<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=tasmalinda-oku-timur&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/tasmalinda-oku-timur/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 25 Jun 2026 10:05:10 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>&#8220;Hantu Gurun&#8221; yang Dikira Punah: Video 18 Detik Ungkap Kucing Pasir Masih Ada di Libya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/25/hantu-gurun-yang-dikira-punah-video-18-detik-ungkap-kucing-pasir-masih-ada-di-libya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/25/hantu-gurun-yang-dikira-punah-video-18-detik-ungkap-kucing-pasir-masih-ada-di-libya/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jun 2026 10:04:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/25100403/Chat_des_sables_Felis_margarita-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129721</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gurun Sahara adalah salah satu lingkungan paling ekstrem di bumi, namun bukan berarti tanpa kehidupan. Di balik hamparan pasir dan bebatuan yang tampak kosong, sejumlah spesies telah berevolusi selama jutaan tahun untuk bertahan di kondisi yang membunuh makhluk hidup lain. Salah satu yang paling sulit ditemukan adalah kucing pasir (Felis margarita), felid mungil yang begitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/25/hantu-gurun-yang-dikira-punah-video-18-detik-ungkap-kucing-pasir-masih-ada-di-libya/">&#8220;Hantu Gurun&#8221; yang Dikira Punah: Video 18 Detik Ungkap Kucing Pasir Masih Ada di Libya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gurun Sahara adalah salah satu lingkungan paling ekstrem di bumi, namun bukan berarti tanpa kehidupan. Di balik hamparan pasir dan bebatuan yang tampak kosong, sejumlah spesies telah berevolusi selama jutaan tahun untuk bertahan di kondisi yang membunuh makhluk hidup lain. Salah satu yang paling sulit ditemukan adalah kucing pasir (Felis margarita), felid mungil yang begitu mahir menyembunyikan diri hingga keberadaannya di Libya sempat dianggap tidak pernah ada, bahkan setelah ada yang mengklaim melihatnya langsung. Pada 2017, fotografer satwa liar Mohammed Almuntasir mengunggah video berdurasi 18 detik ke YouTube. Dalam rekaman singkat itu, seekor kucing kecil berwarna pucat tampak menggali pasir di antara bukit-bukit pasir terpencil di barat daya Libya. Almuntasir tidak berpikir banyak soal video itu. Namun rekaman tersebut ternyata menjadi bukti material pertama bahwa kucing pasir (Felis margarita) benar-benar hidup di Libya, sebuah negara yang selama ini menganggap spesies ini telah punah secara lokal. Satu-satunya Kucing Sejati Penghuni Gurun Kucing pasir adalah satu-satunya felid di dunia yang beradaptasi sepenuhnya pada kondisi gurun sejati. Tidak seperti kucing liar lain yang masih bergantung pada keberadaan air atau vegetasi lebih lebat, kucing pasir mampu bertahan hidup sepenuhnya di lingkungan hiperkeringdi mana suhu siang bisa melampaui 40 derajat Celsius dan malam turun mendekati titik beku. Ukurannya tidak lebih besar dari kucing rumahan, dengan berat tubuh antara 1,5 hingga 3,4 kilogram. Kakinya dilapisi bulu tebal yang berfungsi seperti bantalan, melindungi telapaknya dari pasir yang membakar sekaligus memudahkan pergerakan di atas permukaan berpasir. Telinganya besar dan lebar, membantu mendeteksi suara mangsa yang bergerak di bawah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/25/hantu-gurun-yang-dikira-punah-video-18-detik-ungkap-kucing-pasir-masih-ada-di-libya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/25/hantu-gurun-yang-dikira-punah-video-18-detik-ungkap-kucing-pasir-masih-ada-di-libya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air Bersih Hantui Aceh Besar Kala Karst Terus Tergerus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/25/krisis-air-bersih-hantui-aceh-besar-kala-karst-terus-tergerus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/25/krisis-air-bersih-hantui-aceh-besar-kala-karst-terus-tergerus/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jun 2026 08:30:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/25005731/3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129669</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangan Rahmayani, warga Desa Geundring, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, cekatan mengucek dan membilas satu per satu pakaian yang tertumpuk pada area khusus mencuci di Wisata Kolam Pemandian Mata Ie. Sejak 2013, tiap pagi, perempuan 35 tahun ini rutin datang untuk keperluan rumah tangga. Jarak rumah pun tak jauh. &#8220;Lumayan, hemat air dan biaya di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/25/krisis-air-bersih-hantui-aceh-besar-kala-karst-terus-tergerus/">Krisis Air Bersih Hantui Aceh Besar Kala Karst Terus Tergerus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangan Rahmayani, warga Desa Geundring, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, cekatan mengucek dan membilas satu per satu pakaian yang tertumpuk pada area khusus mencuci di Wisata Kolam Pemandian Mata Ie. Sejak 2013, tiap pagi, perempuan 35 tahun ini rutin datang untuk keperluan rumah tangga. Jarak rumah pun tak jauh. &#8220;Lumayan, hemat air dan biaya di rumah,&#8221; katanya Kamis (4/6/26). Aliran air di wisata ini ini bersumber dari kawasan karst Mata Ie. Karst ini menjadi salah satu kawasan karst penting di Aceh karena menyimpan cadangan air bawah tanah melimpah untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi sebagian warga di Aceh Besar. Selain kolam pemandian dan area khusus mencuci, terdapat water treatment plant (WTP) PDAM Tirta Mountala yang menyuplai air bersih ke Kecamatan Darul Imarah, Darul Kamal, dan Peukan Bada, hingga desa-desa di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Data dari PDAM, ada 14.234 pelanggan yang menggantungkan air bersih dari Karst Mata Ie. Namun, kecukupan air yang melimpah itu kini tinggal cerita seiring menyusutnya debit air. Pada tahun 2017, Mata Ie kering total untuk pertama kalinya. Sejak itu, kata Rahmayani, kekeringan terus terjadi hampir tiap tahun. “Kalau kemarau seminggu saja, air langsung surut drastis,&#8221; katanya. Sejumlah warga mencuci baju di area khusus mencuci yang tersedia di Wisata Kolam Pemandian Mata Ie. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia Penurunan debit ini membawa dampak buruk bagi lingkungan dan warga. Saat kekeringan, air yang keluar dari celah batuan karst menyusut dan tidak jernih. Malahan beraroma tak sedap dan akan membaik setelah hujan lebat di wilayah hulu. Pada saat sama, PDAM&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/25/krisis-air-bersih-hantui-aceh-besar-kala-karst-terus-tergerus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/25/krisis-air-bersih-hantui-aceh-besar-kala-karst-terus-tergerus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Satu Abad Menghilang, Nuri Dahi-Biru Terpantau di Pulau Buru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/25/satu-abad-menghilang-nuri-dahi-biru-terpantau-di-pulau-buru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/25/satu-abad-menghilang-nuri-dahi-biru-terpantau-di-pulau-buru/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jun 2026 07:26:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/25071955/nuri-dahi-biru2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129712</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, maluku, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satu abad lamanya, kabar nuri dahi-biru tidak terdengar sama sekali. Meski namanya tercatat dalam buku-buku ilmiah, namun keberadaannya nyaris tak terlihat. Hingga pada April 2026, keberadaan Blue-fronted Lorikeet terkuak. Sebuah ekspedisi menyusuri Gunung Kapalatmada, Pulau Buru, Maluku, menemukan kembali jenis tersebut. Setelah enam hari mendaki, dari bentang alam hamparan batu kapur yang dipenuhi tumbuhan  berduri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/25/satu-abad-menghilang-nuri-dahi-biru-terpantau-di-pulau-buru/">Satu Abad Menghilang, Nuri Dahi-Biru Terpantau di Pulau Buru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satu abad lamanya, kabar nuri dahi-biru tidak terdengar sama sekali. Meski namanya tercatat dalam buku-buku ilmiah, namun keberadaannya nyaris tak terlihat. Hingga pada April 2026, keberadaan Blue-fronted Lorikeet terkuak. Sebuah ekspedisi menyusuri Gunung Kapalatmada, Pulau Buru, Maluku, menemukan kembali jenis tersebut. Setelah enam hari mendaki, dari bentang alam hamparan batu kapur yang dipenuhi tumbuhan  berduri tajam dan serangga menuju hutan kabut berlumut dan area terbuka yang riuh kicau burung, tim secara tidak terduga melihat kehadiran burung perkici. &#8220;Kami melihat dua individu burung kecil terbang menuju sebuah pohon. Saya mengambil binokular untuk melihat jenis tersebut,&#8221; ujar John Mittermeier, Direktur Search for Lost Birds  American Bird Conservancy (ABC). &#8220;Saya sangat gembira begitu menyadari jenis tersebut adalah nuri dahi-biru,” jelasnya melalui pernyataan resmi, Kamis (4/6/26). Burung kecil berbulu hijau dengan semburat biru di bagian kepala itu, beberapa kali terlihat dan berhasil dipotret serta direkam suaranya. Penemuan tersebut menjadi catatan kedua sejak spesies ini pertama kali dideskripsikan seratus tahun lalu. Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Burung Indonesia, mengatakan penemuan kembali nuri dahi-biru (Charmosynopsis toxopei) mengonfirmasi dua hal sekaligus. Pertama, spesies yang selama ini nyaris menghilang dari catatan ilmiah ternyata masih bertahan hidup. Kedua, habitat berlindungnya tetap terjaga bukan semata karena keberhasilan kebijakan konservasi, melainkan kondisi geografisnya yang sulit dijangkau. “Kawasan itu masih sangat alami, karena belum banyak terjamah manusia,” terangnya, Selasa (23/6/26). Gunung Kapalatmada merupakan puncak tertinggi di Pulau Buru. Selama bertahun, kawasan ini menjadi wilayah paling sulit diakses di Indonesia bagian timur. Jalur menuju puncaknya baru berhasil dipetakan para pendaki lokal, beberapa tahun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/25/satu-abad-menghilang-nuri-dahi-biru-terpantau-di-pulau-buru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/25/satu-abad-menghilang-nuri-dahi-biru-terpantau-di-pulau-buru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>252 Juta Tahun Lalu, Gunung Berapi ini  Hampir Menghapus Seluruh Kehidupan di Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/252-juta-tahun-lalu-gunung-berapi-ini-hampir-menghapus-seluruh-kehidupan-di-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/252-juta-tahun-lalu-gunung-berapi-ini-hampir-menghapus-seluruh-kehidupan-di-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jun 2026 06:03:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/09/22072600/Erupsi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129705</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>252 juta tahun lalu, Bumi hampir kehilangan segalanya. Bukan karena asteroid, bukan karena perubahan iklim bertahap. Melainkan karena serangkaian letusan gunung berapi kolosal di Siberia yang berlangsung hampir satu juta tahun, memuntahkan lava, abu, dan gas beracun dalam jumlah yang hampir tidak bisa dibayangkan. Ketika semuanya selesai, 96 persen spesies laut telah musnah dan 70 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/252-juta-tahun-lalu-gunung-berapi-ini-hampir-menghapus-seluruh-kehidupan-di-bumi/">252 Juta Tahun Lalu, Gunung Berapi ini  Hampir Menghapus Seluruh Kehidupan di Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[252 juta tahun lalu, Bumi hampir kehilangan segalanya. Bukan karena asteroid, bukan karena perubahan iklim bertahap. Melainkan karena serangkaian letusan gunung berapi kolosal di Siberia yang berlangsung hampir satu juta tahun, memuntahkan lava, abu, dan gas beracun dalam jumlah yang hampir tidak bisa dibayangkan. Ketika semuanya selesai, 96 persen spesies laut telah musnah dan 70 persen vertebrata darat lenyap dari muka Bumi. Para ilmuwan menyebutnya The Great Dying, kepunahan massal terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah planet ini. Letusan itu meninggalkan jejak berupa hamparan batuan vulkanik raksasa yang kini dikenal sebagai Perangkap Siberia atau Siberian Trap, terbentuk dari sekitar 1,5 juta kilometer kubik lava yang dimuntahkan dari retakan di kerak Bumi. Skalanya begitu masif sehingga para ilmuwan selama bertahun-tahun bertanya-tanya: mengapa letusan ini jauh lebih mematikan dibanding letusan besar lainnya dalam sejarah Bumi? Jawaban itu kini mulai terkuak. Ahli geologi Michael Broadley dari Pusat Penelitian Petrografi dan Geokimia di Prancis dan timnya menganalisis sampel mantel xenolith, yaitu batuan dari lapisan litosfer yang tertangkap oleh magma dan dimuntahkan bersama lava saat erupsi. Dari sampel itu, mereka bisa mengidentifikasi komposisi kimia litosfer Siberia sebelum dan sesudah letusan. Hasilnya mengejutkan. Litosfer di Siberia sebelum erupsi dipenuhi unsur halogen, termasuk klorin, bromin, dan yodium. Setelah letusan besar, unsur-unsur itu tidak ditemukan lagi dalam sampel, artinya semuanya telah termuntahkan ke atmosfer selama erupsi. Halogen adalah elemen gas yang sangat beracun, dan dampaknya menjadi jauh lebih berbahaya ketika bergabung dengan molekul lain di atmosfer. Dalam jumlah masif seperti yang dilepaskan oleh Perangkap Siberia, gas-gas ini naik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/252-juta-tahun-lalu-gunung-berapi-ini-hampir-menghapus-seluruh-kehidupan-di-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/252-juta-tahun-lalu-gunung-berapi-ini-hampir-menghapus-seluruh-kehidupan-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalur Gelap Merkuri di Tambang Emas Ilegal Sulawesi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/25/jalur-gelap-merkuri-di-tambang-emas-ilegal-sulawesi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/25/jalur-gelap-merkuri-di-tambang-emas-ilegal-sulawesi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jun 2026 02:27:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/23183538/IMG_7180-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129618</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Horor Merkuri di Tengah Kilauan Emas]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah terik matahari Desa Tanoyan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut), Hardi Mamonto berdiri dengan tubuh sedikit ke depan. Mata terpaku pada mesin tromol, terbuat dari drum besi, yang terus berputar selama tiga jam terakhir. Suara gemuruh dari tromol memecah sunyi. Denting logam bercampur desis air dan gesekan batu membentuk irama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/25/jalur-gelap-merkuri-di-tambang-emas-ilegal-sulawesi/">Jalur Gelap Merkuri di Tambang Emas Ilegal Sulawesi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah terik matahari Desa Tanoyan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut), Hardi Mamonto berdiri dengan tubuh sedikit ke depan. Mata terpaku pada mesin tromol, terbuat dari drum besi, yang terus berputar selama tiga jam terakhir. Suara gemuruh dari tromol memecah sunyi. Denting logam bercampur desis air dan gesekan batu membentuk irama kasar tak beraturan. Sesekali, Hardi melangkah mendekat sembari menunduk, mengamati putaran tromol dengan cermat, memastikan kecepatannya tetap stabil. Bagi Hardi, keseimbangan putaran adalah segalanya. Terlalu lambat, emas tak akan terpisah. Terlalu cepat, hasilnya bisa terbuang percuma. Di tangan kanan, dia menggenggam sebotol kecil berisi cairan berwarna keperakan. Botol itu tampak biasa saja, tanpa label, tanpa peringatan. Isinya,  merkuri, inti dari seluruh proses yang dia jalankan hari itu. Hardi melepaskan pengait antara tromol dan mesin untuk menghentikan putaran sejenak. Perlahan, dia membuka tutup botol lalu menuangkan sedikit isi ke tromol sembari menambahkan air ke dalamnya. Langkah serupa dia lakukan pada beberapa tromol lain yang juga terhubung dengan mesin pemutar. Setelah itu, pengait dia pasang kembali agar drum besi berputar lagi untuk 30 menit ke depan. Para pekerja tengah berusaha mengangkut material mengandung emas di Sulawesi Utara. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia. Di kalangan para penambang emas tradisional, apa yang Hardi lakukan merupakan bagian dari proses yang mereka sebut sebagai “pancingan air perak.” Merkuri yang dia masukkan ke dalam tromol akan mengikat butiran-butiran emas yang tidak terlihat oleh mata, membentuk amalgam atau campuran emas dan perak yang menjadi harapan bagi para penambang seperti Hardi. Proses ini umum di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/25/jalur-gelap-merkuri-di-tambang-emas-ilegal-sulawesi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/25/jalur-gelap-merkuri-di-tambang-emas-ilegal-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paye dan Jongot, Cara Masyarakat Tempirai Jaga Lahan Basah Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/24/paye-dan-jongot-cara-masyarakat-tempirai-jaga-lahan-basah-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/24/paye-dan-jongot-cara-masyarakat-tempirai-jaga-lahan-basah-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jun 2026 15:07:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/24144929/Toni-57-yang-menetap-di-sebuah-jongotmengangkat-perangkap-ikannya-yang-berada-di-sekitar-aliran-paye-di-Talang-Lebung-Jauh.-Foto-Ariadi-Damara-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129678</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Mereka yang Berjuang untuk Hutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, solusi iklim, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Paye bagi masyarakat lahan basah di wilayah Penukal dan Abab, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumatera Selatan, sangatlah penting. Paye menjadi sumber air bersih dan pangan. Paye adalah potongan sungai kecil yang memiliki rawa, airnya tergenang sepanjang tahun, dan terhubung dengan hutan gambut. Paye merupakan habitat beragam jenis ikan air tawar. Air dari paye [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/24/paye-dan-jongot-cara-masyarakat-tempirai-jaga-lahan-basah-sumatera-selatan/">Paye dan Jongot, Cara Masyarakat Tempirai Jaga Lahan Basah Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Paye bagi masyarakat lahan basah di wilayah Penukal dan Abab, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumatera Selatan, sangatlah penting. Paye menjadi sumber air bersih dan pangan. Paye adalah potongan sungai kecil yang memiliki rawa, airnya tergenang sepanjang tahun, dan terhubung dengan hutan gambut. Paye merupakan habitat beragam jenis ikan air tawar. Air dari paye mengalir ke sejumlah anak Sungai Penukal dan Sungai Abab. “Paye bukan hanya sebagai sumber air bersih, juga sumber pangan, sebab beragam jenis ikan air tawar didapatkan di sini. Ikan yang banyak terlihat adalah gabus (Channa striata), bujuk (Channa lucius), serandang (Channa pleurophthalma), toman (Channa micropeltes), lele rawa (Clarias nieuhofii), dan tembakang (Helostoma temminckii),” kata Ibrahim (57), tokoh masyarakat Tempirai, saat diskusi budaya dalam Festival Lahan Basah Tempirai, Jumat (19/6/26). Keberadaan paye juga menjadi penanda keberadaan perkebunan karet, ladang atau ume, serta jongot (agroforestry). “Kami membuat kebun dan ladang dekat paye dan biasanya jongot berada di sekitar paye.” Jongot dan paye tidak dapat dipisahkan. Di dalam paye biasanya terdapat lebung atau cekungan dalam, yang menjadi rumah terakhir ikan saat musim kemarau. “Saat musim penghujan, paye banyak ikan dan warga menjaringnya,” kata Kunci (58), warga Desa Tempirai. Selain ikan, masyarakat juga memanfaatkan tumbuhan di sekitar paye seperti kuang atau pandan rasau (Pandanus helicopus) sebagai bahan baku anyaman tikar, pohon nibung (Oncosperma tigillarium) yang dimanfaat sebagai bahan bangunan, dan pohon aren (Arenga pinnata) yang niranya dijadikan gula. Beberapa paye yang cukup dikenal karena cukup luas di Penukal antara lain Paye Babat, Paye Bakung, Paye Limau, Paye Beringin, Paye&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/24/paye-dan-jongot-cara-masyarakat-tempirai-jaga-lahan-basah-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/24/paye-dan-jongot-cara-masyarakat-tempirai-jaga-lahan-basah-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Risiko Kebakaran Makin Tinggi Ketika Gambut Kalimantan Rusak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/24/risiko-kebakaran-makin-tinggi-ketika-gambut-kalimantan-rusak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/24/risiko-kebakaran-makin-tinggi-ketika-gambut-kalimantan-rusak/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jun 2026 11:00:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Data dan Statisitik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/23181822/karhutla-kalbar-3-2Fisb-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129623</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Kaliamantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mendera Kalimantan. Titik panas (hotspot) di kawasan hidrologis gambut (KHG) di Kalimantan mulai meningkat. Sepanjang Januari-April, tercatat 9.853 titik tersebar di Kalimantan Barat (Kalbar) dengan 9.270 titik, Kalimantan Tengah (438), dan Kalimantan Selatan (25). Mayoritas, terdeteksi di kawasan konsesi, dengan 8.983 titik atau 91%. “Rinciannya,  6.571 titik panas terdeteksi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/24/risiko-kebakaran-makin-tinggi-ketika-gambut-kalimantan-rusak/">Risiko Kebakaran Makin Tinggi Ketika Gambut Kalimantan Rusak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mendera Kalimantan. Titik panas (hotspot) di kawasan hidrologis gambut (KHG) di Kalimantan mulai meningkat. Sepanjang Januari-April, tercatat 9.853 titik tersebar di Kalimantan Barat (Kalbar) dengan 9.270 titik, Kalimantan Tengah (438), dan Kalimantan Selatan (25). Mayoritas, terdeteksi di kawasan konsesi, dengan 8.983 titik atau 91%. “Rinciannya,  6.571 titik panas terdeteksi di area hak guna usaha, sedangkan 2.412 titik  berada di  perizinan berusaha pemanfaatan hutan&#8221; ucap Putra Saptian, Juru Kampanye Pantau Gambut. Tingginya titik panas di konsesi itu, katanya, sejalan dengan kondisi ekosistem gambut yang terus terdegradasi. Pembukaan kanal untuk berbagai kepentingan usaha di berbagai daerah membuat mukai air tanah di lahan gambut menurun. Membuat lokasi  lebih kering dan mudah terbakar. “Setiap provinsi dinamikanya beda-beda. Ada yang disebabkan karena PSN (proyek strategis nasional) ada yang agro-ekstraktif.” Senada dengan Indra Syahnanda, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar. Dia bilang, karhutla di provinsinya bukan semata akibat cuaca kering atau krisis iklim, melainkan ada persoalan dalam pengelolaan lahan gambut. Walhi Kalbar, katanya, menemukan banyak kawasan KHG luas sekitar 2,79 juta hektar beralih fungsi dari kawasan lindung menjadi area budidaya. &#8220;Kami banyak mendapati KHG yang seharusnya berstatus lindung justru berubah menjadi kawasan budidaya. Ada yang salah dengan tata kelola lahan gambut,&#8221; ucapnya. Mengacu data Kementerian Kehutanan, katanya, luas lahan di yang terbakar di Kalbar 1 Januari-Maret 2026 mencapai 25.420,73 hektar. Dia belum lihat pemerintah serius mencegah kebakaran dan memulihkan ekosistem gambut. Selama ini, penanganan lebih banyak fokus pada pemadaman ketika kebakaran terjadi. Sementera gambut yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/24/risiko-kebakaran-makin-tinggi-ketika-gambut-kalimantan-rusak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/24/risiko-kebakaran-makin-tinggi-ketika-gambut-kalimantan-rusak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lahan Petani Padang Halaban Sudah Keluar dari HGU Sinar Mas?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/24/pemerintah-keluarkan-lahan-petani-padang-halaban-dari-hgu-sinar-mas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/24/pemerintah-keluarkan-lahan-petani-padang-halaban-dari-hgu-sinar-mas/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jun 2026 03:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/27170251/kelompok-tani-Padang-Halaban-menolak-eksekusi-pengadilan-tuntut-kembalikan-tanah-merekaAyat-S-Karokaro-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129555</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin segar tampaknya mulai menghampiri warga Padang Halaban, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara (Sumut), setelah berpuluh-puluh tahun dalam ketidakpastian hak tanah. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengeluarkan (enclave) 83,26 hektar lahan dari hak guna usaha, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART). Meskipun begitu, di lapangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/24/pemerintah-keluarkan-lahan-petani-padang-halaban-dari-hgu-sinar-mas/">Lahan Petani Padang Halaban Sudah Keluar dari HGU Sinar Mas?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin segar tampaknya mulai menghampiri warga Padang Halaban, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara (Sumut), setelah berpuluh-puluh tahun dalam ketidakpastian hak tanah. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengeluarkan (enclave) 83,26 hektar lahan dari hak guna usaha, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART). Meskipun begitu, di lapangan belum ada perubahan. Keputusan enclave itu berdasarkan pertemuan Dirjen HAM Kementerian HAM dengan dengan KATR/BPN, 12 Mei 2026, di Jakarta. Dirjen Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah KATR/BPN, menyatakan, bidang tanah yang menjadi objek perkara dengan Nomor Identifikasi Bidang (NIB) 01881 sudah pisah dan memiliki NIB tersendiri, 01883, seluas 83,2627 hektar. Bidang tanah itu merupakan objek eksekusi dan tidak termasuk dalam konsesi HGU SMART Nomor 1419 (Labuhan Batu). Bambang Irjanto, Kasubdirektorat Penetapan HGU, KATR/BPN, kemudian menjelaskan keputusan itu dalam  pertemuan multipihak yang melibatkan Perwakilan Komisi XIII DPR, Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Gubernur Sumut, Perwakilan Komnas HAM dan Ombudsman, Kementerian ATR/BPN, Pemerintah Labura, dan perwakilan SMART, di Kantor Gubernur Sumut, 4 Juni. Dia yang hadir secara daring, menyebut, HGU SMART sudah habis sejak 2024, hingga perusahaan tidak memiliki hak atau kewenangan menguasai lahan yang selama ini bersengketa. Penyelesaian lahan yang bersengketa itu akan melalui mekanisme reforma agraria dengan menjadikannya tanah objek reforma agraria (Tora). Sesuai dengan Peraturan Presiden 62/2023 tentang Percepatan Pelaksanaan Reforma Agraria. Saurlin Siagian, Komisioner Komnas HAM&#8211;juga hadir dalam pertemuan itu&#8211; pada Mongabay, 4 Juni, menceritakan inti dari pertemuan tersebut. Dia bilang, NIB baru lahan tersebut membuktikan secara yuridis lahan itu tidak lagi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/24/pemerintah-keluarkan-lahan-petani-padang-halaban-dari-hgu-sinar-mas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/24/pemerintah-keluarkan-lahan-petani-padang-halaban-dari-hgu-sinar-mas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Garangan Bisa Memakan Kobra Hidup-Hidup, Termasuk Kantung Racunnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/24/bagaimana-garangan-bisa-memakan-kobra-hidup-hidup-termasuk-kantung-racunnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/24/bagaimana-garangan-bisa-memakan-kobra-hidup-hidup-termasuk-kantung-racunnya/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jun 2026 02:58:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/24025633/2361130_five-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129643</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Garangan adalah mamalia kecil berbadan ramping dengan moncong runcing dan kaki pendek, beratnya hanya sekitar satu hingga dua kilogram. Di Indonesia, garangan jawa (Herpestes javanicus) bisa ditemukan di Jawa, Bali, dan beberapa pulau lain. Secara keseluruhan ada sekitar 34 spesies garangan yang tersebar di Afrika, Asia Selatan, hingga Semenanjung Iberia, dan meski ukuran maupun habitatnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/24/bagaimana-garangan-bisa-memakan-kobra-hidup-hidup-termasuk-kantung-racunnya/">Bagaimana Garangan Bisa Memakan Kobra Hidup-Hidup, Termasuk Kantung Racunnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Garangan adalah mamalia kecil berbadan ramping dengan moncong runcing dan kaki pendek, beratnya hanya sekitar satu hingga dua kilogram. Di Indonesia, garangan jawa (Herpestes javanicus) bisa ditemukan di Jawa, Bali, dan beberapa pulau lain. Secara keseluruhan ada sekitar 34 spesies garangan yang tersebar di Afrika, Asia Selatan, hingga Semenanjung Iberia, dan meski ukuran maupun habitatnya berbeda-beda, hampir semua spesies berbagi satu reputasi yang sama: tidak takut ular berbisa. Penampilannya memang tidak mengesankan. Tapi garangan punya kebiasaan yang sulit dipercaya: ia secara rutin berburu kobra, mengalahkannya, lalu memakannya sampai habis, termasuk kantung racunnya. Bukan sesekali, dan bukan karena kebetulan. Garangan memang mencari kobra sebagai mangsa, dan dalam sebagian besar pertemuan, garanganlah yang menang. Racun Kobra Tidak Bisa Bekerja di Tubuh Garangan Kobra membunuh dengan cara memblokir sinyal antara saraf dan otot. Begitu toksinnya masuk ke tubuh korban, otot berhenti merespons, termasuk otot pernapasan. Korban lumpuh, lalu mati. Pada sebagian besar hewan seukuran garangan, satu gigitan kobra sudah cukup untuk mengakhiri segalanya. Pada garangan, proses itu tidak berjalan seperti seharusnya. Selama jutaan tahun evolusi, tubuh garangan mengembangkan perubahan kecil pada protein tertentu di sel ototnya, perubahan yang membuat toksin kobra kehilangan tempat untuk menempel. Racunnya masuk ke tubuh, tapi tidak bisa bekerja. Seperti kunci yang bentuknya sudah tidak cocok lagi dengan lubang kuncinya. Ilustrasi garangan dan kobra dari abad ke-19. Perseteruan antara kedua hewan ini sudah lama tercatat dalam literatur ilmu alam, jauh sebelum sains modern menjelaskan mekanisme biologis di baliknya. Ilustrasi: &#8220;Mungoose and Cobra,&#8221; karya J. Smit, dari The Illustrated Natural&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/24/bagaimana-garangan-bisa-memakan-kobra-hidup-hidup-termasuk-kantung-racunnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/24/bagaimana-garangan-bisa-memakan-kobra-hidup-hidup-termasuk-kantung-racunnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 17:34:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/23162404/20251020_112835-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129596</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pohon asam Jawa di sekitar Markas Batalyon Infanteri Raider 400 Semarang, Jawa Tengah,  itu tampak rindang. Cahaya matahari senja yang keemasan sesekali menerobos di sela pepohonan itu. Dulu, menurut cerita warga sekitar, deretan pohon asam Jawa itu adalah ‘rumah’ bagi kawanan burung kuntul srondol. Pulang saat senja dan kembali pergi saat matahari merekah di pagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/">Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pohon asam Jawa di sekitar Markas Batalyon Infanteri Raider 400 Semarang, Jawa Tengah,  itu tampak rindang. Cahaya matahari senja yang keemasan sesekali menerobos di sela pepohonan itu. Dulu, menurut cerita warga sekitar, deretan pohon asam Jawa itu adalah ‘rumah’ bagi kawanan burung kuntul srondol. Pulang saat senja dan kembali pergi saat matahari merekah di pagi hari. Entah apa musabab, belakangan pemandangan itu tak pernah ada lagi. Lantas, kemana perginya kawanan burung yang menjadi ikon Kota Semarang itu? Suparti, pemilik warung kopi tak jauh dari lokasi tak tahu pasti apa yang menjadi sebab burung-burung itu pergi. Perempuan 50 tahun itu masih ingat, dulu ketika  remaja, kawanan burung itu menjadi pemandangan sehari-hari,  datang, hinggap dan pergi. “Ya itu, sejak pembangunan dan kota makin padat. Lahan sawah semakin berkurang mungkin  pergi,” katanya. Era 1990-an kawanan burung bermarkas di Markas Yonif. Para tentara disana kompak melindungi spesies yang pernah menjadi ikon kota itu dengan melarang  perburuan. Meski tidak tertulis, warga pun mengetahui peraturan itu. Yanto, warga Srondol Kulon  juga teman sepermainan Suparti ikut menimpali. Saat dia masih muda dulu, deretan pohon asam Jawa itu berjajar lebat di sepanjang kanan kiri jalan. Sekarang, hanya tersisa di bagian Markas Yonif saja. “Ya,  burung itu seperti kita manusia, pagi berangkat kerja dan sore pulang. Mereka gitu polanya. Pagi cari makan, senja balik pulang ke markas untuk tidur,” kenangnya. Jika  warga melewati kawasan itu, biasa selalu berkelakar ‘awas dapat rejeki’. Maksudnya  jika lewat area itu sering terkena kotoran burung, termasuk dia  juga pernah mengalami. “Dulu,  naik sepeda dapat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/mengapa-burung-kuntul-srondol-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sagu Simbol Kedaulatan Pangan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 16:30:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anton Wisuda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/23162554/mama-penjual-sagu-di-pasar--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129600</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, komunitas lokal, Lahan Basah, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pangan di Indonesia tidak hanya beras. Indonesia punya sumber bahan makanan sehat dan multiguna yang dikenal luas, yaitu sagu. Sagu dapat diolah menjadi tepung, mie, gula, bahkan beras sagu. “Sagu merupakan simbol kedaulatan pangan Indonesia,” jelas Mochamad Hasjim Bintoro, Guru Besar Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB University, yang dikenal sebagai pakar sagu nasional kepada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/">Sagu Simbol Kedaulatan Pangan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pangan di Indonesia tidak hanya beras. Indonesia punya sumber bahan makanan sehat dan multiguna yang dikenal luas, yaitu sagu. Sagu dapat diolah menjadi tepung, mie, gula, bahkan beras sagu. “Sagu merupakan simbol kedaulatan pangan Indonesia,” jelas Mochamad Hasjim Bintoro, Guru Besar Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB University, yang dikenal sebagai pakar sagu nasional kepada Mongabay Indonesia, Jumat (17/4/26). Menurut Bintoro, banyak keunggulan sagu dibandingkan sumber makanan lain. Sagu mempunyai pati resistence tinggi. Kalori energi yang tidak dipakai, tidak akan disimpan dalam bentuk lemak, melainkan langsung dibuang sekaligus dalam bentuk kotoran, sehingga tidak membuat gemuk. “Sagu juga tidak ditanam seperti tanaman lainnya, karena sangat banyak tumbuh di Indonesia, terutama di Papua dan Maluku.” Sagu merupakan sumber kedaulatan pangan Indonesia yang potensinya dapat dikembangkan. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia. Bintoro menambahkan, Indonesia memiliki 85% lahan sagu dunia yang sebagian besar berada di Papua. Di dalam hutan sagu juga, habitat satwa liar tetap terjaga. “Ini bisa dibandingkan dengan area perkebunan lain atau persawahan, yang bisa menghilangkan satwa liar,” jelasnya lagi. Taufik HIdayat, Kepala Pusat Riset Agroindustri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menuturkan sagu merupakan komoditas lokal Indonesia dengan potensi besar sebagai pangan dan bahan baku industri non-pangan, seperti biomaterial dan farmasi. “Pengembangan hilirisasi sagu perlu didukung riset, inovasi, kemitraan strategis, dan kolaborasi agar menjadi agroindustri berdaya saing tinggi,” jelasnya, dikutip dari situs BRIN, edisi 31 Mei 2025. Sagu dapat diolah menjadi tepung, mie, hingga beras sagu. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia. Dikutip dari Pantau Gambut, sagu memiliki potensi agronomis karena pohonnya dapat tumbuh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/sagu-simbol-kedaulatan-pangan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jaguarundi, Kucing Liar Yang Mirip Berang-berang, Punya 13 Suara Berbeda</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 08:27:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22002015/8974533993_01cb18699d_h-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129586</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara ratusan spesies kucing liar yang pernah tercatat di muka bumi, jaguarundi adalah salah satu yang paling sulit untuk dikenali, bahkan oleh mereka yang sudah terbiasa dengan satwa liar. Ia tidak memiliki totol seperti ocelot, tidak memanjat pohon dengan anggun seperti margay, dan tidak terancam punah seperti harimau yang selalu muncul di poster kampanye [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/">Jaguarundi, Kucing Liar Yang Mirip Berang-berang, Punya 13 Suara Berbeda</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara ratusan spesies kucing liar yang pernah tercatat di muka bumi, jaguarundi adalah salah satu yang paling sulit untuk dikenali, bahkan oleh mereka yang sudah terbiasa dengan satwa liar. Ia tidak memiliki totol seperti ocelot, tidak memanjat pohon dengan anggun seperti margay, dan tidak terancam punah seperti harimau yang selalu muncul di poster kampanye konservasi. Dengan tubuh memanjang, kepala pipih, telinga bulat kecil, dan bulu polos tanpa satu pun tanda, sebagian orang mengatakan ia lebih mirip berang-berang daripada kucing. Dan tidak seperti kebanyakan kucing liar, ia mampu mengeluarkan sedikitnya 13 suara berbeda, mulai dari siulan, kicauan seperti burung, hingga dengkuran, sebuah repertoar vokal yang tidak tertandingi di antara seluruh famili kucing. Jaguarundi (Herpailurus yagouaroundi) juga bukan kerabat jaguar meski namanya terdengar demikian, melainkan lebih dekat dengan puma, dengan garis keturunan yang diperkirakan berpisah 4-7 juta tahun silam. Ia aktif di siang hari, bukan malam, sesuatu yang tidak lazim untuk kucing liar. Dan ia adalah felid kecil yang paling tersebar luas di seluruh belahan bumi barat, dengan distribusi yang hanya kalah dari puma di antara seluruh karnivora Amerika. Lalu mengapa kita hampir tidak tahu apa-apa tentangnya? Punah di AS, Tak Terlihat di Mana-mana Pada 2025, jaguarundi resmi dinyatakan punah di Texas, AS. Individu terakhir yang tercatat di AS adalah seekor jaguarundi yang mati tertabrak kendaraan di dekat Brownsville, Texas, pada 1986. Hampir empat dekade tanpa satu pun penampakan yang terdokumentasi. Para peneliti dari Caesar Kleberg Wildlife Research Institute di Texas A&amp;M University menghabiskan 18 tahun memasang kamera di 685 titik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/jaguarundi-kucing-liar-yang-mirip-berang-berang-punya-13-suara-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino Godzilla Berisiko Perburuk Polusi Udara Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 05:00:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/03/22064833/jakarta-NIIIIIII-20190305_091848-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129544</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, ekonomi dan bisnis, pencemaran, sains dan Teknologi, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tiap hari, Junaedi bekerja sebagai penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur. Sapu, topi caping, sarung tangan dan masker kain menjadi bekal hariannya untuk melindungi diri dari debu dan polusi kendaraan yang padat. Dia menjadi satu dari banyak kelompok rentan di Jakarta yang terpapar polusi udara karena pekerjaannya. “Kalau batuk sering, paling minum obat warung,” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/">El Nino Godzilla Berisiko Perburuk Polusi Udara Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tiap hari, Junaedi bekerja sebagai penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur. Sapu, topi caping, sarung tangan dan masker kain menjadi bekal hariannya untuk melindungi diri dari debu dan polusi kendaraan yang padat. Dia menjadi satu dari banyak kelompok rentan di Jakarta yang terpapar polusi udara karena pekerjaannya. “Kalau batuk sering, paling minum obat warung,” kata Junaedi ditemui saat bekerja Sabtu, (9/6/26). Hal yang sama juga dirasakan Yatno, juga petugas pasukan Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU)  Jakarta. Dia sering mengalami gangguan pernapasan ketika bekerja harian di jalan sebagai penyapu jalanan. Baik Junaedi dan Yatno, mengatakan, mereka kerap kali merasakan intensitas penyakit batuk saat musim kemarau. Meski begitu, mereka tak pernah memeriksakan penyakitnya, obat warung menjadi andalan. Gaji Yatno, biasa untuk kebutuhan sehari-hari, sementara itu mereka tak pernah mendapatkan akses pemeriksaan rutin soal kesehatannya. Pengendara menggunakan masker sebagai upaya mitigasi agar tidak terpapar polusi. Hingga kini, polusi udara masih menjadi masalah yang belum terselesaikan di DKI Jakarta. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Junaedi dan Yatno, hanya dua dari jutaan warga Jakarta yang terdampak polusi udara Jakarta. Pencemaran udatra di ibukota negara Indonesia ini seakan jadi keseharian. Udara segar dan aman jadi barang langka bagi warga Jakarta. Perkiraan kemarau panjang atau El-Nino Godzilla tahun ini berisiko membuat kondisi udara Jakarta lebih buruk lagi. Berdasarkan data Stasiun Pemantau Kualitas Udara DKI04 Lubang Buaya, Jakarta Timur menyebutkan, rata-rata indeks kualitas udara PM2.5 pada Sabtu (6/6/26) menyentuh angka 125,25 dengan indikator tidak sehat. Sejak awal Juni, berdasarkan analisa data IQAir di Jakarta, Indonesia masuk dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/el-nino-godzilla-berisiko-perburuk-polusi-udara-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Risiko Transisi Energi Ketika Bersumber dari Ekstraksi Mineral Kritis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 03:26:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/11/22010316/kawasi-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129578</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Transisi energi global menuju target dekarbonisasi total kerap digadang-gadang sebagai solusi penyelamat krisis iklim. Di balik narasi hijau itu, permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, nikel, tembaga, dan kobalt menciptakan banyak masalah di lapangan dan mengancam target pembatasan suhu global 1,5 derajat Celcius sesuai Kesepakatan Paris. &#8220;Jadi,  transisi energi dalam implementasinya ternyata tidak benar-benar mentransmisikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/">Risiko Transisi Energi Ketika Bersumber dari Ekstraksi Mineral Kritis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Transisi energi global menuju target dekarbonisasi total kerap digadang-gadang sebagai solusi penyelamat krisis iklim. Di balik narasi hijau itu, permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, nikel, tembaga, dan kobalt menciptakan banyak masalah di lapangan dan mengancam target pembatasan suhu global 1,5 derajat Celcius sesuai Kesepakatan Paris. &#8220;Jadi,  transisi energi dalam implementasinya ternyata tidak benar-benar mentransmisikan energi,” kata Astuti N. Kilwauw, Direktur Eksekutif Walhi Maluku Utara dalam peluncuran riset kolaborasi Greenpeace dengan Universitas Teknologi Sydney, Jakarta, Mei lalu. Di sektor nikel misal, menjadi primadona global untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan. Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel global melonjak signifikan. Dalam enam tahun ini, pada 2020, produksi nikel global 2,50 juta ton, meningkat menjadi 3,90 juta ton pada 2025. Kelompok Studi Nikel Internasional International Nickel Study Group (INSG) memperkirakan, produksi meningkat jadi 4,08 juta ton di 2026. Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global dengan cadangan bijih nikel mencapai 5,9 miliar ton dan logam nikel 62 juta ton, terbesar di dunia. Deposit nikel Indonesia terkonsentrasi di Maluku dan Sulawesi. Narasi pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat dalam hilirisasi nikel tak sejalan dengan kenyataan. Alih-alih menjaga bumi dari krisis iklim, pertambangan dan industri nikel justru menyebabkan deforestasi, merusak biodiversitas, memicu bencana ekologis, merampas ruang hidup masyarakat hingga menciptakan kemiskinan struktural. Satu contoh masyarakat Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Tambang dan kawasan industri nikel Harita di pulau ini membuat masyarakat harus hidup dalam jurang ekonomi. Hutan sagu yang menjadi lumbung pangan mereka tergusur sampai laut tercemar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/23/risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dijuluki Burung Paling Berbahaya di Dunia, Burung Ini Justru Terancam Punah oleh Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 02:55:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/01/22065750/kaki-kasuari.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129577</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cakarnya sepanjang 10 sentimeter, tajam seperti pedang, dan bisa merobek kulit serta daging dalam satu tendangan. Tingginya mencapai 1,5 meter, beratnya hingga 75 kilogram, dan lehernya berwarna biru cerah dengan gelambir merah yang mencolok. Di atas kepalanya terdapat helm keras dari keratin yang fungsinya belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan. Kasuari Selatan (Casuarius casuarius) adalah burung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/">Dijuluki Burung Paling Berbahaya di Dunia, Burung Ini Justru Terancam Punah oleh Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cakarnya sepanjang 10 sentimeter, tajam seperti pedang, dan bisa merobek kulit serta daging dalam satu tendangan. Tingginya mencapai 1,5 meter, beratnya hingga 75 kilogram, dan lehernya berwarna biru cerah dengan gelambir merah yang mencolok. Di atas kepalanya terdapat helm keras dari keratin yang fungsinya belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan. Kasuari Selatan (Casuarius casuarius) adalah burung yang oleh banyak ahli disebut sebagai yang paling berbahaya di dunia. Tapi ancaman terbesar bagi burung ini bukan datang dari predator. Ia datang dari manusia. Di Australia, populasi kasuari Selatan kini diperkirakan tinggal kurang dari 5.000 individu dan masuk dalam daftar spesies terancam punah. Deforestasi untuk pertanian, perkebunan, dan permukiman telah memecah hutan hujan tropis yang dulunya luas menjadi petak-petak kecil yang terisolasi. Fragmentasi ini menghambat pergerakan kasuari untuk mencari makan dan pasangan, serta memutus konektivitas genetik antar populasi. Jalan raya menjadi ancaman tersendiri. Kasuari dewasa sering tertabrak kendaraan saat menyeberangi jalan yang kini membelah habitat mereka. Anak-anak kasuari yang belum berpengalaman lebih rentan lagi. Anjing domestik dan liar juga kerap menyerang, terutama anakan yang belum mampu mempertahankan diri. Beberapa tahun lalu, seorang pria berusia 75 tahun di Florida meninggal akibat diserang kasuari yang ia pelihara sendiri di propertinya, sebuah pengingat bahwa bahaya itu bekerja dua arah. Ironisnya, di balik reputasinya yang menakutkan, kasuari Selatan adalah salah satu penyebar biji paling penting di hutan hujan. Ia mampu menelan buah berukuran besar dan biji keras tanpa merusaknya, lalu mengeluarkannya bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induk. Proses yang disebut endozoochory ini membantu regenerasi hutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dijuluki-burung-paling-berbahaya-di-dunia-burung-ini-justru-terancam-punah-oleh-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penyakit Darah Pisang Menyebar di Flores, dan Petani Sudah Kehabisan Cara Menghentikannya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jun 2026 00:53:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/19152034/Buah-pisang-kena-penyakit-darah-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129576</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lusia Pince, petani pisang di Dusun Hoba, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, sudah melihat terlalu banyak pohon pisang kepok ditebang dalam setahun terakhir. &#8220;Sejak tahun lalu, banyak pisang terjangkit dan ditebang. Hanya satu atau dua pohon saja yang buahnya bagus,&#8221; katanya. Sebagian petani di sekitarnya sudah menyerah dan beralih ke jagung. Yang tersisa di pasar, harganya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/">Penyakit Darah Pisang Menyebar di Flores, dan Petani Sudah Kehabisan Cara Menghentikannya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lusia Pince, petani pisang di Dusun Hoba, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, sudah melihat terlalu banyak pohon pisang kepok ditebang dalam setahun terakhir. &#8220;Sejak tahun lalu, banyak pisang terjangkit dan ditebang. Hanya satu atau dua pohon saja yang buahnya bagus,&#8221; katanya. Sebagian petani di sekitarnya sudah menyerah dan beralih ke jagung. Yang tersisa di pasar, harganya melonjak. Sebelumnya satu tandan pisang kepok dihargai Rp25.000 hingga Rp35.000 di tingkat petani. Kini bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp100.000. Di Pasar Alok Maumere, pedagang sudah menjual satu tandan hingga Rp150.000 hingga Rp200.000. Ini adalah wabah penyakit darah pisang, dan ia sedang bergerak cepat. Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan betapa cepatnya penyebaran itu. Pada April 2024, serangan baru mencakup 25,62 hektar dari total 1.348 hektar lahan pisang di kabupaten ini. Setahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 366,62 hektar dari total lahan yang kini menyusut menjadi 1.142 hektar. Area yang berhasil dikendalikan hanya 57,46 hektar, atau sekitar 15 persen dari yang terserang. Produksi pisang Sikka sendiri sudah anjlok drastis: dari 823.132 kuintal pada 2020 menjadi hanya 125.892 kuintal pada 2024. Penyebabnya adalah bakteri Ralstonia syzygii subsp. celebesensis (Rsc), yang menyerang sistem pembuluh xilem pohon pisang. Henderikus Darwin Beja, Dekan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Nusa Nipa Maumere, menjelaskan bahwa bakteri ini memblokir aliran air dan nutrisi di dalam tanaman, memunculkan gejala layu dan pembusukan internal yang tampak seperti darah kehitaman di dalam buah. &#8220;Rsc memblokir aliran air dan nutrisi, sehingga muncul gejala layu dan pembusukan internal,&#8221; ujarnya. Penyebarannya lebih kompleks dari yang dibayangkan. Bakteri ini tidak hanya menular&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/penyakit-darah-pisang-menyebar-di-flores-dan-petani-sudah-kehabisan-cara-menghentikannya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Flores Perlu Kembangkan Sorgum Sebagai Bahan Pangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jun 2026 12:13:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/22120220/3C_sorgum-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129547</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, nusa tenggara, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Siprianus Belawa Kolah tengah memotong batang sorgum di lahannya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT. Kebun seluas satu hektar itu, berada sekitar 20 meter dari laut. “Biasanya, Mei tidak hujan tapi sekarang ini masih lebat,” ucapnya kepada Mongabay Indonesia di kebunnya, Selasa (19/5/2026). Dia baru menanam sorgum pada Januari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/">Flores Perlu Kembangkan Sorgum Sebagai Bahan Pangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Siprianus Belawa Kolah tengah memotong batang sorgum di lahannya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT. Kebun seluas satu hektar itu, berada sekitar 20 meter dari laut. “Biasanya, Mei tidak hujan tapi sekarang ini masih lebat,” ucapnya kepada Mongabay Indonesia di kebunnya, Selasa (19/5/2026). Dia baru menanam sorgum pada Januari karena musim hujan terlambat. Untuk tumbuh bagus, satu lubang maksimal ditanam empat benih sorgum dengan jarak tanam 40&#215;20 cm. Penanaman baiknya dilakukan saat hujan turun menerus. Bila setelah dua hari ditanam tidak ada hujan, maka benih sorgum akan dimakan belalang dan semut. Jika ditanam ulang, bulirnya tidak akan besar. “Bila tumbuh empat daun, artinya panen akan berhasil,” ucapnya. Siprianus menanam sorgum sejak 2017, sepulang dari Malaysia. Di lahan itu juga, ditanami jagung dan padi. Pemasukannya saat panen sekitar Rp10 juta. “Uang dari sorgum untuk kebutuhan lainnya, sementara hasil padi dan jagung untuk harian.  Selepas panen, kami mancing untuk penghasilan tambahan,” ucapnya. Siprianus Belawa Kolah sedang penen sorgum di kebunnya di Likotuden, Desa Kawalelo, Flores Timur, NTT. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Bonifasius Soge Kolah, anggota kelompok petani sorgum Likotuden Herin Lela, menyatakan masyarakat mulai menanam sorgum sejak 2015. “Tahun ini, kami menanam agak terlambat,” jelasnya, Selasa (19/5/2026). Luas lahan sorgum di Likotuden sekitar 26 hektar yang dikembangkan 40 petani. Tahun 2025, hasil panen mencapai sekitar 32 ton dan 2026 diprediksi 35-40 ton. Sorgum yang dijual gelondongan tanpa dirontok atau disosoh, dihargai Rp9 ribu per kilogram. “Lahan saya satu hektar lebih. Tahun lalu produksi 1,8 ton,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/22/flores-perlu-kembangkan-sorgum-sebagai-bahan-pangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Proses Hukum Lamban, Buruh Sawit Korban Pemerkosaan Lapor Komnas HAM</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jun 2026 04:29:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/22054743/Sawit-perkosa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129531</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, EZ berangkat dari rumah menumpang mobil jemputan perusahaan. Perempuan 19 tahun ini bekerja sebagai buruh harian lepas perkebunan sawit PT Usaha Sawit Unggul (USU) di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Hari itu, Rabu, (12/11/25), berjalan seperti biasa, EZ menyemprot pestisida di areal kerja. Sekitar pukul 10.00 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/">Proses Hukum Lamban, Buruh Sawit Korban Pemerkosaan Lapor Komnas HAM</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, EZ berangkat dari rumah menumpang mobil jemputan perusahaan. Perempuan 19 tahun ini bekerja sebagai buruh harian lepas perkebunan sawit PT Usaha Sawit Unggul (USU) di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Hari itu, Rabu, (12/11/25), berjalan seperti biasa, EZ menyemprot pestisida di areal kerja. Sekitar pukul 10.00 WIB, seseorang datang dari arah belakang. Dia menutup wajah EZ, merebut alat semprot, dan mendorong tubuh EZ hingga jatuh telentang di tanah. Kedua tangan EZ diikat ke belakang. Dalam kondisi tak berdaya, perempuan disabilitas tuli ini diperkosa oleh rekan sesama pekerja kebun sawit. Si pelaku yang mengenakan penutup wajah dan berbaju biru, kabur dengan mengendarai motor. EZ ditemukan rekan kerjanya sedang duduk menangis dengan badan lemas pada saat jam makan siang. Dia lalu dibawa ke rumah. EZ menceritakan pemerkosaan itu kepada ibunya. Para buruh sawit perempuan rentan alami perkosaan ketika sedang bekerja di kebun. Perusahaan harus mempunya ketentuan ketat soal kekerasan terhadap perempuan di tempat kerja ini.  Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia Proses hukum lamban Dua hari pasca peristiwa, korban didampingi Federasi Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (F-Serbundo) melaporkan kasus ke Polres Mandailing Natal. Jhohan Kabera Hasibuan, pendamping hukum korban dari F-Serbundo mengatakan, proses hukum di polres berjalan lambat. “Polisi ini tidak bisa memahami situasi korban. Karena tidak ada saksi dan tidak ada bukti kuat, menurut polisi, mereka tidak bisa mentersangkakan pelaku,” katanya saat konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Rabu, (17/6/26). Dia menegaskan, kasus kekerasan seksual tidak perlu banyak bukti, cukup dengan kesaksian si&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/22/proses-hukum-lamban-buruh-sawit-korban-pemerkosaan-lapor-komnas-ham/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>3 Tahun Penjara, Vonis Hakim untuk Penyelundup Satwa Liar Dilindungi di Aceh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 13:18:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/03100425/Satwa-yang-disita-oleh-tim-gabungan_Foto-Dokumen-Bea-Cukai-Langsa-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129526</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Perdagangan Satwa Tetap Marak]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan Indoesia, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengadilan Negeri Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Aceh memvonis tiga tahun penjara kepada Agussalim, terdakwa penyelundup satwa liar dilindungi, di Aceh Timur, dalam persidangan Rabu (17/6/26). Dalam perkara Nomor 73/Pid.Sus-LH/2026/PN Idi, Dikdik Haryadi, Ketua Majelis Hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana mengangkut satwa dilindungi hidup maupun mati. “Perbuatan terdakwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/">3 Tahun Penjara, Vonis Hakim untuk Penyelundup Satwa Liar Dilindungi di Aceh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengadilan Negeri Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Aceh memvonis tiga tahun penjara kepada Agussalim, terdakwa penyelundup satwa liar dilindungi, di Aceh Timur, dalam persidangan Rabu (17/6/26). Dalam perkara Nomor 73/Pid.Sus-LH/2026/PN Idi, Dikdik Haryadi, Ketua Majelis Hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana mengangkut satwa dilindungi hidup maupun mati. “Perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur pelanggaran UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.” Majelis hakim menjatuhkan pidana penjara dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi terdakwa, barang bukti yang diajukan di persidangan, serta peran dan keuntungan yang diperoleh dalam perkara tersebut. Satwa yang dibawa terdakwa berasal dari Sumatera, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Keragaman jenis satwa menunjukkan adanya indikasi jaringan perdagangan terorganisir yang beroperasi lintas pulau. Barang bukti yang diamankan berupa simpai surili atau lutung sumatera (3 individu), orangutan sumatera betina (1 individu), nuri bayan (4 individu), burung paruh panjang kepala biru metalik (3 individu), enggang papan (5 individu), beo (3 individu), cendrawasih (3 individu), jalak (1 individu), parkit mini (12 individu), parkit jumbo (1 individu), dan parkit (17 individu). Berikutnya, kelelawar albino (4 individu), burung kakatua maluku (4 individu), kakatua jambul kuning (2 individu), Melanesian megapode (2 individu), serta 2 kotak kecil berisi ular, 5 kerangka tengkorak hewan bertaring, serta 30 koli belangkas beku. Agussalim merupakan warga Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, yang terlibat pengangkutan dan pernyelundupan satwa liar dilindungi. Dia ditangkap saat mengemudikan mobil pick up Isuzu Traga di Desa Pante Bayam, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/3-tahun-penjara-vonis-hakim-untuk-penyelundup-satwa-liar-dilindungi-di-aceh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Masyarakat Bali Lestarikan Bambu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 08:01:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/11/22091752/Pengunjung-memotret-hutan-bambu-di-Desa-Penglipuran-Bangli-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129499</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan komunita lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai lokasi terlihat porak-poranda setelah banjir bandang menerjang Kota Denpasar, Bali menjelang akhir 2025. Dari jejak sampah yang tersangkut di pohon, tinggi genangan mencapai 3-5 meter di atas permukaan sungai. Puluhan rumah roboh, talud beton ambrol, dan belasan orang meninggal dunia. Di tengah kerusakan itu, ada satu vegetasi yang tetap bertahan: rumpun bambu. Ketangguhan bambu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/">Cerita Masyarakat Bali Lestarikan Bambu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai lokasi terlihat porak-poranda setelah banjir bandang menerjang Kota Denpasar, Bali menjelang akhir 2025. Dari jejak sampah yang tersangkut di pohon, tinggi genangan mencapai 3-5 meter di atas permukaan sungai. Puluhan rumah roboh, talud beton ambrol, dan belasan orang meninggal dunia. Di tengah kerusakan itu, ada satu vegetasi yang tetap bertahan: rumpun bambu. Ketangguhan bambu dalam menghadapi bencana bukanlah kebetulan. Selain mampu menyimpan cadangan air hingga sekitar 3.500 liter dalam satu rumpun, sistem perakaran bambu yang rapat juga efektif menahan tanah di sempadan sungai sehingga mengurangi risiko erosi dan longsor. Cerita bambu dalam menjaga ketersedian air juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan. Dua dekade lalu, sebagian warga desa itu harus membeli air lantaran sumber-sumber air mengering. Hingga pada 2004, warga berinisiatif menanam bambu di kawasan perbukitan dan lahan-lahan kritis. Upaya itu  terus berlanjut hingga membentuk hutan bambu seluas sekitar 100 hektar dengan lebih dari 50 jenis bambu. Setelah lebih 20 tahun, warga mulai merasakan hasilnya. Mata air kembali mengalir dan menyuplai kebutuhan masyarakat, tidak hanya di Desa Sandan  juga wilayah hilir di sekitarnya. Untuk menjaga keberlanjutan hutan bambu, masyarakat  menerapkan aturan adat atau awig-awig yang melarang penebangan bambu tanpa persetujuan komunitas. Pameran produk olahan bambu di Festival Bambu Samsara, Bali. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia. *** Dalam kehidupan masyarakat Bali, bambu hampir selalu hadir dalam berbagai ritual dan tradisi. Ironisnya, makin sedikit generasi muda yang memahami peran bambu sebagai penjaga sumber air, bahan kerajinan, elemen seni pertunjukan, hingga bagian penting dari identitas budaya masyarakat. Persoalan inilah yang menjadi salah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>