<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=hardiyanti-dan-subandri-simbolon&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/hardiyanti-dan-subandri-simbolon/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 09 Oct 2026 16:27:32 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Bukan Hanya Main, Anak Orangutan yang Aktif Menjelajah Hutan Hidupnya Lebih Mandiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 16:27:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/01/22065811/Orangutan1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134754</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor anak orangutan sumatera (Pongo abelii) terekam mengamati buah neesia/bengang dengan penuh rasa ingin tahu. Ia memegang, menggigit dan meletakkannya di antara batang dan cabang pohon. Lalu dengan kaki, ia berusaha membuka buah lonjong seperti bola rugby itu. Neesia, buah yang masih berkerabat dengan durian tersebut merupakan satu dari sekitar 250 jenis makanan orangutan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/">Bukan Hanya Main, Anak Orangutan yang Aktif Menjelajah Hutan Hidupnya Lebih Mandiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor anak orangutan sumatera (Pongo abelii) terekam mengamati buah neesia/bengang dengan penuh rasa ingin tahu. Ia memegang, menggigit dan meletakkannya di antara batang dan cabang pohon. Lalu dengan kaki, ia berusaha membuka buah lonjong seperti bola rugby itu. Neesia, buah yang masih berkerabat dengan durian tersebut merupakan satu dari sekitar 250 jenis makanan orangutan yang diperoleh langsung dari hutan. Orangutan harus belajar memilih dari ribuan pilihan yang tersedia. Beberapa di antaranya beracun, sebagian harus dibuka lebih dulu kulitnya, atau mengambil makanan memakai alat. &#8220;Bagaimana bayi (oangutan) menguasai kurikulum diet kompleks ini di tahun-tahun pertama?&#8221; tanya Revathe Thillaikumar, dikutip dari Phys.org. Dia adalah peneliti pada Max Planck Institute of Animal Behavior, Jerman. Bersama rekannya dari beberapa negara termasuk Indonesia, mereka meneliti cara belajar bayi orangutan memahami lingkungan hidupnya. Hasil penelitin mereka terbit dalam jurnal Science, 24 September 2026 berjudul “How 8 years of social and individual learning interact to shape ecological competence in orangutans.” Orangutan sumatera ini terpantau di Stasiun Riset Suaq Belimbing. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Mengamati dan mencoba Seperti diketahui, anak orangutan membutuhkan waktu sekitar delapan tahun bersama induknya sebelum mampu hidup mandiri. Selama masa tersebut, mereka harus mempelajari berbagai keterampilan, terutama mencari dan mengolah makanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan ini berkembang melalui perpaduan dua cara belajar. Yaitu, dengan cara mengamati orangutan lain dan menjelajahi lingkungan secara mandiri. Untuk bertahan hidup orangutan harus mengenali makanan yang aman, mengetahui bagian yang dapat dimakan, memahami cara mendapatkannya, serta mengingat kapan dan di mana makanan tersedia. Keterampilan tersebut sangat penting karena&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan dan Petani Waswas Terdampak Proyek PLTS Waduk Gajah Mungkur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 13:47:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/09033231/IMG_9518-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134727</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua kali mengitari Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng) dengan perahu kecil tak membuat Joko Suharyo mendapat  ikan cukup. Merasa upayanya sia-sia, dia mengakhiri aktivitasnya dan hanya membawa pulang 2,5 kilogram nila. Sejak 1992 dia jadi nelayan di Gajah Mungkur, Joko merasakan penurunan tangkapan tahun ini sebagai yang terparah. “Dulu,  itu bisa sekali berangkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/">Nelayan dan Petani Waswas Terdampak Proyek PLTS Waduk Gajah Mungkur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua kali mengitari Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng) dengan perahu kecil tak membuat Joko Suharyo mendapat  ikan cukup. Merasa upayanya sia-sia, dia mengakhiri aktivitasnya dan hanya membawa pulang 2,5 kilogram nila. Sejak 1992 dia jadi nelayan di Gajah Mungkur, Joko merasakan penurunan tangkapan tahun ini sebagai yang terparah. “Dulu,  itu bisa sekali berangkat dapat 20 kilogram, 10 tahun terakhir berkurang drastis yang puncaknya tahun ini,” kata warga Desa Wuryantoro, Wonogiri ini, Kamis (10/9/26). Sejatinya, September memang musim tangkap nila. Dengan harga di pasaran  Rp25.000 per kilogram, jerih payah Joko hari itu hanya berkisar Rp62.500. Angka itu  cukup untuk menutup biaya operasional bensin perahu. Di balik itu, dia menyimpan kekhawatiran akan penghasilan ke depan. Bagi Joko, kekhawatiran itu beralasan. Bulan lalu, pemerintah baru saja memulai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Megawatt di waduk itu. “Jelas makin takut karena wilayah tangkapan jadi makin terbatas, dampaknya nanti hasil tangkapan makin minim,” ujarnya. Joko tahu proyek dari informasi yang beredar di kalangan nelayan. Tak pernah ada sosialisasi yang mengundangnya sebagai warga terdampak proyek PLTS dengan model secara terapung itu. Tak hanya Joko banyak nelayan yang kebingungan. “Dampaknya,  tidak hanya wilayah tangkapan yang berkurang juga pendaratan pasti tidak bisa leluasa lagi, lalu kami juga takut ini kan berkaitan sama listrik di tengah air yang artinya ada potensi kesetrum lalu bagaimana keselamatan kami.&#8221; Tak hanya nelayan yang terdampak pembangunan PLTS ini, petani penggarap di tepian Waduk Gajah Mungkur juga terkena imbasnya. Salah satunya Sutinah, warga Kecamatan Baturetno yang memanfaatkan lahan saat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air dan Kesehatan Membayangi 24 Ribu Penyintas Gempa NTT</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 10:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/04170653/6A-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134594</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, nusa tenggara, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebulan lebih setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, ancaman terhadap keselamatan warga belum berakhir. Data BNPB per 28 September mencatat 156 korban meninggal, terdiri dari 48 orang yang meninggal ketika gempa terjadi dan 108 orang setelah bencana. Kematian pascabencana berlangsung di rumah, fasilitas kesehatan, maupun pengungsian. Sementara itu, sekitar 24.027 orang masih mengungsi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/">Krisis Air dan Kesehatan Membayangi 24 Ribu Penyintas Gempa NTT</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebulan lebih setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, ancaman terhadap keselamatan warga belum berakhir. Data BNPB per 28 September mencatat 156 korban meninggal, terdiri dari 48 orang yang meninggal ketika gempa terjadi dan 108 orang setelah bencana. Kematian pascabencana berlangsung di rumah, fasilitas kesehatan, maupun pengungsian. Sementara itu, sekitar 24.027 orang masih mengungsi dalam kondisi keterbatasan air bersih, pangan, sanitasi, dan layanan kesehatan. Situasi tersebut memperberat kehidupan penyintas, terutama lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki penyakit penyerta. BNPB mengkategorikan kematian pascabencana sebagai kematian tidak langsung, yang berkaitan dengan usia, penyakit kronis, serta penurunan kesehatan. “Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis,” kata Berton SP. Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Namun, korban juga mencakup warga usia produktif, anak, dan bayi. Gangguan kesehatan, kelelahan ekstrem, tekanan mental, serta memburuknya kondisi setelah gempa susulan turut disebut sebagai faktor yang berkaitan dengan kematian tersebut. Kondisi pengungsian menjadi perhatian karena dapat memperbesar risiko kesehatan kelompok rentan. Fransiskus Sales Solo, Sekretaris Daerah NTT,  menyebut pneumonia dan diare sebagai sejumlah persoalan yang dialami penyintas. “Mereka terserang berbagai penyakit saluran pernapasan seperti pneumonia hingga diare akibat cuaca ekstrem serta lingkungan pengungsian yang berdebu dan bersanitasi kurang memadai,” ujarnya. Di tengah kemarau, menurunnya debit dan kualitas air sungai turut memperburuk kesulitan mendapatkan air bersih. BNPB juga mencatat 1.620 korban luka atau sakit, sementara ribuan rumah dan berbagai fasilitas publik mengalami kerusakan. Walhi menilai tingginya kematian pascabencana harus mendorong evaluasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kawasan Konservasi Teluk Benoa Masih Dalam Keterancaman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/09/kawasan-konservasi-teluk-benoa-masih-dalam-keterancaman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/09/kawasan-konservasi-teluk-benoa-masih-dalam-keterancaman/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 07:25:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/03/22064502/Saras-Dewi-saat-sembahyang-di-Teluk-Benoa.-Foto-Twitter-Saras-Dewi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134648</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, komunitas lokal, Lahan Basah, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasur bekas penuh lumpur menyangkut di akar mangrove Desa Adat Tuban, di kawasan Teluk Benoa, Bali. Barang itu mengalir di aliran sungai dari hulu bersama dengan puluhan sampah lain, seperti kulkas, brankas hingga bangkai ternak. Begitu  Agus Diana, warga Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung mendeskripsikan kejadian banjir besar di Bali pada September 2025. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/kawasan-konservasi-teluk-benoa-masih-dalam-keterancaman/">Kawasan Konservasi Teluk Benoa Masih Dalam Keterancaman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasur bekas penuh lumpur menyangkut di akar mangrove Desa Adat Tuban, di kawasan Teluk Benoa, Bali. Barang itu mengalir di aliran sungai dari hulu bersama dengan puluhan sampah lain, seperti kulkas, brankas hingga bangkai ternak. Begitu  Agus Diana, warga Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung mendeskripsikan kejadian banjir besar di Bali pada September 2025. Banjir bandang menghilangkan mata pencahariannya. Diana merupakan Kelompok Nelayan Wanasari, Desa Adat Tuban yang kala itu menyaksikan rusaknya hutan mangrove akibat kerusakan hulu. Pasca banjir, mereka secara sukarela membersihkan sampah karena kehidupan nelayan bergantung pada kelestarian mangrove. “Ribuan pohon (mangrove) kami mati karena diterjang sampah,” katanya menunjukkan video kondisi kejadian itu. Padahal, sejak 2010, Kelompok Nelayan Wanasari menginisiasi ekowisata mangrove di wilayah itu. Mereka memanfaatkan area hutan mangrove untuk ekowisata. Fokusnya pada edukasi dan konservasi mangrove. Sampah tersangkut di akar dan batang pohon mangrove yang ada di bawah Jalan Tol Bali Mandara. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia Terdampak &#8216;pembangunan&#8217; Kerusakan mangrove kala itu, membuat kelompok nelayan gusar. Ancaman ini bukan kali pertama. Sejak 2012, mereka sudah merasakan dampak pembangunan Tol Bali Mandara hingga reklamasi. Reklamasi masif di sekitar Teluk Benoa banyak mengubah lanskap sekitar. Pembangunan jalan tol di atas laut pada 2012-2013 berdampak pada mangrove. Selain mangrove, terumbu karang juga rusak. “Banyak pohon mangrove hilang. Sebenarnya bisa kita menanggulangi, tetapi butuh waktu. Misal, karang yang rusak, butuh waktu 5-15 tahun baru dia kembali normal,” kata Diana. Padahal, ekowisata mangrove Desa Adat Tuban, katanya, makin ramai dan sudah bekerja sama dengan beberapa biro perjalanan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/kawasan-konservasi-teluk-benoa-masih-dalam-keterancaman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/09/kawasan-konservasi-teluk-benoa-masih-dalam-keterancaman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Para Perempuan Nelayan Karaka dari Kampung Atuka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/09/cerita-para-perempuan-nelayan-karaka-dari-kampung-atuka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/09/cerita-para-perempuan-nelayan-karaka-dari-kampung-atuka/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 01:13:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Asrida Elisabeth]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/09010202/Karaka-Asrida-INI-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134708</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua dan Papua Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para perempuan menelusuri pantai Kampung Atuka, Papua Tengah, pagi itu.  Ada Mama Paulina Imiriyu, Mama Balbina Mapupia, Mama Oda Kurunumu, dan Mama Karolina Mamoyao. Mereka sudah ada di ujung barat kampung, bersiap menelusuri tepian pantai mencari karaka dan biota lain, 28 Agustus lalu. Noken berisi kapak, parang, dan gae-gae, besi panjang dengan gagang kayu. Hari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/cerita-para-perempuan-nelayan-karaka-dari-kampung-atuka/">Cerita Para Perempuan Nelayan Karaka dari Kampung Atuka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para perempuan menelusuri pantai Kampung Atuka, Papua Tengah, pagi itu.  Ada Mama Paulina Imiriyu, Mama Balbina Mapupia, Mama Oda Kurunumu, dan Mama Karolina Mamoyao. Mereka sudah ada di ujung barat kampung, bersiap menelusuri tepian pantai mencari karaka dan biota lain, 28 Agustus lalu. Noken berisi kapak, parang, dan gae-gae, besi panjang dengan gagang kayu. Hari itu mereka mencari karaka di Waukatiri, pulau yang biasa warga sebut kampus biru. “Pulau-pulau seperti kampus biru itu karaka banyak. Kalau di atas dekat mangi-mangi kurang,” kata Mama Balbina. Perahu melaju menyusuri sungai. Dengan kampung berkeliling hutan mangrove, sungai sudah seperti jalan raya bagi orang Atuka. Ia penghubung ke tempat-tempat penting di luar kampung, ke kota, kebun-kebun yang jauh, atau ke hutan mencari karaka. Sisi kiri dan kanan, hutan mangrove rapat tegak berdiri. Sesekali burung-burung bertengger di dahan-dahan yang menjulur ke arah badan sungai. Batas tertinggi permukaan sungai membentuk garis di sepanjang akar mangrove. Air sedang surut. Air surut merupakan waktu bagi para perempuan di kampung untuk mencari karaka. Di dalam perahu, keempat mama duduk dengan sabar. Sesekali melempar percakapan di antara mereka, menaikkan suara karena harus berlomba dengan bunyi mesin perahu. Kampus biru mereka tempuh kurang lebih satu jam. Meski perjalanan mencari karaka secara berkelompok, menangkapnya mereka lakukan masing-masing. Dari tepi hutan, keempatnya menyebar, mengambil jarak satu sama lain, dan mulai mencari karaka yang bersembunyi dalam lubang-lubang tanah di antara akar-akar mangrove. Karaka bakau dengan nama latin Scylla sp. adalah biota penting bagi kelangsungan ekosistem mangrove, antara lain aktivitas bioturbasi mereka. Menurut buku Wildan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/cerita-para-perempuan-nelayan-karaka-dari-kampung-atuka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/09/cerita-para-perempuan-nelayan-karaka-dari-kampung-atuka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dikira Kucing Kampung, Ternyata Spesies Baru dari Bolivia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dikira-kucing-kampung-ternyata-spesies-baru-dari-bolivia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dikira-kucing-kampung-ternyata-spesies-baru-dari-bolivia/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 00:30:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/18020637/Leopardus-tilcayo-4-1024x1280-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134637</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor anak kucing yang ditemukan di dekat jalan hutan Yungas, Bolivia, pada 2016 ternyata menyimpan petunjuk tentang keragaman kucing liar yang belum dikenali sains. Warga yang menemukannya sempat mengira hewan tersebut adalah kucing kampung dan memeliharanya selama sekitar setahun. Namun, perilakunya yang berbeda dari kucing rumahan membuat hewan itu akhirnya diserahkan ke Suaka Margasatwa Senda [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dikira-kucing-kampung-ternyata-spesies-baru-dari-bolivia/">Dikira Kucing Kampung, Ternyata Spesies Baru dari Bolivia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor anak kucing yang ditemukan di dekat jalan hutan Yungas, Bolivia, pada 2016 ternyata menyimpan petunjuk tentang keragaman kucing liar yang belum dikenali sains. Warga yang menemukannya sempat mengira hewan tersebut adalah kucing kampung dan memeliharanya selama sekitar setahun. Namun, perilakunya yang berbeda dari kucing rumahan membuat hewan itu akhirnya diserahkan ke Suaka Margasatwa Senda Verde. Kucing yang kemudian dipanggil “Tigrino” tersebut menjadi awal penelitian yang mengungkap spesies baru bernama Leopardus tilcayo, mengikuti nama lokal yang digunakan masyarakat. Paola Nogales-Ascarrunz, ahli biologi Bolivia yang menjadi sukarelawan di suaka tersebut, awalnya menduga Tigrino termasuk Leopardus tigrinus, kelompok kucing tutul kecil yang telah lama dikenal. Wajahnya menyempit, telinganya pendek dan bulat, serta tubuhnya bertotol. Keraguan muncul pada 2019, ketika ia membandingkan foto Tigrino dengan referensi kucing tutul kecil dari Brazil. Bercak pada tubuhnya terlihat lebih besar dan tidak beraturan. Perbedaan tersebut mendorong Nogales-Ascarrunz bekerja bersama Jonas Lescroart dan Eduardo Eizirik untuk menelusuri identitasnya melalui analisis genetik. Tim menganalisis genom 38 individu dalam genus Leopardus, termasuk delapan spesimen museum dari berbagai negara Amerika Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa kucing Bolivia tersebut memiliki garis keturunan yang terpisah dari kelompok kucing tutul kecil lainnya sejak sekitar 1,4 juta tahun lalu. Para peneliti menilai jarak evolusi itu cukup untuk mendukung pengenalannya sebagai spesies tersendiri. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026 ini memperlihatkan bagaimana kemiripan penampilan dapat menyembunyikan perbedaan genetik yang besar. Pengetahuan tentang kehidupan tilcayo masih terbatas. Tigrino, kucing jantan berusia 10 tahun yang tinggal di Senda Verde, merupakan satu-satunya individu hidup&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dikira-kucing-kampung-ternyata-spesies-baru-dari-bolivia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dikira-kucing-kampung-ternyata-spesies-baru-dari-bolivia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Irigasi hingga Sumber Air, Masyarakat Lombok Soroti Dampak Buruk Tambang Galian C</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 10:00:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29082248/DJI_0164-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134409</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, nusa tenggara, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air kecoklatan menutupi jalan Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Lombok Timur, pada suatu malam ketika hujan tidak begitu deras. Lumpur bercampur pasir dan batu menyumbat saluran, masuk ke halaman rumah, hingga menyasar sawah. Warga menduga material tersebut berasal dari tambang galian C di kawasan hulu. Bagi Muhammad Yunus, warga Lenek, persoalan itu berulang setiap hujan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/">Dari Irigasi hingga Sumber Air, Masyarakat Lombok Soroti Dampak Buruk Tambang Galian C</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air kecoklatan menutupi jalan Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Lombok Timur, pada suatu malam ketika hujan tidak begitu deras. Lumpur bercampur pasir dan batu menyumbat saluran, masuk ke halaman rumah, hingga menyasar sawah. Warga menduga material tersebut berasal dari tambang galian C di kawasan hulu. Bagi Muhammad Yunus, warga Lenek, persoalan itu berulang setiap hujan. Saluran irigasi mengalami sedimentasi sehingga petani harus mengeluarkan tenaga tambahan untuk membersihkannya. Material yang masuk ke petak sawah juga disebut mengganggu kondisi tanah dan pertumbuhan padi. “Banyak batu-batu dan pasir yang masuk ke sawah orang. Kualitas padinya jauh menurun ketimbang sebelum ada galian C,” kata Yunus. Menurutnya, hasil pertanian menurun sementara biaya pemeliharaan meningkat. Warga pernah berunjuk rasa, tetapi perbaikan yang mereka rasakan hanya berlangsung singkat. Keluhan berbeda muncul di Kalijaga Timur. Ahmad Zakaria mengatakan kendaraan pengangkut material mempercepat kerusakan jalan dan membawa debu ke permukiman. Saat kemarau, debu menempel pada rumah, tanaman, dan fasilitas umum. Warga khawatir kondisi tersebut mengganggu kesehatan, terutama anak-anak. Data Puskesmas Kalijaga dan Korleko menunjukkan ISPA termasuk tiga penyakit terbanyak sepanjang 2023-2025, dengan rata-rata sekitar 2.000 kasus per tahun. Namun, angka itu belum membuktikan bahwa aktivitas tambang menjadi penyebabnya. Kepala Puskesmas Kalijaga, Nursini Juiban Hadi, menekankan perlunya penelitian. “Bisa jadi ya, bisa juga tidak. Perlu penelitian lebih jauh, karena tidak bisa kita spekulasi hanya karena ada hubungannya saja, harus ada bukti ilmiahnya,” katanya. Di Karleko, warga menyebut sumur ikut terdampak perubahan lingkungan. Citra satelit yang dibahas dalam artikel juga memperlihatkan pembukaan lahan baru di sekitar aliran sungai selama lima tahun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Masyarakat Adat Long Beluah Terkepung Konsesi Sawit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 06:34:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/05084054/Screenshot-2026-08-10-at-18.54.46-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134543</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Konflik Agraria Tak Berujung]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonimi dan bisnis, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalan antar desa di depan rumah Lihiu Yohanes tak pernah sepi. Truk-truk pengangkut tandan buah segar (TBS) dari kebun sawit perusahaan hilir mudik membelah Jalan Desa Long Beluah, Kecamatan Tanjung Palas Barat, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), siang dan malam. Saat hujan, permukaan jalan yang sebagian berlapis semen itu pun berubah menjadi lumpur.  Saat panas, debu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/">Nasib Masyarakat Adat Long Beluah Terkepung Konsesi Sawit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalan antar desa di depan rumah Lihiu Yohanes tak pernah sepi. Truk-truk pengangkut tandan buah segar (TBS) dari kebun sawit perusahaan hilir mudik membelah Jalan Desa Long Beluah, Kecamatan Tanjung Palas Barat, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), siang dan malam. Saat hujan, permukaan jalan yang sebagian berlapis semen itu pun berubah menjadi lumpur.  Saat panas, debu berterbangan menyertai laju armada truk. “Sarana transportasi kita pun rusak karena dia (perusahaan) lintasi jalan kita ini. Biar diperbaiki (akan rusak lagi). Namanya kebutuhan pabrik tidak ada stop-nya. Mau hujan, mau apa, dia harus produksi,” katanya, tokoh adat Gaai Kung Kemul yang sejak lama mendiami Long Beluah. Menurut Lihiu, lebih dari tiga dekade masyarakat di Long Beluah tak lagi merasakan ketenangan karena aktivitas perusahaan di desanya. Sebelum perusahaan sawit, PT  ITCI Kayan Hutani (Ikani) masuk lebih dulu melalui skema perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Saat ini, Ikani yang memiliki luas konsesi 200.000 hektar sudah melalui dua kali proses perpanjangan dan tumpang tindih dengan wilayah hutan adat. Izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu-hutan alam (IUPHHK-HA). Luasannya tak main-main, lebih dari 200.000 hektar. Pada 2007, PT Gawi Plantation, merupakan bagian dari Wings Group masuk melalui tiga anak perusahaannya masuk membuka perkebunan sawit dan pabrik pengolahan. Ketiganya,  PT Prima Tunas Kharisma (PTK), PT Inti Selaras Perkasa (ISP), dan PT. Sentosa Sukses Utama (SSU). Luas konsesi untuk ketiga perusahaan ini  50.000 hektar tersebar di empat kecamatan, yakni, Kecamatan Tanjung Palas, Tanjung Palas Barat, Peso, dan Peso Hilir. Lihiu menyebut, warga tak pernah tahu rencana masuknya perusahaan-perusahaan itu. Baik perusahaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Penyu yang Menentas di Pantai Lalu Kembali untuk Bertelur, Jenis yang Sama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 04:42:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/12/22043025/Penyu-anakan-di-pantai-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134679</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penyu (Cheloniidae) adalah kelompok reptil laut yang masuk Ordo Testudines. Satwa ini sering disebut memiliki kemiripan dengan kura-kura yang hidup di darat. Penyu datang ke daratan pantai berpasir untuk bertelur dan berkembang biak, namun hidupnya sebagian besar dihabiskan di laut. Itu kenapa, walau sekilas mirip, namun keduanya berbeda. Dari tujuh spesies penyu di laut dunia, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/">Apakah Penyu yang Menentas di Pantai Lalu Kembali untuk Bertelur, Jenis yang Sama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penyu (Cheloniidae) adalah kelompok reptil laut yang masuk Ordo Testudines. Satwa ini sering disebut memiliki kemiripan dengan kura-kura yang hidup di darat. Penyu datang ke daratan pantai berpasir untuk bertelur dan berkembang biak, namun hidupnya sebagian besar dihabiskan di laut. Itu kenapa, walau sekilas mirip, namun keduanya berbeda. Dari tujuh spesies penyu di laut dunia, enam jenis ditemukan di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan perlindungannya melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Enam penyu itu adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu pipih (Natator depressus). Satu fase penting kehidupan penyu adalah awal kehidupannya setelah menetas dari telur. Proses tersebut kritis, karena menentukan apakah bisa terus hidup atau tidak. Tukik atau anak penyu berjuang kembali ke air dengan menghindari hewan predator. Secara alamiah, banyak yang tidak bisa bertahan. Hal itu disampaikan Mohammad Mukhlis Kamal, pakar ekologi perairan, pengelolaan sumber daya ikan, dan konservasi ekosistem laut yang mengajar pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB University. “Ancaman akan selalu mengintai tukik yang merangkak pelan menuju laut. Tak jarang, saat proses tersebut dilakukan, predator di darat memakannya,” jelasnya, Sabtu (19/9/26). Tukik atau anak penyu yang berupaya keras menuju laut setelah menetas di pantai. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Naluri alam penyu Agar ancaman berkurang, peran manusia menjadi sangat penting pada proses tersebut. Bantuan manusia, biasanya ada jika telur penyu menetas di kawasan penangkaran.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling Desak Penetapan Hutan Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 03:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07175127/IMG_6727-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134658</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling dari Kampung Long Isun dan Long Pahangai I, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, mendatangi  Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, awal Agustus lalu. Mereka gunakan pakaian  tradisional khas Dayak Bahau yang dominan merah bagi perempuan dan hitam untuk laki-laki.  Lengkap dengan sulaman corak etnik dan mahkota atau kuluk berhiaskan bulu enggang. Sebelum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/">Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling Desak Penetapan Hutan Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling dari Kampung Long Isun dan Long Pahangai I, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, mendatangi  Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, awal Agustus lalu. Mereka gunakan pakaian  tradisional khas Dayak Bahau yang dominan merah bagi perempuan dan hitam untuk laki-laki.  