<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=luh-de-suriyani-ambon&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/luh-de-suriyani-ambon/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 24 Sep 2026 10:00:36 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 10:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21175859/IMG_1160-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134028</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, dan nusa tenggara]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan. Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/">Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan. Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang membuat mata air menyusut dan sawah mengering. Melalui Nunas Nede, mereka memohon hujan sekaligus mengingatkan diri untuk menjaga sumber air. Prosesi dimulai dengan mengambil air dari tujuh mata air di desa. Air tersebut kemudian disatukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Warga membawa hasil bumi, berdoa, berzikir, lalu menikmati makanan bersama. Amaq Marni, pemangku adat berusia 73 tahun, mengatakan ritual ini mengingatkan masyarakat agar tidak merusak sumber kehidupan. “Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” katanya. Pesan tersebut diwujudkan melalui kegiatan bersama. Warga membersihkan kawasan mata air, mengangkat lumpur dan sampah, memperbaiki saluran, serta menanam pohon. Anak muda membantu membawa perlengkapan dan membersihkan aliran yang tersumbat. Masyarakat juga mempertahankan aturan tidak tertulis, termasuk larangan menebang pohon tertentu dan membuang sampah sembarangan. Pepohonan di sekitar mata air dijaga karena warga memahami hubungannya dengan keberlangsungan pasokan air. “Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” ujar Marni. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan musim menambah kecemasan petani. Hujan semakin sulit diperkirakan, debit sejumlah mata air menurun, dan waktu tanam menjadi tidak menentu. “Dulu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menjaga-tujuh-mata-air-lombok-melalui-tradisi-nunas-nede/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akhirnya Indonesia Punya UU Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 05:10:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230214/PTPN-Paser-1-INI-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134094</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Akhirnya,  Indonesia punya Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (UUPRA).  UU yang baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  sahkan pada rapat paripurna 22 September lalu ini bukan datang tiba-tiba, ia hasil perjuangan panjang berbagai organisasi masyarakat sipil selama 34 tahun. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai, UU menjadi kado manis bagi rakyat di Hari Tani Nasional, 24 September [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/">Akhirnya Indonesia Punya UU Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Akhirnya,  Indonesia punya Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (UUPRA).  UU yang baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  sahkan pada rapat paripurna 22 September lalu ini bukan datang tiba-tiba, ia hasil perjuangan panjang berbagai organisasi masyarakat sipil selama 34 tahun. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai, UU menjadi kado manis bagi rakyat di Hari Tani Nasional, 24 September ini. Dewi Kartika, Sekjen KPA mengatakan, proses pengesahan UU itu tidak mudah. Selama berpuluh-puluh tahun, gagasan UU Reforma Agraria berulang kali menghadapi kebuntuan. Sejak masuk Prolegnas 27 Agustus pun, pembahasan RUU ini terdapat begitu banyak perdebatan, termasuk keberatan dari pemerintah. Sejumlah substansi sempat jadi perdebatan akhirnya kembali masuk pada proses yang lebih substansial. “Kita mendiskusikan kenapa reforma agraria harus terus jalan menurut Undang-undang,” katanya dalam siaran pers yang Mongabay terima. UUPRA memuat sejumlah pengaturan penting dan strategis bagi penyelenggaraan reforma agraria. Antara lain, jaminan pemenuhan, pemulihan, dan pengakuan hak rakyat atas tanah dan sumber agraria. Lalu, penetapan lokasi prioritas reforma agraria (LPRA), pengaturan objek dan subjek reforma agraria, serta pembentukan lembaga khusus reforma agraria. UU ini, juga mengatur mekanisme penyelesaian konflik agraria dan pemulihan hak atas tanah, redistribusi tanah, pemberdayaan subjek reforma agraria, serta perlindungan hukum bagi rakyat yang mempertahankan hak atas tanah. “Hal penting lainnya adalah penataan, pengendalian, dan pembatasan penguasaan serta pemilikan tanah untuk mencegah konsentrasi penguasaan tanah, baik oleh negara maupun swasta,” ujar Dewi. UUPRA juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam reforma agraria,  membentuk dewan pengawas,  dan membangun sistem data dan pelaporan reforma agraria. Serta mengatur pendanaan, ketentuan pidana, dan ketentuan peralihan. Dewi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/24/akhirnya-indonesia-punya-uu-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 05:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/11075252/Ular-Siput-Jerapah-Saktyari-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134049</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah. “Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/">Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah. “Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata peneliti keanekaragaman hayati dari Mandala Katalika itu. Individu dewasa yang ditemuinya berukuran sekitar 40 sentimeter, bertubuh ramping, dan tidak menunjukkan perilaku agresif. Pola tubuhnya yang samar membantu ular ini menyatu dengan serasah di lantai hutan. Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung, membenarkan bahwa kemampuan tersebut membuatnya sulit ditemukan. “Kamuflasenya memang sangat baik,” ujarnya. Selain penampilannya, cara ular ini makan juga menarik perhatian. Ular siput jerapah memiliki rahang yang beradaptasi untuk mengambil tubuh siput dari dalam cangkangnya. Leonardus menggambarkannya, “Seperti menyedot daging siput dari cangkangnya.” Kebutuhannya akan mangsa dan kondisi tempat hidup tertentu membuat ular ini peka terhadap perubahan di sekitarnya. “Spesies ini sangat bergantung pada mikrohabitat hutan. Jika kondisi lantai hutan terganggu, keberadaanya terancam,” kata Leonardus. Karena itu, perjumpaannya di antara serasah tebal dan tanah yang lembab memberi gambaran tentang tempat hidup yang dibutuhkan ular tersebut. Namun, temuan satu ular tidak cukup untuk menyatakan seluruh hutan berada dalam kondisi sehat. Ganjar mengingatkan, “Bila hanya satu spesies, agak susah dijadikan kesimpulan umum sebagai indikator kesehatan hutan.” Menurutnya, penilaian seperti itu perlu melihat kumpulan spesies atau komunitas. Ganjar juga meluruskan anggapan bahwa ular siput jerapah hanya hidup di pegunungan. Meski dijumpai di Gunung Slamet, catatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mirip-kayu-kering-ular-siput-jerapah-sulit-terlihat-di-lantai-hutan-gunung-slamet/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Megalitikum Pasemah, Budaya Masyarakat Prasejarah Jaga Lingkungan dan Hormati  Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 03:01:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/24025104/Wajah-arca-manusia-yang-menjelaskan-wajah-Austro-Melanesia-dibandingkan-Austronesia.-Wajah-bulat-panjang-rambut-ikal-atau-keriting-mata-besar-hidung-pesek-dan-bibir-tebal.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134096</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perjalanan menuju Situs Tinggi Hari membawa kita masuk perlahan ke lanskap perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Jalan berkelok dan menanjak, meninggalkan kawasan permukiman yang lebih padat. Di kejauhan, bentang Bukit Barisan terlihat. Gunung Dempo berdiri sebagai penanda terbesar lanskap Pasemah, sementara lembah-lembah di bawah perbukitan dialiri Sungai Liem yang terhubung Sungai Lematang. Di tengah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/">Megalitikum Pasemah, Budaya Masyarakat Prasejarah Jaga Lingkungan dan Hormati  Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perjalanan menuju Situs Tinggi Hari membawa kita masuk perlahan ke lanskap perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Jalan berkelok dan menanjak, meninggalkan kawasan permukiman yang lebih padat. Di kejauhan, bentang Bukit Barisan terlihat. Gunung Dempo berdiri sebagai penanda terbesar lanskap Pasemah, sementara lembah-lembah di bawah perbukitan dialiri Sungai Liem yang terhubung Sungai Lematang. Di tengah bentang alam inilah, manusia ribuan tahun lalu meninggalkan jejaknya. Kawasan Tinggi Hari terdiri tiga situs utama, yakni Tinggi Hari I, II dan III, tersebar di bentang perbukitan sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Di dalamnya terdapat arca manusia, menhir, batu tegak, batu datar, lumpang, lesung, tetralith dan berbagai tinggalan batu lainnya. Situs Tinggi Hari merupakan bagian kecil dari lanskap peradaban Megalitikum Pasemah –yang luas totalnya mencapai 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, hingga Kabupaten Empat Lawang. Tercatat, sekitar 1.165 benda megalitik. Di antaranya 85 arca, 25 bilik batu, serta ratusan lesung batu, lumpang batu, dan lainnya. Wajah arca manusia yang menjelaskan Austro-Melanesia dibandingkan Austronesia. Wajah bulat panjang, rambut ikal atau keriting, mata besar, hidung pesek, dan bibir tebal. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Hidup dekat air Megalitik Pasemah mempunyai 15 ragam bentuk, seperti arca, arca menhir, menhir, monolith, trilith, tetralith, batu datar, dolmen, lesung batu, lumpang batu, batu bergores, batu temu gelang, bilik batu, lukisan di bilik batu, dan tempayan kubur. “Situs-situs megalitik di bumi Pasemah, banyak ditemukan atau terletak tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat, atau danau,” kata Mario Andramartik, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat, kepada Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/24/megalitikum-pasemah-budaya-masyarakat-prasejarah-jaga-lingkungan-dan-hormati-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sulitnya Akses Air Bersih di Pemukiman Padat Jakarta Munculkan Beban Berlapis Perempuan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/#respond</comments>
					<pubDate>24 Sep 2026 01:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/03/22025653/AKSI-TOLAK-PRIVATISASI-AIR-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133908</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat di permukiman padat di Jakarta masih berjuang mendapatkan hak akses air bersih. Tak hanya kualitas air buruk, mereka juga mengeluhkan sulit akses air bersih dan harga mahal, apalagi di musim kemarau panjang tahun ini. Titin Sumiyati, warga Pesanggrahan Timur, Kelurahan Pademangan Timur, Jakarta Utara, misal, air dari keran hanya menetes pelan. Dia pun harus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/">Sulitnya Akses Air Bersih di Pemukiman Padat Jakarta Munculkan Beban Berlapis Perempuan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat di permukiman padat di Jakarta masih berjuang mendapatkan hak akses air bersih. Tak hanya kualitas air buruk, mereka juga mengeluhkan sulit akses air bersih dan harga mahal, apalagi di musim kemarau panjang tahun ini. Titin Sumiyati, warga Pesanggrahan Timur, Kelurahan Pademangan Timur, Jakarta Utara, misal, air dari keran hanya menetes pelan. Dia pun harus bergantian dengan tetangga yang sama-sama menggunakan master meter. “Airnya kuning banget. Kalau mati air nggak sehari dua hari, tapi dua minggu.” katanya, Senin (24/8/26). Rumah Titin satu dari 1.500 keluarga yang mendapatkan bagian program master meter atau layanan sambungan air perpipaan komunal melalui satu meteran induk untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat berpenghasilan rendah di permukiman padat. Meski begitu, program itu tak menyelesaikan masalah air bersih hingga hari ini. “Airnya cuman netes tapi meterannya tetap jalan terus, jadi keluarga bayarnya besar,” katanya. Dalam satu bulan, kata Titin, seminggu, air bisa mati 2-3 kali. Saat mengalir, terkadang air keruh. Padahal, air  itu jadi kebutuhan utama di rumah, untuk mencuci, mandi hingga beribadah. Tak ada pilihan, saat air berhenti mengalir, Titin harus membeli air pikulan. Harga satu pikul jerigen air sekitar Rp6.000, setidaknya sehari dia perlu delapan pikul atau Rp48.000. Baginya, harga senilai itu terbilang mahal dan menguras kantong. “Kami udah bayar ke master meter, beli pikulan iya. Kan jadinya lebih boros,” ujarnya. Ilustrasi Master Meter RW022 Kampung Sengon, Jakarta Utara. Foto: Indra Nugraha/ Mongabay Indonesia Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Air bersih mahal Perjuangan akses bersih atas nama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/24/sulitnya-akses-air-bersih-di-pemukiman-padat-jakarta-munculkan-beban-berlapis-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Dekolonialisasi Konservasi Benteng,  Menuju Konservasi Rakyat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 23:41:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Cahyono*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05134644/Dalam-kawasan-Hutan-Adat-2048x1155-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134077</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Planet bumi tempat manusia berpijak hari ini tengah berada dalam cengkeraman krisis ekologi yang kian mendalam. Di tengah ancaman nyata perubahan iklim global dan kemerosotan keanekaragaman hayati masif, memaksa manusia merenungkan kembali hakekat dasar dari upaya penyelamatan lingkungan. Penyelamatan ekosistem tak akan pernah bisa lepas dari perjuangan menegakkan hak asasi manusia dan keadilan sosial. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/">Opini: Dekolonialisasi Konservasi Benteng,  Menuju Konservasi Rakyat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Planet bumi tempat manusia berpijak hari ini tengah berada dalam cengkeraman krisis ekologi yang kian mendalam. Di tengah ancaman nyata perubahan iklim global dan kemerosotan keanekaragaman hayati masif, memaksa manusia merenungkan kembali hakekat dasar dari upaya penyelamatan lingkungan. Penyelamatan ekosistem tak akan pernah bisa lepas dari perjuangan menegakkan hak asasi manusia dan keadilan sosial. Gagasan mendasar inilah yang mengemuka dalam Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1–3 September 2026. Berhimpunnya masyarakat adat, komunitas lokal, petani, nelayan, perempuan, pemuda, akademisi, dan aktivis masyarakat sipil melahirkan manifesto politik dan moral penting,  “Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia” dengan tajuk &#8220;Memulihkan Bumi, Menegakkan Keadilan: Mengembalikan Konservasi ke Pangkuan Rakyat.&#8221; Pesan utama konferensi ini adalah kritik mendasar terhadap model konservasi arus utama (mainstream conservation) usungan negara. Praktik konservasi konvensional selama ini cenderung mengasingkan manusia dari alam, memisahkan ruang hidup dari ekosistemnya, dan memproduksi ketidakadilan agraria yang berulang. Perempuan warga Nagari Kamang Mudiak, Sumatera Barat memilah cengkeh hasil panen. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia. Akar epistemik: kolonisasi pengetahuan dan benteng konservasi negara Secara teoritis, kritik dalam Deklarasi Yogyakarta menelanjangi keberlanjutan skema fortress conservation (konservasi benteng) warisan rasionalitas sains kolonial. Model ini memandang hutan dan lanskap alam sebagai &#8220;wilayah tak berpenghuni&#8221; (terra nullius) atau semata-mata komoditas dan tegakan kayu. Implikasinya, negara hadir sebagai entitas pemilik mutlak yang berhak menentukan peruntukan ruang, sembari menyingkirkan masyarakat lokal sebagai penonton di tanah kelahirannya sendiri. Konsep konservasi benteng atau model konservasi arus utama (mainstream conservation) adalah pendekatan perlindungan alam yang berakar dari warisan keilmuan kolonial dan menempatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/23/opini-dekolonialisasi-konservasi-benteng-menuju-konservasi-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Kelekak di Bangka Belitung, Sumber Air Bersih dan Ruang Hidup Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 10:31:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/23102145/Kelekak-yang-dikelola-Komunitas-Kelekak-Bangka-menjadi-rumah-sejumlah-jenis-satwa.-Foto-drone-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134067</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang tahun 2015, membuat sebagian besar hutan dan kebun sawit di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mengalami kekeringan, dan sebagian terbakar. Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur, sungai, serta paya atau rawa kecil, sebagian besar mengering. Setelah musim kemarau berakhir, Asmadi (60) dan Andre, anaknya, secara bertahap menebangi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/">Jejak Kelekak di Bangka Belitung, Sumber Air Bersih dan Ruang Hidup Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang tahun 2015, membuat sebagian besar hutan dan kebun sawit di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mengalami kekeringan, dan sebagian terbakar. Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur, sungai, serta paya atau rawa kecil, sebagian besar mengering. Setelah musim kemarau berakhir, Asmadi (60) dan Andre, anaknya, secara bertahap menebangi puluhan pohon sawit yang sudah berusia lima tahun di kebun mereka. Alasannya, mereka tidak ingin pohon sawit sawit yang membutuhkan banyak air akan membuat kebun mereka kembali kering. Hanya pohon durian, rambutan, dan duku dibiarkan tumbuh. Sebelum ditanami sawit, kebun Asmadi adalah kelekak berusia ratusan tahun, yang luasnya satu hektar. Kelekak itu dibuat buyutnya. Beragam buah ditanam, seperti durian, rambutan, manggis, puren, ketapi, pelen, tampui, duku, windu, nyatoh, cempedak, ketep, dan lainnya. Saat dijadikan kebun sawit, sebagian besar pohon buah tersebut ditebang. “Bapak saya menginginkan kebun kembali menjadi kelekak,” kata Andre (30), akhir Agustus 2026. Mereka kemudian menanam bibit pohon nyatoh, pelawan, aren, puren, durian, mentaon, binjai puspa, dan langsat. Kelekak adalah agroforestry, hutan adat masyarakat melayu di Kepulauan Bangka Belitung. Hutan adat ini dimiliki setiap klan atau keluarga, yang diwariskan turun menurun. Kelekak berada di sekitar kebun lada dan karet. Selama ratusan tahun tidak ada kelekak yang berubah menjadi kebun karet atau lada. Tapi, sejak berkembangnya perkebunan sawit dan penambangan timah liar di Kepulauan Bangka Belitung, banyak kelekak yang hilang atau berubah fungsi. Kelekak yang dikelola Komunitas Kelekak Bangka menjadi rumah berbagai jenis satwa liar. Foto drone: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Perubahaan bentang alam di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/23/jejak-kelekak-di-bangka-belitung-sumber-air-bersih-dan-ruang-hidup-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belasan Bekantan Mati Terbakar Akibat Karhutla, Peringatan Perlindungan Satwa di Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/27060154/proboscis-monkey-1-1536x1024-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133987</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan tidak hanya mengancam manusia. Di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bekantan ditemukan mati terbakar pada Minggu, 13 September 2026. Tragedi ini memperlihatkan rentannya satwa ketika api mengepung habitat mereka. Alamsyah, Kepala Desa Balimau, menyebut warga dan petugas menemukan 11 bekantan mati, terdiri dari sepuluh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/">Belasan Bekantan Mati Terbakar Akibat Karhutla, Peringatan Perlindungan Satwa di Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan tidak hanya mengancam manusia. Di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bekantan ditemukan mati terbakar pada Minggu, 13 September 2026. Tragedi ini memperlihatkan rentannya satwa ketika api mengepung habitat mereka. Alamsyah, Kepala Desa Balimau, menyebut warga dan petugas menemukan 11 bekantan mati, terdiri dari sepuluh dewasa dan satu anakan. Sementara itu, BKSDA Kalimantan Selatan mencatat 12 bekantan terdampak, bersama satu ular piton dan satu king kobra. Alamsyah menduga api berasal dari desa tetangga, lalu menyeberangi sungai melalui percikan yang terbawa angin. Vegetasi kering di padang rumbia membuat kobaran cepat membesar. Bekantan diperkirakan kesulitan melarikan diri karena api berada di satu sisi, sementara petugas dan warga berkumpul di sisi lain. Pemadaman juga terkendala sumber air yang mengering. Warga hanya memiliki pompa portabel sehingga harus meminta bantuan petugas dan kendaraan tangki dari luar desa. Menurut Alamsyah, permintaan perlindungan habitat bekantan sudah disampaikan sejak 2016, tetapi belum mendapat respons. Ia berharap perhatian pemerintah tidak hanya muncul setelah satwa mati. Ancaman serupa membayangi habitat bekantan di Desa Sungai Rutas Hulu dan Sungai Rutas, Kabupaten Tapin. Meski tidak ada bekantan dilaporkan menjadi korban dalam kebakaran terbaru, vegetasi yang menjadi tempat hidup dan sumber pakan mereka ikut terbakar. Pemulihannya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Sepanjang Januari hingga 15 September 2026, BPBD Kalimantan Selatan mencatat 3.256 kejadian kebakaran dengan luas terdampak 21.696 hektar. Di tengah kebakaran yang meluas, perlindungan satwa menghadapi persoalan pembagian kewenangan. Data BKSDA pada 2025 mencatat 3.757 bekantan tersebar di 11 kabupaten/kota. Hanya 1.281 individu berada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/belasan-bekantan-mati-terbakar-akibat-karhutla-peringatan-perlindungan-satwa-di-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laut Sargasso, Satu-satunya Laut Tanpa Pantai di Dunia dengan Hutan Terapung di Samudra Atlantik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 09:14:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/23090033/00_GP0SU0O4I_PressMedia-2500px-1920x0-c-default-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134058</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hampir semua laut di dunia dapat dikenali dari garis pantainya. Laut Jawa dibatasi oleh Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, sementara Laut Mediterania dikelilingi oleh Eropa, Afrika, dan Asia Barat. Di Indonesia, banyak laut lain yang batasnya ditentukan oleh gugusan pulau, seperti Laut Banda dan Laut Flores. Bahkan laut yang terbuka ke samudra, seperti Laut Karibia, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/">Laut Sargasso, Satu-satunya Laut Tanpa Pantai di Dunia dengan Hutan Terapung di Samudra Atlantik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hampir semua laut di dunia dapat dikenali dari garis pantainya. Laut Jawa dibatasi oleh Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, sementara Laut Mediterania dikelilingi oleh Eropa, Afrika, dan Asia Barat. Di Indonesia, banyak laut lain yang batasnya ditentukan oleh gugusan pulau, seperti Laut Banda dan Laut Flores. Bahkan laut yang terbuka ke samudra, seperti Laut Karibia, tetap memiliki daratan di sebagian sisinya, baik berupa benua maupun rangkaian pulau. Dalam pemetaan resmi, garis pantai dan garis khayal yang menghubungkan tanjung atau pulau terluar menjadi acuan utama untuk menandai di mana sebuah laut berakhir. Di Samudra Atlantik Utara, ada satu laut yang tidak memenuhi ketentuan tersebut. Laut Sargasso membentang sekitar 1.100 kilometer lebarnya dan 3.200 kilometer panjangnya di sebelah timur Amerika Utara, dengan Kepulauan Bermuda berada di dalam kawasannya. Batasnya ditentukan oleh empat arus, yaitu Arus Teluk atau Gulf Stream di barat, Arus Atlantik Utara di utara, Arus Kenari di timur, dan Arus Khatulistiwa Utara di selatan. Digerakkan oleh angin pasat, angin barat, dan rotasi Bumi, keempat arus itu berputar searah jarum jam dan membentuk pusaran subtropis Atlantik Utara. Laut Sargasso berada di bagian tengah pusaran ini, dengan air yang relatif tenang, lebih asin daripada perairan di sekitarnya, dan sangat jernih karena miskin nutrisi. Karena posisi arus bergeser dari waktu ke waktu, batas dan luas laut ini juga tidak pernah benar-benar tetap. Tanpa bersentuhan dengan daratan mana pun, laut ini disebut sebagai satu-satunya laut di dunia tanpa pantai. Hamparan Sargassum sebagai Tempat Berlindung dan Memijah Nama laut ini berasal dari rumput laut cokelat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/23/laut-sargasso-satu-satunya-laut-tanpa-pantai-di-dunia-dengan-hutan-terapung-di-samudra-atlantik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Kekeringan Hantui Nusa Tenggara Barat  </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 02:40:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fathul Rahman]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/22155947/Foto-C-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134029</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang mulai menyebabkan kekeringan di berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tiga kabupaten di NTB, yakni, Bima, Sumbawa dan Lombok Timur,  menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Sedangkan enam kabupaten dan kota lainnya  status siaga darurat kekeringan. Status siaga darurat pemerintah tetapkan untuk memaksimalkan mitigasi dengan tengah ancaman kekeringan yang kian meluas. Sementara tanggap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/">Kemarau Panjang, Kekeringan Hantui Nusa Tenggara Barat  </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang mulai menyebabkan kekeringan di berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tiga kabupaten di NTB, yakni, Bima, Sumbawa dan Lombok Timur,  menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Sedangkan enam kabupaten dan kota lainnya  status siaga darurat kekeringan. Status siaga darurat pemerintah tetapkan untuk memaksimalkan mitigasi dengan tengah ancaman kekeringan yang kian meluas. Sementara tanggap darurat, pemerintah maksudkan agar penanganan bencana kekeringan yang terjadi lebih maksimal. Sadimin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menyatakan, berdasar hasil monitoring dampak bencana kekeringan sementara tercatat 66 kecamatan, 227 desa, 84.837 keluarga dan 263.310 jiwa. Hingga 10 September 2026, tercatat 3.3 juta liter air bersih telah BPBD distribusikan ke berbagai daerah. Lombok Timur, kata Sadimin,  menjadi lokasi terparah dampak kekeringan kali ini dengan 92.999 jiwa dan 41 desa terdampak. Menyusul Sumbawa dengan 26 desa 10.703 keluarga/42.728 jiwa di 13 kecamatan terdampak. Lalu, Kabupaten Bima dengan 14 kecamatan, 42 desa dan 9.222 keluarga atau 28.894 jiwa terdampak. “Hampir seluruh wilayah NTB terdampak, dipicu fenomena El-Nino,’’ katanya. Untuk kabupaten,kota yang berstatus siaga darurat, di Kabupaten Lombok Tengah  tercatat sembilan kecamatan, 48 desa dengan warga terdampak 11.232 keluarga,33.695 jiwa. Di Kabupaten Dompu tercatat empat kecamatan, 10 desa dengan warga terdampak  3.235 keluarga atau 8.940 jiwa. Di  Lombok Utara, lima kecamatan, 18 desa dengan 5.315 keluarga  atau 17.855 jiwa terdampak. Lombok Barat enam kecamatan, 21 desa, 7.474 keluarga, 27. 