<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=erwin-wilianto&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/erwin-wilianto/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2026 12:04:08 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Berkedok Makanan Ringan, 1.728 Kuda Laut Kering Diamankan di Kepulauan Riau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 10:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/19044927/WhatsApp-Image-2026-10-17-at-01.28.40-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135366</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Label makanan ringan pada sebuah kardus ternyata menyembunyikan 1.728 kuda laut kering. Paket yang hendak dikirim ke Kendari itu dihentikan petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah bersama Karantina Kepulauan Riau pada 10 Oktober 2026. Kecurigaan muncul setelah pemeriksaan sinar-X memperlihatkan isi yang tidak sesuai. Ketika kardus dibuka, petugas menemukan ribuan satwa laut dalam kondisi kering. “Modus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/">Berkedok Makanan Ringan, 1.728 Kuda Laut Kering Diamankan di Kepulauan Riau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Label makanan ringan pada sebuah kardus ternyata menyembunyikan 1.728 kuda laut kering. Paket yang hendak dikirim ke Kendari itu dihentikan petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah bersama Karantina Kepulauan Riau pada 10 Oktober 2026. Kecurigaan muncul setelah pemeriksaan sinar-X memperlihatkan isi yang tidak sesuai. Ketika kardus dibuka, petugas menemukan ribuan satwa laut dalam kondisi kering. “Modus yang digunakan adalah mengelabui petugas dengan memberikan keterangan makanan ringan,” kata Hasim, Kepala Karantina Kepri. Perwakilan ekspedisi tidak dapat menunjukkan dokumen persyaratan, sehingga pengiriman tidak dilanjutkan. Identifikasi bersama Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru menemukan tiga jenis dalam paket tersebut. Jumlah terbesar adalah Hippocampus kuda, sebanyak 1.263 individu, disusul Hippocampus spinosissimus sebanyak 452 individu dan Hippocampus comes sebanyak 13 individu. Ukurannya berkisar 11-19 sentimeter. Seluruhnya diserahkan kepada instansi pengelolaan sumber daya pesisir dan pengawasan perikanan untuk penanganan lebih lanjut. Pihak pengirim serta penerima masih ditelusuri. Hasim mengingatkan bahwa pengiriman satwa dan produk turunannya harus memenuhi ketentuan karantina maupun persyaratan konservasi, sementara perusahaan ekspedisi perlu memastikan kesesuaian isi paket dan dokumennya. Kasus tersebut memperlihatkan jalur pengiriman kuda laut kering yang membutuhkan pengawasan. Dalam gambaran perdagangan yang lebih luas, IUCN menyebut kuda laut diperjualbelikan hidup untuk akuarium maupun dikeringkan untuk pengobatan tradisional dan cenderamata. Perdagangan kering mendominasi pasar global, sedangkan jalur tidak resmi masih berlangsung. Penilaian IUCN terhadap Hippocampus trimaculatus, spesies berbeda dari tiga jenis yang disita, memperkirakan penurunan populasi sebesar 50–79 persen dalam tiga generasi terakhir. Tekanannya mencakup penangkapan berlebihan, tangkapan sampingan, serta kerusakan habitat akibat pengerukan dan praktik penangkapan yang merusak. Pengawasan jalur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apa Dampak Jangka Panjang Kebakaran Hutan pada Siamang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 09:00:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/28003254/Anak-siamang-yang-berada-di-Pusat-Rehabilitasi-Satwa-Punti-Kayu-Palembang.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135412</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah wilayah Indonesia masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di titik kebakaran, tidak sedikit satwa liar mati bersama rumah atau habitat mereka yang ikut terbakar. Di Kalimantan, laporan lapangan dari Conservation Action Network Indonesia (CAN), telah mendokumentasikan 137 satwa liar mati selama operasi lapangan, termasuk 87 ular, 23 biawak, 14 trenggiling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/">Apa Dampak Jangka Panjang Kebakaran Hutan pada Siamang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah wilayah Indonesia masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di titik kebakaran, tidak sedikit satwa liar mati bersama rumah atau habitat mereka yang ikut terbakar. Di Kalimantan, laporan lapangan dari Conservation Action Network Indonesia (CAN), telah mendokumentasikan 137 satwa liar mati selama operasi lapangan, termasuk 87 ular, 23 biawak, 14 trenggiling Sunda, delapan burung, tiga monyet ekor panjang, satu rusa, dan satu kijang. Angka-angka ini dilaporkan per tanggal 18 September 2026 lalu, dan hanya mewakili satwa yang ditemukan oleh tim lapangan, bukan perkiraan kematian satwa liar di seluruh Kalimantan. Namun, menurut CAN, satwa liar yang terkena dampak kebakaran sulit ditemukan, dan konsekuensinya berlanjut setelah api padam. “Vegetasi yang terbakar dapat menyebabkan hewan yang selamat kekurangan makanan atau tempat berlindung yang memadai, sementara kekeringan semakin mengurangi air dan sumber daya lainnya,” dikutip dari situs resmi International Fund for Animal Welfare (IFAW), Minggu (18/10/26). Sementara itu, menurut laporan Kementerian Kehutanan, mereka telah menangani 290 individu satwa liar yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sampai 8 Oktober 2026. Di Sumatera Selatan, belum banyak catatan terkait dampak karhutla tahun 2026 terhadap satwa. Terakhir, menurut data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, pada September 2026, tercatat 3 ekor trenggiling liar mati terpanggang di Suaka Margasatwa Padang Sugihan. Anak siamang yang berada di Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Dampak karhutla pada wilayah jelajah siamang Sebuah penelitian berjudul “Long‐term effects of forest fire on habitat use by siamangs in Southern Sumatra” yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: BNPB Perlu Hitung Perubahan Lanskap dalam Kajian Risiko Bencana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 03:53:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Setya Permana*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22133501/Kebakaran-hutan-dan-lahan-karhutla-Foto-milik-Greenpeace-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135388</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas di Kalimantan, Sumatera sampai Papua hingga saat ini. Tim Data Kompas menemukan 11.929 titik panas sepanjang 1–28 Agustus, 50,4% berada di konsesi, dari perkebunan sawit, pemanfaatan kayu, maupun pertambangan. Temuan itu tentu tidak berarti keberadaan titik panas di dalam konsesi otomatis menyatakan perusahaan sebagai pelaku pembakaran. Kementerian Kehutanan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/">Opini: BNPB Perlu Hitung Perubahan Lanskap dalam Kajian Risiko Bencana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas di Kalimantan, Sumatera sampai Papua hingga saat ini. Tim Data Kompas menemukan 11.929 titik panas sepanjang 1–28 Agustus, 50,4% berada di konsesi, dari perkebunan sawit, pemanfaatan kayu, maupun pertambangan. Temuan itu tentu tidak berarti keberadaan titik panas di dalam konsesi otomatis menyatakan perusahaan sebagai pelaku pembakaran. Kementerian Kehutanan menekankan perlu verifikasi lapangan. Namun, pola sebaran menunjukkan bahwa risiko kebakaran juga berkaitan dengan bagaimana lahan digunakan dan berubah dari waktu ke waktu. Hal serupa bisa terlihat pada banjir. Hujan ekstrem menjadi pemicu langsung, tetapi seberapa besar hujan berubah menjadi bencana juga bergantung pada kondisi daerah tangkapan air, tutupan hutan, aliran sungai, tata guna lahan, dan perubahan bentang alam di bagian hulu. Karena itu, selain melihat bagaimana penanganan bencana, juga perlu bertanya apakah cara Indonesia menghitung risiko sudah menangkap proses pembangunan yang ikut memperbesar risiko itu? kabut asap pekat karhutla di Palangkaraya. Foto: Krismes Santo Haloho /Mongabay Indonesia Cara menghitung risiko penting Sebenarnya, Indonesia mempunyai sistem pengkajian risiko bencana melalui Peraturan Kepala BNPB Nomor 2/2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Lebih dari satu dekade setelah terbit, regulasi ini masih berlaku dan tetap menjadi salah satu acuan penting pengkajian risiko bencana di Indonesia. InaRISK juga masih menggunakan Perka itu dalam penghitungan risiko melalui komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Kajian Risiko Bencana (KRB) bukan sekadar dokumen teknis. Hasilnya sebagai dasar untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana dan Rencana Penanggulangan Bencana di daerah. Pedoman itu sejak awal terancang agar hasil kajian risiko bisa menjadi kebijakan pengurangan risiko. Pilihan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suku Balik Gugat UU Ibukota Negara, Bermasalah Sejak Awal, Korbankan Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 01:10:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Richaldo HariandjaYulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013223/Suku-Balik3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135245</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[infrastruktur, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penetapan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara bermasalah sejak proses perencanaan hingga terbit Undang-undang 3/2022. Masyarakat Adat Suku Balik yang jadi korban pun menuntut keadilan di Mahkamah Konstitusi (MK) lewat gugatan dengan Nomor perkara 299/PUU-XXIV/2026 yang tengah berproses. Yati Dahlia, Masyarakat Adat Suku Balik yang tinggal di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim), di persidangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/">Suku Balik Gugat UU Ibukota Negara, Bermasalah Sejak Awal, Korbankan Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penetapan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara bermasalah sejak proses perencanaan hingga terbit Undang-undang 3/2022. Masyarakat Adat Suku Balik yang jadi korban pun menuntut keadilan di Mahkamah Konstitusi (MK) lewat gugatan dengan Nomor perkara 299/PUU-XXIV/2026 yang tengah berproses. Yati Dahlia, Masyarakat Adat Suku Balik yang tinggal di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim), di persidangan 13 Oktober menyebut,  baru mengetahui perpindahan ibu kota ke Sepaku dari pemberitaan media massa. Saat itu,  dia dan keluarga tidak tahu daerah mana saja yang akan jadi kawasan IKN dan seperti apa dampak pembangunan bagi mereka. Dalam kesempatan itu, dia bilang baru mengetahui ihwal tanahnya dan keluarga masuk kawasan inti pusat pemerintahan IKN dalam pertemuan di Kantor Kecamatan 2022. Setahun kemudian, berlangsung pertemuan yang membahas ganti rugi terhadap tanah yang pemerintah pakai untuk mega proyek itu. Tanah seluas 720 meter persegi milik Dahlia dan keluarga hanya pemerintah hargai Rp134.640.000. “Nilai tersebut tidak memungkinkan kami membeli tanah di wilayah Sepaku dengan luas yang setara,” ucap Dahlia dalam sidang yang rekamannya tersemat di YouTube resmi MK. Sejak awal, katanya, dia enggan melepas tanah dan tempat tinggal keluarganya. Karena, bukan sekadar aset, tanah itu merupakan lokasi dari bagian kehidupan yang sudah mereka jalani turun-temurun. Pemerintah pun mempersilakan mereka yang keberatan untuk menempuh jalur hukum. Namun, keterbatasan pengetahuan, dan dana menyewa pengacara membuatnya merasa tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran itu. Proses pencairan ganti rugi pun panjang dan berbelit. Mereka baru mendapatkan hak itu  tahun 2025, padahal janji pencairannya enam bulan setelah penandatanganan perjanjian pada  2023. Mereka pun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Mangrove Menyusut, ke Mana Kucing Bakau Pergi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 00:30:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001526/Kucing-bakau-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135342</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara akar mangrove dan tanah berlumpur, seekor kucing berburu di lingkungan yang dipenuhi air. Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, sementara kakinya memiliki selaput sebagian. Kucing bakau, Prionailurus viverrinus, mampu berenang dan menyelam untuk menangkap ikan. Namun, kemampuan tersebut bergantung pada keberadaan lahan basah yang menyediakan makanan serta perlindungan. Ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/">Ketika Mangrove Menyusut, ke Mana Kucing Bakau Pergi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara akar mangrove dan tanah berlumpur, seekor kucing berburu di lingkungan yang dipenuhi air. Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, sementara kakinya memiliki selaput sebagian. Kucing bakau, Prionailurus viverrinus, mampu berenang dan menyelam untuk menangkap ikan. Namun, kemampuan tersebut bergantung pada keberadaan lahan basah yang menyediakan makanan serta perlindungan. Ketika mangrove berganti menjadi tambak, permukiman, atau kawasan industri, pemburu ikan ini kehilangan bagian penting dari ruang hidupnya. Nama kucing bakau merujuk pada habitatnya yang mencakup mangrove, rawa, dan sungai. Selaput pada kakinya membantu pergerakan di air serta di permukaan tanah lunak. Penampilannya juga memiliki ciri yang membedakannya dari kerabat lain. “Kucing bakau adalah kucing terbesar di antara jenis-jenis Prionailurus, dengan wajah lonjong bercirikan hidung khas, bagian bawah tubuh putih, dan telinga belakang berwarna hitam dengan totol putih di tengahnya,” tulis Kuncoro dan kolega dari Universitas Negeri Surabaya. Ciri tubuh tersebut menjadi bagian dari penelitian untuk memastikan identitas satwa yang masih minim datanya di Indonesia. Di hutan mangrove Wonorejo, Surabaya, keberadaan kucing bakau awalnya diduga melalui rekaman kamera jebak. Penelitian yang dipublikasikan pada 2023 kemudian mengonfirmasinya menggunakan identifikasi morfologi dan analisis gen Cytochrome b. Temuan ini memperkuat catatan keberadaan spesies tersebut di Jawa Timur. Wonorejo menjadi lokasi penting karena mempertemukan lingkungan laut, payau, sungai, dan daratan yang mendukung keragaman flora serta fauna. Namun, konfirmasi keberadaan belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai jumlah individu dan kondisi populasinya. Data tersebut tetap diperlukan untuk memahami kebutuhan perlindungan kucing bakau dan habitatnya. Bagi kucing bakau, mangrove menyediakan tempat berburu ikan, kepiting,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Tahun Prabowo-Gibran, Bagaimana Nasib Rakyat dan Lingkungan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 23:04:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21225654/Greenpeace-Irfan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135372</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, hutan indonesia, pangan, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.” Begitulah dua spanduk yang aktivis Greenpeace bentangkan di Monumen “Selamat Datang” di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Selasa (20/10/26), pagi. Enam aktivis Greenpeace bergerak senyap memanjat monumen dengan perlengkapan panjat vertikal, mereka bahu-membahu memanjat hingga pucuk penyangga patung. Awalnya, situasi terlihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/">Dua Tahun Prabowo-Gibran, Bagaimana Nasib Rakyat dan Lingkungan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.” Begitulah dua spanduk yang aktivis Greenpeace bentangkan di Monumen “Selamat Datang” di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Selasa (20/10/26), pagi. Enam aktivis Greenpeace bergerak senyap memanjat monumen dengan perlengkapan panjat vertikal, mereka bahu-membahu memanjat hingga pucuk penyangga patung. Awalnya, situasi terlihat biasa, lalu lintas normal. Polisi yang berjaga di Pos Bundaran HI hanya memantau dari kejauhan. Ketika dua spanduk raksasa berwarna kuning terbentang memanjang vertikal di sisi utara dan selatan monumen, seketika perhatian masyarakat teralihkan. Aksi damai ini protes bertepatan dua tahun masa kepemimpinan Prabowo-Gibran yang mereka nilai makin menindas masyarakat. Krisis Iklim tambah parah, deforestasi menggila, bencana makin sering terjadi, biaya hidup pun melonjak tinggi. “Mereka (Prabowo-Gibran) gak melakukan langkah efektif untuk menurunkan krisis iklim dan memastikan kesejahteraan masyarakat. Bahkan banyak kebijakan publik yang diarahkan bukan untuk kepentingan masyarakat,” kata Jeanny Sirait, Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia kepada Mongabay Indonesia. Aksi aktivis Greenpeace di Bundaran HI Jakarta, 20 Oktober lalu. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Lalu lintas kendaraan makin padat, ketika pengendara perlahan menurunkan laju kecepatan, sejenak fokus pandangan pada spanduk. Sebagian orang rela menepikan kendaraan di bahu jalan, demi menyaksikan aksi damai itu. Polisi dan tentara mulai bergerumul, sibuk berkoordinasi untuk menghentikan aksi. Mereka sempat berenang di kolam Bundaran HI dan memanjat monumen menggunakan tali, namun tak berhasil menghentikan serta mencapai posisi aktivis. Jam masih menunjukkan pukul 09.00 pagi, panas sinar matahari mulai menyengat, kendati, para aktivis masih bertahan. Pasukan polisi bersenjata dan berpelindung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Novita Selamat dari Kobaran Api, tapi Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 10:00:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/18034505/Orangutan-Novita1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135301</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hukum dan politik, hutan indonesia, jawa, kalimantan, dan kera besar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di atas pohon sengon, Novita bertahan ketika hutan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar. Orangutan kalimantan betina berusia sekitar lima tahun itu ditemukan di kawasan Katune, Banturung, Palangka Raya, pada 25 September 2026. Tim gabungan BKSDA, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI membutuhkan dua hari untuk mengevakuasinya. Namun, keberhasilan membawa Novita keluar dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/">Novita Selamat dari Kobaran Api, tapi Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di atas pohon sengon, Novita bertahan ketika hutan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar. Orangutan kalimantan betina berusia sekitar lima tahun itu ditemukan di kawasan Katune, Banturung, Palangka Raya, pada 25 September 2026. Tim gabungan BKSDA, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI membutuhkan dua hari untuk mengevakuasinya. Namun, keberhasilan membawa Novita keluar dari lokasi belum mengakhiri penderitaannya. Luka bakar merusak jaringan tubuhnya, hingga dokter hewan memutuskan mengamputasi empat ruas jari kakinya. “Sebelum kami mencapainya, ia harus berjalan melewati api untuk mencapai pohon dan memanjatnya, sehingga telapak kaki dan jari-jarinya terbakar,” kata Jamartin Sihite, Ketua Yayasan BOS. Cedera tersebut berpotensi mempengaruhi kemampuan Novita bergerak, memanjat, mencari makanan, dan bertahan hidup di hutan. Pemulihannya memerlukan perhatian berkelanjutan. Untuk mendukung perawatan, Yayasan BOS meluncurkan penggalangan dana “Beri Novita Kesempatan Kedua” pada 10 Oktober,dengan target US$20.000.. Hinga 17 Oktober malam, dana yang terkumpul mencapai US$3.427. Novita bukan satu-satunya orangutan yang kehilangan tempat aman akibat kebakaran. Di Kalimantan Barat, BKSDA bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah menyelamatkan 46 individu. Delapan yang dinyatakan sehat mulai dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Ketapang, pada 9 Oktober. Pemilihan lokasi mempertimbangkan pakan, air, ruang jelajah, dan keterhubungan hutan. “Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas,” kata Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat. Skala ancaman terlihat dalam analisis Geopix. Sepanjang 1 Juni-12 Oktober 2026, organisasi tersebut mencatat 572.261 titik panas di Kalimantan, dengan 440.010 atau sekitar 76,89 persen berada di habitat orangutan. Kalimantan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Nelayan Kecil, Penyedia Pangan tetapi Minim Perlindungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 08:29:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/10044723/Nelayan-perempuan-yang-terlihat-menjemur-ikan-sebelum-dijual-ke-pengepul-atau-diolah-sendiri.-Foto_-Petrus-Riski_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135155</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nelayan kecil berperan besar terhadap produksi perikanan tangkap nasional dengan kontribusi mencapai 80%. Sayangnya, kendati berkontribusi besar, perlindungan terhadap nelayan kecil masih minim di tengah meningkatnya kerentanan dampak perubahan iklim. Marthin Hadiwinata, dari Ekologi Maritim Indonesia (Ekomarin) mengatakan, pemerintah sejatinya  sudah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Perikanan Skala Kecil (RAN-PPSK).  Sayangnya, dokumen  itu belum cukup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/">Nasib Nelayan Kecil, Penyedia Pangan tetapi Minim Perlindungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nelayan kecil berperan besar terhadap produksi perikanan tangkap nasional dengan kontribusi mencapai 80%. Sayangnya, kendati berkontribusi besar, perlindungan terhadap nelayan kecil masih minim di tengah meningkatnya kerentanan dampak perubahan iklim. Marthin Hadiwinata, dari Ekologi Maritim Indonesia (Ekomarin) mengatakan, pemerintah sejatinya  sudah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Perikanan Skala Kecil (RAN-PPSK).  Sayangnya, dokumen  itu belum cukup memadai melindungi nelayan kecil. “Perikanan kecil seolah tidak diakui karena tidak berkontribusi pada devisa secara langsung. Padahal, keberadaannya sangat penting karena menunjang akses pangan, lapangan pekerjaan, dan lainnya,” katanya dalam webinar belum lama ini. Dia memberikan sejumlah catatan kritis terkait dokumen RAN  itu. Misal, tidak ada penjelasan lebih detail mengenai siapa dan kegiatan apa yang masuk dalam lingkup perikanan skala kecil serta bagaimana menentukannya secara partisipatif. Tidak merujuk pada pendekatan HAM, terutama hak ekonomi, sosial, dan budaya, serta tidak memiliki target proresif, misal, target asuransi nelayan 100% pada 2030. Dokumen itu juga belum menjawab isu nyata seperti tumpang tindih wilayah tangkap nelayan kecil dengan kawasan konservasi atau infrastruktur laut. Perahu nelayan berjejer di pesisir Kusamba. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia Hanya jadi objek Dani Setiawan, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyoroti minimnya keterlibatan masyarakat sipil atau organisasi nelayan dalam penyusunan dokumen. Menurut dia, hal itu menunjukkan paradigma pemerintah yang jadikan nelayan sebagai objek, bukan subjek dari rencana tersebut. Indikasi lain, juga terlihat beberapa program pemerintah malah mengancam eksistensi nelayan kecil. Misal, kebijakan pemanfaatan sedimentasi laut, pembangunan tanggul raksasa di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa. Implementasi program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cara Warga Ende Panen Gurita yang Melimpah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 05:45:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Putri Nurazizah*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[produk kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21145128/4A-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135344</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nelayan Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggantungkan nasibnya pada laut. Saat cuaca tak baik, mereka tak bisa melaut. Padahal, gurita menjadi salah satu tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan hanya bisa mereka tangkap saat melaut. Meski begitu, biasanya mereka akan beralih mencari penghasilan dari pesisir. Imran Tabri, nelayan Desa Maurongga menatap gelombang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/">Cara Warga Ende Panen Gurita yang Melimpah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nelayan Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggantungkan nasibnya pada laut. Saat cuaca tak baik, mereka tak bisa melaut. Padahal, gurita menjadi salah satu tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan hanya bisa mereka tangkap saat melaut. Meski begitu, biasanya mereka akan beralih mencari penghasilan dari pesisir. Imran Tabri, nelayan Desa Maurongga menatap gelombang yang semakin tinggi. Kondisinya membuatnya berhenti melaut. Air laut yang keruh membuatnya kesulitan untuk memancing gurita. Desa Maurongga memiliki potensi laut yang menjanjikan, khususnya pada sektor gurita. Data Tananua Flores menunjukkan total perikanan tangkap Maurongga pada 2025 mencapai 1.096 dari tujuh jenis tangkapan. Gurita menjadi peringkat pertama dengan 479,8 kg yaitu senilai Rp16.074.000. Saat itu belum ada nelayan yang memancing gurita, melihat potensi gurita yang tinggi, akhirnya Imran mulai bergerak untuk memanfaatkan potensi tersebut dengan mulai memancing gurita. Seiring berjalannya waktu, sejumlah nelayan gurita bertambah menjadi 7 orang setelah mendapat pendampingan dari Yayasan Tananua. Bagi mereka, menangkap gurita bukan hanya soal mendapat hasil sebanyak-banyaknya. Laut yang menjadi sumber kehidupan juga perlu dikelola dengan baik, walaupun sulit terlepas dari berbagai  ancaman.  “Tahun 2022,  kami dibantu perahu ukuran 1 GT oleh pemerintah Kabupaten Ende sebanyak tujuh unit. Tahun kemarin kami dapat lagi delapan unit. Saya jadi dikenal dan nelayan kami dapat bantuan berkat pemberitaan tentang gurita,” katanya. Namun, masih banyak nelayan yang menangkap ikan dengan cara merusak, seperti racun hingga bom. “Jadi, kami terkadang harus berhadapan dengan nelayan-nelayan dari luar daerah kami yang sering menangkap ikan menggunakan bom dan potasium,” ujar Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi. Padahal,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rawa Gambut Terbakar, Bagaimana Nasib Ikan dan Masyarakat Lahan Basah Sumatera Selatan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 04:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21034631/Sumari-warga-Tempirai-yang-mengeloal-danai-burung-atau-pengemin-danau-burung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135346</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> Sekitar 18.000 jenis ikan, atau setengah dari seluruh spesies ikan yang kita kenal, hidup di perairan tawar atau lahan basah. Namun, bagaimana jika wilayah penting ini terbakar setiap tahunnya? “Ikan akan kehilangan tempat pemijahan sekaligus pengasuhan,” kata Irkhamiawan Ma’ruf, peneliti ikan air tawar dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Jumat (16/10/26). Ekosistem lahan basah yang di dalamnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/">Rawa Gambut Terbakar, Bagaimana Nasib Ikan dan Masyarakat Lahan Basah Sumatera Selatan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ Sekitar 18.000 jenis ikan, atau setengah dari seluruh spesies ikan yang kita kenal, hidup di perairan tawar atau lahan basah. Namun, bagaimana jika wilayah penting ini terbakar setiap tahunnya? “Ikan akan kehilangan tempat pemijahan sekaligus pengasuhan,” kata Irkhamiawan Ma’ruf, peneliti ikan air tawar dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Jumat (16/10/26). Ekosistem lahan basah yang di dalamnya terdapat rawa gambut, memiliki pori-pori yang berfungsi untuk ikan menempelkan telur, juga tempat berlindung bagi anak-anak ikan setelah menetas. Jika terbakar, maka fungsi serta siklus hidup ikan akan terganggu. Dampaknya, dapat menyebabkan runtuhnya rantai ekosistem di lahan basah. “Ini juga dapat bermuara pada terancamnya sumber pangan, protein, serta ekonomi masyarakat di lahan basah,” ujarnya. Sumari, warga Tempirai yang mengelola Danau Burung atau pengemin Danau Burung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Di Sumatera Selatan, sekitar 60 persen (5,3 juta jiwa) dari jumlah total penduduknya (8,4 juta jiwa) hidup dekat lahan basah. Di masa lalu, hidup di area ini menjadi berkah bagi masyarakat. Ketika musim penghujan, rawa mulai pasang, ikan-ikan besar seperti gabus, toman, kelik, serko, dan ikan bujuk, bermigrasi memijah telurnya. Momentum seperti ini biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk menangkul di sekitar aliran sungai yang meluap. “Ikan yang diambil yang berukuran besar, bisa puluhan ekor, cukup untuk makan, dan sisanya dijual,” kata Sadikin, warga Desa Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), akhir Juli 2026 lalu. Saat kemarau, sebagian besar masyarakat akan mencari ikan di sela akar pohon yang terendam atau lebung-lebung menyisakan air, di tengah rawa gambut mengering. Tradisi ini disebut “bekeluk”. “Biasanya dapat gabus, keli,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Berbagai Kalangan Desak Kabut Asap dan Karhutla jadi  Bencana Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 02:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/17152624/kalteng-krismes-16-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135322</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus membara di berbagai wilayah Indonesia dari Kalimantan, Sulawesi sampai Papua. Kabut asap pun menciptakan udara buruk membahayakan masyarakat. Asap pun berdampak ke berbagai negara dari Malaysia, Singapura, Papua New Gini dan lain-lain. Berbagai kalangan mendorong karhutla dan kabut asap bencana nasional. Dengan begitu kewenangan penanganan langsung di pemerintah pusat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/">Berbagai Kalangan Desak Kabut Asap dan Karhutla jadi  Bencana Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus membara di berbagai wilayah Indonesia dari Kalimantan, Sulawesi sampai Papua. Kabut asap pun menciptakan udara buruk membahayakan masyarakat. Asap pun berdampak ke berbagai negara dari Malaysia, Singapura, Papua New Gini dan lain-lain. Berbagai kalangan mendorong karhutla dan kabut asap bencana nasional. Dengan begitu kewenangan penanganan langsung di pemerintah pusat dan bantuan internasional skala besar bisa masuk. Balqis Habiba, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, mengatakan, merekomendasikan kabut asap menjadi bencana nasional ketimbang karhutla. Karena, masyarakat, terutama di Kalimantan dan Sumatera, sudah empat bulan mengisap udara beracun. “Ini kemudian yang akan menentukan bagaimana pemerintah memulihkan dan menangani para korban,” katanya kepada Mongabay, Rabu (14/10/26). Analisis Greenpeace hingga 1 Oktober, kabut asap berdampak selama 55 hari di Sarawak, 16 hari di Sabah, 13 hari di Johor, 13 hari di Kuala Lumpur, dan lima hari di Singapura, serta turut terdeteksi di Brunei dan Filipina. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mendeteksi penyebaran asap karhutla hampir ke seluruh nusantara bahkan ke Jakarta. Dari aceh sampai Papua Selatan, bahkan Jakarta, mengikuti arah angin. Satelit NASA, mendeteksi penyebaran gas beracun karbon monoksida (CO) di seluruh wilayah Indonesia. Konsentrasinya sangat tinggi periode 13-15 Oktober, seiring dengan kian membaranya karhutla. Berdasarkan Atlas Nusantara, luas area terbakar kumulatif hingga September mencapai lebih 1,9 juta hektar. Semetara, jumlah titik panas kumulatif 1.080.124 per 13 Oktober. Jika sebelumnya Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi provinsi dengan area terbakar kumulatif terluas, kini Papua Selatan dengan 336.153 hektar. Lalu Nusa Tenggara Timur (325.354 hektar), Kalbar (211,224 hektar), Jawa Timur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Leluhur Kelelawar Diduga Berasal dari Eropa, Bagaimana Mencapai Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 00:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/05/22051225/Kelelawar-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135229</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kelelawar yang terbang di antara pepohonan Indonesia menyimpan sejarah perjalanan evolusi lintas benua. Dari mana nenek moyangnya berasal? Pertanyaan ini lama diperdebatkan karena fosil yang terbatas dan petunjuk molekuler yang tidak selalu sejalan. Afrika dan Amerika Utara pernah menjadi wilayah yang diduga sebagai tempat asalnya. Namun, penelitian konsorsium internasional Bat1K menawarkan gambaran berbeda: nenek moyang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/">Leluhur Kelelawar Diduga Berasal dari Eropa, Bagaimana Mencapai Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kelelawar yang terbang di antara pepohonan Indonesia menyimpan sejarah perjalanan evolusi lintas benua. Dari mana nenek moyangnya berasal? Pertanyaan ini lama diperdebatkan karena fosil yang terbatas dan petunjuk molekuler yang tidak selalu sejalan. Afrika dan Amerika Utara pernah menjadi wilayah yang diduga sebagai tempat asalnya. Namun, penelitian konsorsium internasional Bat1K menawarkan gambaran berbeda: nenek moyang kelelawar modern kemungkinan besar berasal dari Eropa, kemudian keturunannya menyebar hingga mencapai Asia Tenggara, Oseania, dan Australia. Penelitian Ariadna E. Morales dan kolega dalam jurnal Nature menggabungkan genom 103 spesies yang mewakili seluruh 21 famili kelelawar hidup dengan data 44 fosil. Analisis tersebut menghasilkan dukungan statistik sebesar 99,2 persen untuk Eropa sebagai wilayah asal nenek moyang kelelawar modern. “Kelelawar, dan dengan demikian terbang bertenaga, kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir Paleosen,” tulis para peneliti. Dari Eropa, garis keturunannya menyebar ke Afrika, lalu berkembang menuju benua lain. Kondisi iklim hangat sekitar 56 juta tahun lalu turut dikaitkan dengan perluasan wilayah dan keragaman kelompok ini. Salah satu jalur penyebaran membawa kelompok Yinpterochiroptera dari Afrika menuju Asia. Perjalanannya berlanjut melalui jembatan darat dan gugusan kepulauan Asia Tenggara hingga Oseania serta Australia. Kelelawar pemakan buah dan kelelawar tapal kuda yang kini ditemukan di Indonesia merupakan bagian dari sejarah ekspansi tersebut. Penelitian juga memberikan petunjuk tentang perkembangan kemampuan navigasi. Penempatan fosil Vielasia dalam kelompok kelelawar purba menunjukkan bahwa ekolokasi laring telah berkembang sebelum kelompok modern beragam. Temuan ini mengindikasikan hubungan antara kemampuan terbang dan ekolokasi sejak awal perjalanan evolusinya. Di Indonesia, sejarah panjang itu tercermin dalam keragaman kelelawar yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karst Gunungsewu Dalam Kungkungan Industri Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 23:36:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20233154/2-1.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135324</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bahaya, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suparjiyanti menempuh ratusan meter dari Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta menuju Jakarta. Dia bersama warga lain dengan dampingan Walhi Yogyakarta hendak melaporkan aktivitas industri pariwisata yang berisiko merusak Karst Gunungsewu, kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Mereka menilai, pariwisata itu dapat mengancam kawasan bentang alam karst Gunungsewu, yang berstatus lindung lewat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/">Karst Gunungsewu Dalam Kungkungan Industri Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suparjiyanti menempuh ratusan meter dari Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta menuju Jakarta. Dia bersama warga lain dengan dampingan Walhi Yogyakarta hendak melaporkan aktivitas industri pariwisata yang berisiko merusak Karst Gunungsewu, kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Mereka menilai, pariwisata itu dapat mengancam kawasan bentang alam karst Gunungsewu, yang berstatus lindung lewat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2014. Suparjiyanti bergantung hidup dari karst. Dia tinggal dan mencari nafkah di sekitar Pantai Sanglen, Gunungkidul, sebagai pedagang. Di pantai itu sedang terbangun destinasi wisata. Korporasi memangkas dan membelah bukit karst untuk membentuk lanskap baru. Nantinya, akses Pantai Sanglen sulit karena kena privatisasi perusahaan. Hanya mereka yang membayar ke resort, misal.  yang dapat menikmati pantai. Suparjiyanti juga khawatir kehilangan mata pencaharian, sedikitnya 57 keluarga menggantungkan hidup dari berjualan di Pantai Sanglen. “Masuknya industri pariwisata membuat kami tidak bisa berjualan di sekitar pantai. Kami yang memanfaatkan kawasan itu untuk dagang diminta keluar karena pembangunan resort,”  kata perempuan dari Paguyuban Sanglen Berdaulat itu kepada Mongabay Juli lalu  di Jakarta. Nasib serupa juga terjadi di Pantai Watu Bolong. Yulianto, warga Kidul, mengatakan,  pantai di sedang ada pembangunan destinasi wisata seperti di Sanglen. Sedikitnya, 37 keluarga terdampak ekspansi wisata di Pantai Watu Bolong itu. Dia khawatir,  kehadiran wisata tidak hanya merusak bentang alam karst, juga menggerus pendapatan masyarakat lokal. “Kami mengembangkan usaha wisata berbasis komunitas sejak 2020. Proyek itu berpotensi menghilangkan sumber ekonomi warga,” katanya, juga anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Tak ada pelibatan Pokdarwis dalam proyek pembangunan wisata ini.  Perusahaan tak undang mereka saat sosialisasi proyek&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Kerdil Asia Tenggara Mampu Berguling untuk Kabur dari Predator 4x Lebih Cepat dari Gerak Biasa Ular</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 12:36:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20122613/101526_MT_cartwheelingsnake_main-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135313</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berguling adalah cara bergerak yang bisa menghasilkan kecepatan tinggi, tetapi hanya sedikit hewan yang diketahui memanfaatkannya. Roda dapat berputar dengan lancar karena berporos pada as yang terpisah dari badan kendaraan. Tubuh hewan tidak memiliki as semacam itu. Jika seluruh badan berputar, kepala dan organ indra ikut berputar sehingga hewan sulit menyesuaikan posisi tubuh dan mengendalikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/">Ular Kerdil Asia Tenggara Mampu Berguling untuk Kabur dari Predator 4x Lebih Cepat dari Gerak Biasa Ular</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berguling adalah cara bergerak yang bisa menghasilkan kecepatan tinggi, tetapi hanya sedikit hewan yang diketahui memanfaatkannya. Roda dapat berputar dengan lancar karena berporos pada as yang terpisah dari badan kendaraan. Tubuh hewan tidak memiliki as semacam itu. Jika seluruh badan berputar, kepala dan organ indra ikut berputar sehingga hewan sulit menyesuaikan posisi tubuh dan mengendalikan arah geraknya. Masalah ini makin berat ketika gerakan dilakukan dengan kecepatan tinggi. Ular kerdil dari genus Pseudorabdion, yang dalam bahasa Inggris disebut dwarf reedsnake, termasuk segelintir hewan yang diketahui berguling secara aktif untuk menghindari pemangsa. Tim peneliti dari Toho University, Jepang, menemukan bahwa kecepatan puncak ke depan ular ini saat berguling sekitar empat kali kecepatan puncak gerak menggelombang ke samping, cara bergerak yang umum pada ular. Kepala ular tetap menghadap arah perjalanan dan berada pada ketinggian yang relatif stabil, sementara bagian tubuh belakangnya berputar dengan cepat. Hasil penelitian itu terbit di jurnal Current Biology pada 2026. Dua Ayunan Bergantian yang Menggerakkan Tubuh Pseudorabdion adalah ular kecil yang ditemukan di Asia Tenggara. Perilaku berguling pada genus ini sudah tercantum dalam buku panduan lapangan dan pernah dicatat dalam pengamatan di alam. Namun, gerakan tubuh yang mendasari cara bergerak tidak lazim ini selama ini belum banyak diketahui. Untuk mengetahuinya, para peneliti merekam ular dari berbagai sudut, termasuk tampak samping, lalu menganalisis gerakannya secara rinci. Salah satu spesies yang diteliti adalah Pseudorabdion saravacense. Dari rekaman itu, mereka mengukur kecepatan dan pola gerak tubuh pada setiap siklus berguling. Hasil pengukuran menunjukkan kecepatan puncak ke depan saat berguling mencapai 1,72 sampai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti Ambon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 11:54:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ Belseran *Cristin Pesiwarissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/18155949/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.12.36-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135205</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Maluku]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kabut asap mengaburkan Teluk Ambon, Maluku, mengganggu penerbangan, dan memaksa pemerintah mengurangi aktivitas perkantoran serta sekolah. Di Pulau Seram, warga Horale protes kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan, sedang kobaran api merambat ke Taman Nasional Manusela (TNM). Kepungan asap menjadikan garis pantai Kota Ambon ‘menghilang’ di balik kabut kelabu. Bangunan bertingkat di sepanjang pesisir tampak samar. Perbukitan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/">Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti Ambon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kabut asap mengaburkan Teluk Ambon, Maluku, mengganggu penerbangan, dan memaksa pemerintah mengurangi aktivitas perkantoran serta sekolah. Di Pulau Seram, warga Horale protes kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan, sedang kobaran api merambat ke Taman Nasional Manusela (TNM). Kepungan asap menjadikan garis pantai Kota Ambon ‘menghilang’ di balik kabut kelabu. Bangunan bertingkat di sepanjang pesisir tampak samar. Perbukitan yang biasa menjadi latar Teluk Ambon nyaris menyatu dengan langit. Di kejauhan, permukaan laut terlihat seperti hamparan abu-abu tanpa batas yang jelas. Begitu juga dengan Jembatan Merah Putih. Meski bentang jembatan masih terlihat di atas teluk, namun, dua menara merahnya tampak memudar di antara lapisan kabut. Pemandangan itu terjadi sejak pertengahan Oktober ini. Pada 14 Oktober 2026, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat,  jarak pandang di Bandara Internasional Pattimura Ambon sekitar satu kilomoeter pada pukul 07.00 WIT. Kondisi itu mengganggu operasional bandara selama beberapa hari. Dalam periode 8–12 Oktober, sejumlah penerbangan di Bandara Pattimura mengalami penundaan maupun pembatalan akibat jarak pandang yang menurun. Kondisi berasap menyebabkan jarak pandang pada waktu tertentu berada di bawah 2.000 meter, hingga keselamatan penerbangan menjadi perhatian. Kamari, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, meminta, masyarakat memperhatikan dan mengantisipasi perubahan kondisi udara yang kian memburuk. “Kami menghimbau warga agar tidak mengabaikan perubahan kondisi udara dan jarak pandang,” katanya. Berdasar analisa BMKG, arah angin dan pemantauan satelit Himawari-9 memperlihatkan adanya pergerakan asap menuju wilayah Maluku. Hasil idenfitikasi menunjukkan kepungan asap berasal dari Papua. Sebagian lainnya terpantau berasal dari Pulau Buru dan Pulau Seram. Arah angin yang bertiup dari timur hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/kabut-asap-kebakaran-hutan-selimuti-ambon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Api Membara di Bromo dan Arjuno, Renggut Korban Jiwa hingga Rusaknya Jalur Pipa Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 10:00:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013127/Arjuno-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135225</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan jawa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin kencang mengubah upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi tragedi. Enam personel terjebak kobaran api di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Tiga orang meninggal di lokasi, sementara seorang lainnya meninggal setelah menjalani perawatan di RSUD Tongas. Dua korban luka bakar berat dirawat di Surabaya. Peristiwa ini memperlihatkan besarnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/">Api Membara di Bromo dan Arjuno, Renggut Korban Jiwa hingga Rusaknya Jalur Pipa Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin kencang mengubah upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi tragedi. Enam personel terjebak kobaran api di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Tiga orang meninggal di lokasi, sementara seorang lainnya meninggal setelah menjalani perawatan di RSUD Tongas. Dua korban luka bakar berat dirawat di Surabaya. Peristiwa ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi petugas dan relawan ketika medan terjal, keterbatasan air, serta perubahan arah angin bertemu di lokasi kebakaran. Kebakaran bermula dari laporan api di ladang sekitar Blok Pusung Dawa yang berbatasan dengan taman nasional pada 13 Oktober. Petugas dan warga melakukan pemadaman manual menggunakan alat pemukul atau gepyok karena lokasi sulit dijangkau kendaraan dan jauh dari sumber air. Api sempat dinyatakan padam keesokan harinya, tetapi asap tebal kembali terlihat pada 15 Oktober. Ketika personel berusaha mengendalikan api dan membuat penyekatan, angin kencang menyebabkan sejumlah anggota tim terjebak. Balai Besar TNBTS kemudian menutup area wisata Penanjakan mulai 17 Oktober malam hingga waktu yang belum ditentukan. BNPB menekankan bahwa keselamatan personel harus menjadi bagian utama penanganan kebakaran. Kondisi api, arah dan kecepatan angin, karakter medan, serta jalur evakuasi perlu terus diperhitungkan. “Setiap langkah penanganan harus didukung penilaian risiko yang cermat. Juga pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan, jalur evakuasi, komunikasi dan koordinasi,” kata Berton SP Panjaitan dari BNPB. Kesiapan peralatan, prosedur keselamatan, dan kemampuan evakuasi diperlukan agar upaya melindungi lingkungan tidak kembali merenggut nyawa mereka yang berada di garis depan. Sementara itu, kebakaran melanda kawasan Gunung Arjuno dan Tahura R. Soerjo sejak 16 Oktober. Sebanyak 110 pendaki&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/api-membara-di-bromo-dan-arjuno-renggut-korban-jiwa-hingga-rusaknya-jalur-pipa-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Perlindungan Dua Spesies Pari Manta di Raja Ampat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 09:38:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20092916/Foto-Manta-02-KI-Abdi-Hasan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135302</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua barat daya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perairan Raja Ampat memang istimewa, karena terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle). Pusat biodiversitas laut tropis global itu memiliki lebih dari 500 jenis karang keras dan rumah bagi 75 persen karang dunia. Ada sekitar 1.700 spesies ikan di perairan yang terletak di wilayah kepala burung Papua itu. Termasuk, dua spesies ikonik pari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/">Bagaimana Perlindungan Dua Spesies Pari Manta di Raja Ampat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perairan Raja Ampat memang istimewa, karena terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle). Pusat biodiversitas laut tropis global itu memiliki lebih dari 500 jenis karang keras dan rumah bagi 75 persen karang dunia. Ada sekitar 1.700 spesies ikan di perairan yang terletak di wilayah kepala burung Papua itu. Termasuk, dua spesies ikonik pari manta, manta oseanik (Mobula birostris) dan manta karang (Mobula alfredi). Kedua spesies tersebut penting secara ekologis dan sosial ekonomi, meski masih menghadapi ancaman. Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist pada Elasmobranch Insitute Indonesia, menjelaskan walau baik dan bermanfaat bagi masyarakat lokal, namun pertumbuhan pariwisata yang terlalu cepat dan masif bisa memicu masalah signifikan pada ekosistem laut. Kepada Mongabay di Pulau Arborek, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, Edy bercerita perjalanannya melakukan penelitian pari manta sejak 2013. Dia mengaku bangga bisa menyaksikan pertumbuhan pariwisata. “Namun, semakin cepat perkembangan, semakin tinggi ancaman.” Ancaman yang mengintai, di antaranya adalah kapasitas berlebihan di lokasi penyelaman (dive site) Manta Sandy di perairan Selat Dampier, dekat Pulau Arborek dan Pulau Mansuar. Lokasi tersebut tempat berkumpulnya pari manta untuk membersihkan tubuh dari parasit, atau dikenal sebagai manta cleaning station. Kegiatan unik itu menarik minat para penyelam dari seluruh dunia untuk menyelam di sana. Pada 2015-2016, lokasi tersebut mengalami kelebihan, penyelam bisa mencapai 90 orang dalam waktu bersamaan. Bahkan, pada 2019 pari manta dilaporkan tak terlihat sama sekali di sana. “Bisa mengganggu kenyamanan pari manta,” ungkapnya, Kamis (24/9/26). Pari manta karang (Mobula alfredi) yang berada di perairan Raja Ampat, Papua Barat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/bagaimana-perlindungan-dua-spesies-pari-manta-di-raja-ampat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jakarta Krisis Ruang Terbuka Hijau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 07:48:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24103111/WARGA-MENIKMATI-RUANG-HIJAU-DI-JAKARTA-FALAHI-MUBAROK_MONGABAY-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135150</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pepohonan rindang memadati kawasan Hutan Kota Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Mulai dari pohon jati, akasia, beringin, lamtoro dan tanaman hias lainnya tampak berdiri tegak. Beberapa bagian sisi hutan kota tampak padat pepohonan hingga menghalau terik matahari dan menahan udara panas siang itu. Sri Rahmawati, warga Kelurahan Joglo bersama dua orang temannya, siang itu sekitar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/">Jakarta Krisis Ruang Terbuka Hijau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pepohonan rindang memadati kawasan Hutan Kota Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Mulai dari pohon jati, akasia, beringin, lamtoro dan tanaman hias lainnya tampak berdiri tegak. Beberapa bagian sisi hutan kota tampak padat pepohonan hingga menghalau terik matahari dan menahan udara panas siang itu. Sri Rahmawati, warga Kelurahan Joglo bersama dua orang temannya, siang itu sekitar pukul 10.00, tampak sedang menikmati Hutan Kota Srengseng, Jumat (25/9/26). Mereka mampir selepas menghadiri rapat di sekolah anaknya. “Saya sering ke sini, di sini sepi dan udaranya bagus. Rasanya paru-paru segar ngirup udara di sini,” katanya, Jumat (25/9/26). Rumahnya tak jauh dari hutan