<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=pataka-dieki-al-muhri&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/pataka-dieki-al-muhri/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 03 Aug 2026 01:30:25 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Supervolcano Kikai Simpan Magma Baru. Apa Kaitannya dengan Gunung Toba?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/03/supervolcano-kikai-simpan-magma-baru-apa-kaitannya-dengan-gunung-toba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/03/supervolcano-kikai-simpan-magma-baru-apa-kaitannya-dengan-gunung-toba/#respond</comments>
					<pubDate>03 Agu 2026 01:30:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/04/22014128/Erupsi-Toba-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131425</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, jawa, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gunung api raksasa Kikai di Kepulauan Ryukyu, Jepang, itu menyembunyikan kekuatannya di dasar laut. Pada era Holosen sekitar 7300 tahun lalu, Kikai meletus. Letusan diikuti megatsunami, yang menenggelamkan pulau-pulau di bagian selatan Jepang. Abu vulkaniknya menutupi hampir seluruh daratan Jepang, bahkan mencapai Korea Selatan. Kubah lava bawah laut raksasa pun terbentuk dan kini berada di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/03/supervolcano-kikai-simpan-magma-baru-apa-kaitannya-dengan-gunung-toba/">Supervolcano Kikai Simpan Magma Baru. Apa Kaitannya dengan Gunung Toba?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gunung api raksasa Kikai di Kepulauan Ryukyu, Jepang, itu menyembunyikan kekuatannya di dasar laut. Pada era Holosen sekitar 7300 tahun lalu, Kikai meletus. Letusan diikuti megatsunami, yang menenggelamkan pulau-pulau di bagian selatan Jepang. Abu vulkaniknya menutupi hampir seluruh daratan Jepang, bahkan mencapai Korea Selatan. Kubah lava bawah laut raksasa pun terbentuk dan kini berada di kedalaman sekitar 600 meter. Letusan dahsyat juga membentuk struktur kaldera berukuran sekitar 20 km x 17 km. Setelah letusan itu, Kikai tidak lantas mati. Perlahan perutnya kembali terisi. Erupsi kecil terjadi 17 Mei 2026 lalu, berupa semburan gas dan abu setinggi 400 meter. Perut supervulkano tidak selalu kosong setelah erupsi besar. Energi masih bisa kembali punya taji setelah dilepaskan pada erupsi besar. Konsekuensinya, supervolcano yang pernah meletus tetap berpotensi aktif. Ancaman erupsi besar di masa depan masih mungkin terjadi. “Kami mengajukan sebuah model melt re-injection, yaitu magma baru secara alamiah terinjeksi kembali ke dalam reservoir magma besar pada kedalaman dangkal, tepat di bawah kaldera. Reservoir ini adalah ruang magma sama yang pernah memicu letusan Kikai-Akahoya. Model ini mungkin menunjukkan ciri umum pada gunung berapi yang telah mengalami letusan kaldera raksasa,” tulis Akihiro NAgaya, mewakili rekannya. Laporan penelitian mereka berjudul “Melt re-injection into large magma reservoir after giant caldera eruption at Kikai Caldera Volcano” terbit di jurnal Communications Earth &amp; Environment (Nature), 27 Maret 2026. Mereka menggunakan metode pengukuran baru untuk mendeteksi reservoir magma usai erupsi besar. Yaitu, survei seismik refraksi laut dalam di sekitar kaldera, dengan menggunakan pengukuran kecepatan gelombang seismik yang merambat melalui batuan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/03/supervolcano-kikai-simpan-magma-baru-apa-kaitannya-dengan-gunung-toba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/03/supervolcano-kikai-simpan-magma-baru-apa-kaitannya-dengan-gunung-toba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Melon Hitam, Kandidat Buah Unggul yang Tahan hingga Dua Bulan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melon-hitam-kandidat-buah-unggul-yang-tahan-hingga-dua-bulan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melon-hitam-kandidat-buah-unggul-yang-tahan-hingga-dua-bulan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Agu 2026 00:30:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232230/Astrid-dan-melon-hitam-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131363</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[pangan dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Melon biasanya berkulit hijau, kuning, atau keemasan. Namun, sebuah penelitian di Malang menghasilkan kandidat melon dengan penampilan berbeda: kulitnya berwarna hitam legam, sementara daging buahnya berwarna oranye. Melon hitam ini dikembangkan Astrid Ika Paramitha, mahasiswa doktoral Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Universitas Brawijaya. Keunggulannya bukan hanya terletak pada warna, tetapi juga daya simpan yang dapat mencapai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melon-hitam-kandidat-buah-unggul-yang-tahan-hingga-dua-bulan/">Melon Hitam, Kandidat Buah Unggul yang Tahan hingga Dua Bulan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Melon biasanya berkulit hijau, kuning, atau keemasan. Namun, sebuah penelitian di Malang menghasilkan kandidat melon dengan penampilan berbeda: kulitnya berwarna hitam legam, sementara daging buahnya berwarna oranye. Melon hitam ini dikembangkan Astrid Ika Paramitha, mahasiswa doktoral Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Universitas Brawijaya. Keunggulannya bukan hanya terletak pada warna, tetapi juga daya simpan yang dapat mencapai 60 hari atau dua bulan. Ketahanan tersebut membuatnya berpotensi dikembangkan untuk pasar ekspor karena buah memiliki waktu lebih panjang untuk melewati proses distribusi. Secara fisik, melon ini mempunyai daging buah setebal sekitar 3,5 sentimeter. Bobotnya berkisar 1,3–1,5 kilogram dengan diameter sekitar 13 sentimeter. Tingkat kemanisannya mencapai 15 Brix. Menemukan perpaduan antara rasa manis dan daya simpan bukan perkara mudah, sebab semakin tinggi kadar gula buah, semakin besar pula kemungkinan buah cepat membusuk. Untuk menghasilkan melon ini, Astrid menggunakan biji yang diperoleh dari luar negeri sebagai bahan penelitian. Biji tersebut diberi perlakuan iradiasi sinar gamma di laboratorium Badan Tenaga Nuklir Nasional dengan berbagai dosis. Tujuannya menciptakan keragaman genetik yang kemudian dapat diseleksi. Perubahan signifikan muncul pada generasi mutasi ketiga atau M3. Dari sekitar 1.300 keragaman genetik baru, peneliti memilih karakter-karakter unik untuk dipindahkan ke area produksi. Pengujian dilanjutkan di rumah kaca milik Kelompok Tani Madu Kismo, Desa Permanu, Pakisaji, Malang. Dari 1.500 benih yang disemai, hanya ditemukan satu jenis yang menghasilkan buah berwarna hitam. Temuan langka inilah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut. Sebelumnya, peneliti Universitas Gadjah Mada juga telah menghasilkan Tacapa Green Black. Melon yang dikembangkan sejak 2009 itu memiliki kulit hijau tua atau kehitaman dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melon-hitam-kandidat-buah-unggul-yang-tahan-hingga-dua-bulan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melon-hitam-kandidat-buah-unggul-yang-tahan-hingga-dua-bulan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nikel Raja Ampat,  Greenpeace Desak Industri Otomotif Telusur Rantai Pasok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/02/nikel-raja-ampat-greenpeace-desak-industri-otomotif-telusur-rantai-pasok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/02/nikel-raja-ampat-greenpeace-desak-industri-otomotif-telusur-rantai-pasok/#respond</comments>
					<pubDate>02 Agu 2026 23:52:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230835/GP0SU5K08_Medium-res-1200px-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131418</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bahaya, hutan indonesia, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; “Protect Raja Ampat, Stop Dirty Energy” “Is Your Car Powered by Forest Destruction?”  “Just Transition Energi Now” “Tramsisi energi tanpa merusak hutan” Begitu antara lain spanduk para aktivis Grenpeace Indonesia bentangkan dalam aksi damai saat Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekan tombol pembukaan gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di BSD Tangerang, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/02/nikel-raja-ampat-greenpeace-desak-industri-otomotif-telusur-rantai-pasok/">Nikel Raja Ampat,  Greenpeace Desak Industri Otomotif Telusur Rantai Pasok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; “Protect Raja Ampat, Stop Dirty Energy” “Is Your Car Powered by Forest Destruction?”  “Just Transition Energi Now” “Tramsisi energi tanpa merusak hutan” Begitu antara lain spanduk para aktivis Grenpeace Indonesia bentangkan dalam aksi damai saat Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekan tombol pembukaan gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di BSD Tangerang, Banten, Kamis (30/7/26). Mereka suarakan lewat pelbagai poster ajakan melindungi Raja Ampat dari tambang nikel di depan gedung pertemuan GIIAS. “Raja Ampat belum benar-benar terlindungi dari industri ekstraktif! Nikel dari PT Gag terindikasi mengalir pada industri Weda Bay Nikel, kemudian terindikasi mengalir pada perusahaan baterai dan mobil listrik,” kata Arie Rompas, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace. Dia mendesak,  perusahaan kendaraan listrik segera membuka data rantai pasok mereka. Brand otomotif, katanya, harus menjamin rantai pasok mereka tidak berasal dari perusakan pulau-pulau kecil dan hutan. “Kami juga mengajak konsumen untuk terus mempertanyakan produk mobil listrik apakah itu betul-betul ramah lingkungan.” Aksi damai Greenpeace Indonesia di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di BSD Tangerang, Banten, Kamis (30/7/26). Foto: Achmad R Muazam/Mongabay Indonesia Raja Ampat belum bebas tambang nikel Lebih setahun lalu, pemerintah cabut empat izin usaha pertambangan (IUP) tambang nikel di Raja Ampat karena desakan publik.  Meski begitu, Raja Ampat belum bebas dari tambang nikel. Satu izin tambang, PT Gag Nikel (Gag), terus lanjut di Pulau Gag, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Anak perusahaan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk itu menguasai konsesi seluas 13.136 hektar, mencakup seluruh daratan pulau dan separuh perairan. Pulau Gag merupakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/02/nikel-raja-ampat-greenpeace-desak-industri-otomotif-telusur-rantai-pasok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/02/nikel-raja-ampat-greenpeace-desak-industri-otomotif-telusur-rantai-pasok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengasuh untuk Melepaskan, Kisah Dela Mawar dan 4 Bayi Orangutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengasuh-untuk-melepaskan-kisah-dela-mawar-dan-4-bayi-orangutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengasuh-untuk-melepaskan-kisah-dela-mawar-dan-4-bayi-orangutan/#respond</comments>
					<pubDate>02 Agu 2026 22:30:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/23042233/banner_Dela-Mawar-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131332</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kera besar, Orangutan, tokoh, dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap hari, Dela Mawar menyiapkan makanan, menggendong bayi orangutan, lalu membawa mereka menuju sekolah hutan. Di sana, perempuan 20 tahun ini bukan hanya menjadi pengasuh, tetapi juga guru yang mengajarkan kembali keterampilan dasar untuk hidup di alam liar. Mawar bekerja sebagai keeper di Pusat Penyelamatan Satwa Long Sam, Desa Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengasuh-untuk-melepaskan-kisah-dela-mawar-dan-4-bayi-orangutan/">Mengasuh untuk Melepaskan, Kisah Dela Mawar dan 4 Bayi Orangutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap hari, Dela Mawar menyiapkan makanan, menggendong bayi orangutan, lalu membawa mereka menuju sekolah hutan. Di sana, perempuan 20 tahun ini bukan hanya menjadi pengasuh, tetapi juga guru yang mengajarkan kembali keterampilan dasar untuk hidup di alam liar. Mawar bekerja sebagai keeper di Pusat Penyelamatan Satwa Long Sam, Desa Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ada empat bayi orangutan dalam pengasuhannya: Lukas, Hannes, Jack, dan Panji. Mereka umumnya menjadi korban konflik dengan manusia, kehilangan induk, atau tersesat setelah habitatnya terganggu. Tanpa induk, bayi-bayi ini kehilangan sosok yang seharusnya mengajarkan cara bertahan hidup. Karena itu, Mawar mengenalkan mereka pada pepohonan, melatih kemampuan memanjat, dan membantu membangkitkan kembali insting liarnya. Tujuan akhirnya bukan membuat mereka bergantung pada manusia, melainkan mempersiapkan mereka agar mampu kembali ke hutan. Mengasuh bayi orangutan memiliki kemiripan dengan merawat bayi manusia. Mereka dapat merasa takut saat bertemu orang yang tidak dikenal, menangis, dan berebut makanan. Di balik tingkah lucunya, masing-masing membawa pengalaman kehilangan dan trauma. Pertemuan pertama Mawar dengan Lukas meninggalkan kesan mendalam. Bayi orangutan itu bertubuh kecil, berkulit merah, dan bermata sayu. Lukas mengira Mawar sebagai induknya, lalu menyusu sambil mengeluarkan suara lirih sebelum tertidur dalam pelukannya. Mawar merupakan warga asli Desa Merasa dari Suku Dayak. Ia tumbuh dengan pemahaman bahwa hutan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber kehidupan. Baginya, bekerja dalam konservasi adalah pilihan yang dekat dengan identitas dan nilai-nilai yang diwariskan masyarakatnya. Pekerjaan tersebut tidak mudah. Pusat penyelamatan berada jauh dari kota dengan fasilitas dan sinyal komunikasi terbatas. Para pekerja konservasi juga harus mendatangi lokasi konflik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengasuh-untuk-melepaskan-kisah-dela-mawar-dan-4-bayi-orangutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengasuh-untuk-melepaskan-kisah-dela-mawar-dan-4-bayi-orangutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Melittin, Senyawa Racun Lebah yang Berpotensi Melawan Kanker</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melittin-senyawa-racun-lebah-yang-berpotensi-melawan-kanker/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melittin-senyawa-racun-lebah-yang-berpotensi-melawan-kanker/#respond</comments>
					<pubDate>02 Agu 2026 14:10:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/25042553/Lebah-madu_publicdomainpictures-bee-18192_1920-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131330</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sengatan lebah biasanya identik dengan rasa nyeri dan bengkak. Namun, di balik racunnya, lebah madu menyimpan senyawa yang menarik perhatian dunia medis. Namanya melittin, komponen utama racun lebah yang sedang diteliti sebagai kandidat terapi kanker payudara. Harapan itu muncul dari penelitian di Australia pada 2020. Dalam percobaan laboratorium, racun lebah madu dan melittin menunjukkan kemampuan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melittin-senyawa-racun-lebah-yang-berpotensi-melawan-kanker/">Melittin, Senyawa Racun Lebah yang Berpotensi Melawan Kanker</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sengatan lebah biasanya identik dengan rasa nyeri dan bengkak. Namun, di balik racunnya, lebah madu menyimpan senyawa yang menarik perhatian dunia medis. Namanya melittin, komponen utama racun lebah yang sedang diteliti sebagai kandidat terapi kanker payudara. Harapan itu muncul dari penelitian di Australia pada 2020. Dalam percobaan laboratorium, racun lebah madu dan melittin menunjukkan kemampuan menghancurkan membran sel kanker payudara agresif dalam waktu sekitar 60 menit, dengan pengaruh yang relatif kecil terhadap sel sehat pada kondisi penelitian tersebut. Efeknya bahkan mulai terlihat lebih cepat. Dalam waktu sekitar 20 menit, melittin secara signifikan mengurangi pesan kimia yang dibutuhkan sel kanker untuk tumbuh dan membelah diri. Senyawa itu bekerja dengan mengganggu jalur pensinyalan di dalam sel. Ketika sinyal pertumbuhan dihentikan, sel kanker kehilangan perintah untuk terus berkembang biak. Namun, kemampuan membunuh sel kanker di laboratorium belum berarti racun lebah dapat langsung digunakan sebagai obat. Melittin hanya bekerja secara selektif dalam dosis tertentu. Jika dosisnya terlalu tinggi, sel sehat juga dapat mengalami kerusakan. Masalah lain adalah waktu paruhnya yang pendek di dalam aliran darah. Melittin dapat terurai sebelum mencapai tumor. Penggunaan racun lebah secara langsung juga sulit dikontrol dan berpotensi memicu reaksi alergi serius. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, para peneliti mulai memanfaatkan teknologi nano. Melittin dikemas dalam partikel berukuran sangat kecil agar dapat dibawa langsung menuju sasaran. Material pembawanya dapat berupa liposom, misel, atau nanopartikel polimer. Liposom bekerja seperti gelembung kecil dari lemak yang membawa obat dan melepaskannya ketika mencapai sel target. Misel memiliki bentuk menyerupai bola yang dapat mengangkut zat aktif, sementara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melittin-senyawa-racun-lebah-yang-berpotensi-melawan-kanker/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/melittin-senyawa-racun-lebah-yang-berpotensi-melawan-kanker/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Pallas: Sang Kucing Paling Cemberut yang Menghuni Ekosistem Paling Keras di Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/02/kucing-pallas-sang-kucing-paling-cemberut-yang-menghuni-ekosistem-paling-keras-di-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/02/kucing-pallas-sang-kucing-paling-cemberut-yang-menghuni-ekosistem-paling-keras-di-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>02 Agu 2026 13:34:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/02132806/manul-1024x683-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131405</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia satwa liar penuh dengan spesies yang memiliki penampilan menawan, menakutkan, hingga menggemaskan. Di antara beragam spesies kucing liar, ada satu yang memikat perhatian dunia bukan karena aumannya yang keras atau larinya yang cepat, melainkan karena raut wajahnya yang unik. Hewan ini secara populer sering disebut sebagai kucing paling cemberut di dunia. Kucing Pallas (Otocolobus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/02/kucing-pallas-sang-kucing-paling-cemberut-yang-menghuni-ekosistem-paling-keras-di-bumi/">Kucing Pallas: Sang Kucing Paling Cemberut yang Menghuni Ekosistem Paling Keras di Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia satwa liar penuh dengan spesies yang memiliki penampilan menawan, menakutkan, hingga menggemaskan. Di antara beragam spesies kucing liar, ada satu yang memikat perhatian dunia bukan karena aumannya yang keras atau larinya yang cepat, melainkan karena raut wajahnya yang unik. Hewan ini secara populer sering disebut sebagai kucing paling cemberut di dunia. Kucing Pallas (Otocolobus manul) atau manul memiliki ekspresi wajah yang tampak selalu marah, kesal, atau tidak puas. Bentuk wajah ini dipengaruhi oleh anatomi kepala mereka. Telinga mereka berukuran pendek dan terletak rendah di sisi kepala. Dahi mereka datar. Pupil mata mereka berbentuk bulat, berbeda dengan kucing domestik yang umumnya memiliki pupil vertikal. Tampilan fisik ini memberi kesan mereka sedang menatap tajam kepada siapa saja yang melihatnya. Wajah Cemberut yang Tersembunyi di Ketinggian Kucing Pallas adalah penduduk asli padang rumput stepa dan daerah pegunungan berbatu di wilayah Asia Tengah. Bulu mereka tebal untuk menahan suhu beku yang ekstrem, membuat tubuh mereka terlihat lebih besar dan gempal dari aslinya. Ukuran tubuh mereka sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kucing peliharaan biasa di rumah, dengan berat sekitar dua hingga lima kilogram. Kucing Pallas (Otocolobus manul) berdiri di atas bebatuan, memperlihatkan tubuhnya yang gempal akibat bulu tebal dan kaki pendeknya . Foto: Dick Smit (CC BY-SA). Pada tahun 2022, sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Cat News melaporkan bukti genetik keberadaan Kucing Pallas di Taman Nasional Sagarmatha, kawasan Everest, Nepal. Sampel dikumpulkan pada ekspedisi 2019 oleh tim peneliti dari Wildlife Conservation Society. Para ilmuwan mendeteksi DNA lingkungan atau eDNA hewan ini dari sampel&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/02/kucing-pallas-sang-kucing-paling-cemberut-yang-menghuni-ekosistem-paling-keras-di-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/02/kucing-pallas-sang-kucing-paling-cemberut-yang-menghuni-ekosistem-paling-keras-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/hutan-indonesia-dalam-kepungan-ekspansi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/hutan-indonesia-dalam-kepungan-ekspansi/#respond</comments>
					<pubDate>02 Agu 2026 08:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08151150/Siamang-di-Taman-Wisata-Kera-Sibaganding-Sumatera-Utara-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=131403</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Data Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 Yayasan Auriga Nusantara mencatat ada kenaikan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya. Dari 261.575 hektar jadi 433.751 ha. Hutan berubah menjadi tambang hingga kebun, perburuan dan perdagangan satwa terus meningkat, hingga perampasan lahan menjadi kawasan industri atau lahan sengketa. Di tengah himpitan ruang hidup yang terus tertekan, ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/hutan-indonesia-dalam-kepungan-ekspansi/">Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Data Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 Yayasan Auriga Nusantara mencatat ada kenaikan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya. Dari 261.575 hektar jadi 433.751 ha. Hutan berubah menjadi tambang hingga kebun, perburuan dan perdagangan satwa terus meningkat, hingga perampasan lahan menjadi kawasan industri atau lahan sengketa. Di tengah himpitan ruang hidup yang terus tertekan, ada orang-orang tetap berjuang untuk menjaga alam dengan cara mereka. Meski itu tidak selalu mudah. Ada lima artikel pilihan Mongabay Snaps kali ini merangkum beragam kisah tersebut. Cerita tentang tambang emas ilegal yang mengancam Taman Nasional Kerinci Seblat, warga Pegunungan Menoreh yang melindungi burung dari perburuan, perjalanan kelam siamang yang menjadi korban perdagangan satwa liar, perjuangan warga Rancapinang mempertahankan ruang hidupnya, hingga perubahan yang dirasakan masyarakat Sumbawa Barat sejak tambang dan smelter tembaga hadir. Lalu, seperti apa cerita di balik semua peristiwa itu? Simak lima artikel pilihan Mongabay Snaps berikut. 1. Tambang emas ilegal merambah hutan warisan dunia Kerusakan Sungai AIr Penetai di TNKS akibat tambang emas ilegal. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia. Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi, berstatus sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, masih menjadi sasaran tambang emas ilegal. Aktivitas illegal ini dilakukan dengan menggunakan alat berat dengan membuka hutan dan meninggalkan kerusakan di kawasan konservasi. Tak kehilangan hutan, tambang ilegal ini juga mengancam habitat satwa yang dilindungi, mencemari sungai, dan meningkatkan risiko bencana di sekitar kawasan. Ironisnya, praktik ini diduga melibatkan jaringan yang terorganisir, mulai dari penyedia alat hingga pemasok bahan bakar. Banyak pihak menilai penegakan hukum tidak cukup berhenti pada penambang di lapangan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/hutan-indonesia-dalam-kepungan-ekspansi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/hutan-indonesia-dalam-kepungan-ekspansi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Konflik Tenurial Perusahaan Hutan Energi di Gorontalo Utara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/02/jejak-konflik-tenurial-perusahaan-kehutanan-di-gorontalo-utara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/02/jejak-konflik-tenurial-perusahaan-kehutanan-di-gorontalo-utara/#respond</comments>
					<pubDate>02 Agu 2026 04:09:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/29143308/IMG_7521-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131276</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Marten Laita, belum lupa. Siang itu, sepulang dari pasar pada  2012, dia dapati kebunnya seluas delapan hektar di Desa Bubode, Gorontalo Utara mendadak berubah rupa. Beragam pohon yang dia tanam bertahun-tahun, seperti nangka, durian, kakao, pisang, hingga cengkih bertumbangan dan tergantikan tanaman industri. PT Gema Nusantara Jaya (GJN) yang mendapat izin sejak 2011. Lebih terkejut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/02/jejak-konflik-tenurial-perusahaan-kehutanan-di-gorontalo-utara/">Jejak Konflik Tenurial Perusahaan Hutan Energi di Gorontalo Utara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Marten Laita, belum lupa. Siang itu, sepulang dari pasar pada  2012, dia dapati kebunnya seluas delapan hektar di Desa Bubode, Gorontalo Utara mendadak berubah rupa. Beragam pohon yang dia tanam bertahun-tahun, seperti nangka, durian, kakao, pisang, hingga cengkih bertumbangan dan tergantikan tanaman industri. PT Gema Nusantara Jaya (GJN) yang mendapat izin sejak 2011. Lebih terkejut lagi saat dia mendapati jejak alat berat memenuhi hamparan kebun. &#8220;Semuanya sudah rata,&#8221; kenangnya. Menurut dia, apa yang terjadi di kebunnya buntut klaim GNJ, kebun yang dia kelola berada di wilayah konsesi perusahaan. Padahal, tak sekalipun dia menerima surat peringatan, undangan musyawarah, ataupun penjelasan tentang batas konsesi. Sehari sebelumnya, dia hanya melihat alat berat terparkir tak jauh dari kebunnya.  Saat dia ke pasar untuk menjual hasil panen, alat-alat berat perusahaan masuk dan menghancurkan semua tanaman yang menjadi sumber penghidupannya. Marten  sempat mendengar kabar dari warga lain bahwa kebun mereka terima Rp250.000 per hektar, nilai ini lebih kecil dari hasil satu kali panen kakao atau  cengkih. Apalagi, dia tak pernah mendengar tawaran itu secara langsung. “Ini yang membuat warga Bubode marah. Wilayah itu diperlakukan seolah-olah tanah kosong, padahal kami sudah lama mengelolanya,” kata Marten. Yones Bagu, warga lain alami serupa setelah dua hektar kebun jagung perusahaan sasak dengan alat berat. Gara-gara itu, dia merugi hingga Rp10 juta lantaran untuk satu hektar saja, dia perlu modal Rp3 juta–Rp5 juta untuk benih, pupuk, dan ongkos kerja. Dalam satu musim, Yones  bisa mendapat 8-10 ton jagung per hektar. Dengan dua hektar, produksinya bisa mencapai 16-20 ton. Saat harga stabil,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/02/jejak-konflik-tenurial-perusahaan-kehutanan-di-gorontalo-utara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/02/jejak-konflik-tenurial-perusahaan-kehutanan-di-gorontalo-utara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menempuh Ribuan Kilometer, Perjalanan Satwa Migran Kian Berbahaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/#respond</comments>
					<pubDate>01 Agu 2026 10:00:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235625/Hammerhead-shark-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131316</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap tahun, berbagai satwa menempuh perjalanan panjang melintasi laut, daratan, dan batas negara. Burung terbang mengikuti jalur musiman, paus berpindah melintasi samudra, sementara hiu dan ikan bermigrasi mencari makanan atau tempat berkembang biak. Namun, perjalanan alami yang telah berlangsung selama ribuan tahun itu kini semakin berbahaya. Konferensi Para Pihak ke-15 Konvensi Spesies Migran atau COP15 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/">Menempuh Ribuan Kilometer, Perjalanan Satwa Migran Kian Berbahaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap tahun, berbagai satwa menempuh perjalanan panjang melintasi laut, daratan, dan batas negara. Burung terbang mengikuti jalur musiman, paus berpindah melintasi samudra, sementara hiu dan ikan bermigrasi mencari makanan atau tempat berkembang biak. Namun, perjalanan alami yang telah berlangsung selama ribuan tahun itu kini semakin berbahaya. Konferensi Para Pihak ke-15 Konvensi Spesies Migran atau COP15 CMS di Brasil menetapkan peningkatan perlindungan terhadap 40 spesies migran. Daftar tersebut mencakup burung, hewan darat, dan satwa akuatik seperti hiu, paus, serta ikan. Dengan penambahan itu, CMS kini mencakup sekitar 1.200 spesies unik. Appendix I CMS memuat spesies migran yang terancam punah di alam liar dan memerlukan perlindungan ketat. Sementara itu, Appendix II berisi spesies yang konservasi serta pengelolaannya membutuhkan kerja sama internasional. Sejumlah satwa yang mendapat perhatian lebih besar antara lain hyena bergaris, burung hantu salju, berang-berang raksasa, dan hiu martil besar. Tindakan konservasi terkoordinasi juga diarahkan pada hiu harimau pasir, hiu raksasa, hiu biru, paus sperma Pasifik Tropis Timur, beberapa jenis lumba-lumba, serta seluruh spesies ikan manta dan ikan setan. Ancaman terhadap satwa migran datang dari berbagai arah. Habitat yang menjadi tempat mereka makan, beristirahat, dan berkembang biak terus menyusut. Eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi plastik, kebisingan bawah air, perburuan ilegal, tangkapan sampingan perikanan, dan pencemaran laut mempercepat penurunan populasi. Penambangan laut dalam juga menjadi perhatian. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan sedimen dan limbah yang mengganggu navigasi, pola makan, serta ketersediaan mangsa. Partikel yang tercemar logam juga berpotensi masuk ke rantai makanan. Selain itu, pembangunan infrastruktur dapat meningkatkan kerusakan habitat, kebisingan, dan risiko&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sungai dan Wayang Harimau di Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>01 Agu 2026 03:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011228/Selama-ratusan-tahun-ikan-air-tawar-menjadi-sumber-ekonomi-dan-pangan-bagi-perempuan-yang-hidup-di-lahan-basah-Sungai-Musi.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131382</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, komunitas lokal, Lahan Basah, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sumatera Selatan yang merupakan bagian penting dari Pulau Sumatera, memiliki kekayaan alam luar biasa dari dataran tinggi hingga rendah, baik biotik maupun abiotik. Sungai atau batanghari adalah salah satu wujud kekayaan tersebut. Sungai bukan hanya ruang bagi air, batuan, pasir, juga menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup. Mulai dari mikroorganisme, tumbuhan air, ikan air tawar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/">Sungai dan Wayang Harimau di Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sumatera Selatan yang merupakan bagian penting dari Pulau Sumatera, memiliki kekayaan alam luar biasa dari dataran tinggi hingga rendah, baik biotik maupun abiotik. Sungai atau batanghari adalah salah satu wujud kekayaan tersebut. Sungai bukan hanya ruang bagi air, batuan, pasir, juga menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup. Mulai dari mikroorganisme, tumbuhan air, ikan air tawar, ampibi, reptil, invertebrata, hingga burung, berang-berang dan buaya. Sumatera Selatan dikenal sebagai negeri “Batanghari Sembilan”. Sebab, di wilayah ini terdapat sembilan sungai besar, yakni Sungai Musi, Sungai Komering, Sungai Ogan, Sungai Lematang, Sungai Lakitan, Sungai Batanghari Leko, Sungai Kelingi, Sungai Rupit, dan Sungai Rawas. Sembilan sungai tersebut membentuk ekosistem lahan basah, yang luasnya sekitar tiga juta hektar. Dalam pemikiran Friedrich Ratzel (Jerman) dan Ellsworth Huntington (Amerika Serikat) yang mengembangkan teori Determinisme Lingkungan, kekayaan sungai membentuk budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya. Sungai bukan hanya sebagai sumber air bersih, pangan, juga sarana transportasi. Kehidupan sungai tidak mengenal dominasi hierarki. Air mengalir bebas dari hulu ke hilir maupun sebaliknya, bebas diakses semua makhluk hidup, serta memberi penghidupan tanpa menuntut balas. Pada akhirnya, melahirkan masyarakat terbuka, egaliter, dan berketuhanan. Masyarakat yang terbuka, egaliter, dan berketuhanan tersebut memfasilitasi proses akulturasi budaya, sehingga kebudayaan di Sumatera Selatan, kaya tradisi dan pengetahuan, seperti kekayaan alamnya. Pengetahuan lokal melebur dengan berbagai pengetahuan Hindu-Buddha, Islam, dan Barat, yang melahirkan beragam tradisi dan budaya, seperti arsitektur, sistem kepercayaan, seni, dan lainnya. Ikan menjadi sumber pangan dan ekonomi bagi masyarakat di Sumatera Selatan. Foto Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Dari 67 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) di Sumatera&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Foto Buram Tahun 2008 Ini Ternyata Menjadi Petunjuk Penemuan Spesies Monyet Baru di 2026</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/#respond</comments>
					<pubDate>01 Agu 2026 00:54:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/01004736/Colobus-Congensis_Amboko-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131376</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penemuan spesies mamalia besar baru tergolong jarang terjadi dalam dunia sains. Sebagian besar kelompok mamalia besar, termasuk primata, sudah dipetakan dan diklasifikasikan setelah lebih dari satu abad penelitian. Karena itu, konfirmasi spesies monyet baru di hutan Republik Demokratik Kongo (DRC) menjadi salah satu temuan primata paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Kisah penemuan ini bermula [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/">Foto Buram Tahun 2008 Ini Ternyata Menjadi Petunjuk Penemuan Spesies Monyet Baru di 2026</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penemuan spesies mamalia besar baru tergolong jarang terjadi dalam dunia sains. Sebagian besar kelompok mamalia besar, termasuk primata, sudah dipetakan dan diklasifikasikan setelah lebih dari satu abad penelitian. Karena itu, konfirmasi spesies monyet baru di hutan Republik Demokratik Kongo (DRC) menjadi salah satu temuan primata paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Kisah penemuan ini bermula pada 2008, ketika sebuah foto menangkap sosok monyet berbulu hitam pekat di kanopi hutan lebat DRC. Foto itu hanya menampilkan punggung dan sebagian ekor monyet, karena hewan tersebut membelakangi kamera. Meski parsial, gambar itu cukup untuk memicu rasa penasaran Junior Amboko, primatolog biologi dari Florida Atlantic University di Boca Raton, Amerika Serikat, dan sejumlah peneliti lain, tentang kemungkinan adanya spesies yang belum tercatat dalam literatur ilmiah. onyet ini termasuk dalam genus Colobus, kelompok monyet pemakan daun yang tersebar di hutan-hutan tropis Afrika dan dikenal karena tidak memiliki ibu jari pada tangannya. | Foto oleh DANIEL ROSENGREN/FRANKFURT ZOOLOGICAL SOCIETY Selama beberapa tahun berikutnya, Amboko dan timnya kembali ke hutan berkanopi rapat itu, kawasan yang juga menjadi habitat tujuh spesies monyet lain serta bonobo. Sepanjang 2018 hingga 2022, tim mencatat puluhan perjumpaan dengan monyet misterius tersebut. Mereka mengamati ciri khas berupa bercak oranye di sekitar mulut monyet, sekaligus merekam suara raungannya yang dalam dan khas. Monyet ini termasuk dalam genus Colobus, kelompok monyet pemakan daun yang tersebar di hutan-hutan tropis Afrika dan dikenal karena tidak memiliki ibu jari pada tangannya. Sebelum penelitian ini, genus tersebut sudah mencakup beberapa spesies yang tersebar di Afrika tengah dan barat, termasuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apa Dampak Gerhana Bulan bagi Lingkungan Pesisir?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>01 Agu 2026 00:30:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/04103731/Picture1-768x508.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131293</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gerhana bulan bukan hanya pertunjukan astronomi yang membuat Bulan tampak gelap atau berwarna merah. Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris, fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan pasang-surut air laut yang dapat membawa manfaat sekaligus risiko bagi lingkungan pesisir. Gerhana bulan berlangsung ketika Bulan memasuki bayangan Bumi pada fase purnama. Pada kondisi ini, tarikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/">Apa Dampak Gerhana Bulan bagi Lingkungan Pesisir?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gerhana bulan bukan hanya pertunjukan astronomi yang membuat Bulan tampak gelap atau berwarna merah. Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris, fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan pasang-surut air laut yang dapat membawa manfaat sekaligus risiko bagi lingkungan pesisir. Gerhana bulan berlangsung ketika Bulan memasuki bayangan Bumi pada fase purnama. Pada kondisi ini, tarikan gravitasi Matahari dan Bulan bekerja pada arah yang selaras. Akibatnya, permukaan air laut dapat mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dibandingkan kondisi biasa. Pasang maksimum tersebut dapat memberikan manfaat ekologis. Air laut mampu menjangkau bagian pesisir yang lebih luas sambil membawa nutrisi ke berbagai wilayah. Masuknya unsur hara ini membantu menyuburkan ekosistem pesisir dan mendukung rantai makanan laut. Arus pasang juga dapat membantu menyebarkan benih tumbuhan laut dan organisme pesisir ke wilayah baru. Proses tersebut mendukung regenerasi alami serta meningkatkan peluang terbentuknya habitat baru. Dalam jangka panjang, perpindahan organisme dapat berkontribusi terhadap keanekaragaman hayati di kawasan pesisir. Namun, perubahan pasang yang lebih tinggi juga mempunyai sisi berisiko. Air laut dapat melampaui batas normal dan menggenangi permukiman atau fasilitas di daerah rendah. Fenomena ini dikenal sebagai banjir rob. Dampaknya dapat mengganggu aktivitas masyarakat pesisir, termasuk nelayan, transportasi, dan kegiatan ekonomi sehari-hari. Pada gerhana bulan 7–8 September 2025, misalnya, permukaan air laut di Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, Kalimantan Selatan, mulai naik dan mencapai puncaknya sekitar pukul 03.00. Para nelayan tetap melaut karena pasang-surut merupakan bagian dari keseharian mereka, tetapi kondisi tersebut tetap memerlukan kewaspadaan. Gerhana bulan total juga dikenal dengan sebutan blood&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Kelompok Tani Perempuan Pulihkan Hutan dan Jaga Tesso Nilo</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 23:42:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/31233220/Ketua-Perbani-Rena-Sandriani.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131366</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ketika hutan di Taman Nasional Tesso Nilo nyaris habis tergerus jadi kebun sawit, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau, berlaku sebaliknya. Di kawasan penyangga Tesso Nilo ini, warga terutama para perempuan menanam beragam pohon buah-buahan yang berfungsi konservasi sekaligus bernilai ekonomi. Ada buah jeruk, sebagai tanaman yang tak gajah sukai di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/">Upaya Kelompok Tani Perempuan Pulihkan Hutan dan Jaga Tesso Nilo</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ketika hutan di Taman Nasional Tesso Nilo nyaris habis tergerus jadi kebun sawit, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau, berlaku sebaliknya. Di kawasan penyangga Tesso Nilo ini, warga terutama para perempuan menanam beragam pohon buah-buahan yang berfungsi konservasi sekaligus bernilai ekonomi. Ada buah jeruk, sebagai tanaman yang tak gajah sukai di area kebun yang perlu mereka lindungi. Warga juga tanam buah-buahan yang gajah senangi seperti nangka, dan cempedak, petai, dan lain-lain sebagai kawasan tempat satwa tambun ini cari makan. Ernita,  kini merasa tenang. Gajah tak lagi rusak kebun sawitnya. Bukan karena mengusir satwa di lindungi itu, cukup dengan menanam jeruk di sekeliling kebun. Ia jadi pagar ramah satwa untuk melindungi tanaman sawit yang baru memasuki masa panen. “Sebelum tanam jeruk, sawit kami selalu dimakan gajah. Sudah tanam ulang empat sampai lima kali. Memang tak banyak (yang dimakan). Sekitar 15 sampai 20 pokok. Alhamdulillah, setelah buat pagar jeruk, belum pernah dimakan gajah lagi (sawitnya),” kata perempuan 33 tahun ini. Saat ini, Erni melihat gajah justru lebih sering di kebun sawit warga sekitar yang tak berpagar jeruk. Dia bilang, belum semua pemilik kebun sawit warga Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB), Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau ini tertarik dan berminat praktik serupa. Erni, mulai melakukan cara alami agar tetap hidup harmoni dengan gajah Sumatera sejak tiga tahun belakangan. Mengingat LKB adalah satu dari sekian desa yang bersinggungan dengan Tesso Nilo. Ini satu kantong gajah Sumatera terbanyak di Riau. Wilayah masyarakat adat, juga pintu masuk taman nasional itu. Rumah Erni, tak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 16:21:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/31153428/JETTY-PT-TMS-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131309</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kabaena dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, hawa dingin berkabut pasca hujan mengguyur Desa Tangkeno. Sailan bersiap menuju hutan hendak pergi menyadap nira. Lelaki 61 tahun ini membawa sebilah golok sebagai alat mengiris bunga enau dan bambu penampung nira. Biasanya,  dia menyadap nira manis,  pagi dan sore.  Pukul 07.00 dan 16.00 WITA adalah waktu paling cocok. “Kalau telat, rasanya sudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/">Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, hawa dingin berkabut pasca hujan mengguyur Desa Tangkeno. Sailan bersiap menuju hutan hendak pergi menyadap nira. Lelaki 61 tahun ini membawa sebilah golok sebagai alat mengiris bunga enau dan bambu penampung nira. Biasanya,  dia menyadap nira manis,  pagi dan sore.  Pukul 07.00 dan 16.00 WITA adalah waktu paling cocok. “Kalau telat, rasanya sudah beda, tidak cocok untuk gula aren,” katanya, 24 Februari 2026. Sailan adalah Ketua Adat Desa Tangkeno, Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Desa yang terkenal dengan sebutan &#8220;Negeri di atas Awan&#8221; ini berada di perbukitan terapit pegunungan. Kampung ini pun jadi ikon wisata. Setelah parkir motor di pinggir hutan, Sailan berjalan kaki menuju tanaman enau. Dia memanjat enau,  sesampainya di atas  mengiris bagian ujung bunga jantan hingga tetesan nira mulai mengucur. Dia pun memasang bambu penampung. Bambu Sailan biarkan menggantung sampai esok siap panen. Dia panjat belasan enau di beda lokasi satu per satu, sembari mengecek bambu-bambu yang telah tergantung sejak kemarin. Bambu-bambu berisi nira itu dia bawa ke gubuk untuk olah menjadi gula aren. Nurbiah, istri Sailan sudah memanaskan tungku kayu. Nira segar dalam bambu terlebih dulu perempuan 59 tahun ini campur air rendaman kapur sirih dan kayu pohon nangka. Kemudian dia tuang ke kuali satu per satu. Peta ini menunjukkan IUP PT BBS berada dalam kawasan hutan yang turut mencangkup wilayah desa adat Tangkeno dengan konsesi perusahaan. Satya Bumi Proses memasak nira berlangsung sekitar satu jam, sambil aduk tanpa henti hingga mengental. Kemudian mereka cetak dengan tempurung kelapa. Setelah mengeras, sudah jadi gula aren dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Palung Gelap Industri Tuna Benoa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 13:05:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riza Salman*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan huku]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/31100131/IMG20260311103023-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131322</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, pangan, dan politik dan huku]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari menjelang siang ketika deretan kapal penangkap dan pengangkut ikan memenuhi Dermaga Pelabuhan Perikanan Benoa, Denpasar, Bali, Maret 2026. Di antara puluhan kapal yang bersandar itu, tampak KM Matsam-5 yang tengah melakukan aktivitas bongkar muat. Para awak kapal perikanan (APK) dengan cekatan mengeluarkan berbagai ikan pelagis, termasuk tuna sirip kuning dari lambung kapal dan memindahkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/">Palung Gelap Industri Tuna Benoa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari menjelang siang ketika deretan kapal penangkap dan pengangkut ikan memenuhi Dermaga Pelabuhan Perikanan Benoa, Denpasar, Bali, Maret 2026. Di antara puluhan kapal yang bersandar itu, tampak KM Matsam-5 yang tengah melakukan aktivitas bongkar muat. Para awak kapal perikanan (APK) dengan cekatan mengeluarkan berbagai ikan pelagis, termasuk tuna sirip kuning dari lambung kapal dan memindahkan ke mobil bak terbuka di pinggiran dermaga. Hingga aktivitas itu berakhir, tak terlihat petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau pelabuhan di lokasi. “Tidak ada. Biasanya juga memang tidak ada petugas yang memeriksa hasil tangkapan,” kata Rahman, bukan nama sebenarnya, salah satu AKP yang Mongabay temui di lokasi, pertengahan Maret. Sejak lama, Benoa memang terkenal sebagai satu titik (spot) pendaratan tuna terbesar di Indonesia. Statistik KKP menyebut, produksi tuna Bali mencapai 18.800 ton dan jadikan provinsi ini peringkat tujuh nasional di bawah Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Jakarta dan Sulawesi Selatan. Dari Benoa, tuna-tuna banyak kirim ke berbagai pasar ekspor. Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dalam laporannya berjudul “Analisis rantai pasok dan rantai industri perikanan tuna di Benoa,”  menyebutkan, Amerika Serikat sebagai pasar utama tuna Bali (56,8%), lalu Jepang (18,4%), American Samoa (7,9%), Thailand (5,8%) dan Australia (3%). Masalahnya, di balik tingginya produksi tuna Bali, menyisakan dugaan praktik illegal, unreported unregulation fishing (IUUF) oleh sebagian armada. KM Matsam 5, misal, kendati tak miliki legalitas memadai, kuat dugaan kapal berkapasitas 150 gross tonnage (GT) ini masih beraktivitas tangkap ikan di Samudera Hindia. Padahal, izin kapal itu di IOTC kedaluwarsa sejak Desember 2023. Rekaman&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mirip Kobra Asli, Ular Ini Ternyata Hanya Berbisa Ringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 10:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/14041335/kobra-palsu-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131218</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Leher mengembang, tubuh bersiap menghadapi ancaman, dan penampilannya sekilas menyerupai kobra. Namun, ular ini bukan anggota kobra sejati. Namanya kobra palsu (Pseudoxenodon inornatus), spesies yang menggunakan kemiripan fisik dan perilaku sebagai strategi untuk menakuti predator. Kobra palsu berbeda dari kobra jawa (Naja sputatrix). Salah satu perbedaan yang mudah diamati adalah warna tubuh. Kobra palsu umumnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/">Mirip Kobra Asli, Ular Ini Ternyata Hanya Berbisa Ringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Leher mengembang, tubuh bersiap menghadapi ancaman, dan penampilannya sekilas menyerupai kobra. Namun, ular ini bukan anggota kobra sejati. Namanya kobra palsu (Pseudoxenodon inornatus), spesies yang menggunakan kemiripan fisik dan perilaku sebagai strategi untuk menakuti predator. Kobra palsu berbeda dari kobra jawa (Naja sputatrix). Salah satu perbedaan yang mudah diamati adalah warna tubuh. Kobra palsu umumnya berwarna abu-abu kusam, meski sebagian individu tampak jingga atau kemerahan. Kobra jawa cenderung berwarna hitam pekat dan terlihat mengkilap ketika terkena sinar matahari. Bagian kepala juga menyimpan petunjuk. Kobra palsu biasanya memiliki garis putih menyerupai huruf V terbalik di atas kepalanya. Sebaliknya, bagian atas kepala kobra asli cenderung polos, sementara pola terdapat di bawah leher. Pembeda yang dianggap paling akurat adalah keberadaan sisik loreal, yakni sisik di antara hidung dan mata. Kobra palsu yang termasuk famili Colubridae memiliki sisik tersebut. Pada kobra sejati dari famili Elapidae, sisik loreal tidak ada sehingga sisik hidung langsung bersentuhan dengan sisik di depan mata. Pengamat atau fotografer satwa dapat memeriksanya melalui foto kepala yang diambil dari jarak aman. Ukuran tubuh keduanya juga berbeda. Kobra palsu rata-rata memiliki panjang sekitar 75 sentimeter dan jarang melebihi satu meter. Kobra asli dapat tumbuh melampaui 1,5 meter. Ciri paling mengecoh adalah kemampuan kobra palsu mengembangkan leher seperti tudung kobra. Perilaku ini merupakan bentuk mimikri untuk membuat predator mengira sedang berhadapan dengan ular berbahaya. Bedanya, kobra palsu belum pernah terdokumentasi mampu mengangkat bagian depan tubuh setinggi kobra asli. Meski menyandang sebutan “palsu”, ular ini tetap memiliki bisa. Namun, tingkat bahayanya jauh lebih rendah dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bumi Makin Panas, Waspada Bencana dan Penyakit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 03:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230142/Kebakaran-hutan-dan-lahan-di-Limapuluhkota-Dokumentasi-BPBD-Sumatera-Barat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131292</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau datang lebih panjang. Kemungkinannya mencapai 46,5%. Kondisi ini bisa memperburuk kondisi iklim, dan memicu bencana hingga penyakit. Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Klimatologi BMKG, menyebut, kondisi iklim sedang tidak baik. Untuk pertama kalinya, tahun 2024, suhu bumi naik 1,55 Celsius. Prediksi BMKG, periode 2021-2050, seluruh Indonesia akan naik sampai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/">Bumi Makin Panas, Waspada Bencana dan Penyakit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau datang lebih panjang. Kemungkinannya mencapai 46,5%. Kondisi ini bisa memperburuk kondisi iklim, dan memicu bencana hingga penyakit. Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Klimatologi BMKG, menyebut, kondisi iklim sedang tidak baik. Untuk pertama kalinya, tahun 2024, suhu bumi naik 1,55 Celsius. Prediksi BMKG, periode 2021-2050, seluruh Indonesia akan naik sampai 1,6 Celsius, sedangkan 2071-2100 akan mengalami kenaikan suhu sampai 3,4 Celsius dari periode 1981-2010. Di Indonesia, tahun 2025 adalah tahun keenam terpanas sepanjang sejarah. Secara global, tahun 2025 adalah tahun ketiga terpanas. Trennya cenderung naik dari tahun ke tahun. “Tren dari temperatur di wilayah-wilayah mayoritas wilayah Indonesia semuanya naik, ya, di wilayah urban tentunya lebih cepat. Seperti di Jakarta itu 1,6 kali lebih cepat dari rata-rata temperatur global,” katanya. Dalam konteks kebakaran hutan, kata Sena, munculnya hotspot biasa terjadi pada Juni sampai Oktober. Untuk dry season tahun ini, dia perkirakan terjadi pada Juli sampai September berdasarkan rata-rata klimatologinya. “Dry spell ini akan semakin panjang karena perubahan iklim ini.” Kemunculan titik panas (hotspot) tahun ini mirip dengan yang terjadi pada 2019. Walaupun, sebenarnya, kemunculan hotspot lebih mengikuti kondisi musim. “Untuk 2026, untuk awal tahun ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Harapan kita tentunya ini tidak naik&#8230; mengingat kondisi kekeringan yang akan datang.” BMKG memprediksi, peluang El-Nino tahun ini masuk kategori moderat mencapai 98%, sementara peluang kategori kuat 62%. Selain  itu, potensi musim kemarau maju di 50% wilayah Indonesia. “Karena dia maju, maka musim kemarau totalnya menjadi lebih panjang 57% wilayah kita.” Israr Albar, Mantan Kepala&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>7 Fakta Unik Ikan Gobi Udang yang Ditemukan di Banyuwangi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 01:30:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/25104241/Ikan-gobi-banyuwangi2.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131304</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merilis temuan terbaru mereka tentang spesies ikan gobi udang (shrimpgoby) yang ditemukan di Banyuwangi, Jawa Timur. Laporan tersebut diterbitkan di jurnal ZooKeys, edisi 24 Juni 2026, berjudul “Tomiyamichthys oriens, a new species of shrimpgoby (Teleostei, Gobiidae) from the coast of Banyuwangi, East Java, Indonesia.” Kunto Wibowo, peneliti Pusat Riset Biosistematika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/">7 Fakta Unik Ikan Gobi Udang yang Ditemukan di Banyuwangi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merilis temuan terbaru mereka tentang spesies ikan gobi udang (shrimpgoby) yang ditemukan di Banyuwangi, Jawa Timur. Laporan tersebut diterbitkan di jurnal ZooKeys, edisi 24 Juni 2026, berjudul “Tomiyamichthys oriens, a new species of shrimpgoby (Teleostei, Gobiidae) from the coast of Banyuwangi, East Java, Indonesia.” Kunto Wibowo, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan sisi lain ikan tersebut kepada Mongabay Indonesia, Jumat (24/7/26). Ada tujuh fakta menarik ikan tersebut, juga bagaimana ia bisa berasosiasi langsung dengan genus Tomiyamichthys. Proses penemuan ikan Tomiyamichthys oriens hingga dinyatakan spesies baru, diawali dengan kajian pada dua individu dari perairan Banyuwangi. Dua spesimen itu berasal dari perusahaan eksportir ikan hias dan biota laut di Banyuwangi. Lima ilmuwan yang melakukan penelitian ini bersama dua orang dari perusahaan tersebut, memberi nama Bahasa Inggris T. Oriens dengan Oriens Shrimpgoby. Penyematan oriens pada Tomiyamichthys diambil dari bahasa latin yang artinya “timur” atau “matahari terbit”. Nama itu diberikan karena terinspirasi dari warna jingga cerah pada tubuh ikan, juga karena Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java. Banyuwangi menjadi satu-satunya lokasi perairan yang diketahui menjadi habitat oriens dengan habitat berpasir dan ditemukan di perairan dangkal. Penemuan spesies itu semakin mempertegas perairan Nusantara yang sangat potensial keanekaragaman hayati lautnya dan belum banyak terdokumentasi. Kunto Wibowo mengatakan, saat ini Indonesia memiliki 13 spesies Tomiyamichthys yang tercatat melalui pengumpulan spesimen di lapangan dan fotografi bawah air. Kekayaan itu, dipengaruhi letak perairan Indonesia di tengah Segitiga Karang dunia. Tomiyamichthys adalah genus ikan gobi yang hidup bersama udang, yang pertama kali dipublikasikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kapulaga, Si Kecil yang Dijuluki Ratunya Rempah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 00:30:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232031/kapulaga-jawa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131217</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara beragam rempah dunia, kapulaga menempati posisi istimewa. Ukuran buahnya memang kecil, tetapi manfaat dan nilai ekonominya besar. Rempah beraroma khas ini digunakan dalam masakan, minuman, obat tradisional, industri farmasi, hingga parfum. Tidak heran jika kapulaga dijuluki Queen of Spices atau ratunya rempah. Kapulaga merupakan buah kering dari tanaman herbal tahunan keluarga Zingiberaceae. Buahnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/">Kapulaga, Si Kecil yang Dijuluki Ratunya Rempah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara beragam rempah dunia, kapulaga menempati posisi istimewa. Ukuran buahnya memang kecil, tetapi manfaat dan nilai ekonominya besar. Rempah beraroma khas ini digunakan dalam masakan, minuman, obat tradisional, industri farmasi, hingga parfum. Tidak heran jika kapulaga dijuluki Queen of Spices atau ratunya rempah. Kapulaga merupakan buah kering dari tanaman herbal tahunan keluarga Zingiberaceae. Buahnya tumbuh dalam tandan kecil dan pendek, berbentuk kapsul dengan diameter sekitar 1–1,5 sentimeter. Permukaannya memiliki garis-garis rapat dan rambut pendek yang halus. Ketika matang, buah akan pecah dan terbelah mengikuti ruang-ruang di dalamnya. Di dunia terdapat sedikitnya 150–180 jenis kapulaga yang termasuk dalam tiga genus utama, yaitu Amomum, Aframomum, dan Elettaria. Sejumlah jenis telah dibudidayakan secara luas karena mempunyai nilai ekonomi tinggi. Indonesia mengenal dua jenis utama. Pertama, kapulaga lokal atau kapulaga jawa (Amomum compactum), spesies endemik Jawa Barat. Kedua, kapulaga sabrang atau kapulaga sejati (Elettaria cardamomum). Keduanya mempunyai ciri berbeda. Kapulaga jawa berbuah putih dan berbentuk bulat, dengan kandungan minyak atsiri sekitar 2–3,5 persen serta aroma yang lebih ringan. Kapulaga sabrang berwarna hijau, berbentuk oval, dan memiliki kandungan minyak atsiri lebih tinggi, sekitar 5–8 persen. Aromanya pun lebih kuat. Kapulaga dijuluki ratunya rempah karena kegunaannya menjangkau berbagai sektor. Dalam masakan, aromanya dianggap khas dan sulit digantikan rempah lain. Nilainya bahkan menempatkan kapulaga sebagai rempah termahal ketiga di dunia setelah safron dan vanili. Bijinya mengandung sejumlah bahan aktif, seperti sineol, terpen, terpineol, dan borneol. Minyak atsirinya dimanfaatkan sebagai pemberi aroma untuk makanan, minuman, wewangian, serta produk farmasi dan herbal. Dalam pengobatan tradisional, kapulaga digunakan sebagai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tentang Adolof Wonemseba: Seorang Diri Merawat Kima Raksasa Wondama Selama 17 Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 10:00:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/05055207/Adolof-Olof_pelestari-kima-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131177</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[konservasi laut dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Adolof Olof Wonemseba bukan sekadar nelayan. Di sela mencari ikan dan mengurus kebun untuk menghidupi keluarganya, warga Kampung Mena, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, ini menjalankan misi besar: menyelamatkan kima dari kepunahan. Kima atau bia dalam bahasa setempat merupakan biota bercangkang besar yang berperan penting bagi ekosistem laut. Hewan ini bekerja sebagai penyaring [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/">Tentang Adolof Wonemseba: Seorang Diri Merawat Kima Raksasa Wondama Selama 17 Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Adolof Olof Wonemseba bukan sekadar nelayan. Di sela mencari ikan dan mengurus kebun untuk menghidupi keluarganya, warga Kampung Mena, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, ini menjalankan misi besar: menyelamatkan kima dari kepunahan. Kima atau bia dalam bahasa setempat merupakan biota bercangkang besar yang berperan penting bagi ekosistem laut. Hewan ini bekerja sebagai penyaring alami yang membantu menjaga kejernihan air. Keberadaannya juga mendukung pertumbuhan karang dan menarik ikan untuk datang. Namun, perkembangbiakannya lambat, sementara populasinya terus berkurang akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat. Sebagai orang asli Pulau Roon yang hidup dari laut, Adolof menyaksikan langsung kima semakin sulit ditemukan. Banyak yang diambil untuk dikonsumsi. Khawatir anak cucunya kelak tidak lagi mengenal hewan tersebut, ia memulai upaya pelestarian pada 2008. Adolof mendatangkan beberapa kima dari Pulau Auri, lalu menempatkannya di perairan Rouwno. Ia membangun area perlindungan yang disebutnya “kebun kima”, sebuah praktik konservasi mandiri yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai yadup. Awalnya, kebun itu hanya berupa petak berukuran 10 × 20 meter persegi. Setelah 17 tahun (tahun 2024), luasnya diperkirakan telah berkembang menjadi sekitar 100 × 100 meter persegi. Di sana hidup ratusan kima dari tujuh jenis. Dua belas kima raksasa dan delapan kima raja menjadi bagian dari kelompok awal yang dibawa Adolof. Kima yang semula berdiameter sekitar 15–20 sentimeter kini ada yang mencapai 70–80 sentimeter. Jumlah kima raksasa pun telah bertambah menjadi lebih dari 20 individu. Jenis lain berkembang lebih cepat dan menyebar ke celah-celah batu karang sehingga sulit dihitung. Adolof meminta warga tidak menangkap atau memakan kima di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>