Angin kencang mengubah upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi tragedi. Enam personel terjebak kobaran api di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Tiga orang meninggal di lokasi, sementara seorang lainnya meninggal setelah menjalani perawatan di RSUD Tongas. Dua korban luka bakar berat dirawat di Surabaya.
Peristiwa ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi petugas dan relawan ketika medan terjal, keterbatasan air, serta perubahan arah angin bertemu di lokasi kebakaran.
Kebakaran bermula dari laporan api di ladang sekitar Blok Pusung Dawa yang berbatasan dengan taman nasional pada 13 Oktober. Petugas dan warga melakukan pemadaman manual menggunakan alat pemukul atau gepyok karena lokasi sulit dijangkau kendaraan dan jauh dari sumber air. Api sempat dinyatakan padam keesokan harinya, tetapi asap tebal kembali terlihat pada 15 Oktober. Ketika personel berusaha mengendalikan api dan membuat penyekatan, angin kencang menyebabkan sejumlah anggota tim terjebak. Balai Besar TNBTS kemudian menutup area wisata Penanjakan mulai 17 Oktober malam hingga waktu yang belum ditentukan.
BNPB menekankan bahwa keselamatan personel harus menjadi bagian utama penanganan kebakaran. Kondisi api, arah dan kecepatan angin, karakter medan, serta jalur evakuasi perlu terus diperhitungkan.
“Setiap langkah penanganan harus didukung penilaian risiko yang cermat. Juga pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan, jalur evakuasi, komunikasi dan koordinasi,” kata Berton SP Panjaitan dari BNPB.
Kesiapan peralatan, prosedur keselamatan, dan kemampuan evakuasi diperlukan agar upaya melindungi lingkungan tidak kembali merenggut nyawa mereka yang berada di garis depan.
Sementara itu, kebakaran melanda kawasan Gunung Arjuno dan Tahura R. Soerjo sejak 16 Oktober. Sebanyak 110 pendaki berhasil dievakuasi.
“Semua berhasil dievakuasi melalui Kop-Kopan. Semua aman dan selamat,” kata Sugeng Hariadi, Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan. Jalur pendakian Arjuno-Welirang ditutup sementara, sedangkan pemadaman dilakukan menggunakan peralatan manual dan sekat bakar. Hingga 17 Oktober 2026, luas terbakar yang tercatat di wilayah Mojokerto mencapai 170 hektar; luasan di Pasuruan belum terakumulasi. Pengendalian difokuskan pada lokasi yang dapat dijangkau dengan aman.
Dampaknya juga menjalar ke kebutuhan dasar warga. Sekitar empat kilometer pipa air bersih Desa Jatiarjo rusak akibat kebakaran. Jaringan tersebut melayani 2.500 rumah dengan sekitar 7.700 jiwa, sehingga warga sementara bergotong royong mengambil air dari sumber terdekat. “Butuh dana puluhan juta untuk memperbaiki jaringan pipa air minum,” kata Dardiri, Kepala Desa Jatiarjo. Dia mendesak penyelidikan penyebab kebakaran yang menurutnya berulang di titik serupa. Walhi Jawa Timur turut meminta penguatan pencegahan.
Walhi Jatim mendata hingga Agustus 2026 total sekitar 10.000 hektar hutan di Jatim telah terbakar. Sekitar 80% berada di bawah pengelolaan negara seperti taman nasional, dan tahura.
Foto utama: Api melalap Gunung Arjuno, sekitar 20 hektar ludes.terbakar Foto: UPT Tahura R Soerjo.