Asap tipis di balik kebun pinang semula tidak dianggap berbahaya. Namun, hanya dalam beberapa jam, api membesar dan menjalar ke dalam gambut di Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Puluhan warga bersama petugas berusaha memadamkannya, tetapi kanal telah mengering sehingga air sulit diperoleh.
Api bergerak lebih dari satu kilometer dan diperkirakan membakar lebih dari 130 hektar. Sekitar 300 personel darat dan tiga helikopter dikerahkan. Kebakaran baru berhasil dipadamkan sepuluh hari kemudian. Hingga 3 September 2026, KKI Warsi mencatat kebakaran hutan dan lahan di Jambi telah melampaui 10.000 hektar.
Bagi warga, kebakaran bukan peristiwa baru. Kawasan Hutan Kemasyarakatan Air Merah pernah terbakar hebat pada 2015 dan 2019, lalu kembali terbakar pada 2023, 2024, dan 2026. Degradasi lahan, pembukaan kawasan, perkebunan sawit, dan pembangunan kanal membuat gambut kehilangan kemampuan menyimpan air.
Sri Wilarso Budi, Guru Besar IPB University, mengingatkan bahwa kebakaran sebenarnya dapat diantisipasi sejak awal karena peringatan kemarau panjang telah tersedia.
“Harusnya kan sudah diantisipasi. Jadi jangan sampai api sudah besar baru semuanya bergerak. Itu akan terlambat.”
Pengelolaan gambut juga tidak dapat dilakukan berdasarkan batas konsesi atau bidang lahan. Kerusakan pada satu bagian dapat mengganggu tata air seluruh kesatuan hidrologis gambut. Sekat kanal seharusnya dibangun sebelum lahan mengering. Setelah gambut kehilangan air, dibutuhkan tiga hingga empat tahun untuk menstabilkan kembali muka airnya.
Pemulihannya bahkan jauh lebih lama. Gambut hanya terbentuk sekitar 0,1-2 milimeter per tahun. Artinya, diperlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk menggantikan lapisan setebal 10 sentimeter yang terbakar.
Untuk menggeser pendekatan dari pemadaman menuju pencegahan, proyek Fincapes memasang dua perangkat peringatan dini berbiaya rendah di HKm Air Merah. Alat tersebut menggunakan sensor untuk memantau asap, suhu, curah hujan, arah angin, kelembapan tanah, dan tinggi muka air. Sirene akan berbunyi ketika kondisi menunjukkan bahaya, sementara datanya dapat dipantau melalui situs web.
Pemulihan juga dilakukan melalui restorasi 47 hektar lahan. Tanaman asli gambut, seperti jelutung rawa, balangeran, dan pulai, disisipkan di antara kebun nanas dan pinang warga. Sebanyak 80.000 bibit akan ditanam melalui berbagai model agroforestri.
Targetnya, pada 2028 Sungai Gelam menjadi model restorasi gambut berbasis masyarakat. Bagi warga yang berulang kali menghadapi api, teknologi ini memberi sesuatu yang sangat berharga: kesempatan mengenali bahaya sebelum asap tipis berubah menjadi kebakaran besar.