Selama ini Homo floresiensis, manusia purba bertubuh kecil yang hidup di Pulau Flores dan dijuluki “hobbit” karena tingginya hanya sekitar satu meter, dikenal sebagai pemburu yang cukup terampil. Sejak fosilnya pertama kali ditemukan di Gua Liang Bua pada awal tahun 2000-an, spesies ini memang selalu memancing perdebatan di kalangan ilmuwan, sebab meski bertubuh kecil dan berotak jauh lebih kecil dibanding manusia modern, mereka justru dikaitkan dengan kemampuan yang cukup mengejutkan.
Penelitian-penelitian awal, misalnya, mengaitkan Homo floresiensis dengan perburuan hewan besar, terutama gajah kerdil yang sudah punah, Stegodon florensis insularis, hewan yang jauh lebih besar dari ukuran tubuh mereka sendiri. Tidak berhenti di situ, sejumlah bukti yang ditemukan di lokasi yang sama juga sempat ditafsirkan sebagai tanda bahwa mereka sudah mengenal dan mampu menggunakan api, sebuah kemampuan kognitif yang tergolong maju untuk spesies dengan volume otak sekecil itu.

Namun gambaran itu kini mulai dipertanyakan setelah sebuah studi yang terbit di jurnal Science Advances menunjukkan bahwa kemampuan berburu Homo floresiensis mungkin tidak sehebat yang dikira. Sebagian besar daging yang mereka makan kemungkinan berasal dari bangkai yang sudah lebih dulu disantap komodo (Varanus komodoensis).
Jejak di Gua Liang Bua
Tim yang dipimpin peneliti dari National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, memeriksa lebih dari 3.100 fragmen tulang Stegodon serta hampir 7.000 sisa tulang tikus dari Gua Liang Bua, Flores.
Untuk membedakan bekas gigitan komodo dari bekas alat batu manusia, tim ini melakukan sesuatu yang cukup unik: mereka pergi ke Zoo Atlanta di Georgia, Amerika Serikat, untuk mengamati langsung seekor komodo bernama Rinca memakan bangkai kambing. Setelah komodo itu selesai makan, tulang-tulang sisa dipindai menggunakan scanner 3D untuk merekam bentuk, kedalaman, dan lebar setiap bekas gigitan, lalu hasil pemindaian tersebut dibandingkan dengan bekas pada fosil Stegodon melalui model komputer guna melihat pola mana yang paling cocok, apakah gigitan komodo, sayatan alat batu, atau kerusakan alami lainnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa bekas gigitan pada tulang kambing modern dan pada tulang Stegodon purba sangat mirip, sebuah kemiripan yang mengarah pada satu kesimpulan bahwa komodo lebih dulu mengakses bangkai tersebut. Pada kedua kelompok tulang itu, bekas gigitan paling banyak muncul di bagian yang paling berdaging.

Sementara itu, bekas sayatan dari alat batu Homo floresiensis justru lebih sering ditemukan di tulang-tulang bernilai rendah seperti tulang rusuk dan kaki, sesuatu yang bagi tim peneliti menjadi pertanda bahwa hobbit Flores kebanyakan hanya kebagian sisa.
“Komodo kemungkinan memiliki akses utama terhadap bangkai tersebut, hanya menyisakan bagian bernilai rendah untuk dipulung oleh Homo floresiensis,” tulis para peneliti dalam laporannya.
Soal penggunaan api, hasilnya juga cukup mengecewakan bagi teori sebelumnya karena tim tidak menemukan bukti kuat di Liang Bua. Tulang yang selama ini dikira gosong akibat dibakar, ternyata cuma berubah warna karena mineral alami yang menempel selama ratusan ribu tahun, dan hanya satu fragmen tulang yang benar-benar menunjukkan tanda terbakar, itu pun berasal dari lapisan yang jauh lebih muda, di luar periode hidup Homo floresiensis.
“Tidak ada tanda penggunaan api secara sengaja pada lapisan stratigrafi yang berkaitan dengan Homo floresiensis,” tegas tim peneliti dalam laporan tersebut.
Penelitian Akan Berlanjut
Tidak ditemukannya bukti api di Liang Bua bukan berarti Homo floresiensis tidak pernah menggunakan api sama sekali di lokasi lain, dan pola pemulungan yang lebih dominan ini juga bukan berarti mereka sama sekali tidak pernah berburu langsung. Peneliti masih membuka kemungkinan bahwa sesekali Homo floresiensis bisa mendapat akses lebih awal ke bangkai Stegodon, misalnya dari hewan muda atau yang sedang lemah.
Pertanyaan tentang seberapa jauh kemampuan kognitif dan perilaku Homo floresiensis, spesies yang hidup di Flores hingga sekitar 50.000 tahun lalu sebelum punah, masih jauh dari terjawab. Penelitian lanjutan di lokasi lain di Flores, ditambah analisis lebih rinci terhadap alat-alat batu yang ditemukan, dibutuhkan untuk memastikan seberapa besar spesies ini bergantung pada berburu aktif dibanding menunggu sisa dari predator lain.
**
Referensi:
Bhattacharya, T., et al. (2026). Taphonomic evidence for scavenging over active hunting by Homo floresiensis. Science Advances. https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.aeb7219