Dari sekitar 3.900 spesies ular yang telah teridentifikasi di dunia, hampir semuanya membutuhkan pejantan dan betina untuk berkembang biak. Namun ular buta Brahmin, dengan nama ilmiah Indotyphlops braminus, adalah sebuah pengecualian. Spesies kecil yang hidup di dalam tanah ini sering disangka cacing tanah oleh orang yang belum familiar dengannya. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya spesies ular yang seluruh populasinya terdiri dari betina. Meski demikian, ular ini sama sekali tidak berbahaya bagi manusia. Indotyphlops braminus tidak berbisa dan tidak memiliki gigi yang cukup besar untuk melukai kulit manusia.
Sebuah studi genom yang dipublikasikan di jurnal Scientific Data terbitan Nature menegaskan bahwa Indotyphlops braminus adalah satu-satunya spesies ular yang diketahui bereproduksi lewat partenogenesis obligat. Studi yang sama mencatat bahwa belum ada individu jantan dari spesies ini yang pernah ditemukan, baik di alam maupun di penangkaran. Betina dewasa bertelur dan telur tersebut berkembang menjadi individu baru tanpa proses pembuahan oleh jantan, sehingga setiap individu baru pada dasarnya merupakan salinan genetik dari induknya.

Untuk memastikan temuan ini, tim peneliti menyusun draf genom pertama Indotyphlops braminus, salah satu dari sedikit spesies dalam kelompok ular primitif Scolecophidia yang pernah dipetakan genomnya secara lengkap. Hasil pemetaan tersebut memperkuat status spesies ini sebagai satu-satunya ular yang diketahui bergantung sepenuhnya pada partenogenesis untuk berkembang biak.
Studi tersebut juga menjelaskan aspek genetiknya. Ular buta ini bersifat allotriploid, memiliki tiga set kromosom, dan diduga muncul lewat proses hibridisasi antar spesies, pola yang juga ditemukan pada beberapa reptil partenogenetik lain seperti sejumlah spesies kadal.
Ukurannya Kecil, Sebarannya Luas
Ular buta Brahmin termasuk salah satu spesies ular terkecil di dunia. Panjang tubuhnya umumnya berkisar 5 hingga 10 sentimeter, meski beberapa individu bisa mencapai 15 sentimeter. Bentuknya ramping, berwarna gelap mengilap, dengan mata yang tereduksi dan tertutup sisik tipis karena gaya hidupnya yang sepenuhnya menggali tanah.
Spesies ini diperkirakan berasal dari Asia Selatan, namun karena ukurannya yang kecil dan kebiasaannya hidup di tanah serta kayu lapuk pada tanaman hias, ular ini telah tersebar secara tidak sengaja ke hampir semua benua kecuali Antartika. Kebiasaan terbawa lewat media tanam dalam pot inilah yang membuatnya juga dikenal dengan sebutan flowerpot snake.
Kemampuan bereproduksi sendiri tanpa perlu pasangan menjadi faktor penting di balik keberhasilan penyebarannya. Satu individu saja yang terbawa ke lokasi baru berpotensi membentuk populasi baru, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh spesies yang membutuhkan jantan dan betina untuk berkembang biak.
Ular buta Brahmin memakan invertebrata kecil seperti semut dan rayap, yang ia cari dengan cara menyusuri terowongan bawah tanah.
Referensi:
Kadobe, T., et al. 2022. The draft genome sequence of the Brahminy blindsnake Indotyphlops braminus. Scientific Data, 9, 411. https://www.nature.com/articles/s41597-022-01530-z