- Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara.
- Ritme tawa kera besar seperti orangutan, gorilla, bonobo, dan simpanse, yang memiliki pola serupa dengan manusia, menunjukkan bahwa kemampuan mengatur vokalisasi yang ritmis itu sudah ada sejak nenek moyang bersama jutaan tahun lalu.
- Tawa pada kera besar dan manusia secara alami bersifat berulang dan siklik ‘ha-ha-ha-ha’. Variasi dalam struktur waktunya dapat memberi petunjuk tentang perubahan evolusi dalam koordinasi pernapasan.
- Manusia memiliki kemampuan mengontrol kapan dan bagaimana mereka tertawa yang tergantung pada konteksnya. Meski ritme dasar tawanya sama, manusia punya keterampilan memodifikasi cara tertawa saat menyampaikan maksud tertentu.
Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara. Keduanya pun menampilkan pola vokalisasi yang ritmis.
Sama seperti manusia, tawa pada kera besar punya fungsi sosial. Misalnya, untuk memperkuat ikatan kelompok. Tawa pada kera besar pun menular. Maksudnya, jika seekor kera tertawa, maka bisa memicu tawa individu lain. Sama seperti yang dijumpai pada manusia.
Di mata peneliti, ini bukan fenomena biasa. Evolusi morfologi memang bisa dilacak dari fosil yang disingkap dari dalam tanah. Tapi bagaimana melacak asal-usul vokal, ucapan, dan bahasa manusia? Kita jelas tidak mungkin mengamati secara langsung keterampilan vokal nenek moyang manusia, karena mereka sudah punah.
“Studi komparatif tentang perilaku kera besar (non-manusia) -kerabat terdekat kita yang masih hidup- memberikan satu-satunya model yang masih ada dari kapasitas vokal dan fungsi adaptif yang punah milik nenek moyang manusia,” tulis Chiara De Gregorio, mewakili tim peneliti di artikel sebuah jurnal. Dia adalah doktor yang berafiliasi dengan Departemen Psikologi, Universitas Warwick, Coventry, Inggris.
Penelitian mereka ingin menjawab hal itu. Laporannya kemudian diterbitkan di jurnal Nature Communications Biology, Juni 2026, berjudul “Rhythm and timing in laughter reveal that human vocal plasticity falls on a hominid continuum.”
“Bertentangan dengan gagasan klasik bahwa manusia pertama tiba-tiba memperoleh kapasitas kontrol vokal yang sangat berbeda dari pendahulunya. Evolusi tawa memberi tahu kita bahwa manusia terletak pada kontinum, perpanjangan kapasitas kontrol vokal yang sudah diasah secara kumulatif selama 15 juta tahun,” ungkap Adriano Lameria, peneliti lain rekan De Gregorio dari universitas yang sama, dikutip dari keterangan resmi universitas tersebut.
Bagi mereka, perilaku tawa kera besar adalah fosil dalam bentuk lain. Tawa tak sekadar luapan emosi spontan. Melainkan juga, jejak biologis yang menyimpan rahasia asal usul bahasa manusia.
Ritme tawa kera besar seperti orangutan, gorilla, bonobo, dan simpanse, yang memiliki pola serupa dengan manusia, menunjukkan bahwa kemampuan mengatur vokalisasi yang ritmis itu sudah ada sejak nenek moyang bersama jutaan tahun lalu. Hal ini menjadi dasar bagi evolusi yang mengontrol vokal yang akhirnya memungkinkan lahirnya bahasa.

Bukan hal lucu
Tawa memang sering berasosiasi dengan hal lucu. Para peneliti menggali hipotesis ini dengan serius. Jika manusia bukan satu-satunya primata yang tertawa, karena simpanse, bonobo, gorilla, dan orangutan juga menghasilkan tawa, bagaimana vokalisasi itu berubah selama jutaan tahun dan apakah mereka dapat mengungkapkan sesuatu tentang asal-usul bahasa manusia?
“Tawa pada kera besar dan manusia secara alami bersifat berulang dan siklik ‘ha-ha-ha-ha’. Variasi dalam struktur waktunya dapat memberi petunjuk tentang perubahan evolusi dalam koordinasi pernapasan -vokal dan pengaturan motorik di garis keturunan hominid,” tulis laporan itu.
Untuk menyelidikinya, para peneliti menganalisis rekaman tawa dari empat orangutan (Pongo pygmaeus), dua gorilla (Gorilla gorilla), tiga bonobo (Pan paniscus), empat simpanse (Pan troglodytes), dan empat manusia (Homo sapiens). Usia mereka antara 6 bulan hingga 7 tahun.
Terlepas dari perbedaan antar spesies, seperti dikutip dari ScienceDaily, lewat pemodelan dan penghitungan statistik tim peneliti menemukan kesamaan yang mencolok. Setiap spesies menghasilkan tawa dengan interval ritmis merata antara satu bunyi dengan bunyi berikutnya.
Para peneliti percaya, pola ritmis yang dimiliki bersama ini berasal dari nenek moyang yang sama, hidup sekitar 15 juta tahun lalu. Pola dasar tawa pada kera besar ini tidak banyak berubah sepanjang jutaan tahun evolusi. Struktur dasar yang sangat stabil menunjukkan tawa bukan sekadar ekspresi emosi, melainkan warisan evolusi yang sudah ada sejak nenek moyang bersama dan tetap dipertahankan karena punya fungsi sosial penting.
Ada dua jenis tawa yang diamati berdasarkan sumbernya. Tawa menggelitik dan tawa bermain. Yang pertama adalah tawa yang dihasilkan karena digelitik. Yang kedua dihasilkan saat individu terlibat dalam interaksi menyenangkan, misalnya saling berkejaran. Jika yang pertama sangat teratur, maka yang kedua sangat dinamis.
“Ritme tawa menggelitik yang “tidak berubah” menawarkan, dengan demikian, jendela yang stabil ke perubahan evolusi yang dialami oleh sistem fonasi-pernapasan hominid,” tulis laporan itu lagi.
Tawa menggelitik memiliki ritme konsisten dan stabil. Pola inilah yang dianggap sebagai bentuk dasar koordinasi pernapasan-vokal yang diwarisi dari nenek moyang hominid.
Mengutip penjelasan dari rilis Universitas Warwick, sementara ritme dasar tetap konstan antarspesies, para peneliti menemukan bahwa tawa manusia menjadi lebih cepat, lebih bervariasi, dan telah memperoleh kontrol yang bergantung pada konteks canggih dari waktu ke waktu.
Tim peneliti juga membandingkan pola tawa pada seluruh spesies kera besar. Jika dibandingkan tawa kera, tawa manusia melampaui spesies lain. Sementara spesies yang lebih dekat dengan manusia, seperti bonobo dan simpanse, mampu tertawa lebih cepat daripada gorilla atau orangutan.
“Ritme tawa semakin cepat seiring dengan evolusi,” kata De Gregorio menyimpulkan temuan itu seperti dikutip National Geographic.
Berbeda dengan kera besar lainnya, manusia memiliki kemampuan untuk mengontrol kapan dan bagaimana mereka tertawa yang tergantung pada konteksnya. Pada kera besar, tawa biasanya muncul spontan sebagai respons terhadap rangsangan. Meski ritme dasar tawanya sama, manusia punya keterampilan memodifikasi cara tertawa saat menyampaikan maksud tertentu.
Menurut para peneliti, hal ini menunjukkan bahwa sepanjang evolusi, nenek moyang manusia secara bertahap mampu mengembangkan kontrol vokalisasi mereka, termasuk tawa. Kontrol inilah yang menjadi dasar bagi munculnya bahasa yang dimiliki manusia.

Kerabat
Kera besar adalah kelompok primata paling cerdas dan paling dekat secara genetik dengan manusia. Berbeda dengan monyet, mereka tidak berekor, memiliki otak besar, dan mampu menunjukkan perilaku kompleks seperti menggunakan alat, belajar bahasa isyarat, serta menunjukkan emosi mendalam.
Secara ilmiah, keluarga Hominidae ini mencakup orangutan, gorilla, simpanse, bonobo, dan manusia. Manusia bukan keturunan kera, melainkan kerabat yang berbagi leluhur sama. Sekitar 7-8 juta tahun lalu, garis keturunan manusia berpisah dari simpanse. Itulah sebabnya DNA manusia sangat mirip, hampir 99 persen, dengan simpanse.
Orangutan, adalah kera besar yang paling berbeda. Mereka hanya hidup di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Ada tiga spesies orangutan, yaitu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan sumatera (P. abelii), dan orangutan tapanuli (P. tapanuliensis), yang diidentifikasi secara definitif tahun 2017.
Berbulu merah kecokelatan, orangutan adalah hewan arboreal paling besar di dunia. Mereka menghabiskan hampir seluruh hidup di pohon, dengan lengan panjang yang luar biasa untuk berayun antarcabang.
Sayangnya, status mereka kini Kritis (Critically Endangered/CR) menurut IUCN. Hilangnya hutan akibat perkebunan sawit, pertambangan, dan kebakaran hutan menjadi ancaman utama kelestarian mereka. Di Indonesia, orangutan menjadi simbol pentingnya menjaga hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia.
Kera besar mengajarkan banyak hal. Mereka mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk yang terpisah dari alam, melainkan bagian dari satu keluarga besar yang berevolusi bersama. Melindungi mereka berarti melindungi warisan evolusi kita sendiri.
Referensi:
De Gregorio, C., Davila-Ross, M., & Lameira, A. R. (2026). Rhythm and timing in laughter reveal that human vocal plasticity falls on a hominid continuum. Communications Biology, 9(1), 824. https://www.nature.com/articles/s42003-026-10499-z
*****