Cat yang melapisi rumah, sekolah, dan tempat bermain anak dapat meninggalkan ancaman ketika mulai mengelupas. Debunya bisa terhirup atau tertelan, termasuk ketika anak bermain di lantai lalu memasukkan tangan ke mulut. Jika cat mengandung timbal, paparan tersebut berisiko mengganggu perkembangan mereka.
Jeiel Guarino, pengampanye penghapusan cat bertimbal dari International Pollutants Elimination Network (IPEN), menjelaskan bahwa timbal merupakan racun saraf dan tidak memiliki tingkat paparan yang aman bagi tubuh manusia. Pada anak balita, dampaknya dapat berupa kerusakan permanen pada otak dan sistem saraf, penurunan kecerdasan, serta gangguan perilaku dan pertumbuhan.
Ancaman itu menjadi perhatian Nexus3 Foundation setelah menguji ulang enam sampel cat produksi PT Avia Avian Tbk atau Avian Brands. Sampel cat dekoratif dan industri tersebut dibeli di Bekasi, Jakarta, dan Depok pada 24-29 Juli 2026, dengan jenis serta warna yang sama seperti pengujian pada 2021. Hasilnya, lima dari enam sampel mengandung timbal melampaui 90 bagian per juta atau parts per million (ppm), angka acuan yang direkomendasikan WHO dan UNEP. Temuan ini menunjukkan persoalan pada produk yang diuji, meskipun tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan kandungan seluruh produk perusahaan.
Hasil pengujian tersebut memunculkan pertanyaan tentang pelaksanaan komitmen keberlanjutan perusahaan. Dalam laporan keberlanjutan 2025, Avia Avian menyebut upaya mengurangi logam berat, termasuk timbal dan kromium, melalui kerangka pengembangan produknya. Perusahaan juga melaporkan 40 produk memperoleh sertifikasi Singapore Green Label, tetapi informasi itu tidak menunjukkan bahwa seluruh sampel yang diuji Nexus3 termasuk produk bersertifikat tersebut. Nexus3 meminta bukti pelaksanaan komitmen yang dapat diperiksa publik.
Mongabay Indonesia menghubungi layanan pelanggan perusahaan pada 5 dan 7 Oktober 2026, tetapi belum memperoleh tanggapan hingga berita diterbitkan.
Indonesia sebenarnya telah memiliki SNI 8011:2024 yang menetapkan batas timbal 90 ppm untuk cat dekoratif. Namun, penerapannya masih bersifat sukarela. Menurut Yuyun Ismawati, pendiri sekaligus penasihat senior Nexus3, penggunaan bahan pengganti sudah memungkinkan industri meninggalkan timbal. Sejumlah produsen juga telah mengambil langkah tersebut.
“Atas dasar sukarela dan komitmen manajemen semata, industri cat di Indonesia sesungguhnya mampu memproduksi cat tanpa pigmen dan bahan pengering berbahan dasar timbal tanpa harus menunggu regulasi pemerintah.”
Nexus3 meminta Avia Avian menarik lima produk yang diuji melampaui angka acuan itu paling lambat Desember 2026, serta mengumumkan target penghentian penggunaan pigmen dan bahan pengering berbasis timbal. Penghapusan pada seluruh lini cat dekoratif ditargetkan selesai pada 2027. Pemerintah juga didesak melarang produksi dan impor timbal kromat serta membantu industri kecil beralih ke bahan pengganti.
“Tanpa langkah-langkah itu, jutaan anak Indonesia akan terus berisiko terpapar debu cat bertimbal di rumah, sekolah, dan taman bermain mereka sendiri,” kata Yuyun.
Foto utama: Mainan dengan cat warna-warni mengandung timbal. Cat tersebut mengandung timbal diatas standar WHO, yang berbahaya bagi manusia. Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia.