Jalan raya dan pembukaan hutan memecah habitat orangutan menjadi bagian-bagian terisolasi. Kondisi ini memaksa satwa yang hidup di pepohonan turun ke tanah untuk berpindah, sehingga meningkatkan risiko tertabrak, diburu, atau berkonflik dengan manusia.
Di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal untuk orangutan tapanuli. Tutupan hutan di koridor Hutaimbaru menyusut dari 9.958 hektar pada 2004 menjadi sekitar 8.981 hektar pada 2024. Lebih dari 1.700 hektar habitat orangutan dilaporkan hilang dalam dua dekade terakhir.
Koridor tersebut menghubungkan populasi orangutan di blok barat dan timur. Jika konektivitas terputus, pertukaran gen antar individu terganggu dan risiko kepunahan lokal meningkat.
“Tujuan utama kami adalah memulihkan konektivitas antara blok barat dan blok timur agar koridor dapat berfungsi optimal,” kata Julius Paolo Siregar dari Yayasan Ekosistem Lestari.
Namun, jembatan arboreal bukan pengganti perlindungan hutan. Jika koridor alami masih dapat dipertahankan, perlindungan dan restorasi habitat tetap harus menjadi prioritas. Jembatan baru dipertimbangkan ketika ruang terbuka, jalan, atau medan terjal tidak dapat diseberangi melalui kanopi alami.
Pengalaman Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa di Kabupaten Pakpak Bharat menunjukkan bagaimana jembatan tersebut bekerja. Tiga kawasan hutan yang dihuni sekitar 350 orangutan sumatera terpisah oleh sejumlah jalan. Sejak 2023, organisasi itu memasang beberapa jembatan kanopi berdasarkan lokasi sarang, pohon pakan, dan kekuatan pohon penyangga.
Selama pemantauan Maret 2025-Maret 2026, sebanyak 14 jenis satwa arboreal menggunakan jembatan tersebut dalam 374 perlintasan. Orangutan baru mencoba jembatan pada Desember 2025. Setelah sempat menginjak ujungnya lalu mundur, individu yang sama akhirnya menyeberang penuh enam hari kemudian.
“Orangutan sangat cerdas dan berhati-hati. Butuh waktu hampir dua tahun sejak pembangunan pertama sampai ada yang berani melintas secara utuh,” kata Lina Rita Silaban dari TaHuKah.
Pemantauan menunjukkan model tangga lebih menarik bagi primata besar, sedangkan tali ganda lebih sering digunakan primata kecil. Keberhasilan juga bergantung pada rapatnya tutupan hutan dan ketersediaan pohon pakan di kedua sisi.
Pemahaman mengenai cara orangutan bergerak juga penting dalam menentukan desain. Nadine Adrianna Sugianto dari Borneo Orangutan Survival Foundation menjelaskan bahwa orangutan liar banyak bergerak dengan menggantung menggunakan tangan dan kaki secara bersamaan. Mereka juga mengayunkan tubuh dan dahan untuk mencapai pohon berikutnya.
Karena itu, jembatan harus memberikan banyak titik pegangan sekaligus tetap lentur. Materialnya juga harus mampu menahan orangutan dewasa dengan berat 30–90 kilogram.
“Nanti untuk skala liar, orangutan dewasa pasti membutuhkan material yang jauh lebih kokoh. Tapi prinsip dasarnya tetap sama: maksimalkan suspensi, meminimalkan kompresi, dan gandakan titik pegangan,” jelas Nadine.
Jembatan kanopi memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan hilangnya habitat. Namun, jika didukung data pergerakan satwa, restorasi hutan, pemantauan, dan keterlibatan masyarakat, struktur ini dapat menjadi jalan aman yang menyambungkan kembali ruang hidup orangutan.
Foto utama: Induk dan anak orangutan tapanuli yang terpantau langsung di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.