025.-Foto-Dokumen-pribadi-708x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127811</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bahu Jalan Jenderal Sudirman, depan Kantor Gubernur Riau, ramai massa awal tahun lalu. Mereka membagikan setangkai bunga krisan putih pada orang-orang yang lalu lalang atau menengok aksi mereka. Fitriani Dwi Kurniasari, pegiat lingkungan, inisiator, berada di tengah massa aksi sunyi itu. Aksi itu merupakan seruan mengungkap kasus kematian gajah Rahman, yang dua tahun lalu mati [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/">Upaya Fitriani Dwi Galang Solidaritas Ungkap Pembunuh Gajah Rahman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bahu Jalan Jenderal Sudirman, depan Kantor Gubernur Riau, ramai massa awal tahun lalu. Mereka membagikan setangkai bunga krisan putih pada orang-orang yang lalu lalang atau menengok aksi mereka. Fitriani Dwi Kurniasari, pegiat lingkungan, inisiator, berada di tengah massa aksi sunyi itu. Aksi itu merupakan seruan mengungkap kasus kematian gajah Rahman, yang dua tahun lalu mati kena racun dan sebilah gadingnya hilang. Mereka juga mengkritik penegakan hukum terhadap kejahatan satwa yang masih minim ketimbang jumlah kematiannya, serta mendesak penindakan atas perusahaan yang lalai menjaga area hingga banyak gajah mati di sekitar konsesi. “Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” kata perempuan 34 tahun itu. Ani, panggilan akrabnya, bilang ada 167 kematian gajah di Riau, sepanjang 2004-2025 dengan sebagian besar mati kena racun. Hanya tiga kasus perburuan gajah sampai ke meja hijau. Dua kasus dengan pelaku sama. Untuk kasus gajah Rahman, katanya, janggal ketimbang  kasus serupa. Biasa gajah mati dengan cara mengenaskan, tanpa gading, belalai terpotong, dan ceceran darah cukup banyak. Sedangkan Rahman, masih bertahan hidup, meski sekarat selama delapan jam, saat ditemukan. Pelaku tak mengambil gading secara utuh. Masih ada sisa di kepala bagian dalam. Juga, tidak ada ceceran darah signifikan. Gading yang pelaku curi hanya di bagian kiri. “Itu jadi pertanyaan kami, selama dua tahun ini. Kami harap Kapolda Riau bisa melihat dan prioritaskan kasus kematian gajah Rahman.” Aksi sunyi peringati dua tahun kematian gajah Rahman di Pekanbaru. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia. Ikatan emosional Ingatan Ani selalu terbang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/upaya-fitriani-dwi-galang-solidaritas-ungkap-pembunuh-gajah-rahman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Perkembangan Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling di Jakarta?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 02:34:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05014903/Bea-Cuka-Trenggiling-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130067</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menetapkan Tonni T, sebagai tersangka kasus penyelundupan tiga ton sisik trenggiling ke Kamboja. Selain menetapkannya sebagai tersangka, penyidik juga menahan yang bersangkutan di Rutan Salemba. Bambang Ari Wibowo, Koordinator Penyidik Seksi I Jakarta Balai Gakkum Jabalnusra, mengatakan, penetapan Tonni sebagai tersangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/">Bagaimana Perkembangan Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling di Jakarta?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menetapkan Tonni T, sebagai tersangka kasus penyelundupan tiga ton sisik trenggiling ke Kamboja. Selain menetapkannya sebagai tersangka, penyidik juga menahan yang bersangkutan di Rutan Salemba. Bambang Ari Wibowo, Koordinator Penyidik Seksi I Jakarta Balai Gakkum Jabalnusra, mengatakan, penetapan Tonni sebagai tersangka setelah penyidik peroleh sedikitnya dua alat bukti. Bukti-bukti itu mencakup pengakuan tersangka, keterangan saksi dari Bea Cukai, perusahaan jasa kepabeanan, dan perusahaan eksportir. “Tonni sudah mengaku sejak awal mengetahui barang yang akan dikirim adalah sisik trenggiling. Dari saksi Bea Cukai, PPJK (Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan), maupun perusahaan eksportir juga menyebut pengiriman dilakukan oleh Tonni,” katanya kepada Mongabay, Selasa (23/6/26). Penyidik masih memburu dua  pemilik sisik trenggiling, yakni,  Andi Agung M dan Vu Xuan Ha alias Anthony, warga negara Vietnam.  Petugas juga masih mendalami kemungkinan keterlibatan PPJK dan perusahaan eksportir yang terlibat rencana pengiriman itu. Berkas perkara mereka serahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) guna  pemeriksaan sebelum akhirnya pendaftaran ke pengadilan. Gakkum menjerat Tonni dengan Pasal 40A ayat (1) huruf f juncto Pasal 21 ayat (2) huruf c Undang-undang Nomor 32/2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelanggaran ketentuan ini terancam pidana penjara 3–15 tahun serta denda Rp200 juta-Rp5 miliar. Petugas Bea Cukai Tanjung Priok melakukan pemeriksaan sisik trenggiling yang hendak diselundupkan ke Kamboja. Foto: Humas Bea Cukai Tanjung Priok. Ganti nama barang Bambang katakan, dari hasil penyelidikan terungkap bila sisik trenggiling yang hendak dikirim ke Kamboja itu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/bagaimana-perkembangan-kasus-penyelundup-3-ton-sisik-trenggiling-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Buntut Kasus Muara Kate, Misran Toni Cari Keadilan ke Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jul 2026 15:52:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakt adat]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/04154733/Muara-Kate-Misran-Toni--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130104</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Misran Toni lega setelah vonis bebas Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kalimantan Timur atas tuduhan kasus penyerangan yang melenyapkan nyawa Russel di pos jaga hauling batubara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kabupaten Paser 16 April lalu. Setelah putusan itu, Imis, sapaan akrabnya,  langsung mengurus administrasi di Rutan Kelas II Muara Komam agar segera tancap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/">Buntut Kasus Muara Kate, Misran Toni Cari Keadilan ke Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Misran Toni lega setelah vonis bebas Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kalimantan Timur atas tuduhan kasus penyerangan yang melenyapkan nyawa Russel di pos jaga hauling batubara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kabupaten Paser 16 April lalu. Setelah putusan itu, Imis, sapaan akrabnya,  langsung mengurus administrasi di Rutan Kelas II Muara Komam agar segera tancap gas ke rumahnya. Setelah sembilan bulan mendekam di jeruji besi, dia tak sabar ingin menjalani kehidupan seperti biasanya lagi. Sudah lebih dari seminggu setelah putusan tingkat pertama keluar, tak ada satupun surat pemberitahuan kasasi datang ke rumahnya. Dia pun yakin kalau Jaksa Penuntut Umum (JPU) tak kasasi hingga putusan bebas itu segera berkekuatan hukum tetap (inkrah). Ternyata, ketika tim kuasa hukum pergi ke pengadilan pada 18 Mei lalu, ternyata jaksa sudah layangkan banding. Tim kuasa hukum lalu meminta Imis mengecek ulang ke Kantor Pos Muara Komam. Imis pergi bersama anaknya, Andre pada hari itu juga. Ternyata, surat pemberitahuan kasasi nyangkut di sana. Misran Toni, bersama Warta, Aswi, teman seperjuangannya di Muara Kate, bersama LBH Samarinda dan Jatam Kaltim, pergi ke Jakarta dan ikut aksi Kamisan. Foto: Yulia Adiningsih/Mongabay Indonesia Surat tak sampai, tetapi sudah bertanda tangan Anehnya, sudah terbubuh tanda tangan Imis di lembar pemberitahuan itu. Padahal, Imis tak pernah menandatangani apapun. Tanda tangan pun berbeda dengan milik Imis. Surat itu bukan yang pertama. Sudah ada tiga surat yang dialamatkan ke rumahnya, tetapi tak pernah sampai. Kantor Pos Muara Komam beralasan tidak ada kendaraan dan ongkos untuk mengantar ke rumah Imis. “Saya pikir alasannya tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/04/buntut-kasus-muara-kate-misran-toni-cari-keadilan-ke-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Kukri Gunung Jawa, Gigitannya Tajam Meski Tidak Berbisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jul 2026 11:37:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/04113152/Ular-Kukri-gunung-Jawa-Agus-Nurrofik-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130098</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor ular kecil bergerak di antara serasah daun di hutan sekunder Wonosalam, lereng Gunung Anjasmoro, Jombang, Jawa Timur. Bagi Muhammad Asyraf Rijalullah (26), lulusan Magister Biologi Universitas Brawijaya, ini pengalaman pertamanya melihat ular kukri gunung jawa. Asyraf, peneliti independen yang pernah berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society Indonesia, tidak menyangka survei lapangan 5-6 April 2026 itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/">Ular Kukri Gunung Jawa, Gigitannya Tajam Meski Tidak Berbisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor ular kecil bergerak di antara serasah daun di hutan sekunder Wonosalam, lereng Gunung Anjasmoro, Jombang, Jawa Timur. Bagi Muhammad Asyraf Rijalullah (26), lulusan Magister Biologi Universitas Brawijaya, ini pengalaman pertamanya melihat ular kukri gunung jawa. Asyraf, peneliti independen yang pernah berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society Indonesia, tidak menyangka survei lapangan 5-6 April 2026 itu, mempertemukan dirinya dengan jenis yang jarang terdokumentasikan. “Kami sebenarnya hanya melakukan pengecekan awal dan melihat satwa apa saja yang ada di lokasi,” jelasnya, Kamis (2/7/26). Hari pertama pengamatan berlalu tanpa temuan istimewa. Kondisi hutan sekunder di lereng Anjasmoro yang tak terlalu lembap, namun berbeda dibandingkan dataran rendah, menjadi perhatian tim selama survei berlangsung. Perjumpaan tak terduga itu terjadi hari kedua. Sekitar pukul 10 pagi, tim memutuskan kembali ke camp setelah menyusuri sejumlah titik di hutan. Jalur yang dilalui licin, karena hujan turun malam sebelumnya. Saat menuruni lereng, Asyraf melihat pergerakan kecil di bawah sepotong kayu di tepi jalur. “Saya buka dan ternyata ular.” Ular kukri gunung jawa yang keberadaannya belum banyak diketahui. Foto: Dok. Agus Nurrofik/Sahabat Alam Indonesia. Tidak berbahaya Sebagai peneliti yang biasa mengamati reptil, Asyraf dan rekan tetap waspada. Bentuk fisik Oligodon bitorquatus ini, sekilas mengingatkan mereka pada beberapa jenis ular berbisa. “Saya selalu menganggap, setiap ular yang ditemukan itu berbahaya hingga identitasnya benar-benar diketahui.” Dengan bantuan snake hook, Asyraf dan tim mengamati pola tubuh, bentuk kepala, hingga bagian bawah tubuh ular itu. Setelah memastikan jenis ini bukan anggota kelompok ular berbisa, penanganan lebih lanjut dilakukan. “Saya baru berani memegang setelah yakin ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/04/ular-kukri-gunung-jawa-gigitannya-tajam-meski-tidak-berbisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Ular Buta Brahmin, Spesies Ular yang Seluruh Populasinya Betina</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jul 2026 05:02:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/04045922/Indotyphlops_braminus_Brahminys_blind_snake_-_Kaeng_Krachan_District_Phetchaburi_51043248827-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130094</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dari sekitar 3.900 spesies ular yang telah teridentifikasi di dunia, hampir semuanya membutuhkan pejantan dan betina untuk berkembang biak. Namun ular buta Brahmin, dengan nama ilmiah Indotyphlops braminus, adalah sebuah pengecualian. Spesies kecil yang hidup di dalam tanah ini sering disangka cacing tanah oleh orang yang belum familiar dengannya. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya spesies [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/">Mengenal Ular Buta Brahmin, Spesies Ular yang Seluruh Populasinya Betina</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dari sekitar 3.900 spesies ular yang telah teridentifikasi di dunia, hampir semuanya membutuhkan pejantan dan betina untuk berkembang biak. Namun ular buta Brahmin, dengan nama ilmiah Indotyphlops braminus, adalah sebuah pengecualian. Spesies kecil yang hidup di dalam tanah ini sering disangka cacing tanah oleh orang yang belum familiar dengannya. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya spesies ular yang seluruh populasinya terdiri dari betina. Meski demikian, ular ini sama sekali tidak berbahaya bagi manusia. Indotyphlops braminus tidak berbisa dan tidak memiliki gigi yang cukup besar untuk melukai kulit manusia. Sebuah studi genom yang dipublikasikan di jurnal Scientific Data terbitan Nature menegaskan bahwa Indotyphlops braminus adalah satu-satunya spesies ular yang diketahui bereproduksi lewat partenogenesis obligat. Studi yang sama mencatat bahwa belum ada individu jantan dari spesies ini yang pernah ditemukan, baik di alam maupun di penangkaran. Betina dewasa bertelur dan telur tersebut berkembang menjadi individu baru tanpa proses pembuahan oleh jantan, sehingga setiap individu baru pada dasarnya merupakan salinan genetik dari induknya. 1Ular buta Brahmin (Indotyphlops braminus) melingkarkan tubuhnya di atas permukaan batu, memperlihatkan sisik tubuhnya yang halus dan mengilap.  Foto: MH Herpetology/Wikimedia Commons (CC BY 4.0) Untuk memastikan temuan ini, tim peneliti menyusun draf genom pertama Indotyphlops braminus, salah satu dari sedikit spesies dalam kelompok ular primitif Scolecophidia yang pernah dipetakan genomnya secara lengkap. Hasil pemetaan tersebut memperkuat status spesies ini sebagai satu-satunya ular yang diketahui bergantung sepenuhnya pada partenogenesis untuk berkembang biak. Studi tersebut juga menjelaskan aspek genetiknya. Ular buta ini bersifat allotriploid, memiliki tiga set kromosom, dan diduga muncul lewat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/04/mengenal-ular-buta-brahmin-spesies-ular-yang-seluruh-populasinya-betina/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koalisi Masyarakat Sipil Desak Rombak Total UU Kehutanan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jul 2026 04:14:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15014807/Hutan-Kawasan-Ekosistem-Leuser-yang-merupakan-salah-satu-habitat-Siamang-dan-sejumlah-primata-lainnya-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130088</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Koalisi Regional Sumatera mendesak pemerintah dan DPR merombak UU  Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan agar   berpihak pada pemulihan ekosistem, pengakuan hak masyarakat adat dan lokal, serta penyelesaian konflik tenurial. Desakan itu koalisi sampaikan saat Deklarasi Pembacaan Masukan terhadap Revisi UU Kehutanan dari Koalisi Masyarakat Sipil dan Komunitas Regional Sumatera, Senin (29/5/26) di Padang. Koalisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/">Koalisi Masyarakat Sipil Desak Rombak Total UU Kehutanan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Koalisi Regional Sumatera mendesak pemerintah dan DPR merombak UU  Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan agar   berpihak pada pemulihan ekosistem, pengakuan hak masyarakat adat dan lokal, serta penyelesaian konflik tenurial. Desakan itu koalisi sampaikan saat Deklarasi Pembacaan Masukan terhadap Revisi UU Kehutanan dari Koalisi Masyarakat Sipil dan Komunitas Regional Sumatera, Senin (29/5/26) di Padang. Koalisi menilai perubahan UU Kehutanan tidak boleh berhenti pada revisi teknis, tetapi lebih penting pada wilayah substantif. Menurut koalisi, bencana ekologis berulang di Sumatera menunjukkan  tata kelola hutan selama ini gagal melindungi ruang hidup rakyat dan fungsi ekologis hutan. Termasuk, bencana besar pada akhir 2025 yang tewaskan 1.190 orang lebih, bagi koalisi adalah penanda paling keras. Koalisi menilai, peristiwa yang sebabkan 131.500 warga mengungsi itu bukan semata bencana alam, melainkan akibat rapuhnya daya dukung lingkungan Sumatera. Deforestasi, perubahan bentang alam, dan tata kelola sumber daya alam yang terlalu lama tunduk pada kepentingan ekstraktif. “Bencana ekologis di Sumatera memperlihatkan satu hal, kerusakan hutan tidak pernah berhenti di batas konsesi. Ia berubah menjadi banjir, longsor, gagal panen, hilangnya sumber penghidupan, dan konflik yang terus diwariskan kepada masyarakat,” kata Nora Hidayati, Manajer Advokasi Hukum Rakyat Perkumpulan HuMa Indonesia. Hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang merupakan habitat siamang beserta orangutan sumatera. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Dalam tiga dekade terakhir, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kehilangan sekitar 1,2 juta hektar kawasan hutan. Sekitar 690.777 hektar di antaranya berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Angka ini menunjukkan krisis kehutanan bukan peristiwa tiba-tiba, melainkan akumulasi panjang dari kebijakan pembangunan yang memprioritaskan ekspansi perkebunan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/04/koalisi-masyarakat-sipil-desak-rombak-total-uu-kehutanan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hiu Berjalan Raja Ampat, Apakah Jenis Ini Tidak Berenang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 09:12:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/03090536/Hiu-berjalan-raja-ampat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130073</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hemiscyllium freycineti merupakan hiu berjalan endemik Raja Ampat, banyak mendiami perairan Selat Dampier. Populasinya, diperkirakan mencapai 2.462 individu per kilometer. Lokasi tersebut ada di Kampung Sawinggrai, Pulau Gam. “Angka itu bukan saja banyak, namun juga menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di dunia untuk genus Hemiscyllium,” jelas Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/">Hiu Berjalan Raja Ampat, Apakah Jenis Ini Tidak Berenang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hemiscyllium freycineti merupakan hiu berjalan endemik Raja Ampat, banyak mendiami perairan Selat Dampier. Populasinya, diperkirakan mencapai 2.462 individu per kilometer. Lokasi tersebut ada di Kampung Sawinggrai, Pulau Gam. “Angka itu bukan saja banyak, namun juga menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di dunia untuk genus Hemiscyllium,” jelas Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia, dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/26). Temuan baru yang penelitiannya memerlukan waktu 14 bulan itu sudah diterbitkan pada laman jurnal internasional Frontiers in Fish Science. Di antara temuan krusial, adalah peran terumbu karang sebagai nursery atau habitat asuhan bagi spesies itu. Meskipun hiu berjalan sudah dilindungi penuh Indonesia, namun informasi mengenai biologi, struktur populasi, dan ekologi spasialnya masih terbatas. “Sehingga menghambat upaya konservasi yang efektif,” jelas laporan tersebut. Tim peneliti melakukan 64 survei malam hari sepanjang Februari 2024 hingga April 2025 di enam lokasi. Menggunakan identifikasi foto dan penandaan transporder terintegrasi pasif, tim berhasil mengidentifikasi 736 individu unik, dari total 1.191 penampakan. Sebagian besar penampakan itu, berasal dari Pulau Arborek, Gam, Fam, Mansuar, dan Batanta. Menariknya, individu yang teridentifikasi didominasi betina (415 individu), dengan panjang mencapai 19,4-75 sentimeter. Tim peneliti yang terlibat aktif adalah Elasmobranch Institute Indonesia, BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Kepulauan Raja Ampat, Konservasi Indonesia, Masyakakat Arborek, dan Re:wild. Hiu berjalan (Hemiscyllium freycineti) ini merupakan jenis endemik Raja Ampat. Foto: Dok. Edy Setyawan/Elasmobranch Institute Indonesia. Habitat utama Peran terumbu karang sebagai nursery  diketahui karena sebanyak 69 persen individu muda memilih ekosistem tersebut sebagai habitat. Sementara hiu dewasa, memillih menghuni padang lamun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>