<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=elviza-diana&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/elviza-diana/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 27 Oct 2026 13:30:49 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Korban Berjatuhan, Derita Warga  Kaltim Terdampak Asap Kebakaran Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 13:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken SitoningrumYuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/27030657/Karhutla-Samarinda-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135592</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak buah hatinya terdiagnosa menderita pneumonia, Michael  dan istri  mengkhawatirkan kondisi anak yang baru berusia satu tahun delapan bulan itu. Seminggu sebelumnya, anaknya mulai batuk-batuk dan sesak napas.  Untuk memastikan kondisi kesehatannya, dia membawa anak semata wayangnya ke salah satu rumah sakit swasta di Balikpapan. Usai di-rontgen, terdapat temuan inflitrat pada bagian atas paru kirinya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/">Korban Berjatuhan, Derita Warga  Kaltim Terdampak Asap Kebakaran Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak buah hatinya terdiagnosa menderita pneumonia, Michael  dan istri  mengkhawatirkan kondisi anak yang baru berusia satu tahun delapan bulan itu. Seminggu sebelumnya, anaknya mulai batuk-batuk dan sesak napas.  Untuk memastikan kondisi kesehatannya, dia membawa anak semata wayangnya ke salah satu rumah sakit swasta di Balikpapan. Usai di-rontgen, terdapat temuan inflitrat pada bagian atas paru kirinya. “Dari situ kami mendapatkan info, bahwasanya aspek yang bisa mempengaruhi adanya penyakit ini, karena asap yang saat ini juga semakin tebal di Kota Balikpapan,” katanya  kepada Mongabay, Rabu (14/10/26). Data indeks kualitas udara (AQI) Balikpapan yang masuk dalam kategori tidak sehat mempertegas hal itu. Hingga kini, Michael dan istrinya mulai membatasi aktivitas luar ruang untuk anaknya. Dia berharap, pemangku kebijakan dapat mengambil tindakan dan mengoptimalkan penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengatasi kabut asap yang menyelimuti kota. “Sehingga kota kita bisa kembali normal lagi, bisa beraktivitas di luar dengan nyaman lagi tanpa harus worry terhadap asap dan juga aspek-aspek yang lain.” Di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Yazlyn Syanindita, bayi berusia satu tahun dua bulan meninggal dunia karena sesak napas mendadak. Keluarga menduga, paparan asap di seantero kota yang cukup tebal.  Kepada Mongabay, Sarno, kakek korban menggambarkan kondisi asap di sekitar tempat tinggal keluarga korban yang cukup pekat. Dia menyebut, asap berasal dari karhutla yang melanda berbagai kawasan sekitar, termasuk dari arah Bentuas. “Memang di sini (Palaran) asapnya tebal. Ini dari kebakaran tadi malam juga begitu. Memang kadar asapnya tinggi sekali,” ujarnya, Kamis (15/10/26). Meski menduga asap menjadi salah satu faktor penyebab meninggalnya sang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/27/korban-berjatuhan-derita-warga-kaltim-terdampak-asap-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sentuhan Duri Ulat Lonomia obliqua Bisa Memicu Pendarahan Serius</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 10:00:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/22031717/Lonomia-obliqua-citsc-1-768x450.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135498</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bersandar pada batang pohon bisa menjadi awal perjumpaan berbahaya dengan Lonomia obliqua. Larva ngengat asal Amerika Selatan ini memiliki tubuh cokelat kehijauan yang membaur dengan kulit pohon, sehingga keberadaannya mudah terlewatkan. Pada permukaan tubuhnya tumbuh duri-duri yang dapat melepaskan bisa ketika bersentuhan dengan kulit. Kontak tidak sengaja dengan ulat tersebut berpotensi menimbulkan gangguan serius pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/">Sentuhan Duri Ulat Lonomia obliqua Bisa Memicu Pendarahan Serius</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bersandar pada batang pohon bisa menjadi awal perjumpaan berbahaya dengan Lonomia obliqua. Larva ngengat asal Amerika Selatan ini memiliki tubuh cokelat kehijauan yang membaur dengan kulit pohon, sehingga keberadaannya mudah terlewatkan. Pada permukaan tubuhnya tumbuh duri-duri yang dapat melepaskan bisa ketika bersentuhan dengan kulit. Kontak tidak sengaja dengan ulat tersebut berpotensi menimbulkan gangguan serius pada sistem pembekuan darah. Kondisi akibat paparan bisa Lonomia dikenal sebagai lonomisme, dengan dampak yang dalam kasus berat dapat mengancam nyawa. Bahaya itu bermula ketika duri ulat menembus kulit dan melepaskan bisa ke jaringan tubuh. Ulat tidak perlu mengejar atau menyerang manusia secara aktif untuk menimbulkan cedera. Kebiasaannya berkumpul dalam koloni juga memperbesar risiko paparan, sebab seseorang dapat menyentuh beberapa individu sekaligus saat memegang atau bersandar pada batang pohon. Karena warna tubuhnya menyerupai tempat beristirahatnya, kontak bisa terjadi sebelum orang menyadari keberadaan koloni. Pertahanan tubuh yang membantu ulat menghadapi gangguan tersebut menjadi sumber bahaya ketika bersinggungan dengan aktivitas manusia. Di dalam bisanya terdapat protein yang memengaruhi rangkaian pembekuan darah, termasuk Lopap dan Losac. Lopap mengaktifkan protrombin, sedangkan Losac mengaktifkan faktor X, dua bagian penting dalam proses pembentukan bekuan. Aktivasi yang tidak terkendali dapat meningkatkan pembentukan trombin dan menguras bahan yang diperlukan untuk pembekuan, termasuk fibrinogen. Akibatnya, mekanisme yang biasanya membantu menghentikan perdarahan justru mengalami gangguan. Kondisi ini disebut koagulopati konsumtif: komponen pembekuan terpakai secara berlebihan sehingga kemampuan tubuh menghentikan perdarahan menurun. Darah tidak sekadar menjadi “encer”, melainkan kehilangan sebagian kemampuan membentuk bekuan secara normal. Gejala awalnya dapat berupa rasa terbakar pada bagian kulit yang terkena, disertai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sentuhan-duri-ulat-lonomia-obliqua-bisa-memicu-pendarahan-serius/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Macan Tutul Jawa Terpantau di Nusakambangan, Bagaimana Populasinya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 07:19:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230744/ILUSTRASI-FOTO-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135599</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Menjaga Predator Terakhir Pulau Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terpantau kamera jebak di Cagar Alam (CA) Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (12/10/26), jam 21.17 WIB. Wahyono Restanto, Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah Cilacap, mengatakan, petugas memasang enam kamera jebak untuk memantau keberadaan satwa liar. Tiga kamera berhasil merekam macan tutul jawa yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/">Macan Tutul Jawa Terpantau di Nusakambangan, Bagaimana Populasinya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terpantau kamera jebak di Cagar Alam (CA) Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (12/10/26), jam 21.17 WIB. Wahyono Restanto, Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah Cilacap, mengatakan, petugas memasang enam kamera jebak untuk memantau keberadaan satwa liar. Tiga kamera berhasil merekam macan tutul jawa yang teridentifikasi sebagai individu jantan yang sama. Selain dari rekaman, keberadaan macan juga diketahui melalui tanda-tanda yang ditemukan petugas di empat jalur pengamatan, berupa kotoran dan bekas cakaran. “Dari hasil rekaman, macan tutul jawa yang terpantau masih satu individu yang sama, yakni jantan,” jelasnya, Kamis (22/10/26). Macan tutul jawa yang juga ditemukan berada di Nusakambangan, Jawa Tengah. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Wahyono juga menjelaskan, pemantauan ini belum secara khusus menghitung populasi macan tutul jawa di seluruh Nusakambangan. “Berdasarkan pendataan sebelumnya, jumlahnya diperkirakan sekitar 20 individu. Namun, belum bisa dipastikan karena kami belum melakukan mendata ulang.” CA Nusakambangan Barat merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan sejak pemerintahan Hindia Belanda, berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 34, Staatsblad Nomor 369, pada 4 Juni 1937. Status perlindungannya diperkuat Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 359/Menhut-II/2004 tertanggal 1 Oktober 2004 tentang perubahan atas Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 435/Kpts-II/1999 mengenai penunjukan kawasan hutan di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan hasil penataan batas Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI Jawa-Madura pada 2009, CA Nusakambangan Barat memiliki luas 656,06 hektar. Kawasan tersebut memiliki panjang batas 13.195 meter dengan 61 pal batas. Penetapan ini juga tercantum dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.2999/Menhut-VII/KUH/2014 tentang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/27/macan-tutul-jawa-terpantau-di-nusakambangan-bagaimana-populasinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Tahun Prabowo, Nasib Hutan dan Masyarakat Makin Memprihatinkan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 03:09:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/22035343/Papua-food-estate-Pusaka-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135572</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan  kabut asap yang menggila dalam tiga bulan belakangan hanya segelintir dari masalah kehutanan yang tidak terselesaikan. Bahkan, dalam dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, catatan penggundulan hutan untuk kebutuhan proyek ekstraktif berskala luas seperti energi, pangan, perkebunan hingga pertambangan menjadi penyebab lonjakan deforestasi yang kian menggila. Analisis Mapbiomas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/">Dua Tahun Prabowo, Nasib Hutan dan Masyarakat Makin Memprihatinkan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan  kabut asap yang menggila dalam tiga bulan belakangan hanya segelintir dari masalah kehutanan yang tidak terselesaikan. Bahkan, dalam dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, catatan penggundulan hutan untuk kebutuhan proyek ekstraktif berskala luas seperti energi, pangan, perkebunan hingga pertambangan menjadi penyebab lonjakan deforestasi yang kian menggila. Analisis Mapbiomas periode 1990-2025, Indonesia kehilangan 26.614.571 hektar hutan. Dalam skala lebih luas, Global Nature Watch mencatat, 33 juta hektar tutupan pohon di Indonesia hilang periode 2001-2025, dengan emisi sebesar 24 gigaton CO₂ ekivalen (Gt CO₂e). Yayasan Auriga Nusantara pada 2025 mencatat, lonjakan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya, dari 261.575 hektar jadi 433.751 hektar. Analisis lewat Atlas Nusantara, rentang 1 Januari-24 Oktober 2026, Indonesia kehilangan hutan 1.091.197 hektar. Laju deforestasi ini terpengaruh perluasan perkebunan sawit, pertambangan dan perkebunan kayu. Rezim Prabowo-Gibran bahkan merencanakan eksploitasi sumber daya alam besar-besaran, dengan membuka lahan hutan seluas 20 juta hektar untuk proyek pangan dan energi serta memanfaatkan 12,7 juta hutan “rusak” untuk pengembangan biodiesel. “Ini bukan sesuatu hal yang membuat kita lega, justru akan buat kita emosional. Mungkin ada yang sesak napas melihat semua situasi yang terjadi setidaknya selama dua tahun terakhir,” kata Uli Arta Siagian, Koordinator Pengampanye Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional dalam diskusi dua tahun pemerintahan Prabowo, Kamis (15/10/26). Lewat regulasi, katanya, negara melegalkan deforestasi seperti melalui label proyek strategis nasional (PSN). Pembukaan hutan jadi sah secara hukum apabila perusahaan sudah mengantongi izin di atas wilayah berhutan. Padahal, secara ekologis, deforestasi tetaplah kerusakan. “Terminologi itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/27/dua-tahun-prabowo-nasib-hutan-dan-masyarakat-makin-memprihatinkan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Delapan Hiu Paus Mati dalam Enam Bulan, Peneliti Telusuri Penyebabnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Okt 2026 00:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230411/Hiu-Paus1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135521</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, kelautan dan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perut hiu paus itu masih penuh udang rebon dan teri nasi ketika dokter hewan memeriksanya. Namun, tubuh sepanjang sekitar sembilan meter tersebut sudah tak bernyawa. Beberapa jam sebelumnya, nelayan menemukannya terdampar di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, pada 18 Oktober 2026. Tim gabungan berusaha menyelamatkannya, tetapi hewan itu mati sebelum berhasil dikembalikan ke laut. Makanan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/">Delapan Hiu Paus Mati dalam Enam Bulan, Peneliti Telusuri Penyebabnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perut hiu paus itu masih penuh udang rebon dan teri nasi ketika dokter hewan memeriksanya. Namun, tubuh sepanjang sekitar sembilan meter tersebut sudah tak bernyawa. Beberapa jam sebelumnya, nelayan menemukannya terdampar di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, pada 18 Oktober 2026. Tim gabungan berusaha menyelamatkannya, tetapi hewan itu mati sebelum berhasil dikembalikan ke laut. Makanan yang masih utuh dan tidak adanya perubahan organ yang terlihat secara kasat mata menyisakan pertanyaan: apa yang menyebabkan hiu paus tersebut terdampar dan mati begitu cepat? Pertanyaan itu menjadi bagian dari penyelidikan rentetan kematian hiu paus di pesisir selatan Jawa. Dwi Suprapti, dokter hewan spesialis megafauna akuatik yang memimpin pemeriksaan, menyebut delapan hiu paus ditemukan terdampar mati dalam enam bulan. Tim memperoleh sampel dari enam individu yang diperiksa di Cilacap, Kebumen, dan Bantul. Melalui nekropsi, yakni pemeriksaan tubuh satwa setelah mati, peneliti mengambil jaringan untuk diuji di laboratorium. “Hal ini dikarenakan Indonesia saat ini belum memiliki publikasi ilmiah yang benar-benar komprehensif untuk menjelaskan fenomena tersebut,” ujar Dwi. Penelitian akan menggabungkan hasil pemeriksaan organ, kualitas lingkungan, dan kondisi oseanografi. Salah satu dugaan yang ditelusuri berkaitan dengan aktivitas mencari makan. Perairan selatan Jawa merupakan jalur pergerakan hiu paus, dengan kelimpahan makanan yang dipengaruhi kondisi laut. Iqbal Herwata dari Yayasan Konservasi Indonesia menjelaskan bahwa upwelling, proses naiknya massa air dari lapisan dalam ke permukaan, membantu menciptakan perairan yang subur. Kondisi tersebut mendukung keberadaan udang dan ikan kecil yang menjadi makanan hiu paus. Namun, hubungan antara kelimpahan makanan, pergerakan menuju perairan dangkal, dan kejadian terdampar masih perlu dikaji. Isi lambung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/delapan-hiu-paus-mati-dalam-enam-bulan-peneliti-telusuri-penyebabnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilusi Hijau Becak Listrik di Malioboro [2]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 23:14:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Olivia Subandi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/25231804/becak-listrik-Oliv-1--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135576</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Program becak listrik di Malioboro, Yogyakarta,  minim melibatkan pengemudi sejak awal. Dalam implementasi, becak hadapi banyak kendala dari  model yang ringkih sampai kerusakan sana sini. Giyono, pengemudi becak mengatakan, tidak pernah ada produsen yang datang dan memberi kesempatan untuk berbicara. “Nggak ada. Ngapusi. Cuma ngapusi,” katanya. Proses musyawarah itu hanyalah formalitas searah. Bagi Giyono di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/">Ilusi Hijau Becak Listrik di Malioboro [2]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Program becak listrik di Malioboro, Yogyakarta,  minim melibatkan pengemudi sejak awal. Dalam implementasi, becak hadapi banyak kendala dari  model yang ringkih sampai kerusakan sana sini. Giyono, pengemudi becak mengatakan, tidak pernah ada produsen yang datang dan memberi kesempatan untuk berbicara. “Nggak ada. Ngapusi. Cuma ngapusi,” katanya. Proses musyawarah itu hanyalah formalitas searah. Bagi Giyono di hadapan para pejabat, tukang becak tidak memiliki daya tawar selain mengangguk patuh. “Lha cuma iya-iya to tukang becak, nggak berani ya bantah,” keluh Giyono. Para pembecak yang semula adalah pemilik penuh atas becak motornya, kini terpaksa menerima unit tanpa tahu spesifikasi detail di baliknya. Giyono baru menyadari, mereka sudah jadi korban demi ‘estetika visual berkedok transisi energi’ ketika becak motor lama terlanjur hancur dan berakhir di bawah mata roda gergaji mesin. Segala rentetan kegagalan dalam program becak listrik ini, mulai dari desain, bodi ringkih, hingga melelehnya kabel-kabel di jalanan itu bak jadi ganjaran yang harus para pembecak bayar dari rancangan dengan klaim ekosistem hijau dan transisi energi bersih. Abdullah, pendiri bengkel rujukan kendaraan listrik E-Clont Yogyakarta mengatakan, kerusakan masif berupa kabel meleleh dan modul baterai drop bukan sekadar apes tetapi dampak absennya standarisasi dan ego sektoral para produsen. Vendor-vendor manufaktur, katanya, kerap berjalan sendiri-sendiri tanpa mau duduk bersama dan mendengarkan kebutuhan para pembecak di jalanan. Mereka mengabaikan perhitungan teknis dasar seperti kemampuan hantar arus (KHA) pada ukuran kabel hingga tidak kuat menahan beban operasional harian. “Nah, itu sering kali kabel yang terlalu kecil. Sehingga ketika kami perbaiki di sini ya bukan kita perbaiki, tapi kita&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/ilusi-hijau-becak-listrik-di-malioboro-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lebah Bersarang pada Alat Berat Rusak di Banjarbaru, Dampak Kebakaran Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 11:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21212803/IMG_2564-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135375</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga padam di Kalimantan Selatan (Kalsel). Periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026, terjadi 4.926 kejadian. Bencana ini tidak hanya menghanguskan vegetasi, juga merenggut habitat serangga penyerbuk. Koloni lebah madu timur (Apis cerana) terlihat membangun sarang di bekas alat berat penuh karat, pada lahan semak belukar di Kecamatan Liang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/">Lebah Bersarang pada Alat Berat Rusak di Banjarbaru, Dampak Kebakaran Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga padam di Kalimantan Selatan (Kalsel). Periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026, terjadi 4.926 kejadian. Bencana ini tidak hanya menghanguskan vegetasi, juga merenggut habitat serangga penyerbuk. Koloni lebah madu timur (Apis cerana) terlihat membangun sarang di bekas alat berat penuh karat, pada lahan semak belukar di Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Fauzan, warga yang mendiami daerah itu, bilang, jenis lebah madu serupa tadinya menghuni pepohonan tinggi sekitar 50 meter ke arah barat dari lokasi sekarang. Tiga bulan terakhir, makhluk berukuran kuku jari kelingking orang dewasa itu pindah tempat yang tidak lazim. Husni Naparin dan Ismu, pemburu lebah madu liar dari Madu Hutan Kaum, tiba di lokasi sarang setelah melacak arah terbang lebah dari jalan raya. Mereka mengamati melalui lubang di sebelah kiri. Lebah tampak aktif keluar masuk sarang. Mereka mengintip lagi melalui celah kecil di sisi kanan penutup rantai berbahan pelat logam tua yang keropos. Saat membuka sedikit penutup, sarang bertumpuk berlapis-lapis. Ukurannya sedikit lebih besar daripada selembar uang kertas. Di dalamnya tersimpan sarang dengan kondisi madu yang berlimpah. Naparin katakan, lebah madu timur membutuhkan waktu sekitar 1-4 minggu untuk dapat menghasilkan nektar sampai siap panen. Itu pun bergantung pada ketersediaan pakan bila sarang sudah terbentuk. Berbeda dengan lebah madu raksasa (Apis dorsata) yang berukuran dua kali lebih besar. Selain memiliki lebih banyak lebah pekerja, anatomi volume lambungnya juga dapat menampung lebih banyak nektar, hingga sarang cepat terisi. Seorang pemadam membasahi lahan gambut yang terbakar di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Foto: Rendy&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hiu Cookiecutter, Pemburu dengan Gigitan seperti Cetakan Kue</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 10:00:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/16133705/960px-Isistius_brasiliensis_SI-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135519</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Luka berbentuk lingkaran pada tubuh paus atau lumba-lumba dapat menjadi petunjuk kehadiran pemburu yang ukurannya jauh lebih kecil. Pelakunya adalah hiu cookiecutter (Isistius brasiliensis), penghuni laut dalam dengan panjang tubuh sekitar setengah meter. Namanya merujuk pada bekas gigitan yang menyerupai hasil cetakan pemotong kue. Melalui jejak luka itulah keberadaannya kerap diketahui, meskipun hewan yang meninggalkannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/">Hiu Cookiecutter, Pemburu dengan Gigitan seperti Cetakan Kue</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Luka berbentuk lingkaran pada tubuh paus atau lumba-lumba dapat menjadi petunjuk kehadiran pemburu yang ukurannya jauh lebih kecil. Pelakunya adalah hiu cookiecutter (Isistius brasiliensis), penghuni laut dalam dengan panjang tubuh sekitar setengah meter. Namanya merujuk pada bekas gigitan yang menyerupai hasil cetakan pemotong kue. Melalui jejak luka itulah keberadaannya kerap diketahui, meskipun hewan yang meninggalkannya sulit diamati secara langsung. Hiu ini mampu memperoleh makanan dari tubuh satwa laut yang berkali-kali lebih besar darinya. Cara makannya mengandalkan perpaduan bibir pengisap dan susunan gigi yang khas. Ketika mendekati hewan besar, cookiecutter menempelkan mulutnya pada kulit sasaran. Gigi bawahnya yang besar dan saling bertautan kemudian menyayat jaringan, sementara gerakan tubuh membantu melepaskan potongan daging. Paus, lumba-lumba, hingga hiu besar dapat menjadi sasaran. Pola makan ini sering disebut sebagai parasitisme karena cookiecutter mengambil bagian tubuh hewan tanpa harus membunuhnya. Ukuran kecil pun tidak menghalanginya memanfaatkan sumber makanan yang tersedia pada tubuh penghuni samudra lainnya. Selain memiliki alat makan khusus, cookiecutter membawa sumber cahaya pada tubuhnya. Organ bernama fotofor di sisi perut menghasilkan cahaya kehijauan yang membantu menyamarkan siluetnya ketika dilihat dari bawah. Mekanisme ini disebut kontra-iluminasi: cahaya tubuh menyamai latar cahaya redup dari arah permukaan, sehingga bentuk hiu lebih sulit dikenali. Adaptasi tersebut memperlihatkan bahwa menghasilkan cahaya di laut dapat membantu hewan bersembunyi. Bagi cookiecutter, kemampuan menyamarkan tubuh menjadi bagian penting dari kehidupan di perairan yang minim cahaya. Namun, terdapat bagian gelap di sekitar leher yang tidak ikut bercahaya. Sejumlah peneliti menduga bagian ini berfungsi sebagai umpan, menyerupai hewan kecil yang menarik perhatian ikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Katak Pohon Harlequin, Amfibi Hutan Sumatera yang Tidak Mudah Dilihat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 08:54:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/26084705/Katak-Pohon3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135557</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warna kuning pada sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, kontras dengan punggungnya yang berwarna cokelat kemerahan. Namanya, katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal dalam Bahasa Inggris disebut Harlequin Tree Frog. Katak ini terpantau di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengatakan, jenis ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/">Katak Pohon Harlequin, Amfibi Hutan Sumatera yang Tidak Mudah Dilihat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warna kuning pada sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, kontras dengan punggungnya yang berwarna cokelat kemerahan. Namanya, katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal dalam Bahasa Inggris disebut Harlequin Tree Frog. Katak ini terpantau di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengatakan, jenis ini memiliki sebaran cukup luas di Sumatera. Namun, perjumpaannya relatif jarang karena lebih sering berada di hutan, khususnya yang ada genangan air. “Hubungan antara pepohonan dan genangan air membuat di hutan sangat mendukung mendukung kehidupannya,” ungkapnya, Senin (28/9/26). Katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal juga dengan nama Harlequin Tree Frog. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Katak ini termasuk famili Rhacophoridae, yang banyak dijumpai di kawasan tropis Asia. Tubuhnya relatif kecil. Jantan panjang sekitar 4–5,5 sentimeter, sedangkan mencapai 6–7 sentimeter. Ukuran tersebut diukur dari ujung moncong hingga kloaka, bukan sampai ujung kaki. “Sisi tubuhnya cenderung kekuningan dihiasi bintik-bintik gelap. Bagian bawah tubuh dan paha dapat memperlihatkan warna jingga hingga kemerahan.” Kaki belakangnya yang panjang, mendukung kemampuan melompat. Sementara itu, selaput di antara jari-jari kaki membantu memperluas permukaan tubuh saat katak bergerak di udara. Pada sejumlah katak pohon dari genus Rhacophorus, adaptasi tersebut memungkinkan mereka meluncur dari satu tempat ke tempat lain. Kemampuan meluncur inilah yang membuat sejumlah spesies dalam kelompok tersebut dikenal sebagai katak terbang. Bukan berarti katak dapat terbang aktif seperti burung, melainkan mampu memanfaatkan selaput pada tubuhnya untuk memperlambat penurunan dan mengarahkan pergerakan ketika berpindah di antara pepohonan. Menurut Mistar, perjumpaan dengan Rhacophorus pardalis di Kalimantan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tanpa Telinga, Ulat Bisa Menangkap Suara Predator Lewat Rambut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 00:30:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/31105659/erda-estremera-ZxrXgnLNpqQ-unsplash-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135497</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana ulat mengetahui ada ancaman yang terbang mendekat jika tidak memiliki telinga? Jawabannya tersimpan pada rambut-rambut halus di tubuhnya. Penelitian yang melibatkan ilmuwan Universitas Binghamton menunjukkan bahwa ulat mampu mendeteksi suara yang merambat melalui udara. Kemampuan ini memberi petunjuk bahwa dunia sensorik ulat lebih beragam daripada yang terlihat. Mereka dapat menangkap pergerakan udara akibat suara, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/">Tanpa Telinga, Ulat Bisa Menangkap Suara Predator Lewat Rambut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana ulat mengetahui ada ancaman yang terbang mendekat jika tidak memiliki telinga? Jawabannya tersimpan pada rambut-rambut halus di tubuhnya. Penelitian yang melibatkan ilmuwan Universitas Binghamton menunjukkan bahwa ulat mampu mendeteksi suara yang merambat melalui udara. Kemampuan ini memberi petunjuk bahwa dunia sensorik ulat lebih beragam daripada yang terlihat. Mereka dapat menangkap pergerakan udara akibat suara, sehingga informasi tentang lingkungan tidak hanya datang melalui getaran pada daun atau batang tempatnya berpijak. Penelitian tersebut berawal dari pengamatan Carol Miles, profesor ilmu biologi di Universitas Binghamton. Dia melihat ulat menunjukkan respons kejut secara konsisten ketika mendengar suara manusia. Untuk mengetahui pemicunya, tim melakukan percobaan dalam ruang anekoik, ruang yang dirancang untuk meminimalkan pantulan suara. Pengujian ini membantu membedakan respons terhadap suara di udara dengan respons terhadap getaran pada permukaan. Hasilnya, ulat menunjukkan reaksi 10-100 kali lebih kuat terhadap suara yang merambat melalui udara, mengarahkan perhatian peneliti pada rambut sensorik di tubuhnya. Rambut-rambut itu disebut setai dan terdapat pada bagian toraks serta abdomen. Cara kerjanya bergantung pada gerakan partikel udara yang menyertai gelombang suara. Ketika udara bergerak bolak-balik, rambut ikut bergetar dan memicu sinyal saraf. Melalui mekanisme tersebut, ulat memperoleh informasi tentang gangguan di sekitarnya tanpa membutuhkan lubang telinga atau membran timpani. Peran rambut ini diuji dengan menghilangkannya secara selektif. Setelah perlakuan tersebut, kemampuan ulat mendeteksi suara menurun drastis, memperkuat bukti bahwa setai merupakan bagian penting dari sistem sensoriknya. Kepekaan tersebut dapat membantu ulat menghadapi musuh yang datang dari udara. Dalam pengujian, sensitivitas tertingginya berada pada frekuensi 100-200 hertz, rentang yang berkaitan dengan kepakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisa Setinggi 23 Meter, Mengapa Gelombang Tertinggi Dunia Ada di Samudra Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 00:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/25235101/View_from_the_bow_of_the_Fugro_Discovery_in_the_southern_Indian_Ocean_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135538</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ombak yang pecah di pantai selatan Jawa atau di Mentawai sering terlihat seperti urusan laut setempat. Padahal sebagian ombak itu berasal dari badai yang terjadi beberapa hari sebelumnya dan ribuan kilometer jauhnya, di perairan dekat Antartika. Gelombang laut memindahkan energi angin lintas samudra, sehingga apa yang terjadi di satu belahan bumi dapat terasa di pantai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/">Bisa Setinggi 23 Meter, Mengapa Gelombang Tertinggi Dunia Ada di Samudra Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ombak yang pecah di pantai selatan Jawa atau di Mentawai sering terlihat seperti urusan laut setempat. Padahal sebagian ombak itu berasal dari badai yang terjadi beberapa hari sebelumnya dan ribuan kilometer jauhnya, di perairan dekat Antartika. Gelombang laut memindahkan energi angin lintas samudra, sehingga apa yang terjadi di satu belahan bumi dapat terasa di pantai yang sangat jauh.Perairan itu adalah Samudra Selatan, yang mengelilingi Antartika. Pada Mei 2018, pelampung milik MetOcean Solutions di dekat Pulau Campbell, sekitar 700 kilometer di selatan Selandia Baru, merekam satu gelombang setinggi 23,8 meter, yang dilaporkan sebagai gelombang tertinggi yang pernah terekam di belahan bumi selatan. Gelombang setinggi itu belum menjadi rekor dunia, karena angka tertinggi dunia tercatat di Atlantik Utara. Sabuk angin di sekeliling Antartika Pada lintang sekitar 40 sampai 60 derajat selatan, hampir tidak ada daratan yang menghalangi angin barat. Angin ini bertiup mengelilingi bumi di atas laut terbuka, dan pelaut sejak lama menyebut sabuknya Roaring Forties, Furious Fifties, dan Screaming Sixties sesuai lintangnya. Belahan bumi utara memiliki benua yang memotong lintasan badai, sehingga kondisi seperti ini tidak ditemui di sana. Angin yang kuat, bertiup lama, dan menempuh jarak jauh di atas air tanpa terhalang (fetch) menghasilkan gelombang yang besar. Di Samudra Selatan ketiga syarat itu mudah terpenuhi karena sistem badai bergerak ke timur sepanjang lingkar Antartika. Pada badai 2018, kecepatan badai diperkirakan sepadan dengan kecepatan gelombang, sehingga gelombang terus tumbuh selama badai bergerak. Gelombang yang tumbuh dalam kondisi seperti ini menjadi panjang dan bertenaga. Peta Antartika dan Samudra Selatan. Pelampung di dekat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Lika Liku Para Pengemudi Becak Listrik di Malioboro [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 23:26:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Olivia Subandi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/25231939/becak-listrik-oliv-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135530</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Gio sumringah penuh asa ketika mendapat hibah becak listrik dari program Kementerian Keuangan 16 Juli lalu. Harapannya, bisa dapat kendaraan penunjang hidup, lebih bersih dan murah. Naas, saat becak dia bawa pulang ke rumahnya di daerah Piyungan, sambungan kabel soket listrik mendadak kendur hingga hangus terbakar di tengah jalan. Becak listrik mati total. “Itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/">Cerita Lika Liku Para Pengemudi Becak Listrik di Malioboro [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Gio sumringah penuh asa ketika mendapat hibah becak listrik dari program Kementerian Keuangan 16 Juli lalu. Harapannya, bisa dapat kendaraan penunjang hidup, lebih bersih dan murah. Naas, saat becak dia bawa pulang ke rumahnya di daerah Piyungan, sambungan kabel soket listrik mendadak kendur hingga hangus terbakar di tengah jalan. Becak listrik mati total. “Itu kemarin terbakar itu. Enggak bisa jalan. Ya, didatangi di rumah. Setelah itu ya itu untuk jalan susah. Lambat.  Wah, susah. Ya lambat sekali,” kata pria 64 tahun ini. Gio lapor kepada Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY). Produsen datang untuk memperbaiki tetapi tak bisa pulih. Dia berupaya mengumpulkan uang dengan becak pinjam punya teman. Gio pun bisa kumpulkan uang untuk perbaikan beberapa bagian becak listrik itu. Gio juga ganti roda becak listrik dengan ukuran lebih tebal dan kokoh, seperti yang biasa becak motor gunakan. “Satu roda itu kalau baru, habis Rp500.000,” kata Gio. Dia harus merogoh kocek dalam-dalam mengganti ketiga roda becak listrik. Biayanya tidak main-main bagi seorang pengayuh becak, sampai Rp1,5 juta. Gio ganti ban karena roda becak listrik pipih dan tipis. Desain pijakan kaki becak listrik juga sangat tinggi, hingga para penumpang perempuan kadang menolak naik. Sejak gunakan becak listrik, penumpang berkurang, otomatis pendapatan menurun. Penumpang banyak tetap menginginkan naik becak motor karena alasan desain yang kokoh. “Tapi sekarang kendalanya itu, kalah sama yang masih apa ya, seperti becak motor. Itu nggak pernah menarik. Dilihat gini. Wah, kok becak manual. Nggak jadi, cari yang roda motor itu.” Tak hanya Gio, tukang becak lain juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kabut Asap Kebakaran Hutan Mulai Selimuti Sumatera Utara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 12:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/24192621/Meski-asap-kabut-menutupi-jalanan-Lintas-Sumatera-Padang-Sidempuan-menuju-ke-Sumatera-Barat-namun-para-pengendara-mengabaikan-kesehatan-dengan-tidak-memakai-masker-AyatSKarokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135500</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai merangsek masuki Sumatera Utara (Sumut). Kondisi ini berbahaya bagi masyarakat Sumut terlebih kelompok rentan. Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS)  Sumut mencatat penduduk mencapai 15,80 juta jiwa. Dari angka itu, sekitar 4,2 juta anak-anak berusia di bawah 15 tahun, 7,9 juta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/">Kabut Asap Kebakaran Hutan Mulai Selimuti Sumatera Utara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai merangsek masuki Sumatera Utara (Sumut). Kondisi ini berbahaya bagi masyarakat Sumut terlebih kelompok rentan. Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS)  Sumut mencatat penduduk mencapai 15,80 juta jiwa. Dari angka itu, sekitar 4,2 juta anak-anak berusia di bawah 15 tahun, 7,9 juta perempuan, dan 1,58 juta lansia. Secara keseluruhan, lebih 13 juta jiwa atau hampir 85% populasi Sumut kategori kelompok rentan yang sistem biologis dan sosialnya paling mudah terdampak oleh krisis kualitas udara ini. Hendro Nugroho, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, menjelaskan, sebaran asap terdeteksi di seluruh wilayah Sumut akibat pola pergerakan angin dari arah timur hingga tenggara. &#8220;Asap yang menyelimuti Sumut saat ini adalah kiriman dari Sumatera bagian selatan dan Kalimantan yang terbawa oleh hembusan angin,&#8221; katanya, 16 Oktober. Heri Wahyudi Marpaung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumut, dalam konferensi pers menyebut tidak ada lagi titik api di provinsi itu sejak satu setengah bulan lalu. &#8220;Wilayah Sumut relatif aman dari titik api, kabut asap yang terjadi murni akibat hembusan angin dari daerah luar,&#8221; katanya. Wilayah-wilayah yang terpapar secara langsung kabut asap meliputi Kota Medan yang mengalami gangguan penerbangan dan peliburan sekolah. Sektor ekonomi seperti perdagangan dan jasa mulai lesu karena masyarakat enggan beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, Kabupaten Karo, kawasan Danau Toba di Kabupaten Toba, Kota Sibolga, Kabupaten Humbahas, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal meliburkan sekolah sesuai instruksi gubernur. Muhammad Bobby Afif Nasution, Gubernur Sumut,  mengambil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Teluk Saleh, Surga Bahari di Pulau Sumbawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 12:26:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001611/Hiu-Paus-%C2%A9%EF%B8%8F-Konservasi-Indonesia-Ismail-Syakurachman-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=135527</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured dan kelautan dan perikanan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Teluk Saleh membentang di antara Kabupaten Sumbawa dan Dompu, Nusa Tenggara Barat. Perairan seluas lebih dari 2.000 kilometer persegi ini menjadi bagian dari Cagar Biosfer Samota sekaligus menyimpan kekayaan ekosistem pesisir yang lengkap, mulai dari terumbu karang, hutan mangrove, hingga padang lamun. Keindahan tersebut menjadikan Teluk Saleh memiliki daya tarik wisata yang kuat. Pulau-pulau kecil, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/">Teluk Saleh, Surga Bahari di Pulau Sumbawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Teluk Saleh membentang di antara Kabupaten Sumbawa dan Dompu, Nusa Tenggara Barat. Perairan seluas lebih dari 2.000 kilometer persegi ini menjadi bagian dari Cagar Biosfer Samota sekaligus menyimpan kekayaan ekosistem pesisir yang lengkap, mulai dari terumbu karang, hutan mangrove, hingga padang lamun. Keindahan tersebut menjadikan Teluk Saleh memiliki daya tarik wisata yang kuat. Pulau-pulau kecil, pasir putih, laut jernih, dan kehidupan bawah air menawarkan beragam aktivitas, seperti menyelam, snorkeling, berkano, berkemah, memancing, hingga mengamati hiu paus. Di Dusun Prajak, Desa Batu Bangka, masyarakat bahkan membentuk kelompok pengelola ekowisata secara swadaya untuk menawarkan berbagai layanan wisata dan kuliner. Namun, potensi Teluk Saleh tidak berhenti pada pariwisata. Perairan ini juga menjadi ruang penghidupan bagi masyarakat melalui perikanan tangkap serta budidaya ikan kakap, kerapu, rumput laut, dan kerang mutiara. Di balik kekayaan tersebut, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Praktik penangkapan ikan yang merusak masih ditemukan, sebagian terumbu karang mengalami kerusakan, dan ikan yang belum mencapai ukuran layak tangkap masih didaratkan. Pengembangan wisata dan perikanan juga membutuhkan data yang berkelanjutan, sarana pendaratan ikan, fasilitas penyimpanan, pengawasan, serta keterlibatan masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, pemanfaatan berlebihan dapat menurunkan daya dukung ekosistem dan mengancam sumber penghidupan warga. Lalu, seberapa besar potensi perikanan, kelautan, dan pariwisata Teluk Saleh? Bagaimana kekayaan tersebut dapat dimanfaatkan tanpa mengorbankan kelestarian alam? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Dr. Soraya Gigentika, peneliti perikanan dan kelautan sekaligus dosen Universitas Mataram. Percakapan ini mengulas kondisi ekosistem pesisir, kegiatan perikanan, pengembangan ekowisata, serta pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga Teluk Saleh agar tetap lestari dan dapat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Balik Spanduk Bundaran HI, Ada Pesan Desakan Atasi Krisis Iklim dan Mahalnya Biaya Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 10:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21225654/Greenpeace-Irfan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135419</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, jawa, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Krisis iklim terasa semakin dekat ketika uang belanja tak lagi cukup, hasil panen berkurang, dan penghasilan makin sulit dipastikan. Hubungan antara kerusakan lingkungan dan tekanan ekonomi itulah yang dibawa enam aktivis Greenpeace ke Monumen Selamat Datang, Bundaran HI, Jakarta, pada 20 Oktober 2026. Mereka memanjat monumen dan membentangkan dua spanduk, salah satunya bertuliskan “Tangani Krisis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/">Di Balik Spanduk Bundaran HI, Ada Pesan Desakan Atasi Krisis Iklim dan Mahalnya Biaya Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Krisis iklim terasa semakin dekat ketika uang belanja tak lagi cukup, hasil panen berkurang, dan penghasilan makin sulit dipastikan. Hubungan antara kerusakan lingkungan dan tekanan ekonomi itulah yang dibawa enam aktivis Greenpeace ke Monumen Selamat Datang, Bundaran HI, Jakarta, pada 20 Oktober 2026. Mereka memanjat monumen dan membentangkan dua spanduk, salah satunya bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.” Bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, aksi tersebut menyoroti kebijakan yang mereka nilai belum mampu melindungi masyarakat dari dampak krisis iklim. Jeanny Sirait, Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, menjelaskan bahwa cuaca tidak menentu dapat mengganggu panen dan menurunkan hasil tangkapan nelayan. Ketika pasokan pangan menyusut sementara kebutuhan tetap tinggi, harga berpotensi meningkat. Dampaknya menjalar dari sawah dan laut hingga meja makan keluarga. Riset Greenpeace berjudul “Besok Harga Naik!” di Jabodetabekjur, Cekungan Bandung, dan Kartamantul menyoroti tekanan pada konsumsi, pendapatan, tempat tinggal, serta transportasi. Untuk bertahan, 57,34% responden memangkas pengeluaran non-esensial, sedangkan 56,79% mengambil pekerjaan sampingan atau membuka usaha baru. Di sektor pertanian, tekanan iklim bertemu persoalan penguasaan lahan. Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, menyoroti meningkatnya jumlah rumah tangga petani dengan lahan kurang dari 1.000 meter persegi. Menurutnya, kebijakan pangan perlu memperhatikan kondisi petani kecil sekaligus kesesuaian lingkungan. Dia mengkritik proyek food estate yang mengabaikan kelayakan pangan dan agroklimat, infrastruktur, teknologi, serta aspek sosial-ekonomi. Pembukaan lahan yang berakhir terbengkalai, katanya, justru dapat memperburuk kerusakan lingkungan. “Kedaulatan pangan menuntut harmoni antara petani dan alam, model produksi agroekologis, perlindungan pasar lokal, serta hak penuh petani atas benih dan teknologi budidaya.”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hampir 9 Dekade Hilang dalam Literatur Ilmiah, Kukang Bangka Masih Ada di Habitatnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 07:25:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/02/22053048/Kukang-bangka-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135522</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> Matanya bulat, ukurannya besar jika dibandingkan proporsi wajah. Keduanya menghadap ke depan. Bentuk matanya ini membantunya menangkap cahaya yang minim saat mencari makan malam hari. Bulu berwarna merah tua menutupi bagian kepala hingga ekornya yang sangat pendek. Sementara, kedua tangan dan kakinya dilengkapi jari-jari untuk mencengkeram dahan. Sebenarnya, tubuhnya tak lebih besar dari anak kucing [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/">Hampir 9 Dekade Hilang dalam Literatur Ilmiah, Kukang Bangka Masih Ada di Habitatnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ Matanya bulat, ukurannya besar jika dibandingkan proporsi wajah. Keduanya menghadap ke depan. Bentuk matanya ini membantunya menangkap cahaya yang minim saat mencari makan malam hari. Bulu berwarna merah tua menutupi bagian kepala hingga ekornya yang sangat pendek. Sementara, kedua tangan dan kakinya dilengkapi jari-jari untuk mencengkeram dahan. Sebenarnya, tubuhnya tak lebih besar dari anak kucing kampung. Gerakannya juga terbilang lamban. Meski begitu, kukang bangka (Nycticebus bancanus) adalah pemanjat yang cakap. Dia akan memeriksa dengan teliti dari satu dahan ke dahan lain saat mencari makan. Kadang, makhluk yang terlihat menggemaskan ini masuk ke rumah warga, kebun, atau bergelayut di kawat beraliran listrik. Bagi masyarakat Pulau Bangka, perjumpaan seperti ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing. Bagi dunia ilmu pengetahuan, keberadaan satwa tersebut justru membawa kabar penting. Catatan terakhirnya di literatur ilmiah adalah pada 1937 melalui publikasi Sody berjudul “On The Mammals of Bangka.” Dalam Daftar Merah IUCN spesies ini bahkan tercatat sebagai Critically Endangered atau Kritis. Lebih dari satu dekade, Yayasan Alobi, sebuah organisasi konservasi satwa liar di Kepulauan Bangka, telah menyelamatkan kukang bangka dengan cara merawat satwa yang ditemukan warga dan mengembalikannya ke hutan. Upaya penyelamatan itu lalu dilaporkan di jurnal Spixiana (2026), dengan judul “Neglected but still alive: Further evidence for the continued existence of the Bangka Slow Loris (Nycticebus bancanus) on Bangka Island, Indonesia.” Inilah kabar penting tersebut. Para ilmuwan memang tidak mendokumentasikan spesies ini selama hampir satu abad, namun spesies ini tidak pernah hilang dari masyarakat Bangka. &#8220;Kami senang dapat berkontribusi pada catatan ilmiah untuk menunjukkan bahwa kukang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Gorontalo Terdampak Ambisi Bioenergi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 04:40:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20041308/DJI_0304_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135280</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cuaca di Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, begitu terik saat Rifal Bobihu berdiri di tepi lahan jagung yang tampak retak-retak. Dari tempatnya berdiri, dia pandangi barisan bukit yang membentang di utara desa. Belasan tahun lalu, hutan alam masih selimuti bukit itu. Saat angin utara bertiup, aroma tanah basah dan suara burung rimba menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/">Petani Gorontalo Terdampak Ambisi Bioenergi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cuaca di Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, begitu terik saat Rifal Bobihu berdiri di tepi lahan jagung yang tampak retak-retak. Dari tempatnya berdiri, dia pandangi barisan bukit yang membentang di utara desa. Belasan tahun lalu, hutan alam masih selimuti bukit itu. Saat angin utara bertiup, aroma tanah basah dan suara burung rimba menjadi penanda ritme musim. Kini, hutan itu  tergantikan pohon jabon yang tumbuh rapat. Sebagian lain terlihat gundul setelah panen kayu oleh perusahaan. “Dulu, menanam jagung itu tidak pernah membuat kami ragu. Sekarang, setiap kali menebar benih, ada rasa takut. Hujan sedikit saja, air bisa turun tiba-tiba dari bukit dan menghancurkan tanaman kami,” ujarnya. Menurut Rifal, hal bermula saat PT Gema Nusantara Jaya (GNJ) masuk untuk menggantikan hutan alam di utara desa dengan hutan tanaman industri (HTI) pada 2011. Hujan yang dulu menjadi penanda rezeki kini menjelma ancaman. Air bah sering datang tanpa aba-aba, membawa lumpur yang menutupi tanaman jagung dan merusak area persawahan. Januari 2025  paling parah. Hujan di hulu sebabkan Sungai Bubode meluap  ratusan rumah terendam dan  2.117 keluarga terdampak. Tidak hanya itu, sekitar 115 hektar sawah serta puluhan hektar tanaman jagung rusak total, termasuk punya Rifal Bobihu. “Kalau dulu, banjir mungkin dua tahun sekali. Sekarang hampir setiap musim tanam.” Tak jauh dari Rifal berdiri, Nikolas Abdullah sibuk memeriksa saluran yang mengarah ke sawahnya. Berbeda dengan dulu, kini, hampir setiap pekan dia harus turun untuk memastikan tak ada lumpur yang terbawa dari atas. Maklum, beberapa tahun ini sawahnya terus gagal panen akibat lumpur kiriman dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sebelum Dinosaurus Menguasai, Hujan Ekstrem Pernah Mengguyur Planet Bumi Selama Satu Juta Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 02:46:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/25020333/r-q-thunderstorm-10356765_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135508</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Iklim Bumi tidak pernah benar-benar stabil. Dalam rentang ratusan juta tahun, planet ini berkali-kali berganti wajah, dari masa yang sangat panas, masa yang membeku, sampai masa ketika hujan turun dalam jumlah luar biasa. Perubahan itu meninggalkan jejak di batuan dan fosil, dan dari situlah para ilmuwan menyusun cerita tentang apa yang pernah terjadi. Salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/">Sebelum Dinosaurus Menguasai, Hujan Ekstrem Pernah Mengguyur Planet Bumi Selama Satu Juta Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Iklim Bumi tidak pernah benar-benar stabil. Dalam rentang ratusan juta tahun, planet ini berkali-kali berganti wajah, dari masa yang sangat panas, masa yang membeku, sampai masa ketika hujan turun dalam jumlah luar biasa. Perubahan itu meninggalkan jejak di batuan dan fosil, dan dari situlah para ilmuwan menyusun cerita tentang apa yang pernah terjadi. Salah satu babak yang menarik terjadi sekitar 232 juta tahun lalu pada zaman Trias Akhir, dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia (Carnian Pluvial Episode). Selama lebih dari 1 juta tahun, wilayah yang semula kering mengalami fase yang jauh lebih basah. Saat itu semua benua masih menyatu sebagai satu daratan raksasa bernama Pangea, dan dinosaurus baru mulai muncul. Penyebab Fase Basah di Zaman Trias Para peneliti menduga pemicunya adalah rangkaian letusan gunung api besar di Wrangellia, kawasan yang kini menjadi bagian barat laut Amerika Utara, antara Alaska dan British Columbia, yang mengeluarkan lava dalam jumlah sangat besar selama ratusan ribu hingga jutaan tahun. Bersamaan dengan lava itu, karbon dioksida dan metana ikut terlepas ke udara dalam jumlah yang cukup untuk memengaruhi suhu seluruh planet. Hubungan waktu antara letusan dan perubahan iklim ini belum sepenuhnya pasti, sebab penanggalan batuan Karnia masih memiliki ketidakpastian yang bisa mencapai sekitar satu juta tahun. Gas-gas tersebut menahan panas di atmosfer sehingga suhu Bumi naik, dan udara yang lebih hangat membuat lebih banyak air dari laut maupun sungai menguap. Uap air itu kemudian turun lagi sebagai hujan, dan karena prosesnya berlangsung sangat lama, curah hujan tinggi bertahan selama satu hingga dua juta tahun di banyak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bambu yang Menjaga Air dan Menopang Kehidupan Masyarakat Bali</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 00:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/11/22091752/Pengunjung-memotret-hutan-bambu-di-Desa-Penglipuran-Bangli-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135399</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat banjir bandang menerjang Denpasar menjelang akhir 2025, rumah-rumah roboh dan talud beton ambrol. Namun, di tengah sempadan sungai yang rusak, rumpun bambu tetap bertahan. Sistem perakarannya yang rapat membantu mengikat tanah dan mengurangi erosi. Ketangguhan tanaman ini juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan, meskipun melalui cerita berbeda. Ketika sumber air mengering hingga sebagian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/">Bambu yang Menjaga Air dan Menopang Kehidupan Masyarakat Bali</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat banjir bandang menerjang Denpasar menjelang akhir 2025, rumah-rumah roboh dan talud beton ambrol. Namun, di tengah sempadan sungai yang rusak, rumpun bambu tetap bertahan. Sistem perakarannya yang rapat membantu mengikat tanah dan mengurangi erosi. Ketangguhan tanaman ini juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan, meskipun melalui cerita berbeda. Ketika sumber air mengering hingga sebagian warga harus membeli air, masyarakat mulai menanam bambu pada 2004. Dua dekade kemudian, hutan bambu seluas sekitar 100 hektar terbentuk dan mata air kembali mengalir, memenuhi kebutuhan warga hingga wilayah hilir. Warga Sandan menjaga hutan tersebut melalui awig-awig, aturan adat yang melarang penebangan bambu tanpa persetujuan komunitas. Hubungan serupa hidup di Desa Tigawasa, Kabupaten Buleleng. Di sana, hutan bambu menjadi penjaga sumber air sekaligus ruang sakral masyarakat. Kerajinan bambu dan wisata edukasi turut menopang penghidupan warga. Guntur, pemuda Tigawasa, ikut merawat pengetahuan itu dengan memperkenalkan produk bambu bersama ibunya dalam Samsara Bamboo Festival 2026 di Karangasem. Bagi masyarakat seperti mereka, menjaga bambu berarti mempertahankan sumber penghidupan beserta hubungan budaya yang diwariskan antargenerasi. Namun, tingginya pemanfaatan bambu belum diikuti kemampuan membudidayakannya. Nurul Firmansyah, Koordinator Program Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, menyebut kebutuhan bambu di Bali mencapai sekitar 34 juta batang setiap tahun untuk upacara adat, konstruksi, dan pariwisata. “Defisitnya mencapai sekitar 31 juta batang per tahun, sehingga harus didatangkan dari luar Bali,” katanya. Menurut Nurul, tantangannya mencakup hilangnya pengetahuan pembibitan dan pengelolaan bambu. Persoalan ini bahkan ditemukan di Ngada, Nusa Tenggara Timur, wilayah yang memiliki budaya bambu kuat. Kebutuhan terus tumbuh, sementara pengetahuan untuk memastikan persediaannya justru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Balik Warna-warni Cat, Ada Ancaman Timbal Bagi Anak-anak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/#respond</comments>
					<pubDate>24 Okt 2026 10:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094424/Mainan-dengan-cat-warna-warni-mengandung-timbal-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135395</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, politik dan hukum, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cat yang melapisi rumah, sekolah, dan tempat bermain anak dapat meninggalkan ancaman ketika mulai mengelupas. Debunya bisa terhirup atau tertelan, termasuk ketika anak bermain di lantai lalu memasukkan tangan ke mulut. Jika cat mengandung timbal, paparan tersebut berisiko mengganggu perkembangan mereka. Jeiel Guarino, pengampanye penghapusan cat bertimbal dari International Pollutants Elimination Network (IPEN), menjelaskan bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/">Di Balik Warna-warni Cat, Ada Ancaman Timbal Bagi Anak-anak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cat yang melapisi rumah, sekolah, dan tempat bermain anak dapat meninggalkan ancaman ketika mulai mengelupas. Debunya bisa terhirup atau tertelan, termasuk ketika anak bermain di lantai lalu memasukkan tangan ke mulut. Jika cat mengandung timbal, paparan tersebut berisiko mengganggu perkembangan mereka. Jeiel Guarino, pengampanye penghapusan cat bertimbal dari International Pollutants Elimination Network (IPEN), menjelaskan bahwa timbal merupakan racun saraf dan tidak memiliki tingkat paparan yang aman bagi tubuh manusia. Pada anak balita, dampaknya dapat berupa kerusakan permanen pada otak dan sistem saraf, penurunan kecerdasan, serta gangguan perilaku dan pertumbuhan. Ancaman itu menjadi perhatian Nexus3 Foundation setelah menguji ulang enam sampel cat produksi PT Avia Avian Tbk atau Avian Brands. Sampel cat dekoratif dan industri tersebut dibeli di Bekasi, Jakarta, dan Depok pada 24-29 Juli 2026, dengan jenis serta warna yang sama seperti pengujian pada 2021. Hasilnya, lima dari enam sampel mengandung timbal melampaui 90 bagian per juta atau parts per million (ppm), angka acuan yang direkomendasikan WHO dan UNEP. Temuan ini menunjukkan persoalan pada produk yang diuji, meskipun tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan kandungan seluruh produk perusahaan. Hasil pengujian tersebut memunculkan pertanyaan tentang pelaksanaan komitmen keberlanjutan perusahaan. Dalam laporan keberlanjutan 2025, Avia Avian menyebut upaya mengurangi logam berat, termasuk timbal dan kromium, melalui kerangka pengembangan produknya. Perusahaan juga melaporkan 40 produk memperoleh sertifikasi Singapore Green Label, tetapi informasi itu tidak menunjukkan bahwa seluruh sampel yang diuji Nexus3 termasuk produk bersertifikat tersebut. Nexus3 meminta bukti pelaksanaan komitmen yang dapat diperiksa publik. Mongabay Indonesia menghubungi layanan pelanggan perusahaan pada 5 dan 7&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>