Lengkap dengan sulaman corak etnik dan mahkota atau kuluk berhiaskan bulu enggang. Sebelum memasuki Gedung Manggala Wanabakti, mereka ritual adat di halaman depan gedung itu. Mereka panjatkan doa sembari meletakkan sesaji beralaskan daun yang berisi telur dan ramuan suci di atas tanah, guna memohon kelancaran serta perlindungan leluhur dalam perjuangan mereka. “Kami mohon kehadiran para leluhur untuk ke sini, demi meminta tanah dan hutan adat kami kembali, karena tanah kami telah dirampas,” kata Yustina Long Anye, warga adat Bahau Umaq Suling dalam bahasa lokal. Bersama dengan perwakilan Walhi, mereka sambangi Kemenhut untuk mengajukan pengakuan dan penetapan hutan adat. Mereka masih hidup dalam kekhawatiran karena ada perusahaan kayu yang berproses memperoleh perizinan dan bakal mengancam wilayah adat mereka. Masyarakat adat mengandalkan hutan sebagai sumber kehidupan dan area sakral, tempat bersemayam para roh leluhur. Di sana, mereka bisa berburu dan bertani, menghasilkan pendapatan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, dari urusan perut hingga pendidikan tinggi. Namun, batas wilayah hutan adat yang perusahaan terobos membuat masyarakat khawatir akan kehilangan sumber kesejahteraan. “Kami ingin berdaulat kembali, semoga pejabat yang berada di sini membuka tangan mereka selebar &#8211; lebarnya dan menunjukkan empati mereka untuk mengembalikan tanah kami Long Pahangai dan Long Isun tanah.” Yustina Long Anyeq (pojok kiri) dan Katarina Lawaq Juk (tengah) saat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seberapa Sering Pesawat Terbang Tabrakan dengan Burung di Udara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 00:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/01/21234239/airplane-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134595</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah penerbangan modern, pesawat dan burung masih berbagi ruang udara. Pertemuan keduanya menjadi risiko yang perlu diperhitungkan, terutama di sekitar bandara. Burung dapat melintas ketika pesawat hendak lepas landas atau mendarat, sementara sumber makanan, air, dan tempat berlindung di kawasan sekitarnya dapat menarik satwa mendekat. Karena itu, keselamatan penerbangan juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/">Seberapa Sering Pesawat Terbang Tabrakan dengan Burung di Udara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah penerbangan modern, pesawat dan burung masih berbagi ruang udara. Pertemuan keduanya menjadi risiko yang perlu diperhitungkan, terutama di sekitar bandara. Burung dapat melintas ketika pesawat hendak lepas landas atau mendarat, sementara sumber makanan, air, dan tempat berlindung di kawasan sekitarnya dapat menarik satwa mendekat. Karena itu, keselamatan penerbangan juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan bandara dikelola dan aktivitas satwa dipantau. Tabrakan pesawat dengan burung, atau bird strike, bukan kejadian langka. Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mencatat sekitar 292 ribu laporan tabrakan pesawat dengan satwa liar sepanjang 1990-2023, sebagian besar melibatkan burung. Pada 2023 saja, hampir 20 ribu kasus dilaporkan di 780 bandara Amerika Serikat. Meski menjadi persoalan penerbangan masa kini, peristiwa tersebut memiliki sejarah panjang. “Tabrakan pesawat dengan burung, setua umur penerbangan itu sendiri. Catatan pertama dialami oleh penerbangan Wright III pada 7 September 1905,” tulis Isabel C. Merz bersama timnya dalam jurnal Aerospace. Risiko tersebut kembali mendapat perhatian setelah kecelakaan Jeju Air di Korea Selatan pada Desember 2024. Pilot melaporkan tabrakan burung sebelum pesawat mencoba pendaratan alternatif, kemudian tergelincir dan terbakar. Namun, laporan itu tidak serta-merta menjelaskan seluruh penyebab kecelakaan. Pengamat penerbangan Alvin Lie mengingatkan bahwa tabrakan burung dengan mesin dapat menyebabkan mesin mati, tetapi tidak menjelaskan masalah roda pendaratan. “Jadi pasti ada alasan lain,” katanya. Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya membedakan laporan tabrakan burung dengan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan. Penelitian Merz menunjukkan bahwa tabrakan paling banyak dilaporkan pada ketinggian di bawah 2.500 kaki. Musim dan posisi bandara juga berpengaruh: kejadian lebih banyak pada musim panas, sementara bandara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belasan Orang Sindikat Perdagangan Gading Gajah Jalani Persidangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 23:36:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/18150550/Kepolisian-olah-TKP-terhadap-gajah-mati-di-blok-lindung-konsesi-PT-RAPP-Selasa-4-Februari-2026.-Foto-Polda-Riau-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134666</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sindikat perburuan dan perdagangan gading gajah Sumatera mulai terkuak. Aparat mengungkap belasan pelaku dari pemburu sampai pembeli. Mulai awal Agustus persidangan 15 pelaku perburuan dan perdagangan gading gajah Sumatera mulai sidang di Pengadilan Negeri Pelalawan, Riau. Agenda sidang memasuki tahap pembuktian dengan pemeriksaan sejumlah saksi. Jaringan perdagangan organ satwa ini terungkap setelah kasus penembakan gajah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/">Belasan Orang Sindikat Perdagangan Gading Gajah Jalani Persidangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sindikat perburuan dan perdagangan gading gajah Sumatera mulai terkuak. Aparat mengungkap belasan pelaku dari pemburu sampai pembeli. Mulai awal Agustus persidangan 15 pelaku perburuan dan perdagangan gading gajah Sumatera mulai sidang di Pengadilan Negeri Pelalawan, Riau. Agenda sidang memasuki tahap pembuktian dengan pemeriksaan sejumlah saksi. Jaringan perdagangan organ satwa ini terungkap setelah kasus penembakan gajah jantan, 40 tahun, di Blok C99 konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan. Berdasarkan salinan dakwaan yang Mongabay peroleh, peristiwa itu bermula pada 25 Januari 2026. Sekitar pukul 15.00,  Rito Armanda menelepon Anir (masih buron) untuk mengajak berburu gading gajah. Anir setuju dan menjemput Rito di rumahnya, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan. Mengendarai sepeda motor Kanzen hitam tanpa bodi, keduanya menuju konsesi RAPP. Mereka bawa sepucuk senjata api laras panjang jenis 308, berikut 20 butir amunisi peluru, sebilah kapak dan parang. Semua milik Rito. Sekitar satu jam, Rito dan Anir, berkeliling lebih sekitar satu jam di area hutan tanaman industri (HTI) itu.  Mereka temukan jejak gajah di Blok C99. Sekitar 100 meter, kedua orang itu melihat gerombolan 20 gajah. Lalu diam-diam mencari titik dan arah tepat buat menembak. Anir jalan mendahului,  menenteng senjata api. Sekitar 20 meter jarak dari target, dia menembak dua kali kepala gajah jantan, dengan gading agak panjang hingga satwa dilindungi itu mati. Rito dan Anir bergegas mendekati gajah, mengeksekusi gading dengan kapak dan parang. Setelah sebagian kepala terpotong, Rito mencincang bagian itu agar gading terlepas secara utuh. Pekerjaan itu selesai sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Serahkan Rangkong yang Sempat Dipelihara, Amankah Habitatnya di Hutan Muria?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 11:11:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07110649/Julang-emas_rangkong-Indonesia.