090 jiwa. Kota Bima ada empat kecamatan, 12 desa dengan warga terdampak  1.129 keluarga, 3.287 jiwa. Debit air di bendungan di Desa Gunjan Asri, Kabupaten Lombok Utara telah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/23/kemarau-panjang-kekeringan-hantui-nusa-tenggara-barat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Tandang Kembali Terekam Setelah 30 Tahun Tak Terpantau di Thailand, Bagaimana di Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>23 Sep 2026 00:30:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/19090827/Kucing-tandang2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133986</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor kucing tandang betina berjalan perlahan pada malam hari di hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan. Seekor anak mengikuti di belakangnya. Momen yang terekam kamera jebak pada akhir 2025 itu menjadi catatan penting karena spesies tersebut tidak terpantau di Thailand selama 30 tahun. Kucing tandang (Prionailurus planiceps) terakhir kali tercatat di negara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/">Kucing Tandang Kembali Terekam Setelah 30 Tahun Tak Terpantau di Thailand, Bagaimana di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor kucing tandang betina berjalan perlahan pada malam hari di hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan. Seekor anak mengikuti di belakangnya. Momen yang terekam kamera jebak pada akhir 2025 itu menjadi catatan penting karena spesies tersebut tidak terpantau di Thailand selama 30 tahun. Kucing tandang (Prionailurus planiceps) terakhir kali tercatat di negara itu pada 1995. Penemuan kembali ini merupakan hasil survei Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tanaman Thailand bersama organisasi konservasi Panthera. Sebanyak 13 rekaman diperoleh sepanjang 2024 dan 16 rekaman tambahan pada 2025. Kemunculan induk bersama anaknya mengindikasikan bahwa kucing tandang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang biak di hutan gambut Thailand Selatan. “Penemuan kembali ini menunjukkan apa yang mungkin terjadi ketika sains dan perlindungan kuat berpadu,” kata Kritsana Kaewplang, Direktur Panthera Thailand. Kucing tandang merupakan salah satu kucing liar yang paling sedikit dipahami. Tubuhnya mungil dengan berat dewasa sekitar 1,5-2,5 kilogram. Namanya berasal dari bentuk kepala yang datar dan memanjang, dengan mata besar serta jarak antar mata yang sempit. Berbeda dengan kebanyakan kucing, spesies ini menjalani kehidupan semiakuatik. Jari-jarinya berselaput, sedangkan giginya pipih dan runcing untuk menangkap ikan serta katak. Habitatnya berada di sekitar sungai, rawa gambut, dan mangrove. Populasi globalnya diperkirakan tidak lebih dari 2.500 individu dewasa. Persebarannya meliputi Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, dan Thailand Selatan. IUCN menetapkannya berstatus Genting, sedangkan CITES memasukkannya dalam Apendiks I. Penemuan di Thailand juga menjadi pengingat penting bagi Indonesia. Kalimantan dinilai sebagai benteng utama kucing tandang di dunia, disusul Sumatera. Namun, penelitian mengenai keberadaannya di Kalimantan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-tandang-kembali-terekam-setelah-30-tahun-tak-terpantau-di-thailand-bagaimana-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>PTUN Jakarta Putuskan Data Izin Nikel Raja Ampat yang Kena Cabut Terbuka bagi Publik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 16:40:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230835/GP0SU5K08_Medium-res-1200px-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134039</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan Indonesaia, Kelautan perikanan, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Angin segar keterbukaan data pemerintah sedikit berhembus pada pertengahan September ini. Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada 14 September 2026, menguatkan keputusan Komisi Informasi tertanggal 10 Juni lalu soal keterbukaan dokumen pencabutan empat izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Raja Ampat. Dalam putusan PTUN Jakarta Nomor 242/G/KI/2026/PTUN.Jkt ini menegaskan kalau informasi empat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/">PTUN Jakarta Putuskan Data Izin Nikel Raja Ampat yang Kena Cabut Terbuka bagi Publik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Angin segar keterbukaan data pemerintah sedikit berhembus pada pertengahan September ini. Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada 14 September 2026, menguatkan keputusan Komisi Informasi tertanggal 10 Juni lalu soal keterbukaan dokumen pencabutan empat izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Raja Ampat. Dalam putusan PTUN Jakarta Nomor 242/G/KI/2026/PTUN.Jkt ini menegaskan kalau informasi empat IUP itu merupakan informasi publik alias bukan rahasia dan menolak keberatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Greenpeace Indonesia sebagai pengaju gugatan informasi menyatakan putusan itu menjadi kemenangan penting dalam sengketa informasi yang menelan waktu berbulan-bulan. Anggi Putra Prayoga, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia kepada Mongabay pada Senin (14/5/26) mengatakan, ada beberapa hal dalam putusan itu. Pertama, menolak keberatan dari BKPM. Kedua, menguatkan putusan Komisi Informasi Pusat. Ketiga, menghukum BKPM atau pemohon biaya perkara Rp419.000. “Bagi pihak yang tidak sependapat dengan putusan ini tetap dapat mengajukan upaya hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Anggi bilang, Greenpeace masih menunggu apakah BKPM akan mengajukan kasasi dalam tenggat waktu peraturan perundangan. Greenpeace menilai,  keputusan majelis hakim ini sudah sesuai keinginan publik.  “Segala sesuatu yang berkaitan dengan tata kelola  sumber daya alam seperti perizinan usaha harus transparan.” Karena itu,  berkaitan dengan dampak-dampak atau risiko-risiko yang akan atau mungkin timbul dari tata kelola itu, kalau tertutup khawatir Raja Ampat akan makin rusak. “Kemudian juga ada izin-izin baru yang mungkin akan terbit jika tidak dilakukan perubahan ke arah tata kelola yang lebih baik,” kata Anggi. Laguna Wayag, Raja Ampat, Papua Barat. Foto : Konservasi Indonesia Tanya dokumen pencabutan Sengkarut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/ptun-jakarta-putuskan-data-izin-nikel-raja-ampat-yang-kena-cabut-terbuka-bagi-publik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan Makin Gerus Habitat Orangutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 12:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21040447/IMG-20260905-WA0001-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133956</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan kera besar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggerus habitat orangutan. Satwa langka dan dilindungi ini pun jadi korban, seperti  yang orangutan Sampurna, di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). “Kondisinya sangat parah. Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla,&#8221; kata ucap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/">Kebakaran Hutan Makin Gerus Habitat Orangutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggerus habitat orangutan. Satwa langka dan dilindungi ini pun jadi korban, seperti  yang orangutan Sampurna, di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). “Kondisinya sangat parah. Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla,&#8221; kata ucap Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari). Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum Yiari, dalam keterangan persnya, menyebut, karhutla tidak hanya menghancurkan habitat orangutan, tetapi menciptakan siklus konflik yang membebani masyarakat dan pemerintah. &#8220;Pembukaan lahan dengan cara membakar dan tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan,&#8221; katanya. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, katanya, orangutan kehilangan makanan, tempat tinggal, akhirnya terdorong masuk ke kebun warga. Sisi lain, masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat. &#8220;Artinya, orangutan dan masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat. Artinya orangutan dan masyarakat sama-sama jadi korban dari praktik yang sama.&#8221; Situasi ini, katanya, menimbulkan beban besar bagi negara. Baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat. Sementara itu, keterangan pers Kementerian Kehutanan menyebut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama Yiari sudah mengevakuasi 23 orangutan serta satwa liar lainnya yang terdiri atas sembilan trenggiling, tiga kukang, satu bekantan, satu musang, dan satu lutung kelabu. Tim juga tetap melakukan pemantauan satwa pada kawasan terbakar dan menyiagakan tim medis selama 24 jam. Kalimantan lautan api. Lahan gambut yang terbakar di daerah Kalimantan Selatan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/kebakaran-hutan-makin-gerus-habitat-orangutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Terus Berjalan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 10:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001415/Panas-bumi-Dieng--scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133794</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran kembali memicu penolakan warga. Melalui Surat Keputusan Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menugaskan PLN melanjutkan eksplorasi dan pengusahaan panas bumi di wilayah tersebut. Pemerintah menargetkan eksplorasi selesai pada 2029 dan pembangkit mulai beroperasi pada 2031. Pengeboran direncanakan mencapai kedalaman 1.900-2.200 meter untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/">Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Terus Berjalan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran kembali memicu penolakan warga. Melalui Surat Keputusan Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menugaskan PLN melanjutkan eksplorasi dan pengusahaan panas bumi di wilayah tersebut. Pemerintah menargetkan eksplorasi selesai pada 2029 dan pembangkit mulai beroperasi pada 2031. Pengeboran direncanakan mencapai kedalaman 1.900-2.200 meter untuk menemukan reservoir berisi air dan uap panas yang dapat digunakan sebagai sumber pembangkit listrik. Namun, bagi masyarakat sekitar Gunung Ungaran, rencana tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran lama. Penolakan telah berlangsung sejak kawasan itu ditetapkan sebagai wilayah kerja panas bumi pada 2007. Rahman, Koordinator Aliansi Semarang Menggugat, mengatakan kehidupan warga sangat bergantung pada mata air dan pertanian. Ia khawatir pengeboran panas bumi mengurangi debit air atau mencemarinya. “Kami sudah sejahtera dengan bertani. Kalau geothermal masuk, sumber air kami berkurang dan tercemar. Akibatnya, pertanian akan terganggu,” ujarnya. Warga juga mencemaskan kebocoran gas serta kemungkinan pengeboran memengaruhi sesar aktif. Menurut Rahman, proyek tersebut membuat kehidupan warga menjadi lebih rentan, meski selama ini mereka hidup aman dan nyaman. Kekhawatiran lain berkaitan dengan Kompleks Percandian Gedongsongo, yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional. Bagi masyarakat, kompleks tersebut bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari identitas budaya dan ruang spiritual yang harus dijaga. “Kawasan candi ini jadi identitas warga, bagian dari budaya kami yang mesti dilestarikan,” kata Rahman. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan siap menjembatani aspirasi masyarakat. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakan kegiatan energi yang bersinggungan dengan lingkungan dan permukiman harus memprioritaskan keselamatan, kelestarian alam, serta kesejahteraan warga. Selain&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/warga-menolak-proyek-panas-bumi-ungaran-terus-berjalan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Kondisi Badak Sumatera di Hutan Leuser?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 07:55:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/09/22044528/Badak-sumatera-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134016</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Upaya perlindungan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) terus dilakukan. Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, terus melakukan pengamanan habitat dan populasi satwa langka dilindungi tersebut. Kawasan Ekosistem Leuser merupakan bentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/">Bagaimana Kondisi Badak Sumatera di Hutan Leuser?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Upaya perlindungan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) terus dilakukan. Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, terus melakukan pengamanan habitat dan populasi satwa langka dilindungi tersebut. Kawasan Ekosistem Leuser merupakan bentang hutan hujan tropis penting di Sumatera dengan luas sekitar 2,5 juta hektar yang membentang di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk badak sumatera yang populasinya kini sangat terbatas dan terancam punah. Dedi Yansyah, Koordinator Perlindungan Satwa Liar FKL, mengatakan indikasi penting upaya perlindungan adalah tidak ditemukan lagi tanda-tanda perburuan badak sejak 2008. Peralatan yang biasa digunakan pemburu untuk menangkap badak, yang dalam Bahasa Aceh disebut seuneubok, terakhir ditemukan 2008. “Setelah itu, tidak ada lagi indikasi perburuan di wilayah yang kami amankan. Namun, patroli tetap intensif,”  jelasnya, Minggu (13/6/26). Badak sumatera berstatus terancam punah yang hidup di hutan Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. FKL memiliki 12 tim yang ditempatkan di 10 pos pengamanan, juga 37 tim ranger, satu unit tim K9 atau tim yang dibantu anjing pelacak, serta pemantauan menggunakan kamera online. Tim pengamanan merupakan kolaborasi petugas dari BBTNGL, TNI, Polisi, masyarakat, dan staf FKL. Sementara Ranger merupakan staf FKL bersama polhut/pamhut dari BBTNGL dan DLHK Aceh, yang patroli minimal 15 hari sebulan. Dedi mengatakan, tantangan perlindungan badak tidak hanya perburuan, tetapi juga rusaknya habitat yang merupakan persoalan kompleks. Perambahan, pembalakan liar, kebakaran hutan, konflik manusia dan satwa, hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/bagaimana-kondisi-badak-sumatera-di-hutan-leuser/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hiu Raksasa Seukuran Mobil Berusia 325 Juta Tahun Ditemukan di Gua Terpanjang Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 03:56:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/22035035/glikmanius-careforum-shark-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134012</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jutaan tahun sebelum dinosaurus pertama menginjakkan kaki di daratan, lautan dangkal di berbagai belahan bumi sudah dihuni oleh predator-predator besar yang menguasai rantai makanan. Hiu, salah satu garis keturunan vertebrata tertua yang masih bertahan hingga kini, sudah berevolusi menjadi pemburu puncak jauh sebelum reptil raksasa maupun mamalia mulai berkembang. Banyak dari nenek moyang hiu purba [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/">Hiu Raksasa Seukuran Mobil Berusia 325 Juta Tahun Ditemukan di Gua Terpanjang Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jutaan tahun sebelum dinosaurus pertama menginjakkan kaki di daratan, lautan dangkal di berbagai belahan bumi sudah dihuni oleh predator-predator besar yang menguasai rantai makanan. Hiu, salah satu garis keturunan vertebrata tertua yang masih bertahan hingga kini, sudah berevolusi menjadi pemburu puncak jauh sebelum reptil raksasa maupun mamalia mulai berkembang. Banyak dari nenek moyang hiu purba ini memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar dari kerabatnya yang hidup di zaman modern, dan sebagian besar riwayat mereka hanya bisa direkonstruksi dari fragmen gigi serta tulang rahang yang berhasil terawetkan hingga ratusan juta tahun kemudian. Ilustrasi rekonstruksi Glikmanius careforum, salah satu dari dua spesies hiu ctenacanth yang fosilnya ditemukan di lorong-lorong Mammoth Cave. Rahangnya yang pendek dan kuat, dipadukan dengan gigi bertonjolan mirip kancing khas famili Heslerodidae, menunjukkan predator ini mengandalkan gigitan bertenaga untuk berburu di laut dangkal 325 juta tahun lalu. Ilustrasi: Benji Paynose/Earth.com Sebuah temuan fosil di sistem gua Mammoth, Kentucky, Amerika Serikat, kini menambah daftar bukti tersebut. Tim peneliti mengidentifikasi dua spesies hiu purba baru, Troglocladodus trimblei dan Glikmanius careforum, yang hidup sekitar 325 juta tahun lalu, puluhan juta tahun sebelum dinosaurus pertama muncul. Panjang tubuh keduanya diperkirakan mencapai 3 hingga 3,6 meter, kira-kira sebesar mobil keluarga kecil, menjadikan mereka salah satu predator terbesar di perairan pesisir dangkal pada masanya. Temuan ini berasal dari lorong-lorong Mammoth Cave, sistem gua yang membentang lebih dari 675 kilometer di bawah permukaan tanah dan tercatat sebagai sistem gua terpanjang yang pernah dipetakan di dunia. Predator Puncak yang Hidup Jutaan Tahun Sebelum Dinosaurus Kedua spesies&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/hiu-raksasa-seukuran-mobil-berusia-325-juta-tahun-ditemukan-di-gua-terpanjang-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nunas Nede, Ritual Adat Masyarakat Kesik Jaga Mata Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 03:23:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21175709/IMG_5041-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133992</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan orang memadati halaman rumah Amaq Marni siang itu. Sembilan hari menjelang pelaksanaan ritual Nunas Nede, para petani di Desa Kesik mulai mengantarkan hasil pertaniannya ke rumah perempuan 73 tahun tu. Nantinya, hasil tani berupa beras dan ketan itu akan warga olah menjadi makanan tradisional pelengkap ritual. Di bawah tenda sederhana di halaman rumah, para [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/">Nunas Nede, Ritual Adat Masyarakat Kesik Jaga Mata Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan orang memadati halaman rumah Amaq Marni siang itu. Sembilan hari menjelang pelaksanaan ritual Nunas Nede, para petani di Desa Kesik mulai mengantarkan hasil pertaniannya ke rumah perempuan 73 tahun tu. Nantinya, hasil tani berupa beras dan ketan itu akan warga olah menjadi makanan tradisional pelengkap ritual. Di bawah tenda sederhana di halaman rumah, para perempuan tampak sibuk menampi beras, menyiapkan kelapa, dan mengaduk adonan ketan dalam wadah besar. Di sudut lain, sejumlah laki-laki bercengkrama sambil menyusun perlengkapan ritual. Dua hari setelahnya, satu per satu warga Desa Kesik mulai berjalan menuju sumber mata air di kaki perbukitan. Di tangan mereka terdapat dulang berisi hasil bumi,  ada padi, ketan, buah-buahan, ayam kampung, dan kendi kecil yang akan diisi air dari mata air yang mereka jaga turun-temurun. Bagi masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, perjalanan menuju mata air bukan sekadar prosesi budaya. Ia adalah perjalanan spiritual, perjalanan ekologis, sekaligus sejarah yang mereka warisi dari para leluhur. Ritual itu populer dengan sebutan Nunas Nede, tradisi tahunan yang warga gelar jelang pergantian musim dari kemarau menuju musim hujan. Warga Kesik beriringan menuju lokasi ritual Nunas Nede. Tampak hampapran sawah yang tumbuh subur. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Berawal dari kekhawatiran Di desa yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada pertanian itu, perubahan musim bukan perkara sederhana. Hujan menentukan apakah sawah dapat mereka tanami. Ketika kemarau terlalu panjang, sumber mata air menyusut. Sawah retak. Petani mulai cemas. Karena itulah, ritual Nunas Nede lahir dari kegelisahan kolektif masyarakat terhadap alam yang menjadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/22/nunas-nede-ritual-adat-warga-kesik-jaga-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seperti Film &#8216;Life of Pi&#8217;, Nelayan Ini Bertahan 26 Hari di Lautan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Sep 2026 00:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16091432/Perahu-nelayan-dari-Desa-Loumadoro-Kecamatan-Pulau-Rao-Morotai-Selatan-Barat-mencoba-menerobos-gelombang-tinggi-untuk-turun-melaut-pada-Juli-2026-lalu-foto-M-Ichi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133964</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Esau Sidemo tak pernah menyangka perjalanan mencari ikan berubah menjadi perjuangan hidup selama 26 hari. Nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, itu terombang-ambing di Samudra Pasifik setelah mesin perahunya mati. Arus menyeret perahu ketintingnya ratusan kilometer dari rumah. Untuk bertahan hidup, Esau memakan burung laut, ikan mentah yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/">Seperti Film &#8216;Life of Pi&#8217;, Nelayan Ini Bertahan 26 Hari di Lautan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Esau Sidemo tak pernah menyangka perjalanan mencari ikan berubah menjadi perjuangan hidup selama 26 hari. Nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, itu terombang-ambing di Samudra Pasifik setelah mesin perahunya mati. Arus menyeret perahu ketintingnya ratusan kilometer dari rumah. Untuk bertahan hidup, Esau memakan burung laut, ikan mentah yang melompat ke perahu, dan kelapa busuk yang hanyut. Dia bahkan terpaksa meminum urine. Keselamatannya datang ketika kapal kargo berbendera Prancis menemukannya, lalu