- Uncal enggano merupakan burung endemik yang hanya ada di Enggano. Pulau yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Luasnya sekitar 40 ribu hektar.
- Burung ini tidak bergantung pada satu jenis pohon, tetapi pindah mengikuti musim buah di Pulau Enggano, sehingga penyebaran benih terjadi di area yang lebih luas.
- Karakter burung yang dada dan tubuh atas seolah bersisik ini, berbeda dengan jenis pemakan biji di lingkungan perkotaan. Burung ini lebih bergantung pada kondisi habitat alaminya.
- Pulau Enggano punya karakteristik berbeda dibanding daratan utama Sumatera. Sebagai pulau kecil yang terisolasi ribuan tahun, berbagai tumbuhan berkembang secara khas. Kondisi ini membuka kemungkinan hubungan sangat erat antara tumbuhan tertentu dengan satwa penebar benih seperti uncal.
Bulunya didominasi cokelat keabu-abuan. Suaranya juga tidak memikat, layaknya jenis burung kicau. Namun, di balik penampilannya yang biasa, ia turut menjalankan peran luar meregenerasi hutan.
Namanya uncal enggano, avifauna yang hanya bisa dijumpai di pulau yang secara internasional diakui sebagai daerah penting bagi burung IBAs (Important Bird and Biodiversity Areas). Pulau yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Luasnya sekitar 40 ribu hektar.
Zulvan Zaviery, pegiat lingkungan Pulau Enggano, mengatakan meski lebih dikenal sebagai penghuni hutan, Macropygia cinnamomaea juga mampu beradaptasi dengan bentang alam yang berubah.
“Kini juga sering terlihat di kebun-kebun warga yang berbatasan dengan hutan,” jelasnya, Minggu (5/7/26).
Ketika berada di kawasan hutan, burung dengan persebaran terbatas ini lebih sering terlihat berpasangan. Namun, hal berbeda terlihat ketika mencari makan di lahan pertanian, akan tampak beberapa individu dalam satu lokasi. Burung ini menyukai jagung, padi, dan pisang.
Di hutan, jenis yang masih satu keluarga dengan merpati ini lebih menyenangi buah-buahan liar.
“Salah satunya, buah dari pohon nelung (nama lokal) yang buahnya kecil, sebesar jagung.”

Menanam hutan tanpa disadari
Zulqarnain Assidiqqi, Direktur Endemic Indonesia Society, menjelaskan, peran uncal di pulau terluar itu sangat penting, karena tidak banyak burung yang menjalankan fungsi ekologis di hutan.
“Di Enggano hanya ada satu spesies uncal, sehingga fungsinya sangat sentral,” terangnya, Minggu (5/7/2026).
Karakter burung yang dada dan tubuh atas seolah bersisik ini, berbeda dengan jenis pemakan biji di lingkungan perkotaan. Burung ini lebih bergantung pada kondisi habitat alaminya.
“Keberadaa hutan sehat jadi syarat utama kelangsungan hidupnya.”

Pulau Enggano punya karakteristik berbeda dibanding daratan utama Sumatera. Sebagai pulau kecil yang terisolasi ribuan tahun, berbagai tumbuhan berkembang secara khas. Kondisi ini membuka kemungkinan hubungan sangat erat antara tumbuhan tertentu dengan satwa penebar benih seperti uncal.
“Bila ada tumbuhan yang sangat bergantung pada uncal, maka regenerasi hutan Enggano juga tidak akan lepas pada keberadaan burung ini.”
Saat ini, masih terdapat kesenjangan informasi ilmiah ekologi uncal enggano sejak dipisahkan jadi spesies tersendiri.
“Kita belum tahu menyeluruh, tumbuhan apa yang paling bergantung pada uncal maupun bagaimana pola ekologinya.”

Tidak bergantung satu pohon
Mekanisme uncal membantu regenerasi hutan, dapat dipahami pada merpati hutan (Clumbidae), kelompok yang menaungi uncal. Burung-burung dalam kelompok ini punya daya jelajah cukup luas mencari makan.
Mereka tak bergantung pada satu pohon atau satu lokasi, melainkan berpindah mengikuti musim buah di hutan.
“Misalnya beringin, burung merpati hutan biasanya akan berkumpul di sana. Setelah musim buahnya selesai, mereka akan pindah lagi mencari sumber pakan lain.”
Pergerakan itu yang membuat biji-biji tumbuhan tersebar ke berbagai tempat. Tidak semua biji yang dimakan hancur di saluran pencernaan. Sebagian bertahan hingga akhirnya dikeluarkan bersama kotoran, di lokasi yang berbeda dari pohon induknya. Dalam kondisi tertentu, biji bisa jatuh ketika burung bertengger atau saat memberi pakan anaknya.
“Jadi, mekanisme tidak hanya satu. Ada biji yang jatuh di sekitar pohon tempat makan, ada yang terbawa jauh mengikuti pergerakan burung, lalu keluar dalam kondisi masih bisa berkecambah.”

Kemampuan tersebut dipengaruhi bentuk paruh dan cara makan uncal. Burung ini bukan pemecah biji seperti beberapa jenis pemakan biji lain. Uncal cenderung menelan buah ukuran kecil secara utuh, sehingga peluang biji tetap utuh selama melewati saluran pencernaan lebih besar.
“Setiap jenis tumbuhan, punya respons berbeda terhadap proses tersebut.”
Ada biji yang rusak setelah dicerna sehingga tidak dapat tumbuh, tetapi ada yang tetap hidup dan berkecambah setelah melewati sistem pencernaan.
Penelitian mengenai jenis-jenis tumbuhan yang berasosiasi dengan uncal, kata Zulqarnain, penting dilakukan untuk memahami seberapa besar kontribusi burung endemik ini di hutan Enggano.
BirdLife mengelompokkan uncal enggano sebagai burung yang punya ketergantungan tinggi terhadap habitat hutan (forest dependent species). Statusnya adalah Near Threatened (NT) atau Hampir Terancam.
*****