Esau Sidemo tak pernah menyangka perjalanan mencari ikan berubah menjadi perjuangan hidup selama 26 hari. Nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, itu terombang-ambing di Samudra Pasifik setelah mesin perahunya mati.
Arus menyeret perahu ketintingnya ratusan kilometer dari rumah. Untuk bertahan hidup, Esau memakan burung laut, ikan mentah yang melompat ke perahu, dan kelapa busuk yang hanyut. Dia bahkan terpaksa meminum urine. Keselamatannya datang ketika kapal kargo berbendera Prancis menemukannya, lalu membawanya ke China sebelum dipulangkan ke Indonesia.
“Ini seperti mukjizat,” kata Esau. Selama terombang-ambing, ia terus berdoa agar dapat kembali bertemu keluarganya.
Kasus Esau bukan kejadian tunggal. Nelayan Maluku Utara menghadapi ancaman mesin rusak, kehabisan bahan bakar, gelombang tinggi, dan cuaca buruk. Data Basarnas Ternate mencatat 49 operasi pencarian dan pertolongan terhadap nelayan sepanjang 2025. Dari berbagai kecelakaan tersebut, 122 orang ditemukan selamat, tujuh meninggal, dan 20 lainnya hilang.
Menurut Kepala Basarnas Ternate Iwan Ramdani, kondisi geografis Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan dengan aktivitas laut tinggi turut meningkatkan risiko. Gelombang dalam sejumlah kejadian dilaporkan mencapai 2,5 meter.
Perubahan pola cuaca semakin menyulitkan nelayan menentukan waktu melaut. Gafur Kaboli, nelayan tuna sekaligus Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Maluku Utara, mengatakan pengetahuan nelayan dalam membaca musim kini sering tidak lagi dapat diandalkan.
“Korban akibat dampak perubahan iklim terus naik seiring cuaca yang tidak lagi menentu. Keselamatan nelayan jadi terancam,” ujarnya.
Pada saat bersamaan, ikan semakin sulit ditemukan di perairan dekat pantai. Dahulu, nelayan masih bisa memperoleh tuna dalam radius kurang dari 12 mil. Kini, mereka harus melaut lebih dari 15 mil. Kebutuhan bahan bakar pun meningkat dari sekitar 20-30 liter untuk sehari menjadi 100-150 liter untuk perjalanan selama dua sampai tiga hari.
Tekanan tidak hanya datang dari perubahan iklim. WALHI mencatat sekitar 248 izin pertambangan berada di 43 pulau kecil Indonesia. Di Kabaena, nelayan gurita harus meninggalkan wilayah tangkap karena diduga terdampak limbah nikel. Di Wawonii, reklamasi untuk terminal perusahaan nikel turut menggeser ruang tangkap nelayan.
Kondisi tersebut membuat perjalanan melaut semakin jauh, mahal, dan berbahaya. Survei KNTI menunjukkan cuaca ekstrem pada Januari memengaruhi 95 persen nelayan di 350 desa pesisir. Sebanyak 63 persen berhenti melaut akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Penghasilan harian mereka juga turun hingga sekitar 50 persen.
Namun, perlindungan bagi nelayan kecil masih terbatas. Program penyediaan asuransi dan alat keselamatan kerja disebut terhenti sejak 2021. Padahal, keselamatan nelayan bukan sekadar risiko pekerjaan yang harus mereka tanggung sendiri.
Kisah Esau memperlihatkan daya tahan seorang nelayan di tengah laut. Namun, keselamatannya tidak seharusnya hanya bergantung pada keberuntungan. Nelayan memerlukan informasi cuaca yang akurat, alat keselamatan, jaminan sosial, serta perlindungan wilayah tangkap dari kerusakan lingkungan.
Foto utama: Sebuah perahu nelayan berusaha menerobos gelombang tinggi di Mrorotai pada Juli 2026 . Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia.