Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan.
Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, kemarau memanjang, dan ketersediaan air semakin terbatas. Penelitian mengungkap bahwa perubahan tersebut mungkin turut mendorong Homo floresiensis meninggalkan Liang Bua.
“Penyebab hilangnya manusia purba Homo floresiensis dari Pulau Flores sekitar lima puluh ribu tahun lalu adalah pertanyaan kunci dalam paleoantropologi,” tulis Michael K. Gagan bersama tim peneliti.
Untuk memahami persoalan itu, para peneliti merekonstruksi iklim masa lalu menggunakan stalagmit dari Liang Luar, gua yang berjarak sekitar 660 meter dari Liang Bua. Mereka mengukur perbandingan magnesium terhadap kalsium serta rasio isotop oksigen. Analisis juga dilakukan terhadap enamel gigi gajah kerdil Flores, Stegodon florensis insularis.
Petunjuk dari batuan gua dan gigi tersebut membantu menggambarkan perubahan curah hujan serta kondisi musim ketika manusia purba menghuni kawasan itu. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment pada Desember 2025.
Penelitian menunjukkan curah hujan tahunan terus menurun antara 76 ribu hingga 61 ribu tahun lalu. Kekeringan paling ekstrem berlangsung sekitar 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu, bersamaan dengan penurunan populasi stegodon, hewan buruan H. floresiensis.
Ketika air dan vegetasi menyusut, tekanan terhadap manusia dan hewan meningkat. Persaingan mendapatkan air serta berkurangnya mangsa diduga ikut mengubah kehidupan di sekitar Liang Bua.
“Temuan kami menunjukkan perubahan iklim, yang berpotensi dikombinasikan dengan dinamika predator-mangsa, sebagai kontributor penurunan H. floresiensis dan S. florensis insularis sebelum menghilangnya mereka di Liang Bua.”
Meski demikian, hilangnya jejak kedua spesies dari gua tersebut belum tentu berarti mereka langsung punah. Para peneliti menawarkan kemungkinan bahwa stegodon berpindah menuju habitat dengan air lebih tersedia, kemudian diikuti manusia purba yang mencari mangsa.
“Hampir tidak adanya kedua spesies di Liang Bua setelah sekitar 61 ribu tahun yang lalu mungkin hanya mencerminkan relokasi mereka ke habitat yang lebih menguntungkan.”
Temuan ini juga memberi sudut pandang terhadap dugaan persaingan dengan manusia modern. Revisi penanggalan menunjukkan hilangnya H. floresiensis dari Liang Bua mendahului kedatangan manusia modern di lokasi itu sekitar 46 ribu tahun lalu.
Ditemukan pada 2003, fosil H. floresiensis memperlihatkan manusia dewasa bertubuh kecil, dengan tinggi diperkirakan sekitar satu meter, yang mampu membuat peralatan batu. Kini, rekaman iklim membantu menjelaskan tantangan lingkungan yang mereka hadapi: kehidupan yang bergantung pada air dapat berubah ketika hujan tidak lagi mencukupi.
Foto utama: Fosil gajah Stegodon floresis yang merupakan koleksi Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia.