Dunia satwa liar penuh dengan spesies yang memiliki penampilan menawan, menakutkan, hingga menggemaskan. Di antara beragam spesies kucing liar, ada satu yang memikat perhatian dunia bukan karena aumannya yang keras atau larinya yang cepat, melainkan karena raut wajahnya yang unik. Hewan ini secara populer sering disebut sebagai kucing paling cemberut di dunia. Kucing Pallas (Otocolobus manul) atau manul memiliki ekspresi wajah yang tampak selalu marah, kesal, atau tidak puas. Bentuk wajah ini dipengaruhi oleh anatomi kepala mereka. Telinga mereka berukuran pendek dan terletak rendah di sisi kepala. Dahi mereka datar. Pupil mata mereka berbentuk bulat, berbeda dengan kucing domestik yang umumnya memiliki pupil vertikal. Tampilan fisik ini memberi kesan mereka sedang menatap tajam kepada siapa saja yang melihatnya.
Wajah Cemberut yang Tersembunyi di Ketinggian
Kucing Pallas adalah penduduk asli padang rumput stepa dan daerah pegunungan berbatu di wilayah Asia Tengah. Bulu mereka tebal untuk menahan suhu beku yang ekstrem, membuat tubuh mereka terlihat lebih besar dan gempal dari aslinya. Ukuran tubuh mereka sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kucing peliharaan biasa di rumah, dengan berat sekitar dua hingga lima kilogram.

Pada tahun 2022, sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Cat News melaporkan bukti genetik keberadaan Kucing Pallas di Taman Nasional Sagarmatha, kawasan Everest, Nepal. Sampel dikumpulkan pada ekspedisi 2019 oleh tim peneliti dari Wildlife Conservation Society. Para ilmuwan mendeteksi DNA lingkungan atau eDNA hewan ini dari sampel kotoran yang diambil di dua lokasi berjarak sekitar 6 kilometer, pada ketinggian 5.110 dan 5.190 meter di atas permukaan laut. Analisis genetik mengonfirmasi keberadaan setidaknya dua individu Kucing Pallas di kawasan tersebut. Temuan ini memperluas peta sebaran spesies ini ke Himalaya bagian timur, wilayah yang sebelumnya belum tercatat sebagai habitatnya. Sampel yang sama juga mengandung DNA pika dan musang gunung, dua sumber makanan utama Kucing Pallas, yang mengindikasikan mangsanya turut hidup di ketinggian tersebut.
Temuan ini menjadi catatan penting bagi dunia sains karena menunjukkan kemampuan Kucing Pallas bertahan hidup di zona minim oksigen dan bersuhu sangat rendah. Spesies ini adalah predator spesialis yang sangat bergantung pada pika, hewan mamalia kecil mirip kelinci, dan berbagai jenis hewan pengerat liar lainnya. Kucing Pallas bukan pelari cepat. Alih-alih mengejar mangsa secara terbuka, mereka mengendap-endap dan menyergap, memanfaatkan warna bulu abu-abu kecokelatan sebagai kamuflase di antara bebatuan. Ketergantungan tinggi pada jenis makanan spesifik dan teknik berburu ini membuat manul rentan terhadap perubahan mendadak dalam ekosistem mereka.
Ancaman di Balik Ketahanannya
Kelestarian populasi Kucing Pallas secara global menghadapi beberapa ancaman. Ancaman pertama datang dari degradasi habitat dan fragmentasi lahan. Perluasan area penggembalaan ternak komersial di dataran tinggi Asia Tengah terus mendesak ruang gerak hewan ini. Aktivitas ternak yang memakan rumput secara berlebihan merusak tutupan vegetasi yang menjadi tempat berlindung Kucing Pallas. Hilangnya vegetasi pelindung ini juga berkontribusi pada penurunan populasi pika, sehingga kucing liar ini kehilangan sumber makanan utamanya.

Perubahan iklim turut memperburuk kondisi ekosistem stepa dan pegunungan tinggi. Pemanasan suhu bumi mengubah pola cuaca, curah hujan, dan pertumbuhan vegetasi di kawasan tersebut. Siklus salju yang tidak menentu menyulitkan Kucing Pallas untuk menyelinap dan menyembunyikan diri saat berburu. Bulu lebat yang menjadi pelindung utama mereka di musim dingin dapat menjadi beban tambahan jika suhu lingkungan terus meningkat.
Ancaman lain adalah perburuan liar. Manusia memburu kucing ini untuk diambil bulunya yang tebal dan lembut untuk dijadikan bahan pakaian. Di beberapa wilayah, organ tubuh mereka juga diburu untuk keperluan pengobatan tradisional yang belum terbukti secara medis. Kucing ini hidup soliter, tertutup, dan memiliki wilayah jelajah luas, sehingga upaya pemantauan populasinya penuh tantangan. Mereka juga sering menjadi korban salah sasaran, terkena jerat perangkap atau racun yang sebenarnya dipasang peternak lokal untuk membunuh predator lain seperti serigala yang dianggap hama ternak.
Menjaga kelestarian Kucing Pallas berarti melindungi keseimbangan ekosistem pegunungan tinggi dan padang stepa Asia. Spesies ini berperan sebagai predator pengontrol alami yang menekan populasi pengerat, sehingga keberadaannya turut menjaga keseimbangan vegetasi. Upaya konservasi yang melibatkan perlindungan habitat secara hukum dan kerja sama dengan masyarakat lokal masih dibutuhkan. Temuan di Sagarmatha menunjukkan bahwa jangkauan hidup Kucing Pallas lebih luas dari yang selama ini diketahui, sekaligus menegaskan pentingnya melindungi ruang hidup mereka dari ancaman kepunahan.
**
Referensi:
Seimon, T. A., Lim, M., Nightingale, B., Elvin, S., Elmore, A., & Seimon, A. (2022). First report of Pallas’s cat in Sagarmatha National Park – Mount Everest region, Nepal. Cat News, 76, 41–42.