Kebanyakan ular menghabiskan hidupnya di darat, sebagian lain hidup di air tawar atau bolak-balik antara laut dan daratan. Namun ada satu spesies yang benar-benar memutus hubungannya dengan daratan sama sekali. Ular laut perut kuning, dengan nama ilmiah Hydrophis platurus, adalah satu-satunya reptil dari ordo Squamata yang bersifat pelagis, yaitu hidup mengapung dan berenang di kolom air laut terbuka, jauh dari dasar laut maupun garis pantai, sepanjang hidupnya tanpa pernah menyentuh daratan sekali pun.
Spesies yang dahulu diklasifikasikan sebagai Pelamis platurus ini bukan sekadar ular yang pandai berenang. Secara taksonomi, ular ini termasuk famili Elapidae, sekelompok dengan ular kobra dan weling yang dikenal luas di daratan. Namun berbeda dari kerabatnya itu, spesies ini sepenuhnya beradaptasi untuk hidup di air dan tidak lagi bergantung pada daratan sama sekali.
Berdasarkan catatan Guinness World Records, ular laut perut kuning tercatat sebagai ular perenang tercepat di dunia, dengan kecepatan hingga 1 meter per detik untuk jarak pendek. Kecepatan ini penting bagi kelangsungan hidupnya, baik untuk menghindari predator maupun saat berburu ikan di permukaan laut. Namun kemampuan ini berbanding terbalik dengan kemampuannya di darat. Tubuhnya tidak lagi memiliki otot dan struktur yang memadai untuk menopang berat badan atau bergerak secara efektif di permukaan padat, sehingga jika terdampar di pantai, ular ini kesulitan bergerak dan rentan terhadap dehidrasi maupun predator.
Satu-satunya Ular Laut yang Sepenuhnya Pelagis
Keunikan utama yang membedakan spesies ini dari ular laut lain adalah sifat pelagisnya yang total. Sebagian besar ular laut lain, seperti kelompok ular belang laut (Laticauda spp.), masih naik ke daratan secara berkala untuk bertelur, berganti kulit, atau berjemur. Ular laut perut kuning tidak melakukan hal itu. Spesies ini menjalani seluruh siklus hidupnya di laut terbuka, mulai dari lahir, tumbuh, kawin, hingga berburu, tanpa pernah menyentuh daratan atau dasar laut dangkal. Hal ini dimungkinkan karena ular ini melahirkan anak secara langsung di dalam air, sehingga tidak memerlukan sarang di daratan kering.

Secara anatomi, ular laut perut kuning memiliki ekor pipih dan melebar menyerupai dayung. Bentuk ini memberikan dorongan yang kuat saat digerakkan dari sisi ke sisi, dan memungkinkan ular ini berenang maju maupun mundur dengan efisiensi yang sama, kemampuan yang jarang ditemukan pada spesies ular lain. Ular ini juga dilengkapi katup pada lubang hidungnya yang menutup rapat saat menyelam, serta paru-paru yang memanjang hingga hampir sepanjang rongga tubuh, membantu mengatur daya apung sekaligus menyimpan udara untuk penyelaman yang lama.

Cara berburu ular laut perut kuning juga menyesuaikan dengan gaya hidup pelagisnya. Bukannya mengejar mangsa secara aktif, ular ini lebih sering mengapung diam di permukaan laut, meniru bentuk ranting atau benda mati yang mengapung. Ikan-ikan kecil yang tertarik berkumpul di sekitar tubuhnya justru menjadi mangsa empuk, ditangkap dengan gerakan menyamping dari kepala atau dengan berenang mundur mendekat sebelum menyambar. Perilaku berburu semacam ini banyak terjadi di sekitar garis arus atau slick, area di permukaan laut tempat plankton dan ikan kecil terkonsentrasi oleh pertemuan arus.
Bergantung pada Hujan, Bukan Air Laut
Hidup jauh dari daratan membuat ular ini menghadapi tantangan tersendiri soal air minum. Selama ini, kelenjar garam di bawah lidahnya diyakini memungkinkan ular ini meminum air laut secara langsung sambil membuang kelebihan garam. Namun studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE pada 2019 oleh tim peneliti University of Florida menemukan bahwa anggapan itu keliru. Berdasarkan pengamatan terhadap ular laut perut kuning di lepas pantai Guanacaste, Kosta Rika, para peneliti mendapati bahwa ular ini menolak minum air laut sekalipun dalam kondisi dehidrasi berat. Ular ini justru bergantung pada air tawar yang sesaat terbentuk di permukaan laut ketika hujan deras turun, saat kadar garam di lapisan atas air laut sempat menurun cukup rendah untuk bisa diminum.
Selama musim kemarau yang bisa berlangsung 6 hingga 7 bulan di lokasi penelitian tersebut, ular laut perut kuning tercatat kehilangan hingga sekitar seperempat dari berat tubuhnya akibat dehidrasi, sebelum akhirnya kembali terhidrasi begitu hujan pertama turun. Ketergantungan pada pola hujan musiman ini membuat spesies tersebut cukup rentan terhadap perubahan iklim, terutama di kawasan yang diperkirakan mengalami musim kemarau lebih panjang di masa mendatang.