kota ini, setidaknya perlu 10 menit berkendara. Biasanya, tiap akhir pekan, bersama keluarga, dia menyempatkan waktu untuk berolahraga. Hutan Kota Srengseng di Jakarta Barat menjadi ruang nagi masyarakat untuk berolahraga, beristirahat hingga rekreasi. Foto: Indah Suci Safitri/ Mongabay Indonesia Sama dengan Ana Sulastri, warga Meruya, yang rutin datang tiap akhir pekan untuk berjalan santai, baik bersama keluarga atau teman. “Pohonnya rindang, ada suara burung juga,” katanya. Warga bisa menikmati ruang terbuka hijau (RTH) seluas 10,15 hektar ini untuk jogging, jalan santai, menikmati pemandangan danau, hingga memancing. Bahkan ada arena untuk bermain anak. Berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta, jumlah pengunjung pada akhir pekan bisa mencapai 200–300 orang per hari. Arie Fajar Septa, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Hutan dan Dinas Pertamanan  Jakarta, mengatakan, pada 1995, kawasan ini merupakan tempat pembuangan sampah terbesar di Jakarta. Awalnya, luas mencapai 15 hektar, kini tinggal 10,15 hektar saja. Penyusutan ini karena normalisasi Kali Pesanggrahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kukang Jawa Ditemukan di Madura, Wilayah yang Bukan Habitat Alaminya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 03:36:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20033136/Kukang-Jawa-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135273</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana seekor kukang jawa bisa ditemukan bergantung pada kabel di wilayah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, padahal pulau yang berpenghasil garam ini tak tercatat sebagai wilayah persebaran alaminya? Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai asal-usul satwa nokturnal bernama ilmiah Nycticebus javanicus ini. Apakah kukang itu merupakan satwa peliharaan yang lepas atau sengaja dilepaskan, atau justru berkaitan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/">Mengapa Kukang Jawa Ditemukan di Madura, Wilayah yang Bukan Habitat Alaminya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana seekor kukang jawa bisa ditemukan bergantung pada kabel di wilayah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, padahal pulau yang berpenghasil garam ini tak tercatat sebagai wilayah persebaran alaminya? Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai asal-usul satwa nokturnal bernama ilmiah Nycticebus javanicus ini. Apakah kukang itu merupakan satwa peliharaan yang lepas atau sengaja dilepaskan, atau justru berkaitan dengan perdagangan ilegal? Robithotul Huda, General Manager Operasional Program Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), mengatakan lembaganya belum menemukan pola perdagangan khusus menuju Madura. Kendati demikian, bukan berarti kemungkinan perdagangan primata berbisa ini ke Madura, bisa langsung dikesampingkan. Menurutnya, aktivitas perdagangan kukang telah ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang dan Kediri. “Beberapa kasus di wilayah tersebut juga pernah berujung pada penindakan hukum,” jelasnya, Kamis (15/10/26). Menurut Huda, menghubungkan temuan kukang di Pamekasan dengan jaringan perdagangan tertentu memerlukan bukti lebih kuat, terutama riwayat kepemilikan dan jalur perpindahan. Perdagangan kukang sebelumnya banyak berlangsung di pasar-pasar konvensional, termasuk pasar burung. Pola ini relatif lebih mudah dipantau karena penjual berkumpul di lokasi tertentu. “Sekarang, polanya menggunakan platform digital.” Perubahan ini berjalan sejak 2017 lalu, sSehingga transaksi bisa berlangsung antara penjual dan pembeli. Perubahan ini menyulitkan pemantauan. Ketika sebuah akun ditutup, penjual bisa kembali beroperasi melalui akun baru atau menggunakan istilah berbeda untuk menyamarkan identitas satwa yang ditawarkan. Kukang jawa yang selama ini wilayah persebarannya diketahui di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan wilayah terbatas di Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Nama satwa tak sesuai identitas Huda mencontohkan penggunaan istilah yang tidak sesuai dengan identitas spesies. Kukang,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/mengapa-kukang-jawa-ditemukan-di-madura-wilayah-yang-bukan-habitat-alaminya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petugas Gagalkan Penyelundupan Kuda Laut dan Emas ke Singapura</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 01:32:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/19044927/WhatsApp-Image-2026-10-17-at-01.28.40-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135230</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) bersama Balai Karantina Kepulauan Riau (Kepri) berhasil gagalkan upaya penyelundupan 1.728 kuda laut kering ke Kendari, Sabtu (10/10/26). Ribuan satwa itu terkemas dalam paket kargo berlabel makanan ringan. Temuan itu bermula saat petugas gabungan melakukan pengawasan barang di Terminal Kargo Bandara RHF. Mereka mencurigai  kardus  perusahaan jasa pengiriman setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/">Petugas Gagalkan Penyelundupan Kuda Laut dan Emas ke Singapura</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) bersama Balai Karantina Kepulauan Riau (Kepri) berhasil gagalkan upaya penyelundupan 1.728 kuda laut kering ke Kendari, Sabtu (10/10/26). Ribuan satwa itu terkemas dalam paket kargo berlabel makanan ringan. Temuan itu bermula saat petugas gabungan melakukan pengawasan barang di Terminal Kargo Bandara RHF. Mereka mencurigai  kardus  perusahaan jasa pengiriman setelah hasil pemeriksaan mesin sinar-X menunjukkan ada yang mencurigakan. Untuk memastikan, petugas lantas membukanya. Hasilnya, paket dalam kemasan tertulis sebagai makanan ringan itu berisi ribuan kuda laut kering. “Modus yang digunakan adalah mengelabui petugas dengan memberikan keterangan makanan ringan,” kata Hasim, Kepala Karantina Kepri, dalam keterangannya, Senin (12/10/26). Petugas sempat meminta dokumen persyaratan kepada perwakilan perusahaan ekspedisi, namun tak bisa menunjukkan. Petugas pun menyitanya. Ribuan kuda laut dari berbagai jenis yang Balai Karantina amankan. Foto: Balai Karantina. Hasil identifikasi bersama Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru, ribuan kuda laut ini terdiri dari tiga jenis. Terbanyak  Hippocampus kuda, sebanyak 1.263 berukuran sekitar 13–19 sentimeter. Berikutnya, Hippocampus spinosissimus  452 berukuran 11–14 sentimeter, serta Hippocampus comes sebanyak 13 berukuran 12–14 sentimeter. Hasim menjelaskan, pengiriman kuda laut harus memenuhi persyaratan tertentu, baik ketentuan karantina maupun aturan dari instansi  berwenang di bidang konservasi. Namun, karena tidak ditemukan dokumen kelengkapan  itu, mereka menghentikan pengirimannya. Karantina Kepri menyebut kewajiban melaporkan dan menyerahkan media pembawa kepada petugas karantina di tempat pengeluaran diatur dalam Pasal 35 Undang-undang Nomor 21/2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Seluruh kuda laut itu mereka serahkan kepada Loka PSPL Pekanbaru Satuan Pelayanan Tanjungpinang serta Satwas PSDKP Tanjungpinang–Pangkalan PSDKP&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/petugas-gagalkan-penyelundupan-kuda-laut-dan-emas-ke-singapura/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>