Riset terbaru dari peneliti Indonesia, Inggris, dan Jerman pada 2021-2023 menunjukkan populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) terus menurun. Tercatat, dalam satu dekade terakhir (2011-2023), sedikitnya ada 19,5% atau 2.700 individu hilang, atau rata-rata 225 individu (1,8%) tiap tahunnya.
Hilangnya habitat menjadi faktor utama menurunnya populasi. Sepanjang 2011-2023, sekitar 94.399 hektar hutan yang menjadi habitat orangutan sumatera hilang, imbasnya 76% variasi penurunan populasi, di seluruh metapopulasi orangutan sumatera.
Serge Wich, salah satu peneliti kontributor menegaskan Ekosistem Leuser tetap menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84% populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat (4.935 individu) dan Leuser Timur (4.926 individu). Kepadatan tertinggi berada di kawasan rawa gambut Trumon-Singkil, dengan rata-rata 1,18 individu per kilometer persegi.
Selain hilangnya habitat, perburuan, perdagangan liar, konflik manusia-orangutan, turut mengancam populasi. Data pemerintah mencatat, pada 2012-2024 terdapat 319 kasus konflik atau penyelamatan orangutan di Aceh dan Sumatera Utara. Di antaranya, ada penyitaan sebanyak 57 individu dari kepemilikan masyarakat, setidaknya 60%-nya merupakan orangutan di bawah empat tahun.
Menurut peneliti keberadaan bayi orangutan dalam perdagangan ilegal hampir selalu pertanda bahwa induknya telah dibunuh. Temuan lain yang juga mengkhawatirkan adalah sekitar 18% populasi orangutan sumatera tidak hidup di kawasan konservasi (salah satunya Rawa Tripa).
Para peneliti menegaskan perubahan status hutan menjadi kawasan lindung saja tidak cukup, upaya penegakan hukum, pemulihan konektivitas antar-metapopulasi, serta intervensi pada bentang alam yang belum memiliki perlindungan hukum perlu terus dilakukan.