membawanya ke China sebelum dipulangkan ke Indonesia. “Ini seperti mukjizat,” kata Esau. Selama terombang-ambing, ia terus berdoa agar dapat kembali bertemu keluarganya. Kasus Esau bukan kejadian tunggal. Nelayan Maluku Utara menghadapi ancaman mesin rusak, kehabisan bahan bakar, gelombang tinggi, dan cuaca buruk. Data Basarnas Ternate mencatat 49 operasi pencarian dan pertolongan terhadap nelayan sepanjang 2025. Dari berbagai kecelakaan tersebut, 122 orang ditemukan selamat, tujuh meninggal, dan 20 lainnya hilang. Menurut Kepala Basarnas Ternate Iwan Ramdani, kondisi geografis Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan dengan aktivitas laut tinggi turut meningkatkan risiko. Gelombang dalam sejumlah kejadian dilaporkan mencapai 2,5 meter. Perubahan pola cuaca semakin menyulitkan nelayan menentukan waktu melaut. Gafur Kaboli, nelayan tuna sekaligus Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Maluku Utara, mengatakan pengetahuan nelayan dalam membaca musim kini sering tidak lagi dapat diandalkan. “Korban akibat dampak perubahan iklim terus naik seiring cuaca yang tidak lagi menentu. Keselamatan nelayan jadi terancam,” ujarnya. Pada saat bersamaan, ikan semakin sulit ditemukan di perairan dekat pantai. Dahulu, nelayan masih bisa memperoleh tuna dalam radius kurang dari 12 mil. Kini, mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/seperti-film-life-of-pi-nelayan-ini-bertahan-26-hari-di-lautan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pihak Beri Masukan pada RUU Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 23:37:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamIrfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230638/nikel-haltim-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133998</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; DPR tengah kebut selesaikan Rancangan Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (RUURA).  Rencananya, agenda ketok palu RUU yang sudah jadi perjuangan masyarakat sipil selama 34 tahun ini sebelum Hari Tani Nasional, 24 September ini.  Berbagai kalangan organisasi masyarakat sipil menyoroti draf RUU Pengaturan Reforma Agraria ini. Muhamad Isnur, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/">Para Pihak Beri Masukan pada RUU Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; DPR tengah kebut selesaikan Rancangan Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (RUURA).  Rencananya, agenda ketok palu RUU yang sudah jadi perjuangan masyarakat sipil selama 34 tahun ini sebelum Hari Tani Nasional, 24 September ini.  Berbagai kalangan organisasi masyarakat sipil menyoroti draf RUU Pengaturan Reforma Agraria ini. Muhamad Isnur, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengatakan, pembahasan RUURA terlalu terburu-buru dan berpotensi membuat aspirasi masyarakat,  terutama kelompok terdampak konflik agraria, tidak terserap secara maksimal. Dia khawatir RUURA bernasib sama dengan Undang-undang lain yang proses legislasi cepat, seperti revisi UU KPK, revisi UU Mahkamah Konstitusi, UU Cipta Kerja, dan UU TNI. Proses terlalu cepat, katanya,  dapat membuat persoalan substansial luput dari pembahasan dan baru terlihat setelah mendapat tekanan masyarakat sipil. Sejak RUURA masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas) pada 27 Agustus lalu, langsung kebut proses penyusunan pada 1 September atau empat hari setelahnya. Tak sampai sepekan, pada 7 September proses penyusunan rampung dan RUURA bawa ke rapat paripurna pada 8 September untuk penetapan sebagai inisiatif DPR. Menurut Isnur, pembahasan RUU seharusnya memberikan waktu cukup kepada masyarakat untuk memahami substansi aturan; dan menyampaikan saran. Apalagi, persoalan agraria tidak hanya berkaitan dengan masyarakat di Jakarta. Ibu-Ibu petani pergi ke kebun di kaki Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Namanya cukup RUU Reforma Agraria Herlambang Perdana Wiratraman, Dosen Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai, diksi “pengaturan” dalam nomenklatur RUU itu sangat bias makna hingga tidak perlu mencantumkannya. Menurut dia, UU itu sendiri pada dasarnya merupakan regeling atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/21/para-pihak-beri-masukan-pada-ruu-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inisiatif Nelayan Gurita Ende Jaga Laut Flores Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 15:12:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21145128/4A-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133971</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Imran Tabri,  memandang tajam ke laut lepas jelang senja Senin (27/7/26). Gelombang tinggi masih menghantui pesisir Pantai Maurongga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Nelayan di pesisir pantai selatan Pulau Flores belum banyak yang melaut, apalagi nelayan gurita. Gelombang tinggi yang tengah berlangsung sebabkan air laut keruh dan menyulitkan nelayan untuk memancing gurita. “Sekarang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/">Inisiatif Nelayan Gurita Ende Jaga Laut Flores Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Imran Tabri,  memandang tajam ke laut lepas jelang senja Senin (27/7/26). Gelombang tinggi masih menghantui pesisir Pantai Maurongga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Nelayan di pesisir pantai selatan Pulau Flores belum banyak yang melaut, apalagi nelayan gurita. Gelombang tinggi yang tengah berlangsung sebabkan air laut keruh dan menyulitkan nelayan untuk memancing gurita. “Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” ujarnya. Saat para nelayan jeda melaut akibat cuaca buruk, terlihat beberapa perempuan dan anak-anak yang tengah sibuk mengumpulkan bebatuan di pesisir pantai. Batu-batu ceper berwarna hijau mereka masukkan ke dalam karung. Setelah itu, menggotongnya ke daratan dan menumpuknya di antara pohon kelapa. Oleh mereka, batu-batu mereka jual sebagai tambahan penghasilan saat suami berhenti melaut. Untuk setiap karung ukuran 25 kilogram, batu-batu itu mereka hargai Rp20.000. “Warna batunya hijau tua. Kalau di wilayah sebelah timur warna hijaunya lebih terang. Banyak yang membeli dalam jumlah banyak untuk dikirim ke luar daerah,” kata Imran, salah satu nelayan. Pesisir pantai Desa Maurongga, Kecamatan Nangapanda,Kabupaten Ende yang memiliki potensi gurita. Foto : Muhammad Riszky/Jaring Nusa. Sejak 2015, Imran memang menggeluti pekerjaan sebagai nelayan gurita. Keahlian itu dia dapatkan saat tinggal di kampungnya, pantai selatan Kota Ende. Setelah menikah dan menetap di Maurongga, keahlian ini pun dia praktikkan. “Waktu itu belum ada yang memancing gurita. Potensi gurita di Maurongga sangat besar sehingga saya mulai memancing gurita,”  katanya. Gurita dia jual kepada pengepul atau dan kepada pembeli langsung di pinggir-pinggir jalan. Satu ekornya dia hargai Rp15.000-20.000 ribu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/21/inisiatif-nelayan-ende-jaga-laut-flores-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>