Seekor kucing tampak mengamati ular yang melingkar di halaman. Tanpa peringatan, ular itu menyambar ke arah hidungnya. Namun, dalam sepersekian detik, kucing melompat mundur sambil menepis serangan menggunakan kaki depan. Gerakannya begitu cepat sehingga hampir tak terlihat tanpa tayangan lambat.
Kemampuan tersebut bukan sekadar keberuntungan. Tubuh kucing merupakan hasil evolusi panjang sebagai predator penyergap. Struktur tulangnya lentur, ototnya mendukung gerakan eksplosif, sementara sistem saraf dan indranya mampu memproses perubahan lingkungan dengan cepat.
Menurut Z. Yanikomeroglu, seorang dokter ahli saraf, waktu respons rata-rata manusia berkisar 200–500 milidetik. Kecepatan itu dapat dipengaruhi usia, gangguan perhatian, dan beban kognitif. Sebaliknya, waktu reaksi kucing diperkirakan dapat mencapai 100–120 milidetik.
“Kucing telah berevolusi menjadi predator penyergap. Waktu reaksi mereka, terutama saat menerkam mangsa, jauh lebih cepat dibanding manusia,” tulisnya.
Respons tersebut didukung serat otot berkedut cepat yang memungkinkan kucing menghasilkan gerakan kuat dalam waktu singkat. Selain penglihatan, kucing memanfaatkan pendengaran, posisi tubuh, dan koordinasi motorik untuk membaca pergerakan lawan.
Meski demikian, belum ada penelitian ilmiah yang secara khusus membandingkan kecepatan refleks kucing dan ular. Sejumlah sumber menyebut refleks kucing berada dalam rentang 20–70 milidetik, sedangkan ular sekitar 40–75 milidetik. Namun, angka-angka itu kemungkinan berasal dari pengamatan anekdotal, sehingga belum dapat menjadi kesimpulan ilmiah yang pasti.
Perbandingan keduanya juga tidak sederhana. Serangan ular merupakan gerakan khusus untuk menyambar mangsa atau mempertahankan diri. Sementara itu, refleks kucing melibatkan banyak tindakan, mulai dari menerkam, melompat, menghindar, hingga menepis. Kucing juga membaca berbagai isyarat sebelum ular benar-benar menyerang. Karena itu, gerakan menghindarnya mungkin telah dimulai sejak tubuh ular menunjukkan perubahan posisi.
Keistimewaan refleks kucing juga terlihat ketika jatuh dari ketinggian. Hewan ini terkenal mampu membalikkan tubuh agar mendarat dengan empat kaki. Kemampuan tersebut disebut refleks meluruskan tubuh.
Gerakan itu sempat membingungkan fisikawan karena tubuh yang jatuh seharusnya tidak dapat berputar tanpa gaya eksternal. Gregory J. Gbur, profesor fisika optik di University of North Carolina Charlotte, menjelaskannya melalui hukum kekekalan momentum sudut.
Dengan membungkukkan tubuh, kucing dapat memutar bagian depan ke satu arah dan bagian belakang ke arah berlawanan. Teknik ini disebut “tekuk dan putar”. Cara lainnya adalah “selipkan dan putar”, yaitu mengubah posisi kaki untuk menghasilkan momen inersia sehingga tubuh berputar ke posisi yang diinginkan.
Ekor juga dapat membantu. Saat ekor bergerak ke satu arah, tubuh berputar ke arah sebaliknya. Gbur menyebut mekanisme ini sebagai teknik “ekor baling-baling”.
Namun, keberhasilan tersebut tidak hanya bergantung pada fisika. Telinga bagian dalam kucing memiliki sistem keseimbangan yang bekerja seperti giroskop. Organ ini membantu otak mengenali posisi tubuh terhadap gravitasi, kemudian mengirimkan perintah kepada jaringan saraf dan otot untuk memperbaiki orientasi tubuh.
Perpaduan anatomi yang lentur, otot cepat, indera tajam, dan koordinasi saraf membuat kucing mampu bereaksi dalam waktu sangat singkat. Inilah yang membantunya menghindari serangan ular, menangkap mangsa, dan mendarat dengan keempat kaki, kemampuan yang terus membuat manusia kagum terhadap hewan kecil penuh percaya diri ini.
Foto utama: Ular kucing merah (Boiga nigriceps) tersebar di Asia Tenggara. Foto: Wikimedia Commons/Rushenb/CC BY-SA 4.0.