Setiap hari, Dela Mawar menyiapkan makanan, menggendong bayi orangutan, lalu membawa mereka menuju sekolah hutan. Di sana, perempuan 20 tahun ini bukan hanya menjadi pengasuh, tetapi juga guru yang mengajarkan kembali keterampilan dasar untuk hidup di alam liar.
Mawar bekerja sebagai keeper di Pusat Penyelamatan Satwa Long Sam, Desa Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ada empat bayi orangutan dalam pengasuhannya: Lukas, Hannes, Jack, dan Panji. Mereka umumnya menjadi korban konflik dengan manusia, kehilangan induk, atau tersesat setelah habitatnya terganggu.
Tanpa induk, bayi-bayi ini kehilangan sosok yang seharusnya mengajarkan cara bertahan hidup. Karena itu, Mawar mengenalkan mereka pada pepohonan, melatih kemampuan memanjat, dan membantu membangkitkan kembali insting liarnya. Tujuan akhirnya bukan membuat mereka bergantung pada manusia, melainkan mempersiapkan mereka agar mampu kembali ke hutan.
Mengasuh bayi orangutan memiliki kemiripan dengan merawat bayi manusia. Mereka dapat merasa takut saat bertemu orang yang tidak dikenal, menangis, dan berebut makanan. Di balik tingkah lucunya, masing-masing membawa pengalaman kehilangan dan trauma.
Pertemuan pertama Mawar dengan Lukas meninggalkan kesan mendalam. Bayi orangutan itu bertubuh kecil, berkulit merah, dan bermata sayu. Lukas mengira Mawar sebagai induknya, lalu menyusu sambil mengeluarkan suara lirih sebelum tertidur dalam pelukannya.
Mawar merupakan warga asli Desa Merasa dari Suku Dayak. Ia tumbuh dengan pemahaman bahwa hutan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber kehidupan. Baginya, bekerja dalam konservasi adalah pilihan yang dekat dengan identitas dan nilai-nilai yang diwariskan masyarakatnya.
Pekerjaan tersebut tidak mudah. Pusat penyelamatan berada jauh dari kota dengan fasilitas dan sinyal komunikasi terbatas. Para pekerja konservasi juga harus mendatangi lokasi konflik yang terpencil, menjalankan evakuasi berisiko, serta merawat orangutan yang terluka, stres, atau mengalami trauma.
Rehabilitasi berlangsung dalam waktu panjang. Setiap individu harus mampu memanjat, mengenali dan mencari pakan alami, serta beradaptasi dengan lingkungan hutan sebelum dinilai siap dilepasliarkan. Keberhasilannya bergantung pada kerja bersama perawat, dokter hewan, teknisi lapangan, dan berbagai pihak lain.
Bagi Mawar, pelepasliaran bukan hanya perpisahan dengan satwa yang telah diasuhnya. Kembalinya orangutan ke habitat alami juga berarti mengembalikan salah satu penjaga hutan. Orangutan membantu menyebarkan biji yang dapat tumbuh menjadi pohon baru dan mendukung pemulihan ekosistem.
Mawar berharap suatu hari Lukas, Hannes, Jack, dan Panji tidak lagi berada dalam pengasuhannya. Ia ingin menemukan mereka hidup mandiri di rumah sesungguhnya: hutan rimba. Baginya, rasa kehilangan saat melepas mereka justru menjadi tanda bahwa proses rehabilitasi telah berhasil. “Saya baru tenang, setelah memastikan bayi-bayi orangutan itu tumbuh besar dan kembali ke alam liar,” ungkapnya.
Artikel asli ditulis oleh Yovanda.
Foto utama: Dela Mawar mengasuh bayi-bayi orangutan yang direhabilitasi di PPS Long Sam, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: Niko Wicaksana/Mongabay Indonesia.