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134638</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa tengah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor rangkong diserahkan warga kepada Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria), di Desa Sintru, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Burung dari keluarga Bucerotidae itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, untuk penanganan lebih lanjut. Setyawan Rahayu, anggota Peka Muria bidang Konservasi Alam dan Litbang, mengatakan dirinya mendapat informasi keberadaan rangkong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/">Warga Serahkan Rangkong yang Sempat Dipelihara, Amankah Habitatnya di Hutan Muria?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor rangkong diserahkan warga kepada Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria), di Desa Sintru, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Burung dari keluarga Bucerotidae itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, untuk penanganan lebih lanjut. Setyawan Rahayu, anggota Peka Muria bidang Konservasi Alam dan Litbang, mengatakan dirinya mendapat informasi keberadaan rangkong dari rekannya bernama Anto, warga Jepara, pukul 22.00 WIB. Tanpa menunggu pagi, dia bersama rekannya ke lokasi untuk mengevakuasi burung tersebut. Saat di lokasi, tampak rangkong berada di kandang ayam di belakang rumah warga. Proses evakuasi tidak mudah karena kadangnya kecil, sedangkan tubuh rangkong besar. Menurut Setyawan, dilihat dari fisiknya ada kerusakan pada bagian ekor dan bulu. Selain itu, kakinya menunjukkan pernah patah. Tulang bagian paha sudah menyambung, tapi tidak dalam posisi normal. “Patahnya sudah lama,” jelasnya, Rabu (30/9/26). Persoalan penting burung ini adalah asal-usulnya. Jika asalnya dari hutan Sumatera atau Kalimantan, maka melepasnya di Jawa tidak sesuai dengan habitat alaminya. “Identifikasi jenis dan penelusuran asal-usul sangat penting, sebelum menentukan lokasi pelepasliaran.” Kasus ini juga mengingatkan Setyawan akan rangkong di hutan Muria masa lalu yang pernah terapantau di pohon beringin berbuah. “Waktu itu ada lima ekor. Kini, sulit dijumpai.” Julang emas [Rhyticeros undulatus] yang memiliki tubuh besar. Foto: Riki Rahmansyah/Rangkong Indonesia. Langkah positif Yokyok Hadiprakarsa, ahli biologi konservasi satwa liar sekaligus pendiri Rangkong Indonesia, mengidentifikasi burung tersebut sebagai julang emas jantan muda. Menurutnya, penyerahan satwa masyarakat merupakan langkah positfi. Namun, asal-usulnya perlu ditelusuri lebih jauh. Ini penting, untuk mengetahui apakah satwa tersebut sebelumnya dipelihara sejak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang dan Misteri Kepergian Manusia Purba Flores</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 10:00:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17090820/manusia-purba-flores-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134555</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan. Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/">Kemarau Panjang dan Misteri Kepergian Manusia Purba Flores</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan. Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, kemarau memanjang, dan ketersediaan air semakin terbatas. Penelitian mengungkap bahwa perubahan tersebut mungkin turut mendorong Homo floresiensis meninggalkan Liang Bua. “Penyebab hilangnya manusia purba Homo floresiensis dari Pulau Flores sekitar lima puluh ribu tahun lalu adalah pertanyaan kunci dalam paleoantropologi,” tulis Michael K. Gagan bersama tim peneliti. Untuk memahami persoalan itu, para peneliti merekonstruksi iklim masa lalu menggunakan stalagmit dari Liang Luar, gua yang berjarak sekitar 660 meter dari Liang Bua. Mereka mengukur perbandingan magnesium terhadap kalsium serta rasio isotop oksigen. Analisis juga dilakukan terhadap enamel gigi gajah kerdil Flores, Stegodon florensis insularis. Petunjuk dari batuan gua dan gigi tersebut membantu menggambarkan perubahan curah hujan serta kondisi musim ketika manusia purba menghuni kawasan itu. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth &amp; Environment pada Desember 2025. Penelitian menunjukkan curah hujan tahunan terus menurun antara 76 ribu hingga 61 ribu tahun lalu. Kekeringan paling ekstrem berlangsung sekitar 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu, bersamaan dengan penurunan populasi stegodon, hewan buruan H. floresiensis. Ketika air dan vegetasi menyusut, tekanan terhadap manusia dan hewan meningkat. Persaingan mendapatkan air serta berkurangnya mangsa diduga ikut mengubah kehidupan di sekitar Liang Bua. “Temuan kami menunjukkan perubahan iklim, yang berpotensi dikombinasikan dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Raja Ampat yang Hanya Ditemukan di Pulau Batanta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 09:25:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07092013/varanidae-varanus-macraei-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134629</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan hujan di bagian timur Indonesia menyimpan banyak satwa yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia. Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat Daya dikenal luas karena terumbu karangnya, tetapi daratannya juga menjadi rumah bagi reptil yang hidup di tajuk pepohonan. Salah satu kelompok yang menarik perhatian para ahli reptil adalah biawak pohon, yaitu biawak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/">Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Raja Ampat yang Hanya Ditemukan di Pulau Batanta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan hujan di bagian timur Indonesia menyimpan banyak satwa yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia. Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat Daya dikenal luas karena terumbu karangnya, tetapi daratannya juga menjadi rumah bagi reptil yang hidup di tajuk pepohonan. Salah satu kelompok yang menarik perhatian para ahli reptil adalah biawak pohon, yaitu biawak yang hidup di pohon dan memiliki ekor yang mampu menggenggam cabang.Salah satu anggotanya adalah biawak pohon biru (Varanus macraei), yang menghuni Pulau Batanta di Raja Ampat dan sejauh ini hanya diketahui hidup di sana. Spesies ini baru dideskripsikan secara ilmiah pada 2001 oleh Wolfgang Böhme dan Hans J. Jacobs, dengan nama yang diambil dari herpetolog Duncan Malcolm MacRae. Kini statusnya Endangered atau terancam punah dalam Daftar Merah IUCN, sementara pengetahuan tentang kehidupannya di alam liar masih sangat terbatas. Corak biru, ekor panjang, dan ukuran tubuh Biawak pohon biru termasuk kelompok prasinus dan subgenus Hapturosaurus, yang juga mencakup biawak pohon hijau (Varanus prasinus). Pada awal abad ke-21, jumlah spesies dalam kelompok ini bertambah setelah Varanus macraei, V. boehmei, dan V. reisingeri dideskripsikan. Tubuh biawak pohon biru berwarna hitam dengan sisik biru yang tersebar. Sisik-sisik itu membentuk bintik melingkar yang disebut ocelli, dan pada sebagian individu bintik tersebut menyambung menjadi pita melintang di punggung. Jumlah pita punggungnya