- Medio Juni lalu, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki kedalaman 16 km, dengan episenter darat 42 km arah tenggara Palu, tepatnya di Torue, Parigi Moutong.
- Selama ini, ketika orang membicarakan ancaman gempa di Sulawesi Tengah, nama yang paling sering muncul adalah Sesar Palu-Koro—patahan aktif yang melintasi langsung Kota Palu dan pernah memicu gempa dahsyat disertai tsunami serta likuefaksi pada 2018. Namun gempa kali ini punya biang keladi berbeda. Ini jenis gempa dangkal karena aktivitas Sesar Sausu, dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Sesar ini masih terbilang minim kajian.
- Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, mengatakan, analisis sumber menunjukkan gempa ini terpicu aktivitas Sesar Sausu. Dengan mekanisme pergerakan turun atau yang dikenal sebagai normal fault, berbeda dari mekanisme geser yang biasa dikaitkan dengan Palu-Koro.
- Neni Muhidin, peneliti sekaligus pendiri NEMU Buku, benarkan Sesar Sausu masih jarang menjadi objek penelitian. Kalaupun masuk bahasan dalam kajian ilmiah, sesar ini hanya disinggung sepintas sebagai bagian dari penelitian yang berfokus pada sesar. Riset dan kajian mendalam minim membuat kewaspadaan terhadap keberadaan patahan itu masih rendah. Padahal, sesar itu tidak akan menunggu manusia siap menghadapi dampaknya, dan aktivitas patahan dapat memicu gempa bumi sewaktu-waktu.
Medio Juni lalu, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki kedalaman 16 km, dengan episenter darat 42 km arah tenggara Palu, tepatnya di Torue, Parigi Moutong. Ini jenis gempa dangkal karena aktivitas Sesar Sausu, dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Sesar ini masih terbilang minim kajian.
“Hasil analisis BMKG mencatat, guncangan gempa bumi ini melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah dengan tingkat intensitas yang bervariasi,” kata Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, dikutip dari rilis BMKG.
Warga di Palolo, Sigi merasakan guncangan paling kuat pada skala VII MMI, sedang wilayah Torue dan Parigi Selatan menghadapi intensitas VI–VII MMI.
Selain itu, guncangan berskala V–VI MMI meluas hingga ke Kota Sigi Biromaru dan Kota Palu, sedangkan Kota Poso, Donggala, serta Pasangkayu, merasakan getaran skala IV–V MMI.
Data BNPB per 18 Juni, sedikitnya ada 2.012 keluarga atau 6.458 jiwa terdampak. Dari jumlah itu, 1.991 keluarga atau 6.418 jiwa berada di Sigi, 21 keluarga atau 40 jiwa di Parigi Moutong. Tercatat tiga orang meninggal dunia di Sigi. Ada 15 korban luka berat dan 64 luka ringan.

Sesar yang jarang jadi sorotan
Selama ini, ketika orang membicarakan ancaman gempa di Sulawesi Tengah, nama yang paling sering muncul adalah Sesar Palu-Koro—patahan aktif yang melintasi langsung Kota Palu dan pernah memicu gempa dahsyat disertai tsunami serta likuefaksi pada 2018. Namun gempa kali ini punya biang keladi berbeda.
Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, mengatakan, analisis sumber menunjukkan gempa ini terpicu aktivitas Sesar Sausu. Dengan mekanisme pergerakan turun atau yang dikenal sebagai normal fault, berbeda dari mekanisme geser yang biasa dikaitkan dengan Palu-Koro.
“Episenter berada di koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur,” katanya.
Sesar Sausu merupakan salah satu jalur sesar aktif di wilayah daratan Parigi Moutong. Secara geologis, Sesar Sausu tergolong sebagai sesar geser (strike-slip fault), yaitu, patahan yang menyebabkan dua blok batuan bergerak saling menggeser secara horizontal.
Dalam kondisi tertentu, sesar ini juga dapat menghasilkan komponen gerakan vertikal berupa sesar turun (normal fault) akibat gaya tarikan dan peregangan pada kerak bumi.
BMKG mencatat, segmen aktif Sesar Sausu memiliki ukuran sekitar 31 × 18 kilometer dan berada pada zona gempa dangkal.
BMKG juga menyebutkan, aktivitas Sesar Sausu memiliki keterkaitan dengan Sesar Tokoraru, yang sama-sama merupakan sesar aktif di Sulawesi Tengah.
Kedua struktur geologi itu beberapa kali memicu gempa bumi lokal, terutama di Parigi Moutong dan Poso.
Dalam kurun sembilan tahun terakhir, tercatat sejumlah gempa dangkal dengan magnitudo antara 4,2 hingga 6,0 yang berkaitan dengan aktivitas kedua sesar itu.
Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti gempa bumi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan, setiap sesar di Sulawesi Tengah memiliki tingkat pergerakan berbeda.
Meski demikian, seluruh sesar memiliki karakteristik yang saling berkaitan dan membentuk sistem tektonik yang kompleks.
Dengan begitu, Mudrik menduga Sesar Sausu, yang menjadi sumber utama gempa bumi 16 Juni lalu, memiliki keterkaitan erat dengan sesar-sesar lain di sekitarnya.

Dia bilang, perlu penelitian lebih lanjut hubungan antarsesar untuk memahami mekanisme gempa dan potensi aktivitas tektonik di kawasan itu.
“Dengan jarak yang sedemikian rapat, ada kemungkinan sesar-sesar pada kedalaman sekitar 25-30 kilometer di bawah permukaan bumi menyatu dalam satu bidang yang sama. Ini sangat mungkin terjadi,” kata Mudrik dalam diskusi Skala Indonesia.
Sesar Sausu, katanya, merupakan sesar di Sulawesi yang masih minim kajian dan belum banyak dikenal. Kondisi ini karena keterbatasan informasi dapat mengurangi kewaspadaan terhadap potensi ancaman yang timbul.
Padahal, pemahaman lebih baik mengenai keberadaan dan karakteristik Sesar Sausu penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat maupun pemerintah dalam menghadapi risiko gempa bumi.
Menurut dia, Sulawesi harus membangun fondasi pembangunan yang bertumpu pada pengetahuan dan inovasi kebencanaan, khususnya ancaman gempa bumi.
Untuk itu, Sulawesi Tengah dan wilayah lain di pulau itu perlu bahkan harus memiliki pusat studi gempa bumi yang andal.
Dia mendorong terwujudnya Nalodo Research Centre sebagai pusat riset yang mewadahi kajian gempa bumi secara menyeluruh.
“Pusat penelitian ini diharapkan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, mulai dari geofisika, teknik sipil, geodesi, geologi, sejarah, hingga elektronika.”
Neni Muhidin, peneliti sekaligus pendiri NEMU Buku, benarkan Sesar Sausu masih jarang menjadi objek penelitian. Kalaupun masuk bahasan dalam kajian ilmiah, sesar ini hanya disinggung sepintas sebagai bagian dari penelitian yang berfokus pada sesar.
Riset dan kajian mendalam minim membuat kewaspadaan terhadap keberadaan patahan itu masih rendah. Padahal, katanya, sesar itu tidak akan menunggu manusia siap menghadapi dampaknya, dan aktivitas patahan dapat memicu gempa bumi sewaktu-waktu.
“Upaya-upaya pengurangan risiko seharusnya dilakukan ketika sesar ini belum menunjukkan aktivitas yang memicu bencana. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah kerap baru merespons setelah terjadi peristiwa. Di situlah letak persoalannya,” kata Neni.
Ironisnya, sebagian pihak justru mengaitkan gempa bumi dengan ritual Morra Keke, tradisi permohonan hujan yang masyarakat gelar di Kabupaten Sigi sehari sebelum gempa terjadi.
Anggapan semacam itu tidak memiliki dasar ilmiah dan berpotensi mengaburkan pemahaman publik terhadap penyebab sebenarnya dari peristiwa gempa bumi.
“Setelah peristiwa itu terjadi, anggapan semacam tersebut mulai bermunculan dan menyebar melalui grup-grup WhatsApp. Pada akhirnya, informasi yang tidak berdasar itu berkembang menjadi misinformasi di tengah masyarakat,” kata Neni.
Misinformasi itu justru mengalihkan perhatian masyarakat dari upaya meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi risiko bencana gempa bumi.
Alih-alih memahami faktor-faktor geologis yang menjadi penyebab gempa, sebagian orang terjebak pada narasi yang tidak didukung oleh fakta ilmiah.
Trinirmalaningrum, Direktur Yayasan Skala Indonesia, mengatakan, sebelum maupun setelah gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu, mereka bersama sejumlah peneliti melakukan berbagai kajian mengenai Sesar Palu-Koro, yang menjadi pemicu utama bencana.
Hasilnya, mereka berhasil menemukan temuan-temuan penting yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Salah satunya, bukti pergeseran tanah hingga sekitar 500 meter dalam kurun beberapa ratus tahun akibat aktivitas Sesar Palu-Koro.
Selain itu, riset yang mereka lakukan juga menemukan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi masih rendah.
Ketersediaan sarana dan lokasi evakuasi sangat terbatas, hingga dapat menghambat upaya penyelamatan ketika bencana terjadi.
Riset juga menemukan masih rendahnya literasi masyarakat mengenai gempa bumi dan tsunami. Pengetahuan tentang karakteristik bencana, risiko, serta langkah-langkah penyelamatan diri belum tersebar merata di kalangan warga.
Para peneliti juga menemukan ingatan kolektif mengenai bencana gempa dan tsunami masih tersimpan di kalangan generasi tua.
“Ironisnya lagi, riset itu menemukan rancangan tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi gempa dan tsunami belum dipahami sepenuhnya oleh para pemangku kepentingan terkait dengan bencana.”

*****
Gempa dan Tsunami Palu-Donggala, Ratusan Orang Tewas, Infrastruktur Rusak Parah