Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari di hadapan sekitar 50 anak penyandang disabilitas di Malang Creative Center. Saat ia mulai mendongeng, anak-anak duduk menyimak. Kak Arum menerjemahkan cerita tersebut ke dalam bahasa isyarat agar peserta tuli dapat mengikuti kisahnya.
Dongeng itu bercerita tentang Gogo dan Gigi, dua anak gajah yang terpisah akibat suara tembakan pemburu. Gogo harus melewati hutan, sungai, perbukitan, dan semak belukar untuk menemukan adiknya. Setelah melalui berbagai rintangan, keduanya kembali berkumpul dengan rombongan gajah.
“Di mana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. Anak-anak menjawab serempak, “Di hutan.”
Jawaban sederhana itu membawa pesan penting: habitat alami gajah bukan kebun binatang, melainkan hutan. Melalui cerita, peserta diajak memahami hubungan antara satwa, habitat, dan ancaman yang dihadapi gajah tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran yang berat.
Kegiatan dalam rangka Hari Gajah Sedunia tersebut diselenggarakan oleh Difabel Pecinta Alam atau Difpala, Lingkar Sosial, dan Geopix. Acara juga diisi dengan puisi, nyanyian, pembacaan Al-Qur’an, serta pembagian hadiah kepada anak-anak yang dapat menjawab pertanyaan.
Menurut Kertaning Tyas, pembina Lingkar Sosial, dongeng menjadi cara menyenangkan untuk menyampaikan pesan konservasi. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang agar penyandang disabilitas dapat berperan aktif dalam edukasi dan pelestarian lingkungan.
“Hari Gajah Sedunia menjadi momentum meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian gajah Indonesia dan habitatnya,” katanya.
Difpala sebelumnya juga mengembangkan program Tuli Mendongeng dengan melibatkan juru bahasa isyarat. Organisasi ini aktif melakukan pendakian, penanaman pohon, dan pembersihan sampah di gunung. Kini, mereka mulai memperluas perhatiannya dari hutan menuju satwa liar dan keseluruhan ekosistem.
Gunung Wedon di Lawang, Kabupaten Malang, bahkan dijadikan pusat edukasi konservasi inklusif melalui program inclusive forest school. Di tempat tersebut, remaja penyandang disabilitas belajar dan bermain bersama di alam.
Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, mengatakan gajah mempunyai peran penting dalam regenerasi hutan. Satwa bertubuh besar ini membantu menyebarkan biji melalui pergerakan dan kotorannya, sehingga kerap dijuluki “petani hutan”.
Selain secara ekologis, gajah memiliki kedudukan penting dalam sejarah, budaya, dan kerajaan di Nusantara. Namun, keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan habitat, fragmentasi hutan, konflik dengan manusia, dan perburuan.
Data mengenai jumlah gajah sumatera memang beragam, tetapi seluruhnya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Pada 1980-an, populasinya diperkirakan mencapai 2.800-4.800 individu. Forum Konservasi Gajah Indonesia memperkirakan pada 2019 hanya tersisa sekitar 1.087-1.606 individu.
Burhanuddin, pakar konservasi IPB University, menyebut populasi gajah sumatera telah berkurang lebih dari 70 persen dalam tiga generasi. Habitatnya kini terpecah ke dalam sejumlah kantong yang terisolasi di Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Lampung.
Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman juga meneliti data genetik serta penyakit pada gajah jinak. Pemeriksaan menunjukkan banyak gajah sumatera terserang infeksi parasit, bakteri, virus, dan jamur.
Karena itu, perlindungan gajah tidak cukup hanya dilakukan di dalam kawasan konservasi. Habitat dan koridor pergerakannya yang bersinggungan dengan permukiman, perkebunan, dan kegiatan masyarakat juga perlu dijaga. Melalui dongeng Gogo dan Gigi, konservasi hadir dalam bentuk yang sederhana, inklusif, dan mudah dipahami.
Foto utama: Gajah sumatera jinak di CRU di Aceh, difungsikan untuk meminimalisir terjadinya konflik manusi dengan gajah liar. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.