- Kalimantan tidak lepas dari bayang-bayang bencana gempa. Malahan, ada sesar meratus yang mengancam provinsi ini.
- Rasmid, Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, mengatakan, Sesar Meratus merupakan sesar naik (thrust fault) dengan panjang sekitar 110 kilometer. Mengacu perumusan Wells dan Coppersmith (1994), berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 7 apabila seluruh segmennya bergerak bersama.
- Adip Mustofa, dosen Program Studi Rekayasa Geologi Fakultas Tenik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menjelaskan, Sesar Meratus merupakan struktur geologi yang eksis melalui proses yang kompleks. Cikal bakal terbentuknya sejak zaman Pra Tersier, tepatnya periode Jura Awal, sekitar 190 juta tahun lalu.
- Akbar Rahman, dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik ULM, mengatakan, selama ini Kalsel tidak terkenal dengan daerah risiko gempa tinggi. Sehingga, kesiapan banyak bangunan, terutama rumah tinggal, tidak mempertimbangkan aspek ketahanan memadai.
Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak lepas dari ancaman gempa. Stasiun Geofisika Balikpapan bahkan mencatat kenaikan signifikan kejadian dari 94 pada 2023 menjadi 238 pada 2024 dan 240 pada 2025. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah Sesar Meratus yang berpotensi gempa 7 magnitudo.
Salah satu gempa kuat terjadi 13 Februari 2024 dengan magnitudo 4,8 dan berpusat di darat, sekitar 19 kilometer timur laut Banjarmasin, kedalaman 10 kilometer. Getarannya terasa di sejumlah daerah seperti Kabupaten Banjar, Tapin, Barito Kuala, dan Kota Banjarmasin dengan intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI). Bahkan sampai ke Kabupaten Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, intensitas II–III MMI.
Lalu, pada 4 Desember 2025 mengguncang sekitar 95 kilometer barat daya Kabupaten Tanah Laut dengan magnitudo 4,9 di kedalaman tiga kilometer. Tidak menimbulkan kerusakan berarti, tapi getarannya terasa hingga Banjarbaru, dengan intensitas II–III MMI.
Rasmid, Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, mengatakan, gempa di Kalsel tidak lepas dari keberadaan Sesar Meratus yang aktif. Untuk memantau pergerakannya, terpasang lima seismograf di sepanjang jalur itu.
“Dari hasil monitoring, aktivitas gempa yang dihasilkan sesar ini cukup sering terdeteksi setiap bulan,” katanya, Selasa (16/6/26).
Hasil kajian sementara, katanya, Sesar Meratus merupakan sesar naik (thrust fault) dengan panjang sekitar 110 kilometer. Mengacu perumusan Wells dan Coppersmith (1994), berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 7 apabila seluruh segmennya bergerak bersama.
“Berpotensi menimbulkan dampak yang cukup luas karena lokasinya di daratan. Namun tingkat kerusakan tetap bergantung pada karakteristik geologi di masing-masing wilayah.”
Dia bilang, karakteristik tanah dan batuan di bawah permukaan berperan besar dalam menentukan seberapa kuat guncangannya. “Kalau tanahnya berupa batuan yang terkonsolidasi dengan baik atau batuan kompak, dampaknya bisa berbeda dengan wilayah yang tersusun dari material yang belum terkonsolidasi,” katanya.
Menurut dia, penting untuk kajian mikrozonasi ihwal karakteristik tanah dan batuan di berbagai wilayah. Untuk memetakan kawasan aman permukiman, perkantoran, maupun aktivitas ekonomi, serta wilayah yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi terhadap dampak gempa.
“Kajian terhadap kondisi geologi lokal menjadi faktor penting dalam memetakan tingkat risiko dan potensi dampak gempa di Kalsel.”
Selain itu, perlu perkuat edukasi mengenai kondisi tektonik Kalsel, bersamaan dengan pembangunan sistem mitigasi yang memadai. Pemerintah, katanya, perlu menyiapkan sarana dan prasarana berupa sistem peringatan dini, rambu-rambu evakuasi, jalur evakuasi, hingga lokasi evakuasi yang memadai.
“Mitigasi harus mulai dibangun dari sekarang. Dari aspek bangunan, pemetaan kondisi tanah dan batuan, maupun penyediaan sarana pendukung agar lebih siap menghadapi potensi gempa.”

Jangan anggap remeh
Adip Mustofa, Dosen Program Studi Rekayasa Geologi Fakultas Tenik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menjelaskan, Sesar Meratus merupakan struktur geologi yang eksis melalui proses yang kompleks. Cikal bakal terbentuknya sejak zaman Pra Tersier, tepatnya periode Jura Awal, sekitar 190 juta tahun lalu.
“Pada masa ini, sesar-sesar tua mulai eksis sebagai fondasi awal dari struktur yang kelak dikenal sebagai Sesar Meratus,” katanya,
Perkembangan berikutnya terjadi pada periode Kapur Awal atau Early Cretaceous. Merujuk serangkaian penelitian Awang Harun Satyana, Geolog Independen, tahun 2003, 2008, 2010, dan 2012, Meratus merupakan bagian Mesotethys Suture, zona tumbukan antara mikrokontinen Schwaner dan Paternoster. Dari proses inilah berkembang sesar anjakan yang membentang sepanjang sekitar 105 kilometer dari arah barat daya ke timur laut.
Periode yang sama, terjadi pula proses obduksi batuan ofiolit akibat penekanan Mikrokontinen Paternoster terhadap Sundaland. Tak lama setelahnya, pada Kapur Akhir, proses ini berlanjut hingga kolisi penuh antar lempeng
Babak penting selanjutnya pada akhir Miosen atau sekitar 23 juta tahun lalu. Periode ini terjadi deformasi dan pengangkatan dasar Cekungan Barito secara sangat kuat.
Selain mengaktifkan kembali sesar-sesar tua yang ada sejak periode Jura awal, peristiwa ini juga membentuk Pegunungan Meratus, serta memecah Mega Cekungan Barito menjadi dua bagian, yakni Subcekungan Barito dan Subcekungan Asam-Asam.
“Patahan yang berkembang di lereng pegunungan dan mengikuti batas antara batuan Pra Tersier dan batuan Tersier itulah yang sekarang dikenal sebagai Sesar Meratus,” ujar Adip.
Meski Sesar Meratus saat ini terlihat tenang, lanjutnya, bukan berarti ia mati. Keberadaan jalur sesar lain yang terhubung dengan blok Meratus bisa menjadi media penghantar pergerakan dari sesar di tempat yang jauh.
Selain Meratus, Kalimantan juga memiliki sejumlah struktur patahan aktif lain. Yakni Sesar Mangkalihat dan Sesar Tarakan.
Berdasarkan rangkaian sesar besar yang telah terpetakan, di sebelah timur Kalimantan ada jalur sesar berantai, dari Sesar Sula Sorong, Sesar Mantano, dan Sesar Lausanopo, serta Sesar Palu Koro yang menerus hingga bagian utara Pegunungan Meratus.
Terdapat pula dua jalur sesar dari arah barat daya. Pertama, jalur dari Kebumen dan Gunung Muria, menerus hingga sisi barat Pegunungan Meratus. Kedua, jalur yang melintas dari Tuban dan Pulau Bawean, menerus hingga sisi timur Pegunungan Meratus.
Kondisi ini, mendukung aktivitas tektonik dari jauh ke Kalsel—baik dari pergerakan lempeng Samudra Hindia-Australia di selatan Jawa, maupun pergerakan lempeng Samudra Pasifik di sekitar Papua-Sorong yang memiliki kecepatan pergerakan 11–12 cm per tahun.
“Pergerakan inilah yang berpotensi memengaruhi bergeraknya blok batuan, pensesaran, dan gempa bumi di lereng Pegunungan Meratus. Itulah sebabnya sesar ini tergolong aktif.”
Dia menyayangkan pemetaan mendetail jalur sesar aktif di Kalsel yang belum tersedia hingga kini. Kajian semacam itu membutuhkan riset tersendiri yang cukup mendalam.
“Namun belum menjadi prioritas Kementerian ESDM (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral), kemungkinan karena masih banyak wilayah lain di Indonesia dengan potensi gempa lebih besar yang perlu didahulukan,” katanya.
Namun dari identifikasinya, terdapat dua jalur yang tergolong rawan gempa. Jalur barat, yang membentang mulai dari Marabahan, Banjarmasin hingga Tabalong, dan jalur timur, dari Tanah Laut hingga Kotabaru. Meski intensitas gempanya kecil—di bawah magnitudo 5, kewaspadaan tetap perlu.
Dia bilang, batuan tertua di Kalsel (zaman Jura) umumnya alami deformasi, lipatan, dan sesar hingga struktur bumi di wilayah ini sejatinya tidak utuh lagi. Alhasil, tidak boleh anggap remeh potensi ini.
“Berkaca preseden gempa dan tsunami setinggi 1 meter di Sangkulirang, Kalimantan Timur, yang pernah mencapai magnitudo 6, tidak menutup kemungkinan gempa di Kalsel bisa berkembang hingga skala magnitudo 7.”
Pemicunya adalah karakter fisik-mekanik litologi serta energi yang tersimpan menjelang batuan terlipat dan terpatahkan. “Gempa skala magnitudo 7 berpotensi menyebabkan kerusakan parah, terutama di kawasan berpenduduk padat,” tekannya.
Getaran gempa juga dapat memicu longsor, terlebih pada lereng-lereng rawan yang tersusun oleh tanah tebal dengan kemiringan terjal. Atau lereng dengan bidang lemah seperti lapisan, kekar, dan patahan yang sejajar arah kemiringannya.
“Getaran yang muncul secara transversal maupun longitudinal dapat melemahkan bidang-bidang tersebut dan mengganggu kohesi tanah, sehingga memicu longsor jika beban lereng melampaui kekuatan geser tanahnya.”
Untuk itu, penting menyusun langkah mitigasi guna mengurangi risiko dampak gempa di masa mendatang. Upaya itu harus kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi melalui penelitian, pemetaan, sosialisasi, serta edukasi kebencanaan.
Selain itu, yang vital ialah kajian dan perkuatan stabilitas daerah lereng. Supaya bisa melindungi jalan, fasilitas publik, dan bangunan yang sudah berdiri di area miring.
Jadi tidak lagi mengembangkan pemukiman di sekitar jalur Sesar Meratus atau kawasan berlereng dengan lapisan tanah tebal, karena berpotensi memperbesar dampak guncangan.
Juga, penerapan standar konstruksi tahan gempa, dengan mempertimbangkan kemungkinan intensitas gempa hingga magnitudo 7, sehingga dapat tekan risiko kerusakan bangunan

Belum siap
Akbar Rahman, dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik ULM, mengatakan, selama ini Kalsel tidak terkenal dengan daerah risiko gempa tinggi. Jadi, kesiapan banyak bangunan, terutama rumah tinggal, tidak mempertimbangkan aspek ketahanan memadai.
Padahal, dari sisi regulasi, Indonesia sudah memiliki standar perencanaan bangunan tahan gempa melalui berbagai Standar Nasional Indonesia (SNI). Umumnya, bangunan akan mempertimbangakan risiko gempa bila rancangan oleh tenaga profesional dan mengikuti ketentuan terbaru, serta melalui peninjauan Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung (TPA BG) dalam proses penerbitan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Namun, mayoritas bangunan yang terbangun tanpa perencanaan struktur yang layak. Sehingga tingkat ketahanannya terhadap guncangan gempa tidak terjamin.
Yang paling rentan adalah bangunan non-rekayasa. Contoh, rumah yang berdiri tanpa perhitungan struktur, dinding bata tanpa kolom dan balok pengikat yang andal, bangunan bertingkat yang mengalami perubahan fungsi tanpa perkuatan fondasi, serta bangunan lama yang kualitas materialnya telah menurun.
“Risiko tersebut bisa semakin besar pada bangunan yang berdiri di atas tanah lunak atau lahan gambut. Jenis tanah ini dapat memperkuat guncangan sehingga meningkatkan potensi kerusakan saat gempa,” katanya, Rabu (17/6/26).
Masyarakat, katanya, dapat mengenali bangunan yang relatif lebih tahan gempa dari beberapa ciri sederhana. Seperti, kolom dan balok beton yang mengikat seluruh bangunan, sambungan struktur yang baik, bentuk yang sederhana dan simetris, penggunaan material berkualitas, serta atap yang tidak terlalu berat.
Selain itu, bangunan idealnya tidak memiliki retakan besar pada kolom, balok, maupun fondasi yang dapat mengurangi kekuatan struktur ketika menerima guncangan.
“Maka bangunan-bangunan yang ada saat ini perlu dievaluasi untuk mengetahui tingkat kerentanannya.”
Fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, kantor pemerintahan, dan bangunan pelayanan masyarakat, perlu menjadi prioritas dalam evaluasi ketahanan gempa karena banyak orang yang menggunakan.
“Walaupun belum ada data menyeluruh mengenai tingkat kesiapan bangunan publik di Kalsel, audit struktur secara bertahap penting dilakukan.”
Pemerintah daerah pun harus memulai pemetaan risiko secara lebih rinci, menginventarisasi bangunan vital, melakukan audit struktur fasilitas publik, memperketat pengawasan pembangunan baru, serta meningkatkan kapasitas tenaga konstruksi lokal terkait bangunan tahan gempa.
Dia mengingatkan masyarakat supaya tidak hanya memperhatikan aspek estetika saat mendirikan bangunan. Terlebih, di wilayah lahan rawa dan tanah lunak. Pemilihan fondasi yang tepat menjadi penting untuk meningkatkan keselamatan bangunan apabila suatu saat terjadi gempa.
“Temuan mengenai potensi aktivitas Sesar Meratus harus menjadi pengingat kalau mitigasi harus dilakukan sebelum bencana terjadi. Semakin dini pemerintah dan masyarakat mempersiapkan diri, semakin kecil risiko kerusakan dan korban yang dapat ditimbulkan.”

Bagaimana antisipasi?
Ronny Saputra, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, mengklaim, potensi gempa masuk dalam Kajian Risiko Bencana Kalsel.
“Kami turut berkoordinasi dengan Stasiun Geofisika Balikpapan yang menjadi koordinator pemantauan kegempaan di Kalimantan,” katanya, Rabu (17/6/26).
Koordinasi itu untuk mencatat seluruh histori gempa yang terjadi di Kalsel maupun gempa dari luar daerah yang dampaknya terasa hingga Kalsel.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, BPBD juga bekerja sama dengan BMKG dalam penyediaan sistem peringatan dini dengan memasang warning receiver system (WRS) gempa bumi dan tsunami di BPBD Kalsel serta di seluruh BPBD kabupaten/kota se-Kalsel.
“Melalui alat ini, pemerintah dapat memantau secara real-time kejadian gempa bumi dan potensi tsunami yang berdampak ke wilayah Kalsel.”
Dia akui, meski memiliki mekanisme peringatan dini dan standar operasional penanganan darurat bencana, mereka belum memiliki dokumen rencana kontingensi khusus untuk menghadapi gempa bumi berskala besar.
Namun, upaya edukasi terus mereka lakukan melalui berbagai program seperti Keluarga Tangguh Bencana, Satuan Pendidikan Aman Bencana, Desa Tangguh Bencana, pelatihan mitigasi bencana, hingga kunjungan edukatif bagi pelajar ke kantor BPBD. Materi potensi gempa bumi dan langkah mitigasinya selalu menjadi bagian dari kegiatan itu.
Selain itu, BPBD juga menyediakan kanal informasi kebencanaan Ingat Si Anang yang memuat informasi peringatan dini serta buku saku kebencanaan yang menjelaskan langkah-langkah sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi.
Sejak 2024, BPBD Kalsel pun rutin sosialisasi dan pengecekan aspek ketahanan gempa pada fasilitas publik setiap April bertepatan dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana. Kegiatan ini fokus pada bangunan bertingkat dan fasilitas publik di Banjarmasin serta Banjarbaru yang lebih rentan dampak guncangan.
Dari bebagai upaya, lanjutnya, tantangan terbesar pada rendahnya kesadaran masyarakat.
“Banyak warga yang masih menganggap Kalsel wilayah yang bebas dari ancaman gempa sehingga kesiapsiagaan belum menjadi perhatian utama.”

*****