- Aceh Besar terancam mengalami krisis air bersih akibat penurunan fungsi dari Karst Mata Ie dan Lhoknga. Di kawasan Karst Mata Ie, kekeringan terjadi untuk pertama kalinya pada tahun 2017. Sejak saat itu, kekeringan terus terjadi hampir tiap tahun.
- Ancaman berkurangnya volume air di kawasan karst sebenarnya telah lebih dulu dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar Karst Lhoknga. Kawasan yang berjarak sekitar 17–18 kilometer dari Mata Ie ini merupakan salah satu bentang karst yang penting di Aceh Besar.
- Dalam kurun belasan tahun terakhir, desa-desa seperti Naga Umbang dan Deah Mamplam, Kecamatan Lhoknga, berulang kali mengalami kekeringan terutama saat musim kemarau. Kondisi tersebut diduga karena menurunnya kemampuan ekosistem karst dalam menyimpan cadangan air.
- Penurunan fungsi karst tidak hanya berdampak pada krisis air, tetapi juga meningkatkan beban domestik perempuan dan memicu konflik antarwarga.
Tangan Rahmayani, warga Desa Geundring, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, cekatan mengucek dan membilas satu per satu pakaian yang tertumpuk pada area khusus mencuci di Wisata Kolam Pemandian Mata Ie. Sejak 2013, tiap pagi, perempuan 35 tahun ini rutin datang untuk keperluan rumah tangga. Jarak rumah pun tak jauh.
“Lumayan, hemat air dan biaya di rumah,” katanya Kamis (4/6/26).
Aliran air di wisata ini ini bersumber dari kawasan karst Mata Ie. Karst ini menjadi salah satu kawasan karst penting di Aceh karena menyimpan cadangan air bawah tanah melimpah untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi sebagian warga di Aceh Besar.
Selain kolam pemandian dan area khusus mencuci, terdapat water treatment plant (WTP) PDAM Tirta Mountala yang menyuplai air bersih ke Kecamatan Darul Imarah, Darul Kamal, dan Peukan Bada, hingga desa-desa di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Data dari PDAM, ada 14.234 pelanggan yang menggantungkan air bersih dari Karst Mata Ie.
Namun, kecukupan air yang melimpah itu kini tinggal cerita seiring menyusutnya debit air. Pada tahun 2017, Mata Ie kering total untuk pertama kalinya. Sejak itu, kata Rahmayani, kekeringan terus terjadi hampir tiap tahun.
“Kalau kemarau seminggu saja, air langsung surut drastis,” katanya.

Penurunan debit ini membawa dampak buruk bagi lingkungan dan warga. Saat kekeringan, air yang keluar dari celah batuan karst menyusut dan tidak jernih. Malahan beraroma tak sedap dan akan membaik setelah hujan lebat di wilayah hulu.
Pada saat sama, PDAM juga akan membatasi suplai ke rumah warga. Air akan mati total atau mengalir kecil saat tengah malam. Situasi ini membuat para perempuan terkena dampak paling parah dan beban justru bertambah.
“Kami sudah biasa begadang buat tampung air kalau musim kemarau panjang, terus harus hemat juga menggunakan air. Pakai baju terpaksa sehari satu aja sebab kalau mau nyuci harus dikit-dikit karena airnya tidak cukup,” katanya.
Ani, warga Lambheu, Kecamatan Darul Imarah, bahkan pernah membeli air dari mobil tangki kala kekeringan Mata Ie berulang di 2024. Saat itu, selama dua hari air dari keran tidak kunjung keluar. Air yang ditampung ke dalam bak tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan tujuh orang di rumahnya.
“Untuk pertama kalinya, saya membeli air dari mobil tangki. Saat itu, saya ingat beli 1 mobil tangki dengan harga Rp300.000 untuk mengisi tiga bak di rumah,” katanya, Kamis (4/6/26).

Menurut Abdillah Imron Nasution, Ketua Karst Aceh, Karst Mata Ie memang tidak lebih luas jika dibandingkan Karst Lhoknga, Karst Aceh Utara, Karst Aceh Tamiang, ataupun Karst Aceh Selatan, tetapi suplai air bersihnya sudah menghidupi warga sekitar selama lebih 50 tahun tanpa ada masalah.
Ancaman krisis air yang kini membayangi Aceh Besar nyatanya bukan tanpa peringatan. Abdillah juga ahli speleologi–ilmu tentang gua– dari Universitas Syiah Kuala (USK), pada 2008, sudah memprediksi Mata Ie akan kering dalam 10 tahun ke depan. Prediksinya ternyata meleset setahun lebih cepat.
“Pasca-2017, baru kering, itu sudah kita ingatkan juga pada 2008 melalui diskusi, publikasi ke media lokal, dan sudah kita berikan solusinya seperti apa. Cuma ya itu, butuh peran semua pihak kan,” katanya, Selasa (19/5/26).

Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Krisis air di kawasan Karst Lhoknga
Ancaman berkurangnya volume air di kawasan karst sebenarnya lebih dulu masyarakat yang tinggal di sekitar Karst Lhoknga, rasakan. Kawasan yang berjarak sekitar 17–18 kilometer dari Mata Ie ini salah satu bentang karst utama di Aceh Besar.
Dalam belasan tahun terakhir, desa-desa seperti Naga Umbang dan Deah Mamplam berulang kali mengalami kekeringan terutama saat kemarau. Dugaannya, karena penurunan kemampuan ekosistem karst dalam menyimpan cadangan air.
Yeni Hartini, Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan (SP) Aceh juga warga Naga Umbang bilang, saat ini, sumur galian warga langsung kering jika tidak hujan selama sebulan. Sebelumnya, air tak pernah surut. Kualitas air sumur juga ikut terganggu.
“Beberapa sumur warga kondisinya berminyak, berwarna kuning, dan keruh, sehingga sebenarnya tidak layak digunakan,” katanya, Jumat (22/5/26).
Warga Naga Umbang juga perlu menggali lebih dalam akibat berkurangnya debit air. Dahulu, masyarakat dapat langsung menemukan air dengan delapan cincin sumur. Saat ini, masyarakat harus menggali lebih dalam 10-16 cincin.
“Itu pun belum tentu dapat airnya,” katanya.

Kekeringan di Desa Naga Umbang, kata Yeni, pertama kali terjadi 2012. Sejak saat itu, krisis air bersih terus dirasakan. Pada 2018, kekeringan parah pertama terjadi. Warga harus mengangkut air dari sumber-sumber air yang ada karena Mata Ie yang juga menjadi sumber air bersih bagi beberapa warga Naga Umbang juga mengering.
Kekeringan yang paling ekstrem dirasakan pada 2024. Saat itu, banyak warga di Aceh Besar terutama di Naga Umbang mengalami krisis air bersih berkepanjangan. Hampir seluruh sumber air kering, mereka hanya mengandalkan bantuan mobil tangki air dari pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat untuk mendapatkan air bersih.
Nurmiana, wargai Deah Mamplam, Kecamatan Lhoknga, yang desanya dekat dengan PT Solusi Bangun Andalas (SBA) , mengalami kekeringan yang terus berulang. PT SBA merupakan produsen semen yang menjadi anak perusahaan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk., di mana 83,25% sahamnya milik PT Semen Indonesia Tbk.
Dia bilang sumber air bersih warga yang berasal dari bendungan terdekat sering mengalami kekeringan ketika hujan tidak turun selama beberapa hari.
“Kalau sumur memang tidak bisa dimanfaatkan, hanya beberapa rumah salah satunya di rumah saya yang sumurnya berair. Di rumah saya aja sudah ada empat mesin sanyo karena di rumah yang lain kebanyakan ketika digali itu sumurnya berbatu,” katanya pada Senin (4/6/26).
Kondisi ini makin parah dengan mesin saluran penyuplai air dari bendungan terdekat rusak. Akibatnya, aliran air hanya bisa menyala tiap dua hari sekali dan hanya dua jam saja.
“Kalau mau bikin acara di rumah, misal kenduri kematian dan perkawinan, mau tidak mau harus membeli air,” katanya.
Selain memicu pembengkakan beban ekonomi, Nurmi juga bilang, krisis air di Deah Mamplam memicu konflik sosial antarwarga. Adu mulut karena saling rebutan air kerap terjadi saat warga yang mengalami kekeringan harus mengandalkan pasokan air dari mobil tangki bantuan.

Penyebab sumber air kian hilang
Baik Karst Mata Ie dan Lokhnga memiliki peran penting bagi kehidupan rumah tangga di Aceh Besar. Meski begitu, keduanya terus terancam aktivitas manusia dan kondisi alam.
Pada tahun 2008, Abdillah bersama peneliti dari Karst Aceh telah meninjau eksokarst (permukaan) dan endokarst (bawah permukaan seperti gua dan sungai bawah tanah) yang ada di kawasan ekosistem Karst Mata Ie. Mereka mengidentifikasi 12 gua di sana. Hasilnya, beberapa gua besar dalam kondisi rusak total.
“Indikasinya jelas, ornamen-ornamen gua banyak yang berjatuhan dan kondisinya kering. Ini akibat tingginya intensitas manusia yang masuk tanpa etika lingkungan. Bahkan, di Gua Landak, Mata Ie, kami menemukan galian setiap lima meter. Padahal, satu orang saja masuk ke dalam gua, menyumbang lebih dari 200% emisi karbon yang dapat merusak ekosistem.”
Mereka juga menemukan intervensi di permukaan (eksokarst) masif terjadi, seperti penambangan batu gamping dan pembangunan infrastruktur berupa beton.
Dampaknya, jika dulu aliran mata airnya mengalir sepanjang tahun (perennial), sejak 2017-2019 alirannya berubah menjadi intermittent (terputus-putus), dan saat ini kondisinya diperkirakan sudah menjadi periodik.
Kondisi kritis ini diperparah dengan hilangnya kemampuan karst dalam menahan air. Penelitian Abdillah menunjukkan bahwa volume air yang masuk ke sistem karst saat hujan sama persis dengan volume air yang langsung keluar.
“Artinya, tidak ada lagi air yang tersimpan di dalam batuan,” katanya.

Salman, Direktur Teknik PDAM Tirta Mountala, menjelaskan, sejak 2017 pasokan air bersih mulai terganggu akibat penurunan debit air. Dari kapasitas normal 140 liter per detik, kini menjadi 70-80 liter per detik. Bahkan, dalam kondisi kritis, kemampuan suplai merosot tajam menjadi 40%.
“Untuk daerah yang letaknya tinggi dan sulit dijangkau seperti Naga Umbang di Kecamatan Lhoknga, ketika debit air sedang rendah, PDAM tidak bisa menyuplai sampai ke sana,” katanya, Senin (25/5/26).
Dia juga bilang, kondisi Mata Ie saat ini tidak bisa lagi jadi andalan sebagai sumber air baku karena penurunan debit air yang terjadi terutama semakin parah saat musim kemarau. Sebagai gantinya, PDAM sedang mengusulkan pembangunan pengolahan air di Brayeung, Kecamatan Leupung, Aceh Besar.
Yeni Hartini dari Solidaritas Perempuan (SP) Aceh juga menduga krisis air dan kekeringan sumur dari karst Lhoknga terjadi akibat penambangan batu gamping oleh SBA yang terus melakukan perluasan ekspansi hingga sangat dekat dengan permukiman warga.
“Ada kuari dua berada sangat dekat dengan desa, saat mereka melakukan aktivitas blasting, itu getarannya terasa sampai desa bahkan menyebabkan sumur-sumur ambles termasuk di rumah saya. Tahun 2019, bahkan ada sekitar 36 rumah mengalami keretakan,” katanya.

Abdillah mengatakan, terdapat sembilan gua di Naga Umbang, lima merupakan gua berair. Ada dua gua dalam kawasan site plan SBA dan telah direkomendasikan kepada perusahaan agar tidak melakukan penambangan dalam radius 200 meter dari gua sebagai bagian dari upaya pengelolaan keanekaragaman hayati (biodiversity management).
Dia tidak langsung menyimpulkan bahwa aktivitas perusahaan menjadi penyebab berkurangnya cadangan air bawah tanah. Setiap intervensi di kawasan karst, katanya, dapat memengaruhi keberlangsungan keseimbangan ekosistem karst.
Adi Handarbeni, Quarry Manager SBA, mengatakan, hanya ada satu gua yakni Gua Wueng Dalam yang terdapat di lokasi tambang. Kondisi gua masih utuh, tetapi tidak aktif. Perusahaan pun berkomitmen tidak menambang di kawasan gua itu.
“Perusahaan senantiasa menjaga keutuhan serta kealamian gua tersebut,” katanya, Selasa (17/6/26).
Dia juga mengatakan, kekeringan di desa sekitar pabrik tidak ada kaitan dengan aktivitas perusahaan. Dia menyebutkan, kajian pada 2007–2021 menunjukkan bahwa zona resapan air di Desa Naga Umbang berbeda dengan perusahaan.
“Hingga saat ini, perusahaan terus mengoptimalkan air hasil tadah hujan untuk kebutuhan operasi pabrik,” katanya.

Harapan terakhir, jaga Karst Pucok Krueng
Di tengah krisis air makin sering terjadi di Aceh Besar, Karst Pucok Krueng di Desa Mon Ikeun menjadi harapan karena menjadi salah satu bentang karst yang masih menyimpan fungsi hidrologis penting.
“Pucok Krueng ini sangat potensial untuk didorong menjadi Kawasan Bentang Alam Karst,” kata Abdillah.
Teuku Mukhlis, Penyelidik Bumi di Dinas Sumber Daya Energi dan Mineral Aceh, juga bilang, saat ini hanya Karst Pucok Krueng di Desa Mon Ikeun masih menunjukkan volume air relatif stabil. Kondisi ini, berbeda dengan hampir seluruh kawasan karst di Aceh Besar lainnya yang telah mengalami penurunan debit air dalam beberapa tahun terakhir.
Dia menjelaskan, berkurangnya volume air di Aceh Besar berkaitan dengan karakteristik batuan gamping yang tergolong tua, dengan usia pembentukan diperkirakan mencapai 200-250 juta tahun.
Di Aceh Besar, batuan gamping didominasi oleh rekahan-rekahan kecil yang bersifat mengalirkan air, tetapi tidak menyimpan air (bukan merupakan lapisan akuifer yang ideal).

Selain itu, katanya, intervensi manusia seperti aktivitas galian C dan penebangan pohon di atas batuan gamping juga menjadi penyebab karena dapat memutus atau mengubah jalur aliran air bersih di bawahnya dalam jangka waktu cepat.
Menyikapi ancaman itu, mereka mengambil langkah penyelamatan kawasan penangkap air ini. Sejak Februari 2025, Dinas ESDM Aceh bersama Badan Geologi melakukan inventarisasi sebaran batu gamping di Kabupaten Aceh Besar untuk memetakan area mana saja yang memenuhi kriteria untuk masuk KBAK.
Hasil inventarisasi sementara, tim menemukan bahwa sebaran batu gamping di Aceh Besar merupakan salah satu yang terluas di Provinsi Aceh, membentang dari Kecamatan Darul Imarah, Peukan Bada, Lhoknga, Leupung, Lhoong, hingga tembus ke Kuta Malaka.
Dari beberapa blok yang diteliti, Karst Pucok Krueng masuk dalam kriteria KBAK sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 17/2012.
“Untuk penetapan KBAK perlu proses yang panjang, sejauh ini di Aceh baru Karst Tamiang yang masuk KBAK dan itu prosesnya memakan waktu hingga lima tahun,” katanya.
Terkait aktivitas penambangan di karst oleh SBA, Mukhlis bilang, pabrik semen lebih duluan beroperasi dibandingkan wacana penetapan KBAK ini hingga operasi tidak bisa langsung setop.
“Tetapi, kalau misal ada yang meminta izin penambangan batu gamping di kawasan karst, syaratnya saat ini ada penetapan KBAK dulu. Kalau misal tidak ada, maka harus menunggu sampai status KBAK sudah jelas,” katanya.
*****
Ketika Mata Air Mulai Mengering, Krisis Air Hantui Jawa dan Madura?