Saat banjir bandang menerjang Denpasar menjelang akhir 2025, rumah-rumah roboh dan talud beton ambrol. Namun, di tengah sempadan sungai yang rusak, rumpun bambu tetap bertahan. Sistem perakarannya yang rapat membantu mengikat tanah dan mengurangi erosi.
Ketangguhan tanaman ini juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan, meskipun melalui cerita berbeda. Ketika sumber air mengering hingga sebagian warga harus membeli air, masyarakat mulai menanam bambu pada 2004. Dua dekade kemudian, hutan bambu seluas sekitar 100 hektar terbentuk dan mata air kembali mengalir, memenuhi kebutuhan warga hingga wilayah hilir.
Warga Sandan menjaga hutan tersebut melalui awig-awig, aturan adat yang melarang penebangan bambu tanpa persetujuan komunitas. Hubungan serupa hidup di Desa Tigawasa, Kabupaten Buleleng. Di sana, hutan bambu menjadi penjaga sumber air sekaligus ruang sakral masyarakat. Kerajinan bambu dan wisata edukasi turut menopang penghidupan warga. Guntur, pemuda Tigawasa, ikut merawat pengetahuan itu dengan memperkenalkan produk bambu bersama ibunya dalam Samsara Bamboo Festival 2026 di Karangasem.
Bagi masyarakat seperti mereka, menjaga bambu berarti mempertahankan sumber penghidupan beserta hubungan budaya yang diwariskan antargenerasi.
Namun, tingginya pemanfaatan bambu belum diikuti kemampuan membudidayakannya. Nurul Firmansyah, Koordinator Program Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, menyebut kebutuhan bambu di Bali mencapai sekitar 34 juta batang setiap tahun untuk upacara adat, konstruksi, dan pariwisata. “Defisitnya mencapai sekitar 31 juta batang per tahun, sehingga harus didatangkan dari luar Bali,” katanya.
Menurut Nurul, tantangannya mencakup hilangnya pengetahuan pembibitan dan pengelolaan bambu. Persoalan ini bahkan ditemukan di Ngada, Nusa Tenggara Timur, wilayah yang memiliki budaya bambu kuat. Kebutuhan terus tumbuh, sementara pengetahuan untuk memastikan persediaannya justru melemah.
Kesenjangan tersebut menjadi pembahasan dalam Samsara Bamboo Festival.
Gede Maha Putra, arsitek Universitas Warmadewa, mengingatkan bahwa popularitas bambu dalam arsitektur dan investasi dapat menyisihkan pengetahuan masyarakat yang menopangnya. “Bambu adalah pengetahuan lokal yang kini beroperasi dalam sistem kapitalisasi global. Yang hilang justru pengetahuan kolektifnya,” ujarnya. Dia mendorong pengembangan ekonomi bambu berjalan bersama pewarisan pengetahuan lokal.
Pengalaman proyek biomassa bambu di Mentawai yang, menurut Nurul, gagal akibat pemanenan tanpa prinsip keberlanjutan, menunjukkan pentingnya menghubungkan pemanfaatan dengan kemampuan tanaman dan masyarakat untuk terus menjaganya.
Wawan Sujarwo, peneliti BRIN, menyebut bambu sebagai “asuransi kehidupan” masyarakat Bali. Dia mengusulkan gerakan penanaman yang lebih sistematis, termasuk gagasan setiap keluarga menanam sedikitnya lima rumpun di kawasan kritis. Sementara itu, Agus Widiatmoko dari Kementerian Kebudayaan mendorong pelatihan budidaya dan pengolahan untuk memperkuat kapasitas komunitas.
Pengalaman Sandan dan Tigawasa memperlihatkan bahwa keberlanjutan bambu tumbuh melalui aturan bersama, praktik merawat, dan pengetahuan yang terus digunakan. Semua itu perlu diwariskan agar manfaat bambu bagi air, tanah, dan penghidupan tetap tersedia.