<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=petrus-riski-malang&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/petrus-riski-malang/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 22 Sep 2026 16:40:15 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>PTUN Jakarta Putuskan Data Izin Nikel Raja Ampat yang Kena Cabut Terbuka bagi Publik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 16:40:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230835/GP0SU5K08_Medium-res-1200px-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134039</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan Indonesaia, Kelautan perikanan, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Angin segar keterbukaan data pemerintah sedikit berhembus pada pertengahan September ini. Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada 14 September 2026, menguatkan keputusan Komisi Informasi tertanggal 10 Juni lalu soal keterbukaan dokumen pencabutan empat izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Raja Ampat. Dalam putusan PTUN Jakarta Nomor 242/G/KI/2026/PTUN.Jkt ini menegaskan kalau informasi empat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/">PTUN Jakarta Putuskan Data Izin Nikel Raja Ampat yang Kena Cabut Terbuka bagi Publik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Angin segar keterbukaan data pemerintah sedikit berhembus pada pertengahan September ini. Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada 14 September 2026, menguatkan keputusan Komisi Informasi tertanggal 10 Juni lalu soal keterbukaan dokumen pencabutan empat izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Raja Ampat. Dalam putusan PTUN Jakarta Nomor 242/G/KI/2026/PTUN.Jkt ini menegaskan kalau informasi empat IUP itu merupakan informasi publik alias bukan rahasia dan menolak keberatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Greenpeace Indonesia sebagai pengaju gugatan informasi menyatakan putusan itu menjadi kemenangan penting dalam sengketa informasi yang menelan waktu berbulan-bulan. Anggi Putra Prayoga, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia kepada Mongabay pada Senin (14/5/26) mengatakan, ada beberapa hal dalam putusan itu. Pertama, menolak keberatan dari BKPM. Kedua, menguatkan putusan Komisi Informasi Pusat. Ketiga, menghukum BKPM atau pemohon biaya perkara Rp419.000. “Bagi pihak yang tidak sependapat dengan putusan ini tetap dapat mengajukan upaya hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Anggi bilang, Greenpeace masih menunggu apakah BKPM akan mengajukan kasasi dalam tenggat waktu peraturan perundangan. Greenpeace menilai,  keputusan majelis hakim ini sudah sesuai keinginan publik.  “Segala sesuatu yang berkaitan dengan tata kelola  sumber daya alam seperti perizinan usaha harus transparan.” Karena itu,  berkaitan dengan dampak-dampak atau risiko-risiko yang akan atau mungkin timbul dari tata kelola itu, kalau tertutup khawatir Raja Ampat akan makin rusak. “Kemudian juga ada izin-izin baru yang mungkin akan terbit jika tidak dilakukan perubahan ke arah tata kelola yang lebih baik,” kata Anggi. Laguna Wayag, Raja Ampat, Papua Barat. Foto : Konservasi Indonesia Tanya dokumen pencabutan Sengkarut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan Makin Gerus Habitat Orangutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 12:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21040447/IMG-20260905-WA0001-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133956</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan kera besar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggerus habitat orangutan. Satwa langka dan dilindungi ini pun jadi korban, seperti  yang orangutan Sampurna, di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). “Kondisinya sangat parah. Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla,&#8221; kata ucap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/">Kebakaran Hutan Makin Gerus Habitat Orangutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggerus habitat orangutan. Satwa langka dan dilindungi ini pun jadi korban, seperti  yang orangutan Sampurna, di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). “Kondisinya sangat parah. Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla,&#8221; kata ucap Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari). Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum Yiari, dalam keterangan persnya, menyebut, karhutla tidak hanya menghancurkan habitat orangutan, tetapi menciptakan siklus konflik yang membebani masyarakat dan pemerintah. &#8220;Pembukaan lahan dengan cara membakar dan tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan,&#8221; katanya. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, katanya, orangutan kehilangan makanan, tempat tinggal, akhirnya terdorong masuk ke kebun warga. Sisi lain, masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat. &#8220;Artinya, orangutan dan masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat. Artinya orangutan dan masyarakat sama-sama jadi korban dari praktik yang sama.&#8221; Situasi ini, katanya, menimbulkan beban besar bagi negara. Baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat. Sementara itu, keterangan pers Kementerian Kehutanan menyebut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama Yiari sudah mengevakuasi 23 orangutan serta satwa liar lainnya yang terdiri atas sembilan trenggiling, tiga kukang, satu bekantan, satu musang, dan satu lutung kelabu. Tim juga tetap melakukan pemantauan satwa pada kawasan terbakar dan menyiagakan tim medis selama 24 jam. Kalimantan lautan api. Lahan gambut yang terbakar di daerah Kalimantan Selatan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Terus Berjalan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 10:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001415/Panas-bumi-Dieng--scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133794</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran kembali memicu penolakan warga. Melalui Surat Keputusan Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menugaskan PLN melanjutkan eksplorasi dan pengusahaan panas bumi di wilayah tersebut. Pemerintah menargetkan eksplorasi selesai pada 2029 dan pembangkit mulai beroperasi pada 2031. Pengeboran direncanakan mencapai kedalaman 1.900-2.200 meter untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/">Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Terus Berjalan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran kembali memicu penolakan warga. Melalui Surat Keputusan Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menugaskan PLN melanjutkan eksplorasi dan pengusahaan panas bumi di wilayah tersebut. Pemerintah menargetkan eksplorasi selesai pada 2029 dan pembangkit mulai beroperasi pada 2031. Pengeboran