kurang dari sembilan. Sebagian besar pengetahuan tentang biawak pohon biru (Varanus macraei) berasal dari satwa penangkaran, bukan dari penelitian di alam liar. Foto: Petr Kratochvil/PublicDomainPictures.net. Ujung moncongnya berwarna biru muda, sedangkan tungkainya dipenuhi bintik biru kehijauan. Satu baris sisik biru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penyiksaan Awak Kapal Cumi Terus Terjadi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 06:28:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07053745/Awak-kapal-siksa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134607</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekujur tubuh Ilyas Salahuddin masih terasa sakit karena penyiksaan yang dia alami ketika berlayar menjadi awak kapal cumi di perairan sekitar Kepulauan Aru, Maluku. Sang Ibu, Siti Nurhayati bilang, Ilyas mengeluhkan telinga kiri tidak bisa mendengar, sakit pada bagian perut dan kaki. Siti terakhir berkomunikasi dengan anaknya itu pada Minggu (4/10/26) pagi. Dalam percakapan itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/">Penyiksaan Awak Kapal Cumi Terus Terjadi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekujur tubuh Ilyas Salahuddin masih terasa sakit karena penyiksaan yang dia alami ketika berlayar menjadi awak kapal cumi di perairan sekitar Kepulauan Aru, Maluku. Sang Ibu, Siti Nurhayati bilang, Ilyas mengeluhkan telinga kiri tidak bisa mendengar, sakit pada bagian perut dan kaki. Siti terakhir berkomunikasi dengan anaknya itu pada Minggu (4/10/26) pagi. Dalam percakapan itu, dia menanyakan kondisi sang anak usai melihat video penyiksaan yang keponakannya tunjukkan. “Bagaimana keadaan nak? Alhamdulillah baik, Umi, katanya gitu. Apa yang sakit? Seluruh badan sakit, dia bilang. Apa lagi yang sakit? Telinga kiri saya tidak bisa mendengar, lalu perut saya sakit. Di bagian kaki juga masih ada sakit,” ujar Siti menirukan percakapan dengan Ilyas dikutip dari keterangan Polres Tanjung Priok yang Mongabay terima. Ilyas, satu dari empat awak yang mengalami penyiksaan di atas kapal KM Maulana 23. Video penyiksaan Ilyas  dan korban lain, Oktavian Makhreza, Syawal Suswono, dan Johan Saputra–viral di media sosial pada 30 September. Dalam video itu, terlihat para pelaku mencelupkan tubuh Ilyas ke bak berisi air lalu menginjak dan memukulinya berkali-kali. Muka para korban juga nampak babak belur. Bahkan, terdapat sejumlah luka di bagian telinga, kepala, hingga hidung. Usai video penyiksaan itu viral, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap KM Maulana 23 pada Jumat (2/10/26) sekitar pukul 14.30 WIT di perairan Kepulauan Aru. Pung Nugroho Saksono, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) mengatakan, saat petugas patroli KP Hiu 14 menangkapnya, KM Maulana 23 sedang menggunakan alat pancing cumi. Kapal bertonase 89 gross tonnage (GT)) itu, memuat sekitar satu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Adat Bahas Penguatan Hak dalam Temu Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 04:30:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004325/moa-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134598</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Novilla Maria Aru, perempuan adat Kampung Sawesuma bercerita, di kampungnya tabu bagi perempuan vokal. Mereka kerap dapat teguran untuk kembali ke dapur, bahkan dapat kekerasan dari suami hanya karena banyak beraktivitas di luar rumah. “Ada yang dapat pukul, ada yang anaknya suruh panggil, suruh pulang,” kata perempuan dari Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Papua ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/">Para Perempuan Adat Bahas Penguatan Hak dalam Temu Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Novilla Maria Aru, perempuan adat Kampung Sawesuma bercerita, di kampungnya tabu bagi perempuan vokal. Mereka kerap dapat teguran untuk kembali ke dapur, bahkan dapat kekerasan dari suami hanya karena banyak beraktivitas di luar rumah. “Ada yang dapat pukul, ada yang anaknya suruh panggil, suruh pulang,” kata perempuan dari Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Papua ini. Amok, panggilan akrabnya, bilang, perempuan sulit mengembangkan diri di kampungnya. Selain suami dan keluarga melarang, akses informasi juga sulit. Listrik dan internet belum masuk. Dia pun harus ketuk satu per satu pintu dan meyakinkan para suami jika ingin mengajak keluar istri mereka untuk berkegiatan di luar, termasuk belajar bersama. Istri Ondoafi atau pemimpin adat ini mulai aktif dalam pertemuan-pertemuan adat medio 2010-2014. Meski upaya itu tidak semua berhasil. Tahun 2016, perjuangan mulai berbuah. Satu per satu perempuan mulai berani tampil. Amok bahkan berhasil menduduki posisi pengurus di kampungnya. Dia juga jadi ketua Posyandu hingga Ketua Persekutuan Wanita Kristen (PWK). Banyak hal yang dia kerjakan. Misal, beberapa kali bolak-balik ke Jayapura mencari pendanaan untuk kampungnya. Sejumlah pendanaan dari organisasi non-profit sampai kementerian masuk. Kini, di Sawesuma sudah ada sekolah alternatif untuk para perempuan yang tidak mendapat akses pendidikan formal atau putus sekolah, listrik pun sudah masuk. Para perempuan semakin diakui kemampuannya. Selain aktif di kampungnya, Amok juga aktif dalam organisasi Perempuan AMAN, perkumpulan perempuan adat dari seluruh penjuru nusantara. Organisasi sayap Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) itu sudah berdiri sejak 2012, beranggotakan 5.000 lebih perempuan adat. Itu yang membuat dia dan perempuan-perempuan adat lain akan kumpul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidak Lagi Berburu Hiu, Mereka Kini Hidup Tenang Menjadi Pemandu Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 00:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16094527/DSCF5260-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134450</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, nusa tenggara, dan perikanan dan kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alimuddin kini menghabiskan pagi di tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, menunggu giliran mengantar wisatawan. Sejak 2016, ia bekerja sebagai pemandu wisata setelah hampir dua dekade menangkap hiu. Perubahan pekerjaan itu berangkat dari pengalaman melaut berminggu-minggu, dengan penghasilan yang menurutnya tidak sepadan dengan bahaya. “Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” katanya. Agip mengambil pilihan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/">Tidak Lagi Berburu Hiu, Mereka Kini Hidup Tenang Menjadi Pemandu Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alimuddin kini menghabiskan pagi di tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, menunggu giliran mengantar wisatawan. Sejak 2016, ia bekerja sebagai pemandu wisata setelah hampir dua dekade menangkap hiu. Perubahan pekerjaan itu berangkat dari pengalaman melaut berminggu-minggu, dengan penghasilan yang menurutnya tidak sepadan dengan bahaya. “Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” katanya. Agip mengambil pilihan serupa. Ia berhenti menangkap hiu pada 2010, sempat menjadi nelayan tradisional, lalu beralih ke wisata bahari. Selain pendapatan, jarak dengan keluarga menjadi pertimbangannya. Kini, ia mengatakan dapat memperoleh Rp150.000-Rp200.000 sehari ketika mengantar wisatawan, dengan perjalanan yang lebih pendek. Kisah mereka berlangsung di salah satu lokasi pendaratan hiu dan pari yang besar. Selama dua tahun pemantauan, peneliti mencatat lebih dari 13.000 hiu dan pari dari 57 spesies didaratkan di Tanjung Luar. Namun, menurut Alimuddin dan Agip, nilai perdagangan itu tidak selalu membawa kesejahteraan bagi awak kapal. Keduanya mengeluhkan pembagian hasil yang tidak transparan, beban biaya operasional, dan utang ketika tangkapan tidak menutupi ongkos perjalanan. Awak juga disebut harus ikut menanggung perbaikan kapal serta biaya pengobatan sendiri. Kondisi tersebut membuat peralihan pekerjaan menjadi bagian penting pembicaraan tentang konservasi hiu. Yayasan Kebersamaan untuk Lautan (KUL) pernah memberikan kompensasi kepada nelayan yang melepaskan hiu dan pari hidup. Program itu tidak berjalan sesuai harapan. Dalam setahun, hanya tiga hiu dilepaskan. Bahkan ketika kompensasi dinaikkan, menurut Sekretaris KUL M. Said Ramdlan, tekanan dari pengepul, pemilik kapal, dan permintaan pasar tetap menyulitkan pelepasliaran. KUL kemudian membeli dua kapal penangkap hiu, masing-masing seharga Rp300 juta, lalu memensiunkannya secara permanen. Kedua kapal tercatat menangkap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Menggugat Peran Hashim di Panggung Diplomasi KTT Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 21:26:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Firdaus Cahyadi*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/06211923/ESDM--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134602</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tahun ini,  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim atau Conference of the Parties (COP) 31 di Turki bakal kembali berlangsung November nanti. Perhelatan itu akan menjadi ajang diplomasi iklim bagi negara-negara di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Alih-alih mempersiapkan diplomasi iklim yang handal, Pemerintah Indonesia justru memperlemah posisi diplomasi iklim melalui keputusan Kementerian Energi dan Sumberdaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/">Opini: Menggugat Peran Hashim di Panggung Diplomasi KTT Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tahun ini,  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim atau Conference of the Parties (COP) 31 di Turki bakal kembali berlangsung November nanti. Perhelatan itu akan menjadi ajang diplomasi iklim bagi negara-negara di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Alih-alih mempersiapkan diplomasi iklim yang handal, Pemerintah Indonesia justru memperlemah posisi diplomasi iklim melalui keputusan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (KESDM) terkait hasil lelang penawaran langsung wilayah kerja (WK) minyak dan gas (migas) Natuna D-Alpha. Keputusan KESDM itu memenangkan perusahaan yang kaitan dengan Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim. Dari kacamata bisnis, itu mungkin berita wajar saja, tetapi dari kacamata diplomasi iklim, itu kabar buruk karena dapat memperlemah posisi diplomasi Indonesia di kancah internasional. Kenapa demikian? Setidaknya,  ada dua penyebab. Pertama, blok migas D-Alpha memiliki kandungan CO2 hingga sekitar 72%. Belum ada perusahaan yang pernah memisahkan kandungan CO2 sebesar itu. Artinya,  blok migas itu akan berpotensi menjadi bom karbon dari Indonesia. Andaikan berhasil pun itu akan berbiaya mahal. Konsekuensinya, negeri ini akan tersandera ekonomi berbasiskan energi fosil. Kuncian ekonomi berbasis fosil itu melalui pembangunan dan perawatan infrastruktur fisik, ekonomi dan politiknya (kebijakan). Makin lama kuncian ekonomi berbasis energi fosil itu, akan makin lama energi terbarukan masuk dalam sistem energi Indonesia. Kedua, persoalan etika publik dalam pengambilan kebijakan energi. Perusahaan yang akan bekerja di blok migas itu berkaitan dengan sosok Hashim Djojohadikusumo. Dia bukan hanya adik Presiden Prabowo Subianto, juga Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim. Bagaiamana mungkin seorang Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim justru dikaitkan dengan bisnis migas yang emisinya justru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Telaga Ranjeng, Ikan Lele, dan Kearifan Masyarakat Menjaga Sumber Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 10:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/30145056/telaga-ranjeng1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134557</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di pinggir Telaga Ranjeng, warga dan pengunjung menyaksikan ikan-ikan berkumpul menerima makanan. Ikan mas tampak mendominasi permukaan air. Namun, bagi sebagian pengunjung, telaga di lereng barat Gunung Slamet ini lebih dikenal karena ikan lelenya yang tidak boleh ditangkap. “Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat,” kata Afan Maulana, pengunjung asal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/">Telaga Ranjeng, Ikan Lele, dan Kearifan Masyarakat Menjaga Sumber Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di pinggir Telaga Ranjeng, warga dan pengunjung menyaksikan ikan-ikan berkumpul menerima makanan. Ikan mas tampak mendominasi permukaan air. Namun, bagi sebagian pengunjung, telaga di lereng barat Gunung Slamet ini lebih dikenal karena ikan lelenya yang tidak boleh ditangkap. “Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat,” kata Afan Maulana, pengunjung asal Banyumas. Larangan mengambil ikan telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Kepercayaan bahwa mengganggu ikan dapat mendatangkan kejadian buruk membuat warga menjaga kehidupan di dalam telaga. “Masyarakat di sini tetap menjaga ikan di telaga ini,” ujar Sirin, warga setempat. Telaga Ranjeng, atau Tlogoranjeng, berada pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Kawasan cagar alamnya memiliki luas 53,41 hektar. Perlindungan kawasan ini berjalan bersama kebiasaan masyarakat untuk tidak menangkap ikan, menebang pohon, maupun mencemari hutan dan telaga. Jamal, penjaga Telaga Ranjeng yang telah bertugas selama 15 tahun, mengatakan ekosistemnya masih terjaga. Menurutnya, lele dan ikan mas tidak selalu terlihat bersamaan. Ada masa ketika hanya salah satunya muncul, bahkan ikan pernah tidak terlihat pada 2017-2019. “Kadang, lele tidak muncul dalam beberapa waktu, namun bukan karena punah,” jelasnya. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa tidak terlihatnya ikan di permukaan belum tentu berarti ikan telah hilang dari telaga. Jamal menyebut, setelah masa itu, lele kembali muncul bersama ikan mas. Penelitian Nugraha dan Novianto dari Universitas PGRI Yogyakarta menjelaskan bahwa mitos larangan mengganggu ikan memiliki fungsi konservasi. Kepercayaan tersebut membantu melindungi ikan sekaligus ekosistem tempatnya hidup. “Kearifan lokal akan tetap bertahan dan berkembang jika di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>