<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=m-ambari-jakarta&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/m-ambari-jakarta/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 20 Sep 2026 10:00:20 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Kemarau Panjang, Buah Sukun Sumber Pangan Potensial Masyarakat Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 10:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005013/Buah-sukun-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133933</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pangan, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca sepekan yang dirilis 14 September 2026, melaporkan atmosfer kering masih mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia hingga periode 15-21 September 2026. Sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan 1.637 titik pemantauan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/">Kemarau Panjang, Buah Sukun Sumber Pangan Potensial Masyarakat Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca sepekan yang dirilis 14 September 2026, melaporkan atmosfer kering masih mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia hingga periode 15-21 September 2026. Sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan 1.637 titik pemantauan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan, tersebar hampir di seluruh Indonesia. Kombinasi kemarau dan penguatan El Nino ini, turut memicu meluasnya kebakaran hutan dan lahan, dengan pemantauan satelit pada 13 September 2026 mendeteksi 627 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan. Berikutnya, 200 titik di Papua dan Maluku, 104 titik di Sulawesi, serta 86 titik di Sumatera yang sebagiannya telah memicu sebaran kabut asap lintas wilayah. Kementerian Pertanian mengonfirmasi peningkatan luasan sawah terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino. Hingga pertengahan September 2026, total area pertanian terdampak kekeringan di Indonesia melonjak mencapai 50.000 hektar. Sebagian besar kerentanan ini berada di area lahan tadah hujan atau kawasan upland yang tidak memiliki akses jaringan irigasi memadai. Sukun merupakan tanaman pangan potensial yang banyak tumbuh di Indonesia. Foto: Pixabay/ JoshuaJCreative/Public Domain. Di tengah situasi ini, belum banyak masyarakat yang menjadikan potensi pohon sukun (Artocarpus altilis) sebagai solusi kedaulatan pangan berbasis sistem perakaran dan pola panennya yang tidak bergantung pada musim hujan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Agrosilvopasture-Tech pada 2024 mengkarakterisasi morfologi sukun di Desa Ohoitahit dan Danar, Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, wilayah dengan curah hujan rata-rata hanya 200-400 milimeter per tahun dan musim kemarau panjang dari Juni hingga November.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 08:44:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16052358/IMG_1773-scaled-e1789893419179-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133705</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah terik matahari, sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Warga Aceh mengenalnya sebagai kacang parang. Dulu, kacang ini tumbuh liar,  kini petani mulai membudidayakan sebagai alternatif kedelai karena produktif dan tahan iklim. Kini, banyak petani di Aceh Beslar, Aceh Selatan, hingga Simeulue menanam tanaman [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/">Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah terik matahari, sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Warga Aceh mengenalnya sebagai kacang parang. Dulu, kacang ini tumbuh liar,  kini petani mulai membudidayakan sebagai alternatif kedelai karena produktif dan tahan iklim. Kini, banyak petani di Aceh Beslar, Aceh Selatan, hingga Simeulue menanam tanaman ini. Sejak April 2026, Ruhani mulai menanam koro di kebunnya seluas satu hektar secara tumpang sari, seperempat lahan terdiri dari 2.500 batang koro, sela-selanya ada kunyit, lengkuas, nanas, cabai, kacang tanah dan jenis tanaman lain. “Pokoknya apa yang ada, kita tanam di sini, sambil menunggu koro panen, juga bisa panen yang lain,” katanya. Dulu, warga menganggap kacang parang sebagai tanaman liar karena belum banyak yang mengetahui cara mengolahnya dan belum punya nilai ekonomi. Hanya sebagian kecil warga Lamteuba yang mengolah menjadi sayur, menumis dengan u-neulheu—bumbu kuliner khas Aceh yang terbuat dari kelapa parut yang mereka sangrai  hingga kecoklatan dan berminyak, lalu menggilingnya sampai halus. “Kami (sebelumnya) mengenal jenis koro yang bijinya berwarna hitam. Buahnya sama, daunnya sama, bijinya yang warnanya hitam. Bahasa kami reuteuk kacang parang,” katanya, Selasa (18/8/26). Cut Badriah (jilbab pink) dan dua orang petani lainnya memanen kacang koro pedang (Canavalia ensiformis) yang tumbuh di kebun milik Ruhani di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia Memasuki bulan kelima, dia bisa memanen perdana sekitar 30 kilogram pada akhir Juli, lalu panen kembali 80 kg dan masih terus berlanjut. Hampir sama seperti Ruhani, Cut Badriah, menanam koro sekitar akhir April 2026. Dia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Kuwuk Beda dengan Kucing Domestik, Jangan Ditangkap karena Statusnya Dilindungi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 06:14:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/20060601/Kucing-Kuwuk-Foto-Burhanuddin-Ihsan-Alfani-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133918</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang Anda rasakan jika tiba-tiba melihat kucing kuwuk tengah malam? Bagi Burhanuddin Ihsan Alfani (26), jawabannya sederhana. “Seperti jackpot” merujuk hadiah utama permainan game. Alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) University itu, sudah biasa pengamatan satwa liar malam. Namun, menjumpai kucing liar dilindungi ini tetap pengalaman berbeda. Prionailurus bengalensis bukan target utama pengamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/">Kucing Kuwuk Beda dengan Kucing Domestik, Jangan Ditangkap karena Statusnya Dilindungi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang Anda rasakan jika tiba-tiba melihat kucing kuwuk tengah malam? Bagi Burhanuddin Ihsan Alfani (26), jawabannya sederhana. “Seperti jackpot” merujuk hadiah utama permainan game. Alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) University itu, sudah biasa pengamatan satwa liar malam. Namun, menjumpai kucing liar dilindungi ini tetap pengalaman berbeda. Prionailurus bengalensis bukan target utama pengamatan Ihsan dan rekannya empat tahun lalu. Mereka biasa mencari reptil, amfibi, serangga, dan burung nokturnal. “Malam itu seperti biasa,” terangnya, Jum’at (18/9/26). Mereka awalnya melihat sepasang mata menyala di ujung jalan, yang dianggap burung. Sebab, ukurannya kecil dan cahaya yang dipantulkan terlihat kekuningan pucat. Mereka mendekat. Setelah diperhatikan lebih jelas, terlihat corak tubuhnya. “Kucing hutan.” Kamera dikeluarkan. Satu jepretan dilakukan. Namun, flash kamera membuat satwa itu lari dan hilang. Mereka tidak mengecar, hanya menunggu di tempat semula. Beberapa saat kemudian, kucing kuwuk yang disebut kucing hutan juga, kembali terlihat meski berjalan di antara semak. Kucing kuwuk merupakan jenis kucing liar yang dilindungi. Foto: Dok. Burhanuddin Ihsan Alfani. Kemunculan kucing kuwuk sulit diprediksi Perjumpaan dengan kucing kuwuk merupakan pengalaman paling diingat Ihsan, karena kemunculannya tak pernah benar-benar bisa diprediksi. Pada suatu kesempatan, kucing kuwuk pernah di lihat menyebrang jalan. Jaraknya sekitar enam hingga tujuh meter. Namun, cahaya kendaraan membuatnya menghilang di tutupan vegetasi. Kucing kuwuk kadang muncul secara tiba-tiba, berjalan sebentar, lalu berlari sebelum kamera sempat diarahkan. “Ukurannya kecil, malam dan gelap, mau keluarkan kamera juga susah.” Menurut Ihsan, waktu kemunculan kucing kuwuk beragam. Ada yang dijumpai sekitar pukul 20.00. Ada yang terpantau pukul 22.00 hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Berbuntut Gugatan Pemulihan Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 03:00:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/11/22032027/Sisik-Trenggiling-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133834</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasus penyelundupan tiga ton  sisik trenggiling memasuki babak baru. Tidak berhenti pada pidana, para pelaku pun terancam gugatan perdata ganti rugi kerusakan lingkungan. Yayasan Scents ajukan gugatan awal September ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan nomor perkara 565/Pdt.G/2026/ PN Jkt.Tim. Perdagangan ilegal satwa dilindungi ini ada keterlibatan tiga perusahaan. Yaitu , PT VTM yang mengurus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/">Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Berbuntut Gugatan Pemulihan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasus penyelundupan tiga ton  sisik trenggiling memasuki babak baru. Tidak berhenti pada pidana, para pelaku pun terancam gugatan perdata ganti rugi kerusakan lingkungan. Yayasan Scents ajukan gugatan awal September ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan nomor perkara 565/Pdt.G/2026/ PN Jkt.Tim. Perdagangan ilegal satwa dilindungi ini ada keterlibatan tiga perusahaan. Yaitu , PT VTM yang mengurus administrasi ekspor, PT TSR sebagai eksportir ke Kamboja, dan PT LWA teridentifikasi sebagai penyedia gudang untuk sisik trenggiling. Sedangkan empat orang pelaku, yaitu, AAM punya 2.700 kilogram, dan VXH pemilik 353 kilogram sisik trenggiling, lalu, MIS sebagai operator, dan TT teridentifikasi sebagai koordinator kejahatan ini. Lewat gugatan perdata, Yayasan Scents meminta ketujuh pihak itu ganti rugi Rp2,46 miliar atas terbunuhnya sekitar 8.532  trenggiling yang  ambil sisik. Uang ini, untuk pemulihan lingkungan yang rusak akibat penyelundupan satwa berstatus critically endangered berdasarkan IUCN itu. Ma’ruf Erwan, Direktur Yayasan Scents, menilai, hilangnya ribuan trenggiling dari alam bukan semata-mata pelanggaran terhadap aturan perdagangan satwa liar. Pengambilan dalam jumlah besar menimbulkan kerugian terhadap keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis. Trenggiling merupakan satwa pemakan semut dan rayap. Aktivitasnya membantu mengendalikan populasi serangga tersebut dan merupakan bagian dari hubungan ekologis di habitatnya. Satwa ini juga punya perilaku unik yang rutin menggali tanah. Ketika menggali untuk mencari makanan maupun membuat tempat berlindung, aktivitas itu  berkontribusi baik terhadap kondisi tanah, seperti aerasi atau penambahan oksigen ke tanah, pergerakan air di atas permukaan, dan proses-proses ekologis lainnya. Perilaku unik lain, kata Erwan, ini satwa soliter, teritorial, dan hidup dalam kepadatan populasi yang rendah. “Jika diambil dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Orangutan Tapanuli dan Jembatan Arboreal yang Menyatukan Kembali Hutannya di Batang Toru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 01:23:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/18070127/Orangutan-tapanuli_Junaidi-Mongabay1-1536x1024-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133849</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalan raya dan pembukaan hutan memecah habitat orangutan menjadi bagian-bagian terisolasi. Kondisi ini memaksa satwa yang hidup di pepohonan turun ke tanah untuk berpindah, sehingga meningkatkan risiko tertabrak, diburu, atau berkonflik dengan manusia. Di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal untuk orangutan tapanuli. Tutupan hutan di koridor Hutaimbaru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/">Orangutan Tapanuli dan Jembatan Arboreal yang Menyatukan Kembali Hutannya di Batang Toru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalan raya dan pembukaan hutan memecah habitat orangutan menjadi bagian-bagian terisolasi. Kondisi ini memaksa satwa yang hidup di pepohonan turun ke tanah untuk berpindah, sehingga meningkatkan risiko tertabrak, diburu, atau berkonflik dengan manusia. Di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal untuk orangutan tapanuli. Tutupan hutan di koridor Hutaimbaru menyusut dari 9.958 hektar pada 2004 menjadi sekitar 8.981 hektar pada 2024. Lebih dari 1.700 hektar habitat orangutan dilaporkan hilang dalam dua dekade terakhir. Koridor tersebut menghubungkan populasi orangutan di blok barat dan timur. Jika konektivitas terputus, pertukaran gen antar individu terganggu dan risiko kepunahan lokal meningkat. “Tujuan utama kami adalah memulihkan konektivitas antara blok barat dan blok timur agar koridor dapat berfungsi optimal,” kata Julius Paolo Siregar dari Yayasan Ekosistem Lestari. Namun, jembatan arboreal bukan pengganti perlindungan hutan. Jika koridor alami masih dapat dipertahankan, perlindungan dan restorasi habitat tetap harus menjadi prioritas. Jembatan baru dipertimbangkan ketika ruang terbuka, jalan, atau medan terjal tidak dapat diseberangi melalui kanopi alami. Pengalaman Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa di Kabupaten Pakpak Bharat menunjukkan bagaimana jembatan tersebut bekerja. Tiga kawasan hutan yang dihuni sekitar 350 orangutan sumatera terpisah oleh sejumlah jalan. Sejak 2023, organisasi itu memasang beberapa jembatan kanopi berdasarkan lokasi sarang, pohon pakan, dan kekuatan pohon penyangga. Selama pemantauan Maret 2025-Maret 2026, sebanyak 14 jenis satwa arboreal menggunakan jembatan tersebut dalam 374 perlintasan. Orangutan baru mencoba jembatan pada Desember 2025. Setelah sempat menginjak ujungnya lalu mundur, individu yang sama akhirnya menyeberang penuh enam hari kemudian. “Orangutan sangat cerdas dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah, Minim Upaya Pencegahan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 23:56:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28033454/Karhutla-Kalteng-1-Ini-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133891</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus membara, kabut asap pekat. Kualitas udara buruk bahkan berbahaya. Karhutla Kalteng pun sudah telan korban jiwa, setidaknya tiga pemadam api meninggal dunia. Akhmad Rizani, Ketua Relawan Tim Serbu Api Kelurahan di Palangka Raya, meninggal dunia pada 27 Agustus. Pada 30 Agustus, dari Pangkalan Bun, Ahmadin, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/">Menyoal Kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah, Minim Upaya Pencegahan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus membara, kabut asap pekat. Kualitas udara buruk bahkan berbahaya. Karhutla Kalteng pun sudah telan korban jiwa, setidaknya tiga pemadam api meninggal dunia. Akhmad Rizani, Ketua Relawan Tim Serbu Api Kelurahan di Palangka Raya, meninggal dunia pada 27 Agustus. Pada 30 Agustus, dari Pangkalan Bun, Ahmadin, relawan Damkar Rumah Singgah Ita, juga meninggal dunia. Lalu, Aries Sutio Luthfil Hadi, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Kotawaringin Lama, meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit pada 10 September. Sebelumnya, dia bertugas di KM 19 Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama. Menurut informasi yang beredar, Tyo mengalami gagal napas setelah bertugas di tengah kebakaran. Sejak 19 Agustus, jarak pandang sempat berada pada kisaran 300–500 meter. Kondisi itu mulai mengganggu operasional penerbangan dan menyebabkan sejumlah penerbangan terdampak. Di Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, api bahkan mulai mendekati pemukiman warga. Kebakaran makin luas di arah kiri Jembatan Tumbang Nusa ke arah Banjarmasin. Supriyadi, warga Tumbang Nusa, mengatakan, kebakaran beberapa hari terakhir berada dalam satu hamparan dan jarak sekitar 500 meter dari permukiman, pada 29 Agustus lalu. Kabut asap cukup pekat terutama sore hingga malam. Sejumlah warga, kata Supriyadi, mulai mengeluhkan sesak napas. Warga melakukan persiapan mandiri di rumah masing-masing untuk mengantisipasi jika api bergerak makin dekat. “Hampir setiap rumah sudah menyediakan [mesin] pompa,” katanya. Kesiapsiagaan itu bukan tanpa alasan. Masyarakat Tumbang Nusa masih mengingat kebakaran besar pada 2015–2016. Saat itu, api telah mendekati permukiman dari berbagai arah. “Kalau apinya sudah dekat warga bersiap.” Dia cerita, kesiapsiagaan itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan Tewaskan Belasan Bekantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 15:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/19111810/2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133870</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila di Kalimantan Selatan (Kalsel). Tidak hanya berdampak pada manusia, bencana itu pun menewaskan belasan bekantan (Nasalis larvatus) di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, Minggu (13/9/26). Alamsyah, Kepala Desa Balimau mengatakan, ada 11 bekantan yang menjadi korban. Pemadam dan warga menemukan satwa terancam punah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/">Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan Tewaskan Belasan Bekantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila di Kalimantan Selatan (Kalsel). Tidak hanya berdampak pada manusia, bencana itu pun menewaskan belasan bekantan (Nasalis larvatus) di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, Minggu (13/9/26). Alamsyah, Kepala Desa Balimau mengatakan, ada 11 bekantan yang menjadi korban. Pemadam dan warga menemukan satwa terancam punah (endangered) dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) itu, saat berupaya menangani api di kawasan itu. &#8220;Sepuluh yang dewasa, satu anakannya,&#8221; katanya, Selasa (15/9/26). Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel menyebut, temuan satwa terdampak, 12 bekantan, satu ular piton (Malayopython reticulatus), dan satu king kobra (Ophiophagus hannah). Lokasi ini juga habitat lutung (Presbytis frontata), serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kondisi mereka masih dalam pantauan. Di Kalsel, intensitas karhutla terus meningkat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat,  terjadi 3.256 kebakaran dengan luas lahan terdampak 21.696 hektar, sepanjang Januari hingga 15 September 2026. Alamsyah menduga, kebakaran berasal dari titik api di Desa Karangpaci, kampung tetangga Balimau. &#8220;Balimau dengan Karangpaci dibatasi oleh sungai. Kami tidak mengira api bisa sampai ke desa kami. Mungkin karena angin kencang, kelelatu (jelaga) dari sebelah terbang dan mengenai vegetasi yang sudah kering di tempat kami, sehingga terjadi kebakaran,&#8221; Area yang pertama terbakar di Balimau adalah padang rumbia (Metroxylon sagu), dengan kobaran yang cepat membesar. Petugas pemadam dari desa bersama warga langsung berjibaku mengatasi api. Saat kebakaran, bekantan-bekantan itu diperkirakan berada di padang rumbia. Sementara di arah berlawanan, banyak petugas dan warga sedang melakukan pemadaman. “Karena bekantan cenderung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rumah Sakit Hewan, Syarat Lembaga Konservasi Penuhi Kesejahteraan Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 14:19:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232502/KONDISI-MATULJA-DARI-BANTEN-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133874</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rumah sakit khusus hewan menjadi pilar penting terpenuhinya kesejahteraan satwa liar di lembaga konservasi/ex-situ, yaitu satwa yang hidup di luar habitat aslinya. Satwa liar yang berada di rumah sakit ini harus terhindar luka maupun penyakit, akibat kandang maupun sumber penyakit lain, terhindar dari pakan yang tidak segar, serta interaksi dengan manusia atau sebaliknya yang dapat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/">Rumah Sakit Hewan, Syarat Lembaga Konservasi Penuhi Kesejahteraan Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rumah sakit khusus hewan menjadi pilar penting terpenuhinya kesejahteraan satwa liar di lembaga konservasi/ex-situ, yaitu satwa yang hidup di luar habitat aslinya. Satwa liar yang berada di rumah sakit ini harus terhindar luka maupun penyakit, akibat kandang maupun sumber penyakit lain, terhindar dari pakan yang tidak segar, serta interaksi dengan manusia atau sebaliknya yang dapat menyebabkan transfer penyakit. Lima prinsip dasar kesejahteraan satwa secara internasional harus menjadi acuan. Syaratnya adalah satwa bebas dari rasa lapar dan haus; bebas dari rasa tidak nyaman; bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit; bebas berperilaku normal dan alami; serta bebas dari ketakutan dan penderitaan. Intan P Hermawan, dokter hewan dan dosen interna Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, mengatakan rumah sakit hewan memiliki fungsi vital dalam pemeliharaan kesehatan, pemulihan pascasakit dan penanganan kasus emergency. Rumah Sakit Hewan (RSH) dapat memberikan pelayanan semua hewan, mulai hewan peliharaan, ternak, satwa exotik, hingga satwa liar. “RSH dilengkapi fasilitas pelayanan medis mumpuni dan tenaga medik veteriner handal,” jelasnya, awal September 2026. Macan kumbang atau macan tutul jawa ini berada di Taman Safari Indonesia, Bogor. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Rumah sakit hewan dilengkapi dengan fasilitas dasar, seperti pemeriksaan darah, X-Ray, USG, EKG, PCR dan alat penunjang medis lainnya. Tidak hanya dapat melayani rawat jalan dan opname, juga operasi minor dan mayor. “RSH konservasi dilengkapi pula ruangan isolasi, opname, surgery, rehabilitasi, laktasi dan perawatan pascatraumatik.” Intan menilai pentingnya rumah sakit hewan di setiap lembaga konservasi, bukan hanya skala klinik. “Satwa dilindungi maupun tidak, perlu mendapatkan perawatan medis bila sakit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Nelayan Ternate 26 Hari Terapung di Samudra Pasifik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 10:55:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunits lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16091953/WhatsApp-Image-2026-09-16-at-02.19.09-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133732</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Esau Sidemo tak henti berucap syukur. Bak mendapat mukjizat, lelaki 57 tahun itu tak pernah mengira bakal selamat setelah 26 hari terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik saat mencari ikan. Kepada Mongabay yang menemui di kediamannya di Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara (Malut), dia ceritakan pengalaman paling tragis dalam hidupnya itu. “Ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/">Ketika Nelayan Ternate 26 Hari Terapung di Samudra Pasifik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Esau Sidemo tak henti berucap syukur. Bak mendapat mukjizat, lelaki 57 tahun itu tak pernah mengira bakal selamat setelah 26 hari terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik saat mencari ikan. Kepada Mongabay yang menemui di kediamannya di Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara (Malut), dia ceritakan pengalaman paling tragis dalam hidupnya itu. “Ini seperti mukjizat,” kata pria yang sudah jadi nelayan sejak masih remaja itu. Seperti biasa, hari itu, berbekal perahu ketinting bermesin tempel, Esau berangkat melaut untuk mencari ikan. Baru setengah jam melaju, mesin perahu tiba-tiba mati. Tak dinyana, arus laut kemudian membawanya ke tengah Samudra Pasifik yang berjarak ratusan kilometer dari rumahnya. Total 26 hari lama Esau berada di tengah lautan. Selama itu, dia bertahan hidup dengan cara yang tak lazim: memakan burung laut, ikan yang kebetulan melompat di perahunya, hingga buah kelapa busuk yang hanyut di dekatnya. Dia bahkan harus meminum urine deni bertahan hidup. Syahdan, keajaiban itu akhirnya tiba. Satu kapal kargo berbendera Prancis yang tengah melintas kemudian menolongnya. Oleh awak kapal, Esau pun dibawa ke China sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. “Saya selalu berdoa setiap saat agar Tuhan membantu menyelamatkan diri saya. Begitu juga setiap saya bangun pagi tidak merasa sakit walaupun hanya minum air laut dan makan ikan mentah,”  katanya, akhir Agustus lalu. Proses evakuasi nelayan Ternate yang jatuh ke laut usai dihantam gelombang. Foto: Basarnas. Ancaman meningkat Cerita tentang nelayan terbawa arus, hilang arah hingga nyawa di tengah laut bukan kali pertama. Gangguan teknis hingga cuaca laut yang kian tak bersahabat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sistem Peringatan Dini Bantu Warga Sungai Gelam Cegah Api Berkobar di Lahan Gambut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/15083252/Proyek-kolaborasi-yang-didukung-FINCAPES-memasang-sistem-peringatan-dini-di-Sungai-Gelam.4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133657</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, Lahan Gambut, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asap tipis di balik kebun pinang semula tidak dianggap berbahaya. Namun, hanya dalam beberapa jam, api membesar dan menjalar ke dalam gambut di Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Puluhan warga bersama petugas berusaha memadamkannya, tetapi kanal telah mengering sehingga air sulit diperoleh. Api bergerak lebih dari satu kilometer dan diperkirakan membakar lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/">Sistem Peringatan Dini Bantu Warga Sungai Gelam Cegah Api Berkobar di Lahan Gambut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asap tipis di balik kebun pinang semula tidak dianggap berbahaya. Namun, hanya dalam beberapa jam, api membesar dan menjalar ke dalam gambut di Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Puluhan warga bersama petugas berusaha memadamkannya, tetapi kanal telah mengering sehingga air sulit diperoleh. Api bergerak lebih dari satu kilometer dan diperkirakan membakar lebih dari 130 hektar. Sekitar 300 personel darat dan tiga helikopter dikerahkan. Kebakaran baru berhasil dipadamkan sepuluh hari kemudian. Hingga 3 September 2026, KKI Warsi mencatat kebakaran hutan dan lahan di Jambi telah melampaui 10.000 hektar. Bagi warga, kebakaran bukan peristiwa baru. Kawasan Hutan Kemasyarakatan Air Merah pernah terbakar hebat pada 2015 dan 2019, lalu kembali terbakar pada 2023, 2024, dan 2026. Degradasi lahan, pembukaan kawasan, perkebunan sawit, dan pembangunan kanal membuat gambut kehilangan kemampuan menyimpan air. Sri Wilarso Budi, Guru Besar IPB University, mengingatkan bahwa kebakaran sebenarnya dapat diantisipasi sejak awal karena peringatan kemarau panjang telah tersedia. “Harusnya kan sudah diantisipasi. Jadi jangan sampai api sudah besar baru semuanya bergerak. Itu akan terlambat.” Pengelolaan gambut juga tidak dapat dilakukan berdasarkan batas konsesi atau bidang lahan. Kerusakan pada satu bagian dapat mengganggu tata air seluruh kesatuan hidrologis gambut. Sekat kanal seharusnya dibangun sebelum lahan mengering. Setelah gambut kehilangan air, dibutuhkan tiga hingga empat tahun untuk menstabilkan kembali muka airnya. Pemulihannya bahkan jauh lebih lama. Gambut hanya terbentuk sekitar 0,1-2 milimeter per tahun. Artinya, diperlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk menggantikan lapisan setebal 10 sentimeter yang terbakar. Untuk menggeser pendekatan dari pemadaman menuju pencegahan, proyek Fincapes memasang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rahasia Refleks Kilat Kucing Saat Menghadapi Ular</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 07:51:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/23031901/Boiga-nigriceps2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133827</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor kucing tampak mengamati ular yang melingkar di halaman. Tanpa peringatan, ular itu menyambar ke arah hidungnya. Namun, dalam sepersekian detik, kucing melompat mundur sambil menepis serangan menggunakan kaki depan. Gerakannya begitu cepat sehingga hampir tak terlihat tanpa tayangan lambat. Kemampuan tersebut bukan sekadar keberuntungan. Tubuh kucing merupakan hasil evolusi panjang sebagai predator penyergap. Struktur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/">Rahasia Refleks Kilat Kucing Saat Menghadapi Ular</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor kucing tampak mengamati ular yang melingkar di halaman. Tanpa peringatan, ular itu menyambar ke arah hidungnya. Namun, dalam sepersekian detik, kucing melompat mundur sambil menepis serangan menggunakan kaki depan. Gerakannya begitu cepat sehingga hampir tak terlihat tanpa tayangan lambat. Kemampuan tersebut bukan sekadar keberuntungan. Tubuh kucing merupakan hasil evolusi panjang sebagai predator penyergap. Struktur tulangnya lentur, ototnya mendukung gerakan eksplosif, sementara sistem saraf dan indranya mampu memproses perubahan lingkungan dengan cepat. Menurut Z. Yanikomeroglu, seorang dokter ahli saraf, waktu respons rata-rata manusia berkisar 200–500 milidetik. Kecepatan itu dapat dipengaruhi usia, gangguan perhatian, dan beban kognitif. Sebaliknya, waktu reaksi kucing diperkirakan dapat mencapai 100–120 milidetik. “Kucing telah berevolusi menjadi predator penyergap. Waktu reaksi mereka, terutama saat menerkam mangsa, jauh lebih cepat dibanding manusia,” tulisnya. Respons tersebut didukung serat otot berkedut cepat yang memungkinkan kucing menghasilkan gerakan kuat dalam waktu singkat. Selain penglihatan, kucing memanfaatkan pendengaran, posisi tubuh, dan koordinasi motorik untuk membaca pergerakan lawan. Meski demikian, belum ada penelitian ilmiah yang secara khusus membandingkan kecepatan refleks kucing dan ular. Sejumlah sumber menyebut refleks kucing berada dalam rentang 20–70 milidetik, sedangkan ular sekitar 40–75 milidetik. Namun, angka-angka itu kemungkinan berasal dari pengamatan anekdotal, sehingga belum dapat menjadi kesimpulan ilmiah yang pasti. Perbandingan keduanya juga tidak sederhana. Serangan ular merupakan gerakan khusus untuk menyambar mangsa atau mempertahankan diri. Sementara itu, refleks kucing melibatkan banyak tindakan, mulai dari menerkam, melompat, menghindar, hingga menepis. Kucing juga membaca berbagai isyarat sebelum ular benar-benar menyerang. Karena itu, gerakan menghindarnya mungkin telah dimulai sejak tubuh ular menunjukkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belajar Memahami Lingkungan dari Emil Salim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/belajar-memahami-lingkungan-dari-emil-salim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/belajar-memahami-lingkungan-dari-emil-salim/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 03:00:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17194625/1780924305_6a26bf9189d07_0_DSC045601-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133805</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Emil Salim, begawan ekonomi, yang pernah menjadi Menteri Lingkungan Hidup era Orde Baru punya cara sendiri memaknai lingkungan hidup. Saat mengampu tugas mulia ini, dia mengalami perubahan cara pandang dari seorang teknokrat pembangunan yang melihat alam sebagai sumber daya ekonomi menjadi orang yang meyakini alam sebagai subjek yang harus dihormati dan dijaga. Perubahan besar itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/belajar-memahami-lingkungan-dari-emil-salim/">Belajar Memahami Lingkungan dari Emil Salim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Emil Salim, begawan ekonomi, yang pernah menjadi Menteri Lingkungan Hidup era Orde Baru punya cara sendiri memaknai lingkungan hidup. Saat mengampu tugas mulia ini, dia mengalami perubahan cara pandang dari seorang teknokrat pembangunan yang melihat alam sebagai sumber daya ekonomi menjadi orang yang meyakini alam sebagai subjek yang harus dihormati dan dijaga. Perubahan besar itu bermula ketika Presiden Soeharto menunjuknya sebagai Menteri Lingkungan Hidup. Pria kelahiran Lahat, Sumatera Utara, itu mengaku kebingungan. “Saya terus terang mengatakan tidak mengerti lingkungan hidup,” kenangnya dalam gelar wicara &#8216;Inspirasi Perjalanan Karya dan Bakti Negeri Prof. Dr. Emil Salim&#8217;, di Jakarta, belum lama ini. Selama bertahun-tahun dia mendapat didikan untuk melihat lingkungan sebagai objek yang dapat dimanfaatkan demi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia. Namun, percakapan sederhana dengan Presiden Soeharto yang  mengajaknya naik kapal motor di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, untuk memancing ikan mengubah pemikirannya. Di tengah aktivitas itu, Soeharto menunjuk ke arah laut yang tampak tercemar. &#8220;Dulu saya bisa memancing ikan di sini. Lama-lama saya harus semakin jauh, semakin jauh. Mengapa laut ini kotor?&#8221; katanya menirukan kata-kata presiden kedua Indonesia itu. Dia yang kala itu menjabat Menteri Perhubungan yang bertanggung jawab atas pelabuhan dan aktivitas maritim, merasa tengah mendapat teguran halus. Tak lama, Soeharto menyampaikan keputusan tak terduga. “Sekarang saya minta anda menjadi Menteri Lingkungan Hidup.” Awalnya, Emil menolak dengan alasan tidak memahami bidang itu. Kemudian dia pun mengerti pembangunan yang mengubah wajah alam harus bareng tanggung jawab untuk memperbaikinya. Karena itu, dia menimba pengetahuan melalui pendekatan spiritual. Belajar ke Pondok Pesantren Annuqayah di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/belajar-memahami-lingkungan-dari-emil-salim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/belajar-memahami-lingkungan-dari-emil-salim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Berleher Putih Ini Hanya Memakan Telur Burung, Spesies Baru yang Ditemukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ular-berleher-putih-ini-hanya-memakan-telur-burung-spesies-baru-yang-ditemukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ular-berleher-putih-ini-hanya-memakan-telur-burung-spesies-baru-yang-ditemukan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 02:31:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/19023031/presentation-NEW-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133855</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan-hutan di Afrika, termasuk kawasan-kawasan yang sudah lama dikenal secara ilmiah, masih menyimpan sejumlah spesies reptil yang belum terdeskripsikan secara resmi. Sebagian dari spesies tersebut selama ini tersembunyi di antara kerabatnya yang sudah dikenal, karena kemiripan bentuk tubuh dan warna membuat identifikasi visual di lapangan menjadi sulit dilakukan. Kemajuan analisis DNA dalam beberapa dekade terakhir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/ular-berleher-putih-ini-hanya-memakan-telur-burung-spesies-baru-yang-ditemukan/">Ular Berleher Putih Ini Hanya Memakan Telur Burung, Spesies Baru yang Ditemukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan-hutan di Afrika, termasuk kawasan-kawasan yang sudah lama dikenal secara ilmiah, masih menyimpan sejumlah spesies reptil yang belum terdeskripsikan secara resmi. Sebagian dari spesies tersebut selama ini tersembunyi di antara kerabatnya yang sudah dikenal, karena kemiripan bentuk tubuh dan warna membuat identifikasi visual di lapangan menjadi sulit dilakukan. Kemajuan analisis DNA dalam beberapa dekade terakhir membantu para peneliti mengurai perbedaan yang sebelumnya tidak terlihat, termasuk pada kelompok ular yang secara historis sulit dibedakan satu sama lain. Salah satu kelompok yang paling sering menghadapi masalah ini adalah genus Dasypeltis, ular pemakan telur asal Afrika yang sebagian besar anggotanya berwarna hitam, cokelat, atau abu-abu tanpa pola mencolok yang membedakan satu spesies dari spesies lainnya. Studi genetik terbaru terhadap kelompok ini dipublikasikan dalam jurnal Herpetozoa, yang melaporkan spesies baru bernama Dasypeltis albigularis dari Hutan Harenna di Ethiopia, salah satu kawasan hutan alami tersisa yang cukup luas di Tanduk Afrika. Seperti kerabatnya dalam genus yang sama, spesies ini tidak memiliki gigi tajam atau bisa mematikan, melainkan mengandalkan tulang belakang leher yang termodifikasi untuk memecahkan cangkang telur burung sebelum menelannya utuh. Penelitian ini dipimpin oleh Arthur Tiutenko dari Friedrich-Alexander-Universität Erlangen-Nürnberg, bersama koleganya dari Ludwig-Maximilians-Universität Munich dan National Museum Bloemfontein di Afrika Selatan. Spesies yang diberi nama umum white-throated egg-eater atau ular pemakan telur berleher putih ini sebelumnya sempat dikira sebagai spesies lain yang mirip secara fisik, sebelum akhirnya dipastikan berbeda melalui kombinasi bukti morfologi, genetik, dan pengamatan pembiakan yang berlangsung bertahun-tahun. Awal Mula dari Seekor Anakan Betina Penemuan ini bermula pada 2019, saat Tiutenko menerima&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/ular-berleher-putih-ini-hanya-memakan-telur-burung-spesies-baru-yang-ditemukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ular-berleher-putih-ini-hanya-memakan-telur-burung-spesies-baru-yang-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Orangutan Sumatera yang Terus Menurun Dalam Satu Dekade Terakhir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/nasib-orangutan-sumatera-yang-terus-menurun-dalam-satu-dekade-terakhir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/nasib-orangutan-sumatera-yang-terus-menurun-dalam-satu-dekade-terakhir/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 00:01:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03075859/Orangutan-Sampurna2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133775</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Riset terbaru dari peneliti Indonesia, Inggris, dan Jerman pada 2021-2023 menunjukkan populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) terus menurun. Tercatat, dalam satu dekade terakhir (2011-2023), sedikitnya ada 19,5% atau 2.700 individu hilang, atau rata-rata 225 individu (1,8%) tiap tahunnya. Hilangnya habitat menjadi faktor utama menurunnya populasi. Sepanjang 2011-2023, sekitar 94.399 hektar hutan yang menjadi habitat orangutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/nasib-orangutan-sumatera-yang-terus-menurun-dalam-satu-dekade-terakhir/">Nasib Orangutan Sumatera yang Terus Menurun Dalam Satu Dekade Terakhir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Riset terbaru dari peneliti Indonesia, Inggris, dan Jerman pada 2021-2023 menunjukkan populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) terus menurun. Tercatat, dalam satu dekade terakhir (2011-2023), sedikitnya ada 19,5% atau 2.700 individu hilang, atau rata-rata 225 individu (1,8%) tiap tahunnya. Hilangnya habitat menjadi faktor utama menurunnya populasi. Sepanjang 2011-2023, sekitar 94.399 hektar hutan yang menjadi habitat orangutan sumatera hilang, imbasnya  76% variasi penurunan populasi, di seluruh metapopulasi orangutan sumatera. Serge Wich, salah satu peneliti kontributor menegaskan Ekosistem Leuser tetap menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84% populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat (4.935 individu) dan Leuser Timur (4.926 individu). Kepadatan tertinggi berada di kawasan rawa gambut Trumon-Singkil, dengan rata-rata 1,18 individu per kilometer persegi. Selain hilangnya habitat, perburuan, perdagangan liar, konflik manusia-orangutan, turut mengancam populasi. Data pemerintah mencatat, pada 2012-2024 terdapat 319 kasus konflik atau penyelamatan orangutan di Aceh dan Sumatera Utara. Di antaranya, ada penyitaan sebanyak 57 individu dari kepemilikan masyarakat, setidaknya 60%-nya merupakan orangutan di bawah empat tahun. Menurut peneliti keberadaan bayi orangutan dalam perdagangan ilegal hampir selalu pertanda bahwa induknya telah dibunuh. Temuan lain yang juga mengkhawatirkan adalah sekitar 18% populasi orangutan sumatera tidak hidup di kawasan konservasi (salah satunya Rawa Tripa). Para peneliti menegaskan perubahan status hutan menjadi kawasan lindung saja tidak cukup, upaya penegakan hukum, pemulihan konektivitas antar-metapopulasi, serta intervensi pada bentang alam yang belum memiliki perlindungan hukum perlu terus dilakukan. &nbsp; The post Nasib Orangutan Sumatera yang Terus Menurun Dalam Satu Dekade Terakhir appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/nasib-orangutan-sumatera-yang-terus-menurun-dalam-satu-dekade-terakhir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/nasib-orangutan-sumatera-yang-terus-menurun-dalam-satu-dekade-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Berapa Populasi Gajah Sumatera? Estimasi Terbaru Sekitar 1.365-1.719 Individu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/18/berapa-populasi-gajah-sumatera-estimasi-terbaru-sekitar-1-365-1-719-individu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/18/berapa-populasi-gajah-sumatera-estimasi-terbaru-sekitar-1-365-1-719-individu/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 11:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/15075233/Gajah-liar1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133842</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gajah Sumatera di Ujung Senja]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) mengalami penurunan. Pada 1980-an, jumlahnya diperkirakan mencapai 2.800–4.800 individu, sementara pada 2019, estimasinya pada kisaran 1.087–1.606 individu. Dalam bahasan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2026–2036, yang diresmikan Menteri Kehutanan pada 12 Agustus 2026, jumlah gajah sumatera saat ini sekitar 1.365–1.719 individu. SRAK menetapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/berapa-populasi-gajah-sumatera-estimasi-terbaru-sekitar-1-365-1-719-individu/">Berapa Populasi Gajah Sumatera? Estimasi Terbaru Sekitar 1.365-1.719 Individu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) mengalami penurunan. Pada 1980-an, jumlahnya diperkirakan mencapai 2.800–4.800 individu, sementara pada 2019, estimasinya pada kisaran 1.087–1.606 individu. Dalam bahasan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2026–2036, yang diresmikan Menteri Kehutanan pada 12 Agustus 2026, jumlah gajah sumatera saat ini sekitar 1.365–1.719 individu. SRAK menetapkan 21 bentang alam atau kantong populasi gajah di Sumatera sebagai satuan pengelolaan konservasi. Sebanyak 17 kantong atau sekitar 80,95 persen memiliki populasi sedikitnya 10 individu, sementara empat kantong populasinya kurang dari 10 individu. SRAK mencatat, luas habitat gajah sumatera sekitar 5,43 juta hektar, namun hanya 23,20 persen berada di kawasan hutan konservasi. Selebihnya, berada di hutan produksi, hutan lindung, dan areal penggunaan lain (APL). Empat program besar menjadi kerangka pelaksanaan SRAK, yaitu perlindungan dan mitigasi konflik; pemulihan populasi dan habitat; pengelolaan gajah ex-situ; serta dukungan kebijakan dan pendanaan berkelanjutan. Gajah sumatera yang populasinya diperkirakan menurun dibanding tahun 1980-an. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Aksi nyata lindungi gajah Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, menegaskan SRAK tidak boleh berhenti sebagai dokumen perencanaan, tetapi menjadi aksi bersama melalui kebijakan, tata ruang, pengelolaan bentang alam, dan pembangunan. “Kalau kita konsisten, grafik (populasi) dalam 10 tahun bisa ditingkatkan dengan baik,” jelasnya, Rabu (12/8/26). Keberhasilan implementasi SRAK harus terlihat dari terjaganya habitat dan konektivitas, membaiknya populasi, menurunnya konflik, serta meningkatnya efektivitas perlindungan. “Konservasi gajah butuh kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, serta masyarakat sekitar habitat gajah.” Satyawan Pudyatmoko, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, menyampaikan bahwa SRAK Gajah Sumatera dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/berapa-populasi-gajah-sumatera-estimasi-terbaru-sekitar-1-365-1-719-individu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/18/berapa-populasi-gajah-sumatera-estimasi-terbaru-sekitar-1-365-1-719-individu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Melt Re-injection, Saat Perut Supervulkano Kikai Terisi Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-melt-re-injection-saat-perut-supervulkano-kikai-terisi-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-melt-re-injection-saat-perut-supervulkano-kikai-terisi-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 10:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/04/22014128/Erupsi-Toba-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133718</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, jawa, sains dan Teknologi, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di dasar laut Kepulauan Ryukyu, Jepang, tersimpan salah satu gunung api paling kuat di Bumi. Namanya Kikai, supervolcano yang sekitar 7.300 tahun lalu menghasilkan letusan dahsyat. Erupsinya memicu megatsunami yang menenggelamkan pulau-pulau di selatan Jepang. Abu vulkaniknya menyelimuti hampir seluruh daratan Jepang, bahkan mencapai Korea Selatan. Letusan tersebut juga membentuk kaldera raksasa berukuran sekitar 20 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-melt-re-injection-saat-perut-supervulkano-kikai-terisi-lagi/">Mengenal Melt Re-injection, Saat Perut Supervulkano Kikai Terisi Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di dasar laut Kepulauan Ryukyu, Jepang, tersimpan salah satu gunung api paling kuat di Bumi. Namanya Kikai, supervolcano yang sekitar 7.300 tahun lalu menghasilkan letusan dahsyat. Erupsinya memicu megatsunami yang menenggelamkan pulau-pulau di selatan Jepang. Abu vulkaniknya menyelimuti hampir seluruh daratan Jepang, bahkan mencapai Korea Selatan. Letusan tersebut juga membentuk kaldera raksasa berukuran sekitar 20 x 17 kilometer. Di dalamnya terdapat kubah lava bawah laut yang kini berada pada kedalaman sekitar 600 meter. Namun, letusan sebesar itu ternyata tidak membuat Kikai kehilangan seluruh kekuatannya. Perlahan, bagian dalam gunung kembali terisi magma. Aktivitasnya kembali terlihat pada 17 Mei 2026, ketika Kikai menyemburkan gas dan abu hingga ketinggian sekitar 400 meter. Erupsi kecil ini memperlihatkan bahwa supervolcano yang pernah meletus dahsyat tidak otomatis mati. Penelitian yang terbit dalam jurnal Communications Earth &amp; Environment pada Maret 2026 memperkenalkan model melt re-injection. Dalam proses ini, magma baru secara alami masuk kembali ke reservoir besar pada kedalaman dangkal di bawah kaldera. Reservoir tersebut merupakan ruang magma yang sama dengan pemicu letusan Kikai-Akahoya ribuan tahun lalu. Untuk mendeteksinya, para peneliti menggunakan survei seismik refraksi laut dalam. Metode ini mengukur kecepatan gelombang seismik yang merambat melalui batuan di bawah laut. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang mengandalkan seismik darat atau data geokimia, metode baru ini memungkinkan peneliti mengenali aliran magma segar yang masuk ke dalam reservoir. Temuan Kikai penting untuk memahami supervolcano lain, termasuk Yellowstone di Amerika Serikat dan Toba di Sumatera Utara. Yellowstone diketahui memiliki reservoir magma dangkal pada kedalaman sekitar 3–8 kilometer. Sementara itu, reservoir magma&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-melt-re-injection-saat-perut-supervulkano-kikai-terisi-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-melt-re-injection-saat-perut-supervulkano-kikai-terisi-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Air Laut untuk Padamkan Karhutla di Rawa Gambut, Bisakah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/18/air-laut-untuk-padamkan-karhutla-di-rawa-gambut-bisakah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/18/air-laut-untuk-padamkan-karhutla-di-rawa-gambut-bisakah/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 09:15:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/12140457/Foto-Rawa-Singkil-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133828</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, jawa, Lahan Basah, pencemaran, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rawa gambut merupakan wilayah yang mendapat perhatian serius saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, mengapa? Gambut memiliki karakteristik fisik, kimia, dan ekologi berbeda dari vegetasi biasa. Hal itu membuat kebakaran di gambut menjadi lebih sulit dikendalikan. Pada gambut, kebakaran bukan hanya terjadi pada area permukaan, tetapi juga mencapai bawah tanah hingga berhari, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/air-laut-untuk-padamkan-karhutla-di-rawa-gambut-bisakah/">Air Laut untuk Padamkan Karhutla di Rawa Gambut, Bisakah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rawa gambut merupakan wilayah yang mendapat perhatian serius saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, mengapa? Gambut memiliki karakteristik fisik, kimia, dan ekologi berbeda dari vegetasi biasa. Hal itu membuat kebakaran di gambut menjadi lebih sulit dikendalikan. Pada gambut, kebakaran bukan hanya terjadi pada area permukaan, tetapi juga mencapai bawah tanah hingga berhari, bahkan berbulan. Penanganan paling tepat adalah memadamkan api menggunakan air tawar, baik langsung atau melibatkan teknologi. Namun, mengingat kondisi sekarang kemarau panjang, penggunaan air tawar juga terkendala. Wacana pemanfaatan air laut untuk memadamkan api karhutla di rawa gambut mengemuka. Augy Syahailatua, pakar ekologi dan biodiversitas laut dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memahami permasalahan tersebut. Menurut dia, menggunakan air laut bukan alternatif yang salah. Pada kondisi mendesak, air laut bisa digunakan ketika air tawar sulit didapat di sekitar lokasi kebakaran. Namun, dia tetap tidak menganjurkan penggunaan air laut. Alasannya, saat air laut masuk berlebihan ke daratan tertentu seperti gambut, bisa menyebabkan masalah lingkungan. “Dalam kondisi darurat ekstrem, penggunaan air laut dikompromikan asal dilakukan terukur,” ucapnya kepada Mongabay, Sabtu (12/9/26). Sebagai wilayah tropis, Indonesia memiliki kadar garam laut lebih tinggi dibandingkan negara lain yang memiliki masalah serupa. Sebut saja, Amerika Serikat atau Australia. Jika terpaksa harus menggunakan air laut sebagai sumber pemadaman api, maka dampak yang muncul akan signifikan pada tanah dan ekosistem daratan sekitarnya. Paling buruk, terjadi kerusakan pada ekosistem gambut atau hutan dan lahan lain. “Atau, tanah mengalami kemunduran kesuburan akibat residu garam.” Hutan rawa gambut Suaka Marga Satwa Rawa Singkil di Aceh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/air-laut-untuk-padamkan-karhutla-di-rawa-gambut-bisakah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/18/air-laut-untuk-padamkan-karhutla-di-rawa-gambut-bisakah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Krisis Iklim Tingkatkan Kerentanan di Laut dan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 08:07:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Abdul Haq]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/25072825/Proses-evakuasi-nelayan-yang-jatuh-dari-perahu-nelayannya-saat-dihantam-gelombang-pada-3-Desember-2025-foto-Basarna--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133798</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sembilan jam Siprianus Antonius mengambang dan bertahan di sebuah sekoci. Dia merupakan satu dari 243 penumpang KMP Virgo Transport 8 yang kandas di Laut Jawa saat dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/26) dini hari. Dalam penjelasannya, Siprianus, saat peristiwa itu terjadi, banyak penumpang masih tidur di kamar. Bahkan, hingga kapal itu miring, tak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/">Ketika Krisis Iklim Tingkatkan Kerentanan di Laut dan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sembilan jam Siprianus Antonius mengambang dan bertahan di sebuah sekoci. Dia merupakan satu dari 243 penumpang KMP Virgo Transport 8 yang kandas di Laut Jawa saat dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/26) dini hari. Dalam penjelasannya, Siprianus, saat peristiwa itu terjadi, banyak penumpang masih tidur di kamar. Bahkan, hingga kapal itu miring, tak ada alarm pemberitahuan dan tak ada pelampung. Dia dan tiga orang lain, beruntung melihat dan melompat ke satu  sekoci. “Kalau saja awak kapal tekan alarm kami bisa tahu. Ini tidak ada informasi sama sekali. (Diduga) banyak orang yang meninggal dalam (kamar). Banyak yang masih tidur di kamar. Ada yang minta tolong, tapi kami juga sedang menyelamatkan diri. Ombak besar di tengah laut lepas,” kata Siprianus dalam video yang  BBC Indonesia rilis.  “Kami tidak ada pelampung. Kami tiga orang. Tapi di belakang ada sekoci. Kami lompat ke sekoci, jadi aman.” Rinto Arahab bertahan di atas lambung kapal yang  terbalik bersama 11 orang lain. Di jam-jam mencekam itu, dia hanya bisa berharap hingga ada kapal tongkang batubara menyelamatkan mereka, empat jam kemudian. Rinto mengisahkan tatkala kejadian itu sedang tidur. Teriakan penumpang lain membangunkannya. “Oleng-oleng. Kapal oleng,” kata Rinto mengulang teriakan, seperti dilansir Banjarmasinpost “Cuaca buruk. Ombak sekitar dua meter lebih. Semua panik. Kapal miring. Pintu evakuasi sudah kemasukan air.” Kuat dugaan, kapal menghadapi cuaca buruk. Bahkan sejak awal pelayaran telah melaporkan kepada perusahaan bahwa cuaca yang dihadapi tidak baik. Beberapa jam kemudian, kapal melaporkan mengalami perubahan center of gravity atau kemiringan yang mengindikasikan kondisi darurat dan membutuhkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/18/ketika-krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-laut-dan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 03:45:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/04/22040122/PALA_FAKFAK_EKO-RUSDIANTO_6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=133826</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat Fakfak, Papua Barat, pala bukan sekadar tanaman perkebunan yang menghasilkan pendapatan. Pohon yang dapat hidup hingga puluhan bahkan seratus tahun ini melekat pada sejarah keluarga, identitas marga, praktik adat, dan hubungan masyarakat dengan alam. Pala bahkan menjadi ikon daerah yang tergambar dalam lambang Kabupaten Fakfak. Pala Fakfak (Myristica argentea), yang dalam bahasa lokal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/">Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat Fakfak, Papua Barat, pala bukan sekadar tanaman perkebunan yang menghasilkan pendapatan. Pohon yang dapat hidup hingga puluhan bahkan seratus tahun ini melekat pada sejarah keluarga, identitas marga, praktik adat, dan hubungan masyarakat dengan alam. Pala bahkan menjadi ikon daerah yang tergambar dalam lambang Kabupaten Fakfak. Pala Fakfak (Myristica argentea), yang dalam bahasa lokal disebut hengi, memiliki ciri berbeda dari pala Banda. Buahnya cenderung lonjong dan berparuh, dengan aroma daging buah yang khas. Tanaman ini mulai produktif pada usia sekitar enam tahun. Kebun yang dipanen hari ini banyak diwariskan oleh generasi terdahulu, sehingga keberadaannya menjadi penghubung antara leluhur, masyarakat sekarang, dan generasi mendatang. Kedekatan tersebut terlihat dalam seluruh proses pengelolaannya. Pembukaan lahan dilakukan tanpa membakar dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pohon pala dirawat tanpa pupuk kimia, sementara tanaman betina tidak boleh ditebang karena dipandang sebagai personifikasi perempuan yang memberi penghidupan. Masyarakat juga mengenal sasi, yaitu larangan memanen dalam periode tertentu untuk menjaga kualitas pala. Waktu panen ditentukan melalui tanda-tanda alam, termasuk pasang surut air laut dan buah yang mulai jatuh. Panen umumnya dilakukan melalui masuhi atau gotong royong. Namun, kebutuhan ekonomi, perubahan pasar, dan praktik panen terburu-buru dapat mengancam pengetahuan lokal tersebut. Lalu, bagaimana menjaga pala Fakfak sebagai komoditas sekaligus identitas adat? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Greg R. Daeng, Manajer Legal dan Tata Kelola Yayasan INOBU. Percakapan ini menelusuri sejarah, praktik budidaya, tradisi panen, tantangan pasar, serta pentingnya kolaborasi antara masyarakat adat, petani, pemerintah, pendamping, dan sektor swasta untuk menjaga pala Fakfak beserta nilai budaya yang menyertainya. Diskusi ini mengingatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/bukan-sekadar-rempah-pala-adalah-identitas-orang-fakfak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Setelah 100 Tahun, Ilmuwan Temukan Spesies Kucing Liar Baru Yang Bersembunyi di Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>18 Sep 2026 02:07:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/18020300/Leopardus-tilcayo-new-wildcat-960x640-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133820</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia hewan mamalia sering dianggap sudah terpetakan hampir seluruhnya oleh sains modern, terutama untuk kelompok hewan besar dan mencolok seperti kucing. Namun kenyataannya, banyak spesies masih luput dari identifikasi formal karena wilayah jelajahnya yang terpencil, populasinya yang kecil, atau kemiripannya yang tinggi dengan spesies lain yang sudah dikenal lebih dulu. Kekeliruan identifikasi semacam ini kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/">Setelah 100 Tahun, Ilmuwan Temukan Spesies Kucing Liar Baru Yang Bersembunyi di Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia hewan mamalia sering dianggap sudah terpetakan hampir seluruhnya oleh sains modern, terutama untuk kelompok hewan besar dan mencolok seperti kucing. Namun kenyataannya, banyak spesies masih luput dari identifikasi formal karena wilayah jelajahnya yang terpencil, populasinya yang kecil, atau kemiripannya yang tinggi dengan spesies lain yang sudah dikenal lebih dulu. Kekeliruan identifikasi semacam ini kerap terjadi pada kelompok kucing liar berukuran kecil, yang individunya di alam sulit dipantau dan spesimen museumnya terbatas. Salah satu kasus tersebut baru saja terungkap di Bolivia. Seekor kucing kecil bertotol yang selama ini dikenal warga setempat dengan nama tilcayo resmi dinyatakan sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Penemuan ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026, menjadi spesies kucing liar hidup pertama yang berhasil diidentifikasi dan dideskripsikan dalam lebih dari satu abad terakhir, sejak kucing pampas dideskripsikan pada 1923. Dari Kucing Peliharaan hingga Analisis Genetik Kisah penemuan ini bermula pada 2016, ketika seorang warga di kawasan hutan Yungas, Bolivia, menemukan seekor anak kucing di dekat jalan hutan. Ia sempat mengira hewan itu adalah kucing kampung dan memeliharanya di rumah selama sekitar satu tahun. Namun perilakunya yang tidak lazim untuk kucing rumahan membuat pemiliknya akhirnya menyerahkan hewan tersebut ke Suaka Margasatwa Senda Verde di lereng subtropis Pegunungan Andes. Paola Nogales-Ascarrunz, ahli biologi asal Bolivia dan National Geographic Explorer yang saat itu menjadi sukarelawan di suaka tersebut, tertarik dengan penampilan kucing itu. Wajahnya kecil dan menyempit, telinganya pendek dan bulat, serta tubuhnya dipenuhi totol menyerupai macan tutul. Nogales-Ascarrunz sempat mengira kucing itu adalah anggota&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/18/setelah-100-tahun-ilmuwan-temukan-spesies-kucing-liar-baru-yang-bersembunyi-di-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>