direncanakan mencapai kedalaman 1.900-2.200 meter untuk menemukan reservoir berisi air dan uap panas yang dapat digunakan sebagai sumber pembangkit listrik. Namun, bagi masyarakat sekitar Gunung Ungaran, rencana tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran lama. Penolakan telah berlangsung sejak kawasan itu ditetapkan sebagai wilayah kerja panas bumi pada 2007. Rahman, Koordinator Aliansi Semarang Menggugat, mengatakan kehidupan warga sangat bergantung pada mata air dan pertanian. Ia khawatir pengeboran panas bumi mengurangi debit air atau mencemarinya. “Kami sudah sejahtera dengan bertani. Kalau geothermal masuk, sumber air kami berkurang dan tercemar. Akibatnya, pertanian akan terganggu,” ujarnya. Warga juga mencemaskan kebocoran gas serta kemungkinan pengeboran memengaruhi sesar aktif. Menurut Rahman, proyek tersebut membuat kehidupan warga menjadi lebih rentan, meski selama ini mereka hidup aman dan nyaman. Kekhawatiran lain berkaitan dengan Kompleks Percandian Gedongsongo, yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional. Bagi masyarakat, kompleks tersebut bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari identitas budaya dan ruang spiritual yang harus dijaga. “Kawasan candi ini jadi identitas warga, bagian dari budaya kami yang mesti dilestarikan,” kata Rahman. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan siap menjembatani aspirasi masyarakat. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakan kegiatan energi yang bersinggungan dengan lingkungan dan permukiman harus memprioritaskan keselamatan, kelestarian alam, serta kesejahteraan warga. Selain&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Kondisi Badak Sumatera di Hutan Leuser?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 07:55:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/09/22044528/Badak-sumatera-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134016</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Upaya perlindungan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) terus dilakukan. Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, terus melakukan pengamanan habitat dan populasi satwa langka dilindungi tersebut. Kawasan Ekosistem Leuser merupakan bentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/">Bagaimana Kondisi Badak Sumatera di Hutan Leuser?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Upaya perlindungan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) terus dilakukan. Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, terus melakukan pengamanan habitat dan populasi satwa langka dilindungi tersebut. Kawasan Ekosistem Leuser merupakan bentang hutan hujan tropis penting di Sumatera dengan luas sekitar 2,5 juta hektar yang membentang di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk badak sumatera yang populasinya kini sangat terbatas dan terancam punah. Dedi Yansyah, Koordinator Perlindungan Satwa Liar FKL, mengatakan indikasi penting upaya perlindungan adalah tidak ditemukan lagi tanda-tanda perburuan badak sejak 2008. Peralatan yang biasa digunakan pemburu untuk menangkap badak, yang dalam Bahasa Aceh disebut seuneubok, terakhir ditemukan 2008. “Setelah itu, tidak ada lagi indikasi perburuan di wilayah yang kami amankan. Namun, patroli tetap intensif,”  jelasnya, Minggu (13/6/26). Badak sumatera berstatus terancam punah yang hidup di hutan Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. FKL memiliki 12 tim yang ditempatkan di 10 pos pengamanan, juga 37 tim ranger, satu unit tim K9 atau tim yang dibantu anjing pelacak, serta pemantauan menggunakan kamera online. Tim pengamanan merupakan kolaborasi petugas dari BBTNGL, TNI, Polisi, masyarakat, dan staf FKL. Sementara Ranger merupakan staf FKL bersama polhut/pamhut dari BBTNGL dan DLHK Aceh, yang patroli minimal 15 hari sebulan. Dedi mengatakan, tantangan perlindungan badak tidak hanya perburuan, tetapi juga rusaknya habitat yang merupakan persoalan kompleks. Perambahan, pembalakan liar, kebakaran hutan, konflik manusia dan satwa, hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hiu Raksasa Seukuran Mobil Berusia 325 Juta Tahun Ditemukan di Gua Terpanjang Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 03:56:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/22035035/glikmanius-careforum-shark-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134012</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jutaan tahun sebelum dinosaurus pertama menginjakkan kaki di daratan, lautan dangkal di berbagai belahan bumi sudah dihuni oleh predator-predator besar yang menguasai rantai makanan. Hiu, salah satu garis keturunan vertebrata tertua yang masih bertahan hingga kini, sudah berevolusi menjadi pemburu puncak jauh sebelum reptil raksasa maupun mamalia mulai berkembang. Banyak dari nenek moyang hiu purba [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/">Hiu Raksasa Seukuran Mobil Berusia 325 Juta Tahun Ditemukan di Gua Terpanjang Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jutaan tahun sebelum dinosaurus pertama menginjakkan kaki di daratan, lautan dangkal di berbagai belahan bumi sudah dihuni oleh predator-predator besar yang menguasai rantai makanan. Hiu, salah satu garis keturunan vertebrata tertua yang masih bertahan hingga kini, sudah berevolusi menjadi pemburu puncak jauh sebelum reptil raksasa maupun mamalia mulai berkembang. Banyak dari nenek moyang hiu purba ini memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar dari kerabatnya yang hidup di zaman modern, dan sebagian besar riwayat mereka hanya bisa direkonstruksi dari fragmen gigi serta tulang rahang yang berhasil terawetkan hingga ratusan juta tahun kemudian. Ilustrasi rekonstruksi Glikmanius careforum, salah satu dari dua spesies hiu ctenacanth yang fosilnya ditemukan di lorong-lorong Mammoth Cave. Rahangnya yang pendek dan kuat, dipadukan dengan gigi bertonjolan mirip kancing khas famili Heslerodidae, menunjukkan predator ini mengandalkan gigitan bertenaga untuk berburu di laut dangkal 325 juta tahun lalu. Ilustrasi: Benji Paynose/Earth.com Sebuah temuan fosil di sistem gua Mammoth, Kentucky, Amerika Serikat, kini menambah daftar bukti tersebut. Tim peneliti mengidentifikasi dua spesies hiu purba baru, Troglocladodus trimblei dan Glikmanius careforum, yang hidup sekitar 325 juta tahun lalu, puluhan juta tahun sebelum dinosaurus pertama muncul. Panjang tubuh keduanya diperkirakan mencapai 3 hingga 3,6 meter, kira-kira sebesar mobil keluarga kecil, menjadikan mereka salah satu predator terbesar di perairan pesisir dangkal pada masanya. Temuan ini berasal dari lorong-lorong Mammoth Cave, sistem gua yang membentang lebih dari 675 kilometer di bawah permukaan tanah dan tercatat sebagai sistem gua terpanjang yang pernah dipetakan di dunia. Predator Puncak yang Hidup Jutaan Tahun Sebelum Dinosaurus Kedua spesies&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nunas Nede, Ritual Adat Masyarakat Kesik Jaga Mata Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 03:23:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21175709/IMG_5041-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133992</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan orang memadati halaman rumah Amaq Marni siang itu. Sembilan hari menjelang pelaksanaan ritual Nunas Nede, para petani di Desa Kesik mulai mengantarkan hasil pertaniannya ke rumah perempuan 73 tahun tu. Nantinya, hasil tani berupa beras dan ketan itu akan warga olah menjadi makanan tradisional pelengkap ritual. Di bawah tenda sederhana di halaman rumah, para [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/">Nunas Nede, Ritual Adat Masyarakat Kesik Jaga Mata Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan orang memadati halaman rumah Amaq Marni siang itu. Sembilan hari menjelang pelaksanaan ritual Nunas Nede, para petani di Desa Kesik mulai mengantarkan hasil pertaniannya ke rumah perempuan 73 tahun tu. Nantinya, hasil tani berupa beras dan ketan itu akan warga olah menjadi makanan tradisional pelengkap ritual. Di bawah tenda sederhana di halaman rumah, para perempuan tampak sibuk menampi beras, menyiapkan kelapa, dan mengaduk adonan ketan dalam wadah besar. Di sudut lain, sejumlah laki-laki bercengkrama sambil menyusun perlengkapan ritual. Dua hari setelahnya, satu per satu warga Desa Kesik mulai berjalan menuju sumber mata air di kaki perbukitan. Di tangan mereka terdapat dulang berisi hasil bumi,  ada padi, ketan, buah-buahan, ayam kampung, dan kendi kecil yang akan diisi air dari mata air yang mereka jaga turun-temurun. Bagi masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, perjalanan menuju mata air bukan sekadar prosesi budaya. Ia adalah perjalanan spiritual, perjalanan ekologis, sekaligus sejarah yang mereka warisi dari para leluhur. Ritual itu populer dengan sebutan Nunas Nede, tradisi tahunan yang warga gelar jelang pergantian musim dari kemarau menuju musim hujan. Warga Kesik beriringan menuju lokasi ritual Nunas Nede. Tampak hampapran sawah yang tumbuh subur. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Berawal dari kekhawatiran Di desa yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada pertanian itu, perubahan musim bukan perkara sederhana. Hujan menentukan apakah sawah dapat mereka tanami. Ketika kemarau terlalu panjang, sumber mata air menyusut. Sawah retak. Petani mulai cemas. Karena itulah, ritual Nunas Nede lahir dari kegelisahan kolektif masyarakat terhadap alam yang menjadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seperti Film &#8216;Life of Pi&#8217;, Nelayan Ini Bertahan 26 Hari di Lautan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 00:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16091432/Perahu-nelayan-dari-Desa-Loumadoro-Kecamatan-Pulau-Rao-Morotai-Selatan-Barat-mencoba-menerobos-gelombang-tinggi-untuk-turun-melaut-pada-Juli-2026-lalu-foto-M-Ichi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133964</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Esau Sidemo tak pernah menyangka perjalanan mencari ikan berubah menjadi perjuangan hidup selama 26 hari. Nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, itu terombang-ambing di Samudra Pasifik setelah mesin perahunya mati. Arus menyeret perahu ketintingnya ratusan kilometer dari rumah. Untuk bertahan hidup, Esau memakan burung laut, ikan mentah yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/">Seperti Film &#8216;Life of Pi&#8217;, Nelayan Ini Bertahan 26 Hari di Lautan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Esau Sidemo tak pernah menyangka perjalanan mencari ikan berubah menjadi perjuangan hidup selama 26 hari. Nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, itu terombang-ambing di Samudra Pasifik setelah mesin perahunya mati. Arus menyeret perahu ketintingnya ratusan kilometer dari rumah. Untuk bertahan hidup, Esau memakan burung laut, ikan mentah yang melompat ke perahu, dan kelapa busuk yang hanyut. Dia bahkan terpaksa meminum urine. Keselamatannya datang ketika kapal kargo berbendera Prancis menemukannya, lalu membawanya ke China sebelum dipulangkan ke Indonesia. “Ini seperti mukjizat,” kata Esau. Selama terombang-ambing, ia terus berdoa agar dapat kembali bertemu keluarganya. Kasus Esau bukan kejadian tunggal. Nelayan Maluku Utara menghadapi ancaman mesin rusak, kehabisan bahan bakar, gelombang tinggi, dan cuaca buruk. Data Basarnas Ternate mencatat 49 operasi pencarian dan pertolongan terhadap nelayan sepanjang 2025. Dari berbagai kecelakaan tersebut, 122 orang ditemukan selamat, tujuh meninggal, dan 20 lainnya hilang. Menurut Kepala Basarnas Ternate Iwan Ramdani, kondisi geografis Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan dengan aktivitas laut tinggi turut meningkatkan risiko. Gelombang dalam sejumlah kejadian dilaporkan mencapai 2,5 meter. Perubahan pola cuaca semakin menyulitkan nelayan menentukan waktu melaut. Gafur Kaboli, nelayan tuna sekaligus Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Maluku Utara, mengatakan pengetahuan nelayan dalam membaca musim kini sering tidak lagi dapat diandalkan. “Korban akibat dampak perubahan iklim terus naik seiring cuaca yang tidak lagi menentu. Keselamatan nelayan jadi terancam,” ujarnya. Pada saat bersamaan, ikan semakin sulit ditemukan di perairan dekat pantai. Dahulu, nelayan masih bisa memperoleh tuna dalam radius kurang dari 12 mil. Kini, mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pihak Beri Masukan pada RUU Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 23:37:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamIrfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230638/nikel-haltim-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133998</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; DPR tengah kebut selesaikan Rancangan Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (RUURA).  Rencananya, agenda ketok palu RUU yang sudah jadi perjuangan masyarakat sipil selama 34 tahun ini sebelum Hari Tani Nasional, 24 September ini.  Berbagai kalangan organisasi masyarakat sipil menyoroti draf RUU Pengaturan Reforma Agraria ini. Muhamad Isnur, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/">Para Pihak Beri Masukan pada RUU Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; DPR tengah kebut selesaikan Rancangan Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (RUURA).  Rencananya, agenda ketok palu RUU yang sudah jadi perjuangan masyarakat sipil selama 34 tahun ini sebelum Hari Tani Nasional, 24 September ini.  Berbagai kalangan organisasi masyarakat sipil menyoroti draf RUU Pengaturan Reforma Agraria ini. Muhamad Isnur, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengatakan, pembahasan RUURA terlalu terburu-buru dan berpotensi membuat aspirasi masyarakat,  terutama kelompok terdampak konflik agraria, tidak terserap secara maksimal. Dia khawatir RUURA bernasib sama dengan Undang-undang lain yang proses legislasi cepat, seperti revisi UU KPK, revisi UU Mahkamah Konstitusi, UU Cipta Kerja, dan UU TNI. Proses terlalu cepat, katanya,  dapat membuat persoalan substansial luput dari pembahasan dan baru terlihat setelah mendapat tekanan masyarakat sipil. Sejak RUURA masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas) pada 27 Agustus lalu, langsung kebut proses penyusunan pada 1 September atau empat hari setelahnya. Tak sampai sepekan, pada 7 September proses penyusunan rampung dan RUURA bawa ke rapat paripurna pada 8 September untuk penetapan sebagai inisiatif DPR. Menurut Isnur, pembahasan RUU seharusnya memberikan waktu cukup kepada masyarakat untuk memahami substansi aturan; dan menyampaikan saran. Apalagi, persoalan agraria tidak hanya berkaitan dengan masyarakat di Jakarta. Ibu-Ibu petani pergi ke kebun di kaki Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Namanya cukup RUU Reforma Agraria Herlambang Perdana Wiratraman, Dosen Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai, diksi “pengaturan” dalam nomenklatur RUU itu sangat bias makna hingga tidak perlu mencantumkannya. Menurut dia, UU itu sendiri pada dasarnya merupakan regeling atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inisiatif Nelayan Gurita Ende Jaga Laut Flores Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 15:12:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21145128/4A-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133971</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Imran Tabri,  memandang tajam ke laut lepas jelang senja Senin (27/7/26). Gelombang tinggi masih menghantui pesisir Pantai Maurongga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Nelayan di pesisir pantai selatan Pulau Flores belum banyak yang melaut, apalagi nelayan gurita. Gelombang tinggi yang tengah berlangsung sebabkan air laut keruh dan menyulitkan nelayan untuk memancing gurita. “Sekarang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/">Inisiatif Nelayan Gurita Ende Jaga Laut Flores Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Imran Tabri,  memandang tajam ke laut lepas jelang senja Senin (27/7/26). Gelombang tinggi masih menghantui pesisir Pantai Maurongga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Nelayan di pesisir pantai selatan Pulau Flores belum banyak yang melaut, apalagi nelayan gurita. Gelombang tinggi yang tengah berlangsung sebabkan air laut keruh dan menyulitkan nelayan untuk memancing gurita. “Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” ujarnya. Saat para nelayan jeda melaut akibat cuaca buruk, terlihat beberapa perempuan dan anak-anak yang tengah sibuk mengumpulkan bebatuan di pesisir pantai. Batu-batu ceper berwarna hijau mereka masukkan ke dalam karung. Setelah itu, menggotongnya ke daratan dan menumpuknya di antara pohon kelapa. Oleh mereka, batu-batu mereka jual sebagai tambahan penghasilan saat suami berhenti melaut. Untuk setiap karung ukuran 25 kilogram, batu-batu itu mereka hargai Rp20.000. “Warna batunya hijau tua. Kalau di wilayah sebelah timur warna hijaunya lebih terang. Banyak yang membeli dalam jumlah banyak untuk dikirim ke luar daerah,” kata Imran, salah satu nelayan. Pesisir pantai Desa Maurongga, Kecamatan Nangapanda,Kabupaten Ende yang memiliki potensi gurita. Foto : Muhammad Riszky/Jaring Nusa. Sejak 2015, Imran memang menggeluti pekerjaan sebagai nelayan gurita. Keahlian itu dia dapatkan saat tinggal di kampungnya, pantai selatan Kota Ende. Setelah menikah dan menetap di Maurongga, keahlian ini pun dia praktikkan. “Waktu itu belum ada yang memancing gurita. Potensi gurita di Maurongga sangat besar sehingga saya mulai memancing gurita,”  katanya. Gurita dia jual kepada pengepul atau dan kepada pembeli langsung di pinggir-pinggir jalan. Satu ekornya dia hargai Rp15.000-20.000 ribu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Api di Lahan Korporasi Bikin Masyarakat Menderita Penyakit Pernapasan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 09:30:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07121411/warga-Kalsel-saat-kabut-asap-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133771</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan hanya menghanguskan bentang alam. Kabut asap yang dihasilkannya telah berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat, ditandai dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Di Kalimantan Tengah, Dinas Kesehatan mencatat 72.431 kasus ISPA. Kasus terbanyak ditemukan di Palangka Raya dengan 16.166 kasus, disusul Kotawaringin Barat sebanyak 12.467 kasus, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/">Ketika Api di Lahan Korporasi Bikin Masyarakat Menderita Penyakit Pernapasan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan hanya menghanguskan bentang alam. Kabut asap yang dihasilkannya telah berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat, ditandai dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Di Kalimantan Tengah, Dinas Kesehatan mencatat 72.431 kasus ISPA. Kasus terbanyak ditemukan di Palangka Raya dengan 16.166 kasus, disusul Kotawaringin Barat sebanyak 12.467 kasus, Kotawaringin Timur 7.982 kasus, dan Kapuas 7.910 kasus. Wilayah-wilayah tersebut memiliki bentang gambut luas yang mengalami kebakaran masif. Bantuan masker, oksigen, dan rumah aman asap telah disalurkan ke sejumlah desa. Namun, ketersediaannya belum sebanding dengan jumlah warga terdampak. Penanganan pemerintah juga dikritik karena kondisi justru memburuk setelah Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat karhutla pada 31 Agustus 2026. Bahaya asap karhutla terutama berasal dari partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Fachrial Kautsar dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative menyebut partikulat karhutla sepuluh kali lebih berbahaya bagi paru-paru anak dibandingkan polusi biasa. Ibu hamil, anak-anak, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap asma, penyakit paru-paru kronis, serta gangguan perkembangan janin. Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.891 kasus ISPA di tujuh provinsi selama Juni–Agustus 2026. Sementara itu, Yayasan Auriga Nusantara mencatat luas kawasan yang terbakar sepanjang Januari–Juni mencapai 190.546 hektar, setara sekitar 2,6 kali luas Singapura. Dampaknya juga melintasi batas negara. Pemantauan Greenpeace selama 4 Agustus–6 September menunjukkan asap karhutla mencapai Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Sarawak terdampak selama 34 hari, bahkan indeks pencemaran udaranya melampaui 500 pada 5 September. Sekolah terpaksa ditutup dan masyarakat membatasi kegiatan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Tangan Tobani Tiku, Tradisi Kain Kulit Kayu Masyarakat Adat Kulawi Tetap Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 09:00:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/18010540/kulit-kayu-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133841</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi hingga sore, Tobani Tiku memukul kulit kayu beringin di belakang rumahnya di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Perempuan berusia 86 tahun itu sedang membuat kumu nunu, kain kulit kayu khas masyarakat adat Kulawi. Dahulu, kumu nunu digunakan sebagai pakaian sehari-hari, mulai dari baju bekerja di sawah hingga selimut. Kini, kain tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/">Di Tangan Tobani Tiku, Tradisi Kain Kulit Kayu Masyarakat Adat Kulawi Tetap Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi hingga sore, Tobani Tiku memukul kulit kayu beringin di belakang rumahnya di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Perempuan berusia 86 tahun itu sedang membuat kumu nunu, kain kulit kayu khas masyarakat adat Kulawi. Dahulu, kumu nunu digunakan sebagai pakaian sehari-hari, mulai dari baju bekerja di sawah hingga selimut. Kini, kain tersebut semakin langka dan hanya dikenakan dalam acara adat. Tobani menjadi satu-satunya perempuan di Kulawi yang masih menguasai seluruh proses pembuatannya. Ia mempelajari keterampilan tersebut sejak remaja dari ibu dan neneknya. Bahan utamanya berasal dari kulit beringin merah atau nunu lero dan beringin putih yang disebut nunu bula. Namun, Tobani lebih sering menggunakan beringin merah. Pengambilan ranting tidak boleh sembarangan. Ranting dipotong ketika bulan purnama dan harus tumbuh mengarah ke langit atau mendatar. Ranting yang mengarah ke bawah memiliki kulit tipis dan serat kurang baik. “Kalau di bulan-bulan lain, tidak bulan purnama, tidak berisi,” kata Syafrudin, anak Tobani yang bertugas mengambil ranting. Ranting dipotong sepanjang 10-1,5 meter, kemudian dikuliti, dibersihkan, dan direndam selama tiga hari. Setelah itu, kulit dipukul perlahan hingga melebar dan menipis menjadi kain. Tobani juga menggunakan ramuan dari tumbuhan, seperti linuro dan ulakau, sebagai pewarna sekaligus pengawet alami. Pembuatan kain memakai empat alat pemukul secara berurutan, yaitu pola, ike tinahi, ike tiva, dan ike pogea. Tiga alat terakhir terbuat dari batu khusus asal Desa Towulu. Alat-alat yang digunakan Tobani merupakan warisan neneknya dan masih kokoh hingga sekarang. Satu set pakaian, berupa atasan dan bawahan, membutuhkan waktu sedikitnya satu minggu. Harganya sekitar Rp1,5 juta,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Kolong, Hutan Tumbek Sumber Air Bersih Masyarakat Bangka Belitung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 07:45:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21074121/Salah-satu-ladang-padu-darat-yang-dibuka-Suku-Mapur-di-sekitar-aliran-air-yang-berasal-dari-hutan-tumbek-benak.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133965</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di masa lalu, orang Melayu di Kepulauan Bangka Belitung hidup dan berkebun di sekitar aliran sungai kecil. Mereka membangun ume, kelekak, serta memanfaatkan sejumlah aliran air dari tumbek­, sebutan untuk sumber air yang menjadi hulu bagi belasan anak sungai. Tumbek biasanya terdapat di sebuah hutan perbukitan, disakralkan masyarakat setempat atau menjadi wilayah larangan yang pantang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/">Bukan Kolong, Hutan Tumbek Sumber Air Bersih Masyarakat Bangka Belitung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di masa lalu, orang Melayu di Kepulauan Bangka Belitung hidup dan berkebun di sekitar aliran sungai kecil. Mereka membangun ume, kelekak, serta memanfaatkan sejumlah aliran air dari tumbek­, sebutan untuk sumber air yang menjadi hulu bagi belasan anak sungai. Tumbek biasanya terdapat di sebuah hutan perbukitan, disakralkan masyarakat setempat atau menjadi wilayah larangan yang pantang dirusak dan dibuka menjadi kebun. Akhir Agustus 2026, Mongabay Indonesia berkunjung ke hutan Gunung Cundong, area sakral Suku Mapur yang hidup di lanskap hutan bagian utara Pulau Bangka. Di Gunung Cundong yang luasnya sekitar 320 hektar, terdapat satu tumbek yang menjadi hulu 12 anak sungai. “Air, jadi alasan kami menjaganya,” kata Atok Kasmin (73), warga Mapur yang menetap di sekitar hutan Gunung Cundong, Kamis (27/8/26). Suku Mapur juga punya hutan tumbek lain yang mereka sakralkan, yaitu hutan Air Tumbek Benak di lanskap hutan Gunung Pelawan. Tumbek Air Benak mengaliri belasan anak sungai yang dimanfaatkan Suku Mapur untuk berladang di sekitar hutan Bukit Tabun. Orang Mapur percaya, jika wilayah hutan yang terdapat tumbek dirusak, maka aliran airnya akan menimbulkan penyakit bagi warga yang mengkonsumsi. “Penyakit itu disebut kutuk atau kutukan,” kata Abok Gedoi, Ketua Adat Suku Mapur di Dusun Air Abik, Selasa (17/8/26). Secara umum, sakralisasi hutan tumbek cukup umum dilakukan masyarakat Bangka Belitung. Dalam penelusuran Mongabay Indonesia, cerita mirip juga dituturkan masyarakat yang terhubung secara budaya dengan Bukit Menumbing dan Bukit Pelangas (Bangka Barat), Bukit Nenek (Bangka Selatan), Bukit Mangkol dan Gunung Pading (Bangka Tengah), Gunung Maras dan Bukit Tukak (Kabupaten Bangka), dan sebagainya. “Air&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Piton Telan Dua Warga Taliabu, Habitat Ular Rusak?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 05:06:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fadli KayoaRabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230024/Photo-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133528</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Pertambangan, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Elizabeth Yamalu pamit kepada suaminya, Menjamin Lanto, untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Kabupaten Taliabu, Maluku Utara (Malut), Selasa (9/6/26) sore. Hingga malam hari, dia tak kunjung pulang. Merasa cemas, Menjamin mengambil senter, parang, dan mencari istrinya ke lokasi sapi itu berada seraya memanggil-manggil namanya.  Tak ada jawaban. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/">Piton Telan Dua Warga Taliabu, Habitat Ular Rusak?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Elizabeth Yamalu pamit kepada suaminya, Menjamin Lanto, untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Kabupaten Taliabu, Maluku Utara (Malut), Selasa (9/6/26) sore. Hingga malam hari, dia tak kunjung pulang. Merasa cemas, Menjamin mengambil senter, parang, dan mencari istrinya ke lokasi sapi itu berada seraya memanggil-manggil namanya.  Tak ada jawaban. Sapi itu masih berada di tempatnya,  Menjamin tak temukan istrinya. Dia lantas berjalan ke arah pohon mangga besar. Dia menduga istrinya mungkin mencari buah mangga yang memang sedang musim.  Betapa terkejutnya  ketika mendapati  ular piton besar sepanjang sekitar 7,8 meter tengah melilit tubuh istrinya. “Saat itu istri saya sudah dililit dan ditelan separuh badannya. Tinggal tangan serta kepala [yang belum tertelan]. Sedangkan bagian kaki semua sudah,” kata Menjamin lewat sambungan telepon menceritakan peristiwa itu kepada Mongabay pertengahan Agustus. Dia segera menebas ular  dan berusaha menarik tubuh istrinya.  Elizabeth sudah  meninggal dunia. “Saya tarik istri saya dari mulut ular.  Saya langsung pulang sampaikan ke anak-anak dan warga.” Berselang beberapa hari setelah kematian Elizabeth, pada 23 Juni, seorang warga di Desa Padang, Kecamatan Taliabu Utara, juga meninggal dunia kena serang  ular piton. Peristiwa itu terjadi saat korban hendak ke kebun di  hutan Air Pala, Desa Ufung. Seorang warga Taliabu menunjukkan ular piton yang berhasil ditangkap. Foto: Dokumen warga. Warga waswas sering jumpa ular piton Kedua peristiwa itu membuat warga Pulau Taliabu ketakutan. Pasalnya, hampir setiap pekan sejak peristiwa itu, warga menemukan piton berukuran besar. Warga kerap mendapati ular raksasa itu di kebun, sekitar permukiman, kawasan sungai, hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Warga di Bangka Belitung Mengalami Krisis Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 00:05:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30000451/Hana-Fitri-27-dan-Yustika-51-mencuci-pakaian-dan-beras-di-salah-satu-kolam-yang-tersisa-di-sekitar-Desa-Zed-Kabupaten-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133951</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Bangka Belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dampak musim kemarau panjang mulai terasa di sejumlah desa di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 13 desa dan satu kelurahan kesulitan mendapatkan air bersih. Di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, warga mulai kesulitan mendapatkan pasokan air dari Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Dalam dua minggu terakhir, distribusi air terganggu.  “Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/">Kemarau Panjang, Warga di Bangka Belitung Mengalami Krisis Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dampak musim kemarau panjang mulai terasa di sejumlah desa di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 13 desa dan satu kelurahan kesulitan mendapatkan air bersih. Di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, warga mulai kesulitan mendapatkan pasokan air dari Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Dalam dua minggu terakhir, distribusi air terganggu.  “Setelah dapat air, kami harus menunggu minggu depan lagi,” ungkap Hana Fitri, warga Desa Zed, akhir Agustus lalu. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Puding Besar, Desa Paya Banua dan Desa Kemuja. Di sejumlah titik, warga terlihat mandi di pemandian umum serta membawa jerigen untuk membawa pulang air. Bahkan, di Dusun Tuing, kolam-kolam air tawar mulai menyusut dan terasa asin akibat air laut merembes ke aliran sungai kecil. Ketua Tim Data dan Informasi BMKG, Slamet Supriyadi, menyatakan puncak musim kemarau akan terjadi pada September 2026 dan berakhir kisaran Januari-Februari 2027. Kondisi geologi Babel turut memengaruhi ketersediaan air tanah. Kontur granit dan letak kota di cekungan membuat air tanah tidak menyebar merata sehingga cadangannya cepat terkuras sewaktu kemarau, sementara penggunaan air terus meningkat. Kajian Risiko Bencana Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2022-2026 menunjukkan sebagian besar wilayah daratan Babel berada dalam kelas bahaya kekeringan sedang. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Ekoregion Sumatera menyatakan 88,76% wilayah Kepulauan Bangka Belitung masuk kategori rendah dalam jasa ekosistem penyediaan air bersih. Selain itu, 75,40% wilayah Bangka Belitung berada pada kategori sangat rendah–rendah dalam jasa pengaturan tata aliran air dan banjir. Sisanya, 24,60% berada pada kategori tinggi–sangat tinggi. “Semakin luas area&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jatam Kritik Kebijakan Berlabel Tranisisi Energi Justru Berisiko bagi Masyarakat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 23:50:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16020019/Kabaena-cemaran-nikel.jpeg-Yudin-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133945</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintahan Prabowo Subianto tengah menyiapkan dua kebijakan besar yang mereka klaim sebagai langkah percepatan transisi energi bersih di Indonesia. Kebijakan itu,  yakni kucuran insentif massal untuk kendaraan motor listrik dan percepatan pengembangan tambang panas bumi atau geothermal. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai,  langkah-langkah itu justru memperluas model ekonomi ekstraktif yang menguntungkan korporasi sekaligus memperparah ancaman [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/">Jatam Kritik Kebijakan Berlabel Tranisisi Energi Justru Berisiko bagi Masyarakat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintahan Prabowo Subianto tengah menyiapkan dua kebijakan besar yang mereka klaim sebagai langkah percepatan transisi energi bersih di Indonesia. Kebijakan itu,  yakni kucuran insentif massal untuk kendaraan motor listrik dan percepatan pengembangan tambang panas bumi atau geothermal. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai,  langkah-langkah itu justru memperluas model ekonomi ekstraktif yang menguntungkan korporasi sekaligus memperparah ancaman terhadap ruang hidup masyarakat adat dan lokal dari hulu hingga hilir. Dalam pidato penyampaian Rancangan Undang-undang Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RUU-APBN) 2027 pada Rapat Paripurna DPR 14 Agustus 2026, Prabowo menyatakan pemerintah akan memberikan insentif khusus bagi perusahaan dalam negeri yang mampu memproduksi 1 juta motor listrik. “Kita akan percepat proses elektrifikasi mobilitas rakyat. Subsidi BBM harus kita kurangi secara signifikan. Pemerintah yang saya pimpin kemarin meluncurkan ekosistem motor listrik nasional. Selain itu, hari ini kita umumkan, kita akan beri insentif cukup besar untuk mereka yang bisa membangun satu juta motor listrik di dalam negeri oleh perusahaan Indonesia,” kata Prabowo. Untuk merealisasikan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp3 triliun dari uang publik untuk menyubsidi pembelian motor listrik produksi domestik, dengan Rp3 juta per unit. Anggaran ini rilis di tengah pembengkakan RAPBN 2027 yang menembus Rp4.09,2 triliun–meningkat Rp254,5 triliun dari APBN 2026–dan mencatat defisit Rp671,2 triliun. Di tengah krisis defisit anggaran, Jatam mengkritik pemerintah yang lebih memilih memanjakan pasar kendaraan listrik pribadi dan menyokong rantai pasok industrinya. Sebaliknya, keberpihakan anggaran yang setara tidak terlihat untuk pemulihan kerusakan ekologis, perlindungan masyarakat terdampak tambang, maupun pembangunan transportasi publik yang layak, aman, terjangkau, dan inklusif. Ilustrasi. Sebuah mobil listrik sedang mengisi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lonjakan Tajam Kebakaran  Ancam Target Tekan Emisi Hutan dan Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 16:38:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16042642/Kabut-karhutla-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133911</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi tahun ini melepaskan emisi besar. Berdasarkan pemodelan Area Indikatif Terbakar (AIT) Yayasan Madani Berkelanjutan, luas area terbakar melonjak tajam, dari sekitar 100.700  hektar pada Juli, naik 1,32 juta hektar di Agustus. Lonjakan itu sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak terduga. Sejak awal tahun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/">Lonjakan Tajam Kebakaran  Ancam Target Tekan Emisi Hutan dan Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi tahun ini melepaskan emisi besar. Berdasarkan pemodelan Area Indikatif Terbakar (AIT) Yayasan Madani Berkelanjutan, luas area terbakar melonjak tajam, dari sekitar 100.700  hektar pada Juli, naik 1,32 juta hektar di Agustus. Lonjakan itu sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak terduga. Sejak awal tahun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah  memperingatkan potensi musim kemarau ekstrem tahun ini lebih kering ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Madani menyebut, terhitung Januari-Agustus, total AIT mencapai sekitar 1,36 juta hektar. Dari luasan tersebut, sekitar 37,2 ribu hektar merupakan area dengan kejadian berulang. Sedangkan 1,32 juta hektar merupakan area baru. Dengan demikian, sekitar 97,26% dari area terbakar merupakan wilayah baru. Sementara area lama yang kembali alami kebakaran hanya 2,74%. Madani menilai, besaran area terbakar ancam target forestry and other land use (FoLU) Net Sink 2030.  “Sebab, sekitar 511.300 hektar atau 38,70% area terbakar berada di wilayah Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030,” kata Giorgio Budi Indrarto, Badan Pengurus Yayasan Madani Berkelanjutan. Folu Net Sink merupakan kondisi ketika tingkat penyerapan gas rumah kaca (GRK) oleh sektor kehutanan dan penggunaan lahan sudah seimbang atau lebih tinggi daripada tingkat emisi yang dilepaskannya pada tahun 2030 Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nasional mengestimasi emisi terlepas dari karhutla yang terjadi sepanjang tahun ini. Berdasarkan estimasi Walhi, total emisi dari vegetasi terbakar sejak Januari-awal September 2026 mencapai sekitar 31 juta ton CO2. Jumlah itu setara hampir seluruh emisi gas rumah kaca tahunan Kuba, negara dengan populasi sekitar 11,3 juta jiwa, yang mencakup seluruh sektor energi, transportasi, industri,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cara Inklusif Kenalkan Konservasi Gajah Sumatera, Bagaimana Caranya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 12:55:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015752/CRU3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133840</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari di hadapan sekitar 50 anak penyandang disabilitas di Malang Creative Center. Saat ia mulai mendongeng, anak-anak duduk menyimak. Kak Arum menerjemahkan cerita tersebut ke dalam bahasa isyarat agar peserta tuli dapat mengikuti kisahnya. Dongeng itu bercerita tentang Gogo dan Gigi, dua anak gajah yang terpisah akibat suara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/">Cara Inklusif Kenalkan Konservasi Gajah Sumatera, Bagaimana Caranya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari di hadapan sekitar 50 anak penyandang disabilitas di Malang Creative Center. Saat ia mulai mendongeng, anak-anak duduk menyimak. Kak Arum menerjemahkan cerita tersebut ke dalam bahasa isyarat agar peserta tuli dapat mengikuti kisahnya. Dongeng itu bercerita tentang Gogo dan Gigi, dua anak gajah yang terpisah akibat suara tembakan pemburu. Gogo harus melewati hutan, sungai, perbukitan, dan semak belukar untuk menemukan adiknya. Setelah melalui berbagai rintangan, keduanya kembali berkumpul dengan rombongan gajah. “Di mana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. Anak-anak menjawab serempak, “Di hutan.” Jawaban sederhana itu membawa pesan penting: habitat alami gajah bukan kebun binatang, melainkan hutan. Melalui cerita, peserta diajak memahami hubungan antara satwa, habitat, dan ancaman yang dihadapi gajah tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran yang berat. Kegiatan dalam rangka Hari Gajah Sedunia tersebut diselenggarakan oleh Difabel Pecinta Alam atau Difpala, Lingkar Sosial, dan Geopix. Acara juga diisi dengan puisi, nyanyian, pembacaan Al-Qur’an, serta pembagian hadiah kepada anak-anak yang dapat menjawab pertanyaan. Menurut Kertaning Tyas, pembina Lingkar Sosial, dongeng menjadi cara menyenangkan untuk menyampaikan pesan konservasi. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang agar penyandang disabilitas dapat berperan aktif dalam edukasi dan pelestarian lingkungan. “Hari Gajah Sedunia menjadi momentum meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian gajah Indonesia dan habitatnya,” katanya. Difpala sebelumnya juga mengembangkan program Tuli Mendongeng dengan melibatkan juru bahasa isyarat. Organisasi ini aktif melakukan pendakian, penanaman pohon, dan pembersihan sampah di gunung. Kini, mereka mulai memperluas perhatiannya dari hutan menuju satwa liar dan keseluruhan ekosistem. Gunung Wedon di Lawang, Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Jepang Habiskan 25 Tahun demi Membasmi Garangan Pemburu Ular di Satu Pulau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 12:02:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/20120140/Amami-Oshima-mongoose-eradication-rs-1024x786-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133936</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika sebuah spesies asing didatangkan untuk mengendalikan populasi hama, keputusan itu sering dianggap sebagai solusi cepat dan murah. Pertimbangan awalnya biasanya sederhana: satu predator dilepas, populasi target menyusut, masalah selesai. Yang jarang dihitung sejak awal adalah kemungkinan bahwa introduksi itu gagal mencapai tujuannya, dan bahwa memperbaiki kegagalan tersebut bisa memakan waktu puluhan tahun serta anggaran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/">Bagaimana Jepang Habiskan 25 Tahun demi Membasmi Garangan Pemburu Ular di Satu Pulau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika sebuah spesies asing didatangkan untuk mengendalikan populasi hama, keputusan itu sering dianggap sebagai solusi cepat dan murah. Pertimbangan awalnya biasanya sederhana: satu predator dilepas, populasi target menyusut, masalah selesai. Yang jarang dihitung sejak awal adalah kemungkinan bahwa introduksi itu gagal mencapai tujuannya, dan bahwa memperbaiki kegagalan tersebut bisa memakan waktu puluhan tahun serta anggaran yang jauh lebih besar daripada biaya pelepasan awal. Kasus garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) di Pulau Amami Oshima, Jepang, menjadi salah satu contoh paling terdokumentasi dari pola ini. Setelah sekitar 30 ekor garangan dilepas pada 1979 untuk mengendalikan ular berbisa, pemerintah Jepang menghabiskan sekitar 3,6 miliar yen, setara sekitar 24 juta dolar AS, hanya untuk periode 2000 hingga 2024, demi menyingkirkan hewan yang sama dari pulau itu. Operasi ini melibatkan puluhan ribu perangkap, ratusan kamera pemantau, dan tim anjing pelacak khusus, sebelum akhirnya dinyatakan berhasil pada September 2024. Tiga Dekade Operasi Bertahap Upaya menangani garangan di Amami Oshima sebenarnya dimulai lebih awal dari yang banyak diberitakan. Pemerintah daerah setempat mulai menangkap garangan sebagai hewan pengganggu pada 1993, jauh sebelum ada program nasional yang terkoordinasi. Kementerian Lingkungan Jepang baru meluncurkan survei dan proyek percontohan pada pertengahan 1990-an, sebelum akhirnya menetapkan program eradikasi berskala penuh pada 2000, saat populasi garangan diperkirakan telah mencapai sekitar 10.000 ekor. Metode penangkapan terus berubah seiring waktu. Perangkap tabung ringan yang mematikan mulai digunakan sejak 2003, setelah tim profesional pertama kali disewa untuk menangani operasi lapangan. Dua tahun kemudian, Jepang mengesahkan Undang-Undang Spesies Asing Invasif dan membentuk tim khusus bernama Amami Mongoose&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Buah Sukun Sumber Pangan Potensial Masyarakat Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 10:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005013/Buah-sukun-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133933</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pangan, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca sepekan yang dirilis 14 September 2026, melaporkan atmosfer kering masih mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia hingga periode 15-21 September 2026. Sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan 1.637 titik pemantauan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/">Kemarau Panjang, Buah Sukun Sumber Pangan Potensial Masyarakat Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca sepekan yang dirilis 14 September 2026, melaporkan atmosfer kering masih mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia hingga periode 15-21 September 2026. Sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan 1.637 titik pemantauan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan, tersebar hampir di seluruh Indonesia. Kombinasi kemarau dan penguatan El Nino ini, turut memicu meluasnya kebakaran hutan dan lahan, dengan pemantauan satelit pada 13 September 2026 mendeteksi 627 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan. Berikutnya, 200 titik di Papua dan Maluku, 104 titik di Sulawesi, serta 86 titik di Sumatera yang sebagiannya telah memicu sebaran kabut asap lintas wilayah. Kementerian Pertanian mengonfirmasi peningkatan luasan sawah terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino. Hingga pertengahan September 2026, total area pertanian terdampak kekeringan di Indonesia melonjak mencapai 50.000 hektar. Sebagian besar kerentanan ini berada di area lahan tadah hujan atau kawasan upland yang tidak memiliki akses jaringan irigasi memadai. Sukun merupakan tanaman pangan potensial yang banyak tumbuh di Indonesia. Foto: Pixabay/ JoshuaJCreative/Public Domain. Di tengah situasi ini, belum banyak masyarakat yang menjadikan potensi pohon sukun (Artocarpus altilis) sebagai solusi kedaulatan pangan berbasis sistem perakaran dan pola panennya yang tidak bergantung pada musim hujan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Agrosilvopasture-Tech pada 2024 mengkarakterisasi morfologi sukun di Desa Ohoitahit dan Danar, Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, wilayah dengan curah hujan rata-rata hanya 200-400 milimeter per tahun dan musim kemarau panjang dari Juni hingga November.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 08:44:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16052358/IMG_1773-scaled-e1789893419179-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133705</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah terik matahari, sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Warga Aceh mengenalnya sebagai kacang parang. Dulu, kacang ini tumbuh liar,  kini petani mulai membudidayakan sebagai alternatif kedelai karena produktif dan tahan iklim. Kini, banyak petani di Aceh Beslar, Aceh Selatan, hingga Simeulue menanam tanaman [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/">Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah terik matahari, sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Warga Aceh mengenalnya sebagai kacang parang. Dulu, kacang ini tumbuh liar,  kini petani mulai membudidayakan sebagai alternatif kedelai karena produktif dan tahan iklim. Kini, banyak petani di Aceh Beslar, Aceh Selatan, hingga Simeulue menanam tanaman ini. Sejak April 2026, Ruhani mulai menanam koro di kebunnya seluas satu hektar secara tumpang sari, seperempat lahan terdiri dari 2.500 batang koro, sela-selanya ada kunyit, lengkuas, nanas, cabai, kacang tanah dan jenis tanaman lain. “Pokoknya apa yang ada, kita tanam di sini, sambil menunggu koro panen, juga bisa panen yang lain,” katanya. Dulu, warga menganggap kacang parang sebagai tanaman liar karena belum banyak yang mengetahui cara mengolahnya dan belum punya nilai ekonomi. Hanya sebagian kecil warga Lamteuba yang mengolah menjadi sayur, menumis dengan u-neulheu—bumbu kuliner khas Aceh yang terbuat dari kelapa parut yang mereka sangrai  hingga kecoklatan dan berminyak, lalu menggilingnya sampai halus. “Kami (sebelumnya) mengenal jenis koro yang bijinya berwarna hitam. Buahnya sama, daunnya sama, bijinya yang warnanya hitam. Bahasa kami reuteuk kacang parang,” katanya, Selasa (18/8/26). Cut Badriah (jilbab pink) dan dua orang petani lainnya memanen kacang koro pedang (Canavalia ensiformis) yang tumbuh di kebun milik Ruhani di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia Memasuki bulan kelima, dia bisa memanen perdana sekitar 30 kilogram pada akhir Juli, lalu panen kembali 80 kg dan masih terus berlanjut. Hampir sama seperti Ruhani, Cut Badriah, menanam koro sekitar akhir April 2